وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Dan janganlah engkau memalingkan pipimu kepada manusia, dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِwa-laa tusha'ir khaddaka li-n-naasidan janganlah engkau memalingkan pipimu kepada manusia
- وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًاwa-laa tamsyi fii l-ardhi marahandan janganlah engkau berjalan di bumi dengan angkuh
- إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍinna llaaha laa yuhibbu kulla mukhtaalin fakhuurinsesungguhnya Allah tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri
Terjemahan per kata (16 kata)
- وَلَاwa-laadan janganlah
- تُصَعِّرْtusha'irengkau memalingkan
- خَدَّكَkhaddakapipimu
- لِلنَّاسِli-n-naasikepada manusia
- وَلَاwa-laadan janganlah
- تَمْشِtamsyiengkau berjalan
- فِيfiidi
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- مَرَحًاmarahandengan angkuh
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- لَاlaatidak
- يُحِبُّyuhibbumencintai
- كُلَّkullasetiap
- مُخْتَالٍmukhtaalinyang sombong
- فَخُورٍfakhuurinyang membanggakan diri
Inti bacaan
Susunan (وَلَا تُصَعِّرْ, wa-laa tusha'ir) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 31:18.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وَلَا تُصَعِّرْ, wa-laa tusha'ir) yang berarti "dan janganlah engkau memalingkan" berbentuk larangan untuk satu orang, dengan awalan (لَا, laa) sebagai penanda larangan. Kata kerja itu hanya dipakai di 31:18, dan akarnya, ص-ع-ر, tidak muncul di ayat lain. Karena tidak ada pemakaian lain untuk dibandingkan, arti "memalingkan" dibaca dari ayat ini sendiri, yaitu dari kata yang menjadi sasarannya, (خَدَّكَ, khaddaka) yang berarti "pipimu". Kata khadd juga hanya muncul di ayat ini. Akar yang sama dengan khadd ada di 85:4, tetapi di sana dipakai untuk benda lain, yaitu parit, dan kedua ayat tidak saling menjelaskan.
Kata (لِلنَّاسِ, li-n-naasi) yang berarti "kepada manusia" tersusun dari huruf (لِ, li-), kata sandang al-, dan (نَاسِ, naasi) yang berarti "manusia". Bentuk itu muncul lima puluh satu kali, antara lain di 2:83, 3:4, dan 31:18. Terjemahan ayat ini tetap memakai "kepada" seperti pada pemakaian bentuk itu di tempat lain, sehingga arah pipi yang dipalingkan tidak dipertegas lebih dari yang tertulis. Sasarannya manusia pada umumnya. Ayat tidak membatasinya pada kaum tertentu, pada kerabat, atau pada orang yang lebih rendah.
Kata (وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا, wa-laa tamsyi fii l-ardhi marahan) yang berarti "dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan angkuh" muncul dua kali dengan susunan yang persis sama, yaitu di 17:37 dan 31:18. Kata (مَرَحًا, marahan) berbentuk akusatif tak tentu dari akar م-ر-ح, dan terjemahan menambahkan "dengan" untuk bentuk itu. Akar م-ر-ح muncul di tiga ayat, yaitu 17:37, 31:18, dan 40:75. Di 40:75, (وَبِمَا كُنْتُمْ تَمْرَحُونَ, wa-bi-maa kuntum tamrahuuna) yang berarti "dan karena kalian dahulu bersikap angkuh" berdampingan dengan (تَفْرَحُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ, tafrahuuna fii l-ardhi bi-ghayri l-haqqi) yang berarti "kalian bersuka ria di bumi tanpa hak". Di dua ayat itu bumi menjadi tempat sikap tersebut berlangsung, dan terjemahan memakai "angkuh" untuk akar ini di 40:75 dan 31:18.
Kata (كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ, kulla mukhtaalin fakhuurin) yang berarti "setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri" memuat dua sifat yang diikat oleh (كُلَّ, kulla) yang berarti "setiap". Kata (مُخْتَالٍ, mukhtaalin) dari akar خ-ي-ل muncul tiga kali, yaitu 4:36, 31:18, dan 57:23. Kata (فَخُورٍ, fakhuurin) dari akar ف-خ-ر muncul empat kali, yaitu 4:36, 11:10, 31:18, dan 57:23. Dua sifat itu berdampingan di tiga ayat, yaitu 4:36, 31:18, dan 57:23, dan susunan (لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ, laa yuhibbu kulla mukhtaalin fakhuurin) yang berarti "tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri" ada di 31:18 dan 57:23. Di 4:36 susunannya berbeda, (مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا, man kaana mukhtaalan fakhuuran) yang berarti "orang yang bersifat sombong lagi membanggakan diri", tanpa kata setiap.
