يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Wahai anakku, tegakkanlah salat, suruhlah berbuat yang makruf, cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya itu termasuk perkara yang memerlukan keteguhan tekad.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَyaa bunayya aqimi sh-shalaatawahai anakku, tegakkanlah salat
- وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِwa-mur bi-l-ma'ruufi wa-nha 'ani l-munkarisuruhlah berbuat yang makruf dan cegahlah dari yang mungkar
- وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَwa-shbir 'alaa maa ashaabakadan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu
- إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِinna dzaalika min 'azmi l-umuurisesungguhnya itu termasuk perkara yang memerlukan keteguhan tekad
Terjemahan per kata (18 kata)
- يَاyaawahai
- بُنَيَّbunayyaanakku
- أَقِمِaqimitegakkanlah
- الصَّلَاةَsh-shalaatasalat
- وَأْمُرْwa-murdan suruhlah
- بِالْمَعْرُوفِbi-l-ma'ruufidengan cara yang baik
- وَانْهَwa-nhadan cegahlah
- عَنِ'aniterhadap
- الْمُنْكَرِl-munkarikemungkaran
- وَاصْبِرْwa-shbirdan bersabarlah
- عَلَىٰ'alaaatas
- مَاmaaapa yang
- أَصَابَكَashaabakamenimpamu
- إِنَّinnasesungguhnya
- ذَٰلِكَdzaalikaitu
- مِنْmindari
- عَزْمِ'azmiketeguhan
- الْأُمُورِl-umuurisegala urusan
Inti bacaan
Bentuk (وَانْهَ, wa-nha) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 31:17.
Penjelasan pilihan kata
Kata (أَقِمِ الصَّلَاةَ, aqimi sh-shalaata) yang berarti "tegakkanlah salat" tersusun dari kata kerja perintah (أَقِمِ, aqimi) untuk satu orang, dari akar ق-و-م, dan (الصَّلَاةَ, sh-shalaata) yang berarti "salat". Susunan itu muncul lima kali, yaitu 11:114, 17:78, 20:14, 29:45, dan 31:17. Di 20:14 perintah itu disusul tujuan, (لِذِكْرِي, li-dzikrii) yang berarti "untuk mengingat-Ku", dan di 29:45 disusul keterangan, (إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ, inna sh-shalaata tanhaa 'ani l-fahsyaa'i wa-l-munkari) yang berarti "sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan kemungkaran". Di 31:17 perintah itu tidak disusul tujuan atau keterangan tentang salat, dan terjemahan tidak menambahkan keduanya.
Kata (وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ, wa-mur bi-l-ma'ruufi) yang berarti "dan suruhlah berbuat yang makruf" dan (وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ, wa-nha 'ani l-munkari) yang berarti "dan cegahlah dari yang mungkar" memakai dua kata kerja perintah untuk satu orang, (وَأْمُرْ, wa-mur) dari akar أ-م-ر dan (وَانْهَ, wa-nha) dari akar ن-ه-ي. Keduanya tidak menyebut orang yang disuruh atau dicegah, dan terjemahan tidak menambahkan "manusia" atau "mereka". Susunan (عَنِ الْمُنْكَرِ, 'ani l-munkari) muncul delapan kali, yaitu 3:104, 3:110, 3:114, 7:157, 9:71, 9:112, 22:41, dan 31:17. Ayat yang memuat al-ma'ruuf dan al-munkar sekaligus ada sembilan, yaitu kedelapan itu dan 9:67. Di delapan ayat itu urutannya makruf lalu mungkar, dan di 9:67 urutannya terbalik, (يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ, ya'muruuna bi-l-munkari wa-yanhawna 'ani l-ma'ruufi) yang berarti "menyuruh berbuat yang mungkar dan mencegah dari yang makruf". Bentuk perintah untuk satu orang, (وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ, wa-mur bi-l-ma'ruufi) bersama (وَانْهَ, wa-nha), hanya ada di 31:17, dan di tujuh ayat lain kata kerjanya menggambarkan, bukan memerintah.
