نُمَتِّعُهُمْ قَلِيلًا ثُمَّ نَضْطَرُّهُمْ إِلَىٰ عَذَابٍ غَلِيظٍ

Kami beri mereka kesenangan sedikit, kemudian Kami paksa mereka ke azab yang berat.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. نُمَتِّعُهُمْ قَلِيلًاnumatti'uhum qaliilanKami beri mereka kesenangan sedikit
  2. ثُمَّ نَضْطَرُّهُمْ إِلَىٰ عَذَابٍ غَلِيظٍtsumma nadhtharruhum ilaa 'adzaabin ghaliizhinkemudian Kami paksa mereka ke azab yang berat

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. نُمَتِّعُهُمْnumatti'uhumKami memberi mereka kesenangan
  2. قَلِيلًاqaliilansedikit
  3. ثُمَّtsummakemudian
  4. نَضْطَرُّهُمْnadhtharruhumKami memaksa mereka
  5. إِلَىٰilaakepada
  6. عَذَابٍ'adzaabinazab
  7. غَلِيظٍghaliizhinyang berat

Inti bacaan

Kata (نَضْطَرُّهُمْ, nadhtharruhum) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 31:24.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (نُمَتِّعُهُمْ, numatti'uhum) yang berarti "Kami beri mereka kesenangan". Kata ini tersusun dari awalan (نُ, nu-) yang berarti "Kami", kata kerja dari akar م-ت-ع, dan akhiran (هُمْ, -hum) yang berarti "mereka". Dengan sa- di depannya, yang berarti "akan", kata yang sama ada di 11:48, yaitu (سَنُمَتِّعُهُمْ, sa-numatti'uhum), dan di 2:126 pelakunya berubah menjadi orang pertama tunggal dalam (فَأُمَتِّعُهُ, fa-umatti'uhu) yang berarti "maka akan Aku beri ia kesenangan". Tiga ayat itu menyambung kata kerja kesenangan dengan azab lewat (ثُمَّ, tsumma) yang berarti "kemudian", seperti (فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ, fa-umatti'uhu qaliilan tsumma adhtharruhu) di 2:126 dan (سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ, sa-numatti'uhum tsumma yamassuhum) di 11:48. Terjemahan memakai "kesenangan" untuk akar ini karena kata bendanya, (مَتَاعٌ قَلِيلٌ, mataa'un qaliilun), diterjemahkan "kesenangan yang sedikit" di 3:197 dan 16:117.

Kata (قَلِيلًا, qaliilan) yang berarti "sedikit" berakar ق-ل-ل. Akar م-ت-ع dan ق-ل-ل berada dalam satu ayat di sembilan tempat, yaitu 2:126, 3:197, 4:77, 9:38, 16:117, 31:24, 33:16, 39:8, dan 77:46. Di 3:197 sedikit itu menyifati kata benda, dan ayatnya bersambung ke Jahanam lewat (ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ, tsumma ma'waahum jahannamu) yang berarti "kemudian tempat tinggal mereka Jahanam". Di 2:126 dan 31:24 qaliilan mengikuti kata kerja yang memberi kesenangan, sehingga terjemahan menjadikannya jumlah, yaitu "kesenangan sedikit". Di 39:8, (تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا, tamatta' bi-kufrika qaliilan) yang berarti "bersenang-senanglah dengan kekufuranmu sebentar", dan di 77:46, (وَتَمَتَّعُوا قَلِيلًا, wa-tamatta'uu qaliilan) yang berarti "dan bersenang-senanglah sebentar", qaliilan mengikuti perintah bersenang-senang, sehingga terjemahan menjadikannya lamanya. Kata qaliilan sendiri tidak membedakan jumlah dari lama, dan pembedaan itu datang dari kata kerja di depannya. Ayat ini tidak menyebut berapa lama kesenangan itu berlangsung.

Kata (نَضْطَرُّهُمْ, nadhtharruhum) yang berarti "Kami paksa mereka" tersusun dari awalan (نَ, na-) yang berarti "Kami", kata kerja berakar ض-ر-ر, dan akhiran (هُمْ, -hum) yang berarti "mereka". Kata kerja dari akar ini dengan bentuk serupa muncul tujuh kali. Empat di antaranya berbunyi (فَمَنِ اضْطُرَّ, fa-mani dhthurra) yang berarti "maka siapa yang terpaksa", yaitu di 2:173, 5:3, 6:145, dan 16:115, satu berbunyi (اضْطُرِرْتُمْ, dhthurirtum) yang berarti "kalian terpaksa" di 6:119, satu berbunyi (أَضْطَرُّهُ, adhtharruhu) yang berarti "Aku paksa ia" di 2:126, dan satu adalah kata di ayat ini. Pada lima ayat pertama pemaksanya tidak disebut dan semuanya menyangkut makanan yang diharamkan. Empat di antaranya, yaitu 2:173, 5:3, 6:145, dan 16:115, ditutup dengan (غَفُورٌ رَحِيمٌ, ghafuurun rahiimun) yang berarti "pengampun lagi pengasih". Di 2:126 dan 31:24 pemaksanya disebut dengan kata ganti orang pertama dan tujuannya azab, sehingga terjemahan memakai "paksa" supaya pelakunya terbaca, berbeda dari "terpaksa" pada lima ayat tadi.