Susunan (لَا يُحِبُّ كُلَّ, laa yuhibbu kulla) yang berarti "tidak mencintai setiap" muncul empat kali, yaitu 2:276, 22:38, 31:18, dan 57:23. Di keempatnya kata kulla disusul dua sifat yang berdampingan, misalnya (كَفَّارٍ أَثِيمٍ, kaffaarin atsiimin) yang berarti "yang sangat kufur lagi bergelimang dosa" di 2:276 dan (خَوَّانٍ كَفُورٍ, khawwaanin kafuurin) yang berarti "yang sangat khianat lagi sangat kufur" di 22:38. Kata (لَا يُحِبُّ, laa yuhibbu) diterjemahkan "tidak mencintai" di ayat-ayat tadi dan di ayat ini, tanpa dilunakkan menjadi "tidak menyukai". Seluruh susunan (إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ, inna llaaha laa yuhibbu) yang berarti "sesungguhnya Allah tidak mencintai" muncul sepuluh kali, yaitu 2:190, 3:32, 4:36, 4:107, 5:87, 8:58, 22:38, 28:76, 28:77, dan 31:18.
Kata (فَخُورٌ, fakhuurun) berdampingan dengan kegembiraan di dua ayat lain. Di 11:10, (لَفَرِحٌ فَخُورٌ, la-farihun fakhuurun) yang berarti "benar-benar bergembira lagi membanggakan diri" menggambarkan orang yang menerima nikmat sesudah bencana, dan di 57:23 larangan (وَلَا تَفْرَحُوا, wa-laa tafrahuu) yang berarti "dan janganlah kalian bergembira" mendahului kalimat tentang orang yang sombong lagi membanggakan diri. Akar ف-خ-ر juga ada di 57:20 sebagai (وَتَفَاخُرٌ, wa-tafaakhurun) yang berarti "dan saling membanggakan diri", yang disebut bersama permainan dan perhiasan sebagai ciri kehidupan dunia.
Tafsiran
Ayat ini terdiri dari dua larangan yang mengenai sikap tubuh di hadapan orang lain, lalu satu alasan yang menyebut Allah. Larangan pertama menyangkut cara seseorang menghadapi manusia, yang ditunjuk lewat pipi, dan larangan kedua menyangkut cara seseorang membawa dirinya di bumi, yang ditunjuk lewat langkah. Keduanya dibuka dengan kata larangan yang sama dan disusun sejajar, sehingga ayat ini tidak memberi urutan sebab antara pipi dan langkah.
Alasan yang diberikan tidak berupa akibat bagi orang lain atau bagi pelakunya, melainkan sikap Allah: Dia tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. Di 17:37 susunan larangan berjalan itu juga ada, tetapi alasannya lain, yaitu bahwa manusia tidak akan dapat menembus bumi dan mencapai ketinggian gunung. Di 31:18 alasan semacam itu tidak muncul, dan yang disebut sebagai dasar adalah cinta Allah. Pembaca dapat memperhatikan bahwa satu larangan yang sama diberi dua dasar yang berbeda di dua surah.
Dua sifat di ujung ayat tidak dirinci perbedaannya. Sombong dan membanggakan diri berdampingan di 4:36 dan 57:23, dan sifat kedua muncul sendirian di 11:10 sesudah nikmat yang datang setelah bencana. Dari 11:10 dan 57:23 dapat dilihat bahwa sifat kedua dikaitkan dengan keadaan sesudah menerima sesuatu, tetapi apa yang diterima tidak tertulis di 31:18. Ayat ini memuat dua sikap dan dua sifat tanpa keadaan yang memicunya.
Kata setiap di awal sifat itu tidak memberi pengecualian. Di 2:276 dan 22:38 kata yang sama mengikat dua sifat lain, dan di keempat ayat tidak ada kalimat yang menyebut siapa yang dikecualikan. Ayat 31:19 sesudahnya kembali ke bentuk perintah dan menyebut langkah serta suara, sehingga ujung rangkaian larangan ini tidak berhenti pada alasan itu saja.
Renungan dan Hikmah
- Larangan pertama menyangkut cara seseorang menghadap orang lain, dan larangan kedua menyangkut cara seseorang membawa dirinya sendiri di bumi. Keduanya disebut berdampingan tanpa urutan, dan keduanya mengenai sikap yang terlihat dari luar: arah pipi dan cara melangkah. Pembaca dapat memperhatikan bahwa alasan di ujung ayat menyebut sifat di balik pipi dan langkah itu, yaitu sifat yang tidak dicintai Allah. Bagian mana dari sikap tubuhnya yang paling mudah dilihat orang lain, dan sifat apa di baliknya yang paling jarang ia perhatikan?
- Alasan ayat ini berupa cinta Allah, bukan akibat bagi orang lain atau bagi pelaku. Di 17:37 larangan berjalan dengan angkuh diberi dasar berupa batas tubuh manusia terhadap bumi dan gunung, dan di sini dasar itu diganti. Pembaca yang terbiasa menimbang sikap menurut dampaknya pada pergaulan dapat memperhatikan bahwa dampak tidak disebut sama sekali di ayat ini, sehingga ukuran yang dipakai adalah apa yang dicintai Allah. Apa yang akan berubah dalam cara pembaca menimbang sikapnya, bila dasarnya diganti dari pandangan orang menjadi cinta Allah?
- Kata setiap di awal dua sifat itu membuat sasaran penolakan Allah mencakup siapa saja yang bersifat demikian, tanpa pembatas kaum, kedudukan, atau keadaan. Di 2:276 dan 22:38 kata yang sama mengikat sifat lain dengan cara yang sama. Pembaca yang mengira ada orang yang boleh dikecualikan dari sifat ini, misalnya orang yang punya alasan kuat untuk bangga, tidak mendapat pegangan dari ayat ini. Seandainya Allah menyebut setiap orang, di mana pembaca menempatkan dirinya dalam kata itu, dan apa yang membuatnya mengira dirinya berada di luar?
- Sombong dan membanggakan diri disebut berdampingan, dan ayat tidak menjelaskan apa yang membedakan keduanya. Di 4:36 dan 57:23 pasangan itu tampil dalam susunan yang hampir sama, sehingga pembaca dapat mencatat bahwa keduanya tidak berdiri sendiri-sendiri. Orang yang mengira dirinya hanya memiliki salah satu sifat dapat memeriksa apakah sifat satunya juga menempel padanya. Kapan terakhir pembaca merasa lebih tinggi dari orang lain, dan kapan terakhir mengatakannya dengan lantang, dan apakah Allah disebut dalam pikirannya pada keduanya?
- Di 11:10 membanggakan diri disebut sesudah gembira, pada orang yang menerima nikmat sesudah bencana, dan di 57:23 larangan bergembira terhadap apa yang diberikan Allah mendahului kalimat tentang orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dari dua ayat itu pembaca dapat melihat bahwa sifat di 31:18 pernah disebut di sebelah kegembiraan. Kegembiraan itu sendiri tidak tertulis di 31:18. Pembaca dapat menimbang apakah kegembiraan atas pemberian Allah menjadi tempat sifat ini bermula, dan kapan gembira berhenti menjadi syukur. Atas pemberian apa pembaca terakhir kali merasa gembira, dan apakah rasa itu masih mengingat Allah yang memberi?
- Sasaran larangan pertama disebut dengan kata manusia, tanpa pembeda kaya atau miskin, kerabat atau orang asing. Karena itu pembaca tidak dapat mengambil dari ayat ini daftar orang yang boleh dipalingi pipinya. Bentuk kata itu dipakai di lebih dari lima puluh ayat, dan di sini bentuk itu terikat pada kata kerja yang tidak ada di ayat lain, sehingga arah pandang dan sikap yang dimaksud tidak punya padanan lain untuk dibandingkan. Siapa di antara orang-orang di sekeliling pembaca yang paling jarang ia hadapi dengan muka sepenuhnya, dan apa yang membuatnya menghindar dari mereka?