وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Dan Kami mewasiatkan kepada manusia perihal kedua orang tuanya , ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan penyapihannya dalam dua tahun , yaitu, ‘Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.’ Hanya kepada-Ku tempat kembali.
Terjemahan bertahap (5 jeda)
- وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِwa-wassaynaa l-insaana bi-waalidayhidan Kami mewasiatkan kepada manusia perihal kedua orang tuanya
- حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍhamalatsu ummuhu wahnan alaa wahninibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah
- وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِwa-fisaaluhu fii aamaynidan penyapihannya dalam dua tahun
- أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَani shkur lii wa-li-waalidaykabersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu
- إِلَيَّ الْمَصِيرُilayya l-masiiruhanya kepada-Ku tempat kembali
Catatan pilihan kata (ringkas)
waalidayKA 2MS diterjemahkan 'orang tuamu' sah; '(kamu) kembali' = interpolasi terjemahan lain (ilayya l-masiir tanpa kata ganti) diterjemahkan '(kau)'. Lem kaki 598 dibuang. Konvensi shkr: manusia diterjemahkan 'bersyukur' (tanpa penanda intensitas; contoh serupa ghaffaar), Allah diterjemahkan 'mengganjar'/'pengganjar' (6 ayat, SEMUA indefinit diterjemahkan kecil tanpa 'Maha'), masykuur diterjemahkan 'diganjar'. Pembeda: 76:22 jazaa'≠mashkuur sesisian; 'menerima' milik akar q-b-l, 'menyambut' milik akar t-w-b; antonim kufr (76:3, 14:7, 27:40). Lih.. Antonim resmi kufr ('contr. of kufraan') = menutupi (nikmat).
Aplikasi
Konteks penting tentang orang tua: pengorbanan ibu 'mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapih dalam dua tahun' disertai instruksi: 'Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu', pengakuan atas pengorbanan konkret sebagai dasar kewajiban berbakti. Konkretnya: memahami detail konkret pengorbanan fisik orang tua (terutama ibu selama masa mengandung dan menyusui) memberi dasar yang lebih mendalam untuk rasa syukur dan bakti, bukan sekadar kewajiban abstrak.