Kata makruf dan mungkar dipertahankan dalam terjemahan, dan akarnya saling berhadapan di Al-Qur'an sendiri. Akar ع-ر-ف dan ن-ك-ر dipertentangkan di 12:58, (فَعَرَفَهُمْ وَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ, fa-'arafahum wa-hum lahu munkiruuna) yang berarti "dia mengenali mereka, sedangkan mereka tidak mengenalinya", di 16:83, (يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا, ya'rifuuna ni'mata llaahi tsumma yunkiruunahaa) yang berarti "mereka mengenali nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya", dan di 23:69, (لَمْ يَعْرِفُوا رَسُولَهُمْ فَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ, lam ya'rifuu rasuulahum fa-hum lahu munkiruuna) yang berarti "mereka tidak mengenal rasul mereka, sehingga mereka mengingkarinya". Kata dengan lema yang sama dengan al-munkar dipakai untuk orang di 15:62 dan 51:25, (قَوْمٌ مُنْكَرُونَ, qawmun munkaruuna) yang berarti "kaum yang tidak dikenal".
Kata (وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ, wa-shbir 'alaa maa ashaabaka) yang berarti "dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu" memuat (اصْبِرْ, shbir) dari akar ص-ب-ر dan (أَصَابَكَ, ashaabaka) dari akar ص-و-ب. Susunan (اصْبِرْ عَلَىٰ مَا, shbir 'alaa maa) muncul lima kali, yaitu 20:130, 31:17, 38:17, 50:39, dan 73:10. Di empat ayat selain 31:17 yang disabari adalah (مَا يَقُولُونَ, maa yaquuluuna) yang berarti "apa yang mereka katakan", misalnya (فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ, fa-shbir 'alaa maa yaquuluuna) di 20:130. Di 31:17 yang disabari adalah apa yang menimpa. Kata (أَصَابَكَ, ashaabaka) muncul dua kali, yaitu 4:79 dan 31:17. Di 4:79, (مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ, maa ashaabaka min hasanatin) yang berarti "apa pun yang menimpamu dari kebaikan", kata itu mencakup kebaikan dan juga keburukan, sehingga terjemahan 31:17 tidak menambahkan "musibah" pada kata menimpa. Sabar dan menimpa juga bertemu di 22:35, (وَالصَّابِرِينَ عَلَىٰ مَا أَصَابَهُمْ, wa-sh-shaabiriina 'alaa maa ashaabahum) yang berarti "dan orang-orang yang sabar atas apa yang menimpa mereka", yang disusul (وَالْمُقِيمِي الصَّلَاةِ, wa-l-muqiimi sh-shalaati) yang berarti "dan yang menegakkan salat".
Kata (ذَٰلِكَ, dzaalika) yang berarti "itu" dalam (إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ, inna dzaalika min 'azmi l-umuuri) menunjuk sesuatu yang telah disebut, dan di 31:17 telah disebut empat perintah, tanpa penunjuk ke salah satunya. Susunan (مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ, min 'azmi l-umuuri) muncul tiga kali, yaitu 3:186, 31:17, dan 42:43. Di 3:186 yang mendahuluinya (تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا, tashbiruu wa-tattaquu) yang berarti "kalian bersabar dan kalian bertakwa", dan di 42:43 (صَبَرَ وَغَفَرَ, shabara wa-ghafara) yang berarti "bersabar dan memaafkan", sehingga sabar ada di ketiganya. Akar ع-ز-م dipakai untuk sifat orang di tiga tempat lain: (وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا, wa-lam najid lahu 'azman) yang berarti "dan Kami tidak mendapati padanya tekad yang kuat" di 20:115, (أُولُو الْعَزْمِ, uulu l-'azmi) yang berarti "yang berketetapan hati" di 46:35, dan kata kerja (عَزَمْتَ, 'azamta) yang berarti "engkau membulatkan tekad" di 3:159. Karena 'azm adalah sifat orang yang memilikinya, terjemahan memakai "perkara yang memerlukan keteguhan tekad", yaitu perkara yang menuntut sesuatu dari pelakunya.
