وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang diturunkan Allah,” mereka berkata, “Bahkan, kami mengikuti apa yang kami dapati nenek moyang kami menganutnya.” Apakah begitu, walaupun setan menyeru mereka ke azab yang menyala-nyala?

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُwa-idzaa qiila lahumu ttabi'uu maa anzala llaahudan apabila dikatakan kepada mereka, ikutilah apa yang diturunkan Allah
  2. قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَاqaaluu bal nattabi'u maa wajadnaa 'alayhi aabaa'anaamereka berkata, bahkan kami mengikuti apa yang kami dapati nenek moyang kami menganutnya
  3. أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِa-wa-law kaana sy-syaythaanu yad'uuhum ilaa 'adzaabi s-sa'iiriapakah begitu, walaupun setan menyeru mereka ke azab yang menyala-nyala

Terjemahan per kata (21 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. قِيلَqiiladikatakan
  3. لَهُمُlahumubagi mereka
  4. اتَّبِعُواttabi'uuikutilah kalian
  5. مَاmaaapa yang
  6. أَنْزَلَanzalamenurunkan
  7. اللَّهُllaahuAllah
  8. قَالُواqaaluumereka berkata
  9. بَلْbalbahkan
  10. نَتَّبِعُnattabi'ukami mengikuti
  11. مَاmaaapa yang
  12. وَجَدْنَاwajadnaakami mendapati
  13. عَلَيْهِ'alayhiatasnya
  14. آبَاءَنَاaabaa'anaaleluhur kami
  15. أَوَلَوْa-wa-lawapakah walaupun
  16. كَانَkaanaadalah
  17. الشَّيْطَانُsy-syaythaanusetan
  18. يَدْعُوهُمْyad'uuhummenyeru mereka
  19. إِلَىٰilaakepada
  20. عَذَابِ'adzaabiazab
  21. السَّعِيرِs-sa'iiriapi yang menyala

Inti bacaan

Susunan (أَوَلَوْ كَانَ, a-wa-law kaana) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:170, 5:104, dan 31:21, dan hanya di 31:21 kata sesudahnya, (الشَّيْطَانُ, sy-syaythaanu), menjadi pelaku.

Penjelasan pilihan kata

Kalimat pertama dibuka dengan (وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ, wa-idzaa qiila lahumu) yang berarti "dan apabila dikatakan kepada mereka". Kata kerja (قِيلَ, qiila) berbentuk pasif, sehingga orang yang berkata tidak disebut. Susunan ini muncul lima kali, yaitu di 2:170, 25:60, 31:21, 36:45, dan 77:48. Perintah yang menyusul, (اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ, ittabi'uu maa anzala llaahu) yang berarti "ikutilah apa yang diturunkan Allah", muncul dua kali, yaitu di 2:170 dan 31:21, dan jawaban sesudahnya, (قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ, qaaluu bal nattabi'u) yang berarti "mereka berkata, 'Bahkan, kami mengikuti'", muncul di kedua ayat itu juga. Dengan (بَلْ, bal) yang berarti "bahkan", jawaban mereka beralih dari yang diperintahkan ke hal lain yang mereka ikuti.

Perintah dan jawaban itu memakai kata kerja dari akar ت-ب-ع, yaitu (اتَّبِعُوا, ittabi'uu) yang berarti "ikutilah" dan (نَتَّبِعُ, nattabi'u) yang berarti "kami mengikuti". Benda yang diikuti berbeda: pada perintah (مَا أَنْزَلَ اللَّهُ, maa anzala llaahu) yang berarti "apa yang diturunkan Allah", dan pada jawaban (مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا, maa wajadnaa 'alayhi aabaa'anaa) yang berarti "apa yang kami dapati nenek moyang kami menganutnya".

Kata kerja (وَجَدْنَا, wajadnaa) yang berarti "kami dapati" berakar و-ج-د, dan gabungannya dengan (آبَاءَنَا, aabaa'anaa) yang berarti "nenek moyang kami" muncul di delapan ayat, yaitu 5:104, 7:28, 10:78, 21:53, 26:74, 31:21, 43:22, dan 43:23. Di 2:170 dalih yang sama memakai kata kerja lain, (أَلْفَيْنَا, alfaynaa), dan terjemahan memakai "dapati" juga. Kata aabaa'anaa harfiahnya "bapak-bapak kami", dan terjemahan memakai "nenek moyang kami", sejalan dengan "nenek moyang kalian" untuk (آبَاؤُكُمْ, aabaa'ukum) di 7:71, 12:40, dan 53:23. Kata (عَلَيْهِ, 'alayhi) berarti "atasnya", dan di sini maksudnya sesuatu yang ditempati para leluhur. Terjemahan memakai "menganutnya", seperti (عَلَىٰ أُمَّةٍ, 'alaa ummatin) di 43:22 dan 43:23 yang berarti "menganut suatu umat". Teks tidak menyebut apa yang dianut para leluhur itu.