Kata (إِلَىٰ, ilaa) yang berarti "ke" menghubungkan paksaan itu dengan (عَذَابٍ, 'adzaabin) yang berarti "azab". Gabungan (إِلَىٰ عَذَابٍ, ilaa 'adzaabin) ada di 9:101 dan di ayat ini, dan dengan akhiran -i, yaitu (إِلَىٰ عَذَابِ, ilaa 'adzaabi), di 2:126, 22:4, dan 31:21. Di 2:126, 22:4, dan 31:21 terjemahan memakai "ke azab", dan ayat ini mengikutinya tanpa menambah kata "masuk", karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya.

Kata (غَلِيظٍ, ghaliizhin) berakar غ-ل-ظ. Gabungan (عَذَابٍ غَلِيظٍ, 'adzaabin ghaliizhin) muncul tiga kali, yaitu di 11:58, 31:24, dan 41:50, dan bentuk (عَذَابٌ غَلِيظٌ, 'adzaabun ghaliizhun) ada di 14:17. Akar ini diterjemahkan "keras" bila menyifati hati, (غَلِيظَ الْقَلْبِ, ghaliizha l-qalbi) di 3:159, dan sikap, (وَاغْلُظْ, wa-ghluzh) di 9:73 dan 66:9. Bila menyifati azab, 14:17 diterjemahkan "azab yang berat", dan ayat ini mengikutinya dengan "berat". Kata "keras" untuk azab dipakai bagi kata lain, (الشَّدِيدَ, sy-syadiida) yang berarti "yang keras" di 10:70, sehingga dua kata Arab yang berbeda tidak bertemu di satu padanan. Di 11:58 sifat azab diterjemahkan "dahsyat" dan di 41:50 "sangat berat".

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan 31:23 dengan dua langkah yang juga ada di 2:126 sesudah kalimat pembuka siapa yang kufur, yaitu kesenangan yang sedikit lalu paksaan ke azab. Ayat 31:23 dibuka (وَمَنْ كَفَرَ, wa-man kafara) yang berarti "dan siapa yang kufur", lalu menyebut tempat kembali mereka dengan (إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ, ilaynaa marji'uhum) yang berarti "kepada Kami tempat kembali mereka", dan menutup dengan ilmu Allah tentang isi dada. Kata ilaa dipakai dua kali untuk arah mereka, kepada Kami di 31:23 dan ke azab di 31:24. Ayat 10:70 memuat ketiga unsur itu dengan urutan lain, yaitu kesenangan di dunia, tempat kembali kepada Kami, lalu azab yang dirasakan, dengan kata kemudian di antaranya.

Ayat 31:24 sendiri tidak menyebut kekufuran. Kata ganti -hum di dalamnya dapat dibaca menunjuk orang-orang yang sama dengan -hum di 31:23, sehingga ayat ini terbaca sebagai lanjutan tentang mereka dan tidak sebagai pernyataan baru tentang kelompok lain. Pembacaan ini bersandar pada urutan ayat dan kata ganti yang sama, dan ayat 2:126 memperkuatnya karena kalimat serupa di sana dibuka dengan "siapa yang kufur".

Ayat 31:21 membawa sekelompok orang ke azab dengan cara lain. Di sana yang bertindak adalah setan, (يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ, yad'uuhum ilaa 'adzaabi s-sa'iiri) yang berarti "menyeru mereka ke azab yang menyala-nyala", sedangkan di 31:24 kata kerjanya memaksa dan pelakunya Kami. Kedua ayat memuat kata ke dan kata azab, tetapi tidak menyatakan apakah kelompok yang dibicarakan sama, dan tidak menjelaskan bagaimana seruan dan paksaan bertemu.