Tafsiran
Ayat ini mengubah rumus yang di tujuh ayat lain menggambarkan golongan menjadi perintah kepada satu anak. Di 3:104, 3:110, 3:114, 7:157, 9:71, 9:112, dan 22:41 kalimat tentang menyuruh yang makruf dan mencegah dari yang mungkar menggambarkan sekelompok orang atau seseorang yang disebut, dan di 9:71 dan 22:41 kalimat itu berdampingan dengan menegakkan salat, seperti di 31:17. Luqman mengucapkannya sebagai perintah dengan sapaan "wahai anakku", dan menambahkan perintah keempat yang tidak ada di ketujuh ayat itu, yaitu bersabar atas apa yang menimpa.
Dalam urutan surah, ayat ini kembali ke bentuk perintah sesudah 31:16 yang tidak memuat perintah, dengan sapaan yang sama seperti di 31:13 dan 31:16. Setiap satuan ucapan Luqman yang dikutip ditutup dengan kalimat berawalan (إِنَّ, inna) yang berarti "sesungguhnya": 31:13 dengan alasan tentang mempersekutukan, 31:16 dengan dua sebutan Allah, 31:17 dengan alasan "sesungguhnya itu termasuk perkara yang memerlukan keteguhan tekad", 31:18 dengan Allah yang tidak mencintai orang sombong, dan 31:19 dengan suara yang paling buruk. Alasan di 31:17 menunjuk kepada empat perintah di depannya, dan ayat tidak memilih satu di antaranya. Pada 3:186 dan 42:43 kata yang sama menunjuk kepada sabar, sehingga pembaca dapat menaruh sabar sebagai kandidat yang paling dekat, meski ayat ini sendiri tidak menyatakannya.
Akar ع-ر-ف sudah dipakai di surah ini untuk cara bergaul dengan orang tua di 31:15, (مَعْرُوفًا, ma'ruufan), dan di 31:17 dipakai untuk hal yang disuruhkan, (بِالْمَعْرُوفِ, bi-l-ma'ruufi). Kedua ayat tidak menyatakan bahwa keduanya satu bidang. Perintah bersabar yang mengakhiri daftar mengaitkan 31:17 dengan ayat-ayat sebelumnya: orang yang menolak paksaan di 31:15, yang diingatkan tentang sesuatu sekecil biji sawi di 31:16, dan yang disuruh di 31:17 menghadapi apa yang menimpanya. Ayat tidak menyebut hubungan sebab di antara ketiganya, dan pembaca hanya dapat melihat urutannya.
Renungan dan Hikmah
- Kalimat tentang menyuruh yang makruf dan mencegah dari yang mungkar di tujuh ayat lain berupa gambaran tentang kelompok atau seseorang yang disebut, dan di ayat ini rumus itu berubah menjadi perintah Luqman kepada anaknya. Pembaca yang biasa membaca rumus itu sebagai sifat orang lain mendapati bahwa di sini rumus yang sama diucapkan kepada satu orang yang belum menjadi apa pun selain seorang anak. Perintah itu datang bersama sapaan keluarga, dan di 22:41 serta 9:71 gambaran yang serupa berdampingan dengan menegakkan salat sebagaimana di sini. Apakah kalimat itu terasa berbeda bagi pembaca ketika dibaca sebagai sifat orang lain dan ketika dibaca sebagai perintah kepada dirinya, dalam kalimat yang menyebut Allah di ayat-ayat sekitarnya?