Kata (أَوَلَوْ, a-wa-law) yang berarti "apakah walaupun" tersusun dari (أَ, a), huruf tanya, (وَ, wa), dan (لَوْ, law) yang berarti "walaupun". Rangkaian ini muncul tujuh kali di tujuh ayat, yaitu 2:170, 5:104, 7:88, 26:30, 31:21, 39:43, dan 43:24. Dengan (كَانَ, kaana) di belakangnya, (أَوَلَوْ كَانَ, a-wa-law kaana) muncul tiga kali, yaitu di 2:170, 5:104, dan 31:21. Di 2:170 dan 5:104 kaana diikuti (آبَاؤُهُمْ, aabaa'uhum) yang berarti "nenek moyang mereka", dengan (لَا يَعْقِلُونَ, laa ya'qiluuna) yang berarti "tidak berakal" di 2:170 dan (لَا يَعْلَمُونَ, laa ya'lamuuna) yang berarti "tidak mengetahui" di 5:104. Di 31:21 kaana diikuti (الشَّيْطَانُ, sy-syaythaanu) yang berarti "setan", dengan kata kerja (يَدْعُوهُمْ, yad'uuhum) yang berarti "menyeru mereka". Kata kerja yang ditanyakan tidak diucapkan setelah pertanyaan itu, dan terjemahan memakai "begitu" untuk menunjuk kembali ke jawaban mereka tanpa menambahkan kata kerja baru.

Kata kerja (يَدْعُوهُمْ, yad'uuhum) berakar د-ع-و, dan bentuk persis ini muncul sekali, di 31:21. Tujuan seruannya, (عَذَابِ السَّعِيرِ, 'adzaabi s-sa'iiri) yang berarti "azab yang menyala-nyala", muncul tiga kali, yaitu di 22:4, 31:21, dan 34:12. Kata (السَّعِيرِ, s-sa'iiri) berakar س-ع-ر dan muncul delapan kali di enam surah, yaitu 22:4, 31:21, 34:12, 35:6, 42:7, 67:5, 67:10, dan 67:11. Di 22:4, sesudah 22:3 menyebut setan, tujuan yang sama dicapai lewat kata kerja lain, (وَيَهْدِيهِ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ, wa-yahdiihi ilaa 'adzaabi s-sa'iiri) yang berarti "dan menuntunnya ke azab yang menyala-nyala". Di 35:6, (إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ, innamaa yad'uu hizbahu) yang berarti "ia hanya menyeru golongannya" memakai kata kerja yang sama dengan 31:21 untuk setan, agar mereka menjadi (أَصْحَابِ السَّعِيرِ, ashaabi s-sa'iiri) yang berarti "penghuni api yang menyala-nyala".

Tafsiran

Ayat ini terdiri dari tiga langkah: perintah, penolakan, dan pertanyaan. Perintahnya mengikuti apa yang diturunkan Allah, penolakannya menyebut hal lain yang diikuti, dan pertanyaan terakhir menaruh setan di ujung jalan yang diikuti itu. Siapa yang mengajukan pertanyaan itu tidak dinyatakan, sama seperti di 2:170 dan 5:104.

Ayat 31:20 menggambarkan orang yang berdebat tentang Allah tanpa ilmu, petunjuk, dan kitab yang menerangi, dan 31:21 memperlihatkan ucapan orang semacam itu ketika diminta mengikuti apa yang diturunkan Allah. Dapat dibaca bahwa jawaban mereka mengisi kekosongan yang disebut di 31:20 dengan sesuatu yang lain, yaitu apa yang mereka dapati dari nenek moyang. Pembacaan ini tidak dinyatakan ayat, karena 31:21 tidak menamai "mereka" sebagai orang yang sama dengan pendebat di 31:20.

Surah 22 menyebut perdebatan tanpa ilmu dan pengikutan terhadap setan dalam satu ayat, yaitu 22:3. Surah 31 membagi isi itu ke dua ayat berurutan, perdebatan di 31:20 dan dalih leluhur beserta setan di 31:21, sehingga 31:21 membawa pembicaraan dari apa yang tidak dimiliki orang itu ke apa yang dipegangnya sebagai gantinya.