Ayat berikutnya melanjutkan dengan pertanyaan. Di 31:25, (سَأَلْتَهُمْ, sa'altahum) yang berarti "engkau bertanya kepada mereka" memakai akhiran -hum yang sama, sehingga orang-orang yang diberi kesenangan sedikit dapat dibaca sebagai orang-orang yang ditanya di sana. Urutannya demikian: sesudah janji pemberitahuan di 31:23 datang gambaran akhir mereka di 31:24, lalu pertanyaan di 31:25 yang jawabannya sudah mereka miliki.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja pertama ayat ini memakai awalan Kami dan akhiran mereka, sehingga kesenangan tergambar sebagai sesuatu yang sampai dari satu pihak kepada pihak lain. Ayat 31:23 menutup dengan nama Allah sebagai pihak yang berilmu tentang isi dada, dan 31:24 bersambung dengan kata ganti yang sama tanpa jeda. Seorang pembaca yang menghitung kenyamanannya hari ini, yaitu makanan di meja, tidur yang cukup, dan orang-orang yang menunggunya di rumah, dapat menandai mana yang dicatatnya sebagai hasil kerja sendiri dan mana sebagai pemberian. Berapa banyak dari daftar itu yang dituliskannya dengan kata kerja memberi?
  • Di 2:126 kalimat yang sejajar dengan 31:24 berada dalam jawaban atas doa Ibrahim kepada Tuhannya tentang negeri yang aman, dan kalimat itu dibuka dengan siapa yang kufur. Jawaban itu menyatakan bahwa kesenangan juga diberikan kepada orang yang kufur, dengan ukuran sedikit. Ayat 31:24 sendiri tidak menyebut kekufuran, dan 2:126 berbicara tentang rezeki bagi penduduk sebuah negeri, sehingga keduanya tidak disamakan. Dari dua ayat itu dapat dibaca bahwa adanya kesenangan tidak dengan sendirinya menjadi tanda berada di pihak yang benar. Bila hidup seseorang sedang lapang, apa yang dijadikannya tolok ukur selain kelapangan itu?
  • Kata sedikit di ayat ini menjadi ukuran yang ditetapkan oleh pihak yang memberi. Di 4:77 kesenangan dunia disebut sedikit sedangkan akhirat lebih baik bagi orang yang bertakwa, dan di 33:16 kesenangan bagi orang yang lari dari kematian disebut sedikit pula. Tiga ayat itu menyebut ukuran yang sama dalam konteks yang berlainan, jadi masing-masing tidak dipakai untuk menafsirkan yang lain. Di 31:24 ukuran itu tidak disertai satuan waktu, sehingga pembaca tidak memperoleh angka untuk menghitung sisanya. Dengan apa seseorang menakar kesenangannya sendiri bila ukuran yang disebut ayat tidak datang bersama angka?
  • Ayat 31:21 menyebut setan sebagai penyeru ke azab, dan 31:24 menyebut Kami, pihak yang menurut 31:23 menerima tempat kembali mereka, sebagai pemaksa ke azab. Ayat-ayat itu tidak menyatakan apakah kelompok yang dibicarakan sama, sehingga hubungan keduanya dibaca dengan hati-hati. Dari urutannya dapat dibaca bahwa ada dua pihak yang mengarahkan ke tujuan yang sama dengan cara yang berbeda, yang satu memanggil dan yang lain memaksa. Seseorang yang mengikuti suatu ajakan karena sudah menjadi kebiasaan keluarganya, seperti kalimat tentang nenek moyang di 31:21, dapat bertanya ajakan siapa yang sebenarnya sedang diikutinya, dan ke mana ajakan itu bermuara?
  • Ayat 31:23 meminta penerima sapaan tidak bersedih karena kekufuran orang lain dan menutup dengan Allah yang berilmu tentang isi dada, lalu 31:24 langsung memberi gambaran tentang mereka sesudahnya. Urutan itu dapat dibaca sebagai penghiburan yang memakai gambaran dan tidak memakai bujukan. Orang yang bersedih karena seseorang yang dicintainya menolak sesuatu yang ia anggap penting dapat memperhatikan bahwa ayat ini memindahkan perhatian dari penolakan itu ke apa yang dikerjakan terhadap mereka, urusan yang di 31:23 disebut kembali kepada Kami. Bila kesedihan seseorang sedang memikul urusan yang di ayat ini disebut kembali kepada Kami, bagian apa yang masih tertinggal pada dirinya sendiri?
  • Akar kata paksa di ayat ini muncul pada lima ayat lain dengan arti terpaksa, semuanya tentang makanan yang diharamkan, dan empat di antaranya ditutup dengan kata pengampun lagi pengasih, tiga dengan nama Allah dan satu dengan Tuhanmu. Kata yang sama di 31:24 berada pada sisi sebaliknya, karena yang memaksa adalah pihak yang memakai kata Kami dan tujuannya azab. Satu akar dipakai untuk orang yang terpaksa pada lima ayat itu dan untuk orang yang dipaksa ke azab di 31:24. Seseorang yang pernah mengucapkan bahwa dirinya terpaksa dapat menimbang paksaan macam apa yang dimaksudkannya, dan siapa pemaksanya?
  • Dalam satu kalimat ayat ini menaruh dua sifat yang berlawanan, kesenangan yang sedikit dan azab yang berat, dan keduanya dihubungkan oleh satu kata, kemudian. Kata itu tidak disertai tanda yang menunjukkan kapan pergantiannya terjadi. Seseorang yang sedang berada di tengah kesenangan sedikit tidak menerima tanda semacam itu dari ayat ini. Pihak yang memberi dan pihak yang memaksa memakai kata ganti yang sama, jadi gambaran ini terbaca sebagai satu urusan dengan dua tahap. Dari mana seseorang menilai di tahap mana dirinya sedang berdiri, bila tidak ada tanda di antara kedua tahap itu?