- Dua perintah di tengah ayat ini, menyuruh dan mencegah, tidak menyebut orang yang disuruh atau dicegah. Kata kerjanya berdiri sendiri, dan terjemahan membiarkannya demikian. Pembaca dapat memeriksa siapa saja yang dibayangkannya sebagai sasarannya ketika membaca ayat ini: keluarga, tetangga, rekan kerja, atau orang yang tidak dikenalnya. Daftar itu milik pembaca, dan ayat tidak menuliskannya. Orang yang menyuruh dan mencegah dari jarak yang sangat dekat dan orang yang menyuruh dari jarak yang jauh menjalani perintah yang sama dengan cara yang berbeda. Siapa yang paling dekat dengan pembaca di antara mereka yang pernah disuruh atau dicegahnya, dan kapan terakhir dilakukannya?
- Akar kata makruf dan mungkar dipertentangkan di Al-Qur'an sebagai mengenali dan tidak mengenali atau mengingkari, misalnya di 16:83 tentang orang yang mengenali nikmat Allah lalu mengingkarinya. Kata mungkar itu juga dipakai untuk kaum yang tidak dikenal di 15:62 dan 51:25. Pembaca dapat bertanya apa yang sudah dikenalinya dari kebaikan sehingga sanggup menyuruh orang lain kepadanya, dan apa yang masih terasa asing sehingga belum jelas baginya apa yang harus dicegah. Orang yang belum mengenali sesuatu sulit mencegahnya, sebagaimana orang yang sudah terbiasa dengan sesuatu sulit melihatnya sebagai hal yang tidak dikenal. Hal apa di sekeliling pembaca yang sudah begitu biasa sehingga tidak lagi dikenalinya sebagai sesuatu yang perlu dicegah, dan apa yang disebut Allah sebagai nikmat tetapi belum ia kenali?
- Kata menimpa di ayat ini sama dengan kata di 4:79, tempat kata itu mencakup kebaikan dan juga keburukan: kebaikan yang menimpa disebut berasal dari Allah, dan keburukan yang menimpa disebut berasal dari diri sendiri. Ayat 31:17 tidak membatasi apa yang menimpa pada hal yang buruk, sehingga kata sabar di sini dapat dibaca meliputi juga hal yang baik yang datang kepada seseorang. Pembaca yang menyangka sabar baru diperlukan ketika sesuatu yang berat datang dapat bertanya kebaikan apa yang pernah menimpanya dan terasa menuntut kesabaran. Apakah ada nikmat dari Allah yang membuatnya lebih sulit bersabar daripada kesulitan, misalnya kecepatan, pujian, atau kemudahan yang datang tanpa diminta?
- Kata tekad di ujung ayat ini dipakai di tempat lain untuk sifat orang: Adam yang tidak didapati padanya tekad yang kuat di 20:115, para rasul yang berketetapan hati di 46:35, dan seseorang yang membulatkan tekad di 3:159. Dengan begitu ayat ini menaruh tuntutan pada pelaku, bukan pada keadaannya. Pembaca yang mengira bahwa sabar, menyuruh, dan mencegah soal keadaan yang mudah atau sulit dapat memperhatikan bahwa ayat menggolongkannya sebagai perkara yang memerlukan keteguhan tekad pada orang yang melakukannya. Apa yang akan didapati dalam diri pembaca ketika ditimbang dengan ukuran itu, dan tekad apa yang pernah ditunjukkannya di hadapan Allah dalam hal yang tidak terlihat orang lain?
- Perintah menegakkan salat di ayat ini tidak disusul tujuan, sedangkan di 20:14 perintah itu disusul tujuan untuk mengingat Allah dan di 29:45 disusul keterangan bahwa salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Pembaca dapat memperhatikan bahwa Luqman tidak mengucapkan tujuan atau keterangan itu kepada anaknya dalam ayat ini, dan kutipan ayat ini hanya memuat perintahnya. Orang yang sudah lama menegakkan salat dapat memeriksa apa yang dikatakannya kepada diri sendiri tentang tujuannya, dan dari ayat mana jawaban itu datang. Bila yang sampai kepadanya berupa perintah saja, apa yang mengisi kekosongan itu dalam kesehariannya, dan apakah isian itu berasal dari ayat atau dari kebiasaan?