Pertanyaan penutup mengubah arah sorotan. Di 2:170 dan 5:104 pertanyaan yang sama menguji mutu nenek moyang yang diikuti, sedangkan di 31:21 pertanyaan itu menguji siapa yang menyeru di balik jalan itu. Di ketiga ayat pertanyaannya tidak dijawab di dalam ayat itu sendiri. Ayat 31:22 yang menyusul membuka dengan orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, gambaran yang berseberangan dengan orang yang mengikuti apa yang didapatinya.

Renungan dan Hikmah

  • Perintah dan jawaban di ayat ini memakai kata kerja yang sama, mengikuti, dengan benda yang berbeda: apa yang diturunkan Allah pada perintah, dan apa yang didapati dari nenek moyang pada jawaban. Jawaban itu tidak menolak kegiatan mengikuti, dan hanya mengganti bendanya. Pembaca dapat memeriksa hidupnya sendiri dengan cara yang sama, yaitu dengan menanyakan benda yang diikuti. Dalam kebiasaan yang sedang dijalani pembaca, apa yang diikuti, dan sejak kapan benda itu diikuti?
  • Di 7:28 dalih leluhur diperpanjang dengan ucapan bahwa Allah menyuruh mengerjakan perbuatan keji itu, dan ayat itu langsung memuat jawaban bahwa Allah tidak memerintahkan kekejian. Dalih di 31:21 tidak membawa nama Allah sama sekali dan menyebut apa yang didapati dari nenek moyang saja. Dua ayat itu berbeda konteks, sehingga keduanya tidak disamakan, tetapi keduanya memperlihatkan dua tingkat dalih: kebiasaan yang berdiri sendiri, dan kebiasaan yang disandarkan kepada Allah. Kebiasaan warisan yang dijalani seseorang termasuk tingkat yang mana, dan sudahkah kebiasaan itu dibandingkan dengan apa yang diturunkan Allah?
  • Untuk nenek moyang, ayat memakai kata kerja "kami dapati", yang menggambarkan sesuatu yang sudah ada ketika orang itu datang dan tidak dipilihnya. Pada perintah, kata kerjanya "diturunkan", yang menggambarkan sesuatu yang datang dari luar lalu dihadapkan kepada orang itu. Dua cara datangnya sesuatu itu berbeda, dan jawaban dalam ayat ini berpihak pada yang pertama. Dalam hidup pembaca, apa saja yang dijalani karena sudah ada sebelum diperiksa, dan apa saja yang dijalani setelah diperiksa?
  • Pertanyaan penutup tidak lagi bertanya tentang nenek moyang dan beralih ke penyeru yang mungkin berdiri di ujung jalan yang diikuti. Di 31:21 setan menyeru ke azab yang menyala-nyala, di 35:6 setan menyeru golongannya agar menjadi penghuni api yang menyala-nyala, dan di 22:4 setan menuntun ke azab yang sama. Jalan yang diikuti karena kebiasaan bisa saja tidak memperlihatkan ujungnya, dan pertanyaan di ayat ini mengarahkan pandangan ke sana. Siapa yang berdiri di ujung jalan yang selama ini diikuti, dan dari mana pembaca mengetahuinya?
  • Perintah di ayat ini berbentuk pasif, "dikatakan kepada mereka", sehingga orang yang menyampaikannya tidak disebut. Jawaban mereka menanggapi isi perintah, yaitu mengikuti apa yang diturunkan Allah, dan tidak menyinggung orang yang menyampaikannya. Susunan itu memperlihatkan bahwa isi perintah dapat dijawab tanpa mempersoalkan penyampainya. Bila perintah semacam itu sampai kepada seseorang lewat orang yang kurang disukainya, apakah jawabannya tetap tentang isi perintah, atau berpindah ke orang yang menyampaikannya?
  • Kata bal, "bahkan", datang tepat sesudah perintah dan sebelum alasan apa pun, sehingga penolakan disampaikan lebih dulu daripada pertimbangan. Alasan yang menyusul berjumlah satu, yaitu apa yang didapati dari nenek moyang, dan alasan itu tidak mengutip isi apa yang diturunkan Allah. Penolakan yang datang sebelum isi dibahas hanya menyisakan kebiasaan sebagai alasan. Seseorang yang pernah menjawab "bahkan" kepada ajakan tertentu dapat bertanya, apakah isi ajakan itu sudah didengar sampai selesai sebelum menjawab?