لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
Milik Allah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Allah, Dialah Sang Berkecukupan lagi Sang Terpuji.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِli-llaahi maa fii s-samaawaati wa-l-ardhimilik Allah apa yang di langit dan di bumi
- إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُinna llaaha huwa l-ghaniyyu l-hamiidusesungguhnya Allah Dialah Sang Berkecukupan lagi Sang Terpuji
Terjemahan per kata (10 kata)
- لِلَّهِli-llaahibagi Allah
- مَاmaaapa yang
- فِيfiidi
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- هُوَhuwaDia
- الْغَنِيُّl-ghaniyyuMahakaya
- الْحَمِيدُl-hamiiduMaha Terpuji
Inti bacaan
Rangkaian (لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, li-llaahi maa fii s-samaawaati wa-l-ardhi) muncul lima kali di Al-Qur'an, yaitu di 4:170, 10:55, 24:64, 31:26, dan 57:1, dan hanya di 57:1 li-llaahi berarti 'kepada Allah'.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (لِلَّهِ, li-llaahi) yang berarti "milik Allah", tersusun dari (لِ, li-) yang menyatakan kepemilikan dan (اللَّهِ, llaahi) yang berarti "Allah". Rangkaian (لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, li-llaahi maa fii s-samaawaati wa-l-ardhi) muncul lima kali, yaitu di 4:170, 10:55, 24:64, 31:26, dan 57:1. Di 57:1 li-llaahi mengikuti kata kerja (سَبَّحَ, sabbaha) yang berarti "bertasbih", sehingga artinya "kepada Allah", sedangkan di empat ayat lainnya li-llaahi menyatakan milik, dan tiga di antaranya, yaitu 4:170, 10:55, dan 24:64, memakai inna di depannya, yaitu (إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, inna li-llaahi maa fii s-samaawaati wa-l-ardhi). Kata (مَا, maa) yang berarti "apa yang" menunjuk seluruh isi langit dan bumi tanpa merinci. Terjemahan memakai "apa yang di langit dan di bumi" tanpa kata "ada", seperti di 4:170 dan 24:64, karena (فِي, fii) hanya berarti "di".
Kata (هُوَ, huwa) yang berarti "Dia" berdiri sendiri di antara (اللَّهَ, llaaha) dan dua nama sesudahnya, sehingga terjemahan memakai "Dialah". Rangkaian (هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ, huwa l-ghaniyyu l-hamiidu) muncul lima kali, yaitu di 22:64, 31:26, 35:15, 57:24, dan 60:6.
Kata (الْغَنِيُّ, l-ghaniyyu) yang berarti "Sang Berkecukupan" berakar غ-ن-ي. Dengan kata sandang al- dan akhiran -u kata ini muncul delapan kali, yaitu di 6:133, 10:68, 22:64, 31:26, 35:15, 47:38, 57:24, dan 60:6, dan terjemahan memakai "Sang Berkecukupan" di 22:64, 31:26, 35:15, 47:38, 57:24, dan 60:6. Tanpa kata sandang, (غَنِيٌّ, ghaniyyun) muncul sembilan kali, yaitu di 2:263, 2:267, 3:97, 14:8, 27:40, 29:6, 31:12, 39:7, dan 64:6. Akar yang sama dalam kata kerja, (أَغْنَىٰ, aghnaa), diterjemahkan "mencukupkan", seperti (فَأَغْنَىٰ, fa-aghnaa) yang berarti "lalu Dia mencukupkanmu" di 93:8, dan (هُوَ أَغْنَىٰ, huwa aghnaa) yang berarti "Dialah yang mencukupkan" di 53:48. Terjemahan "berkecukupan" menjaga akar itu tetap terlihat. Di 35:15 kata ghaniyy berdiri di samping (أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ, antumu l-fuqaraa'u) yang berarti "kalianlah yang memerlukan", dan di 47:38 di samping (وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ, wa-antumu l-fuqaraa'u) yang berarti "dan kalianlah yang fakir". Di Surah 31 kata ghaniyy hanya ada di dua ayat, yaitu 31:12 dan 31:26.
Kata (الْحَمِيدُ, l-hamiidu) yang berarti "Sang Terpuji" berakar ح-م-د, akar yang sama dengan (الْحَمْدُ, l-hamdu) yang berarti "segala puji" di 31:25. Dengan akhiran -u kata ini muncul enam kali, yaitu di 22:64, 31:26, 35:15, 42:28, 57:24, dan 60:6, dan dengan akhiran -i, (الْحَمِيدِ, l-hamiidi), empat kali, yaitu di 14:1, 22:24, 34:6, dan 85:8. Ucapan pujinya adalah hamd, dan yang dipuji disebut hamiid, sehingga terjemahan "puji" dan "terpuji" menjaga hubungan itu.
Dua nama itu berdampingan di sembilan ayat: lima dengan kata sandang, (الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ, l-ghaniyyu l-hamiidu), yaitu 22:64, 31:26, 35:15, 57:24, dan 60:6, dan empat tanpa kata sandang, (غَنِيٌّ حَمِيدٌ, ghaniyyun hamiidun), yaitu 2:267, 14:8, 31:12, dan 64:6. Di kesembilan ayat itu ghaniyy disebut lebih dulu dan hamiid menyusul.
Tafsiran
Ayat ini menyusul pengakuan di 31:25 dengan dua pernyataan yang tidak memuat satu pun kata kerja: milik Allah apa yang di langit dan di bumi, dan Allah Sang Berkecukupan lagi Sang Terpuji. Ayat 31:24 dan 31:25 penuh kata kerja, yaitu memberi, memaksa, bertanya, menjawab, dan mengatakan, sedangkan ayat ini berhenti pada pernyataan tentang pemilik dan nama. Ayat 31:25 menyebut langit dan bumi dalam pertanyaan, dan ayat ini memakai kata yang sama untuk menyatakan kepemilikan, sehingga jawaban tentang pencipta langsung disusul pernyataan tentang pemilik.
Himpunan yang sama, (مَا فِي السَّمَاوَاتِ, maa fii s-samaawaati), muncul di 31:20 sebagai sesuatu yang dibuat tunduk, dengan kata kerja (سَخَّرَ لَكُمْ, sakhkhara lakum) yang berarti "menundukkan untuk kalian". Di 31:20 himpunan itu disebut dalam hubungan dengan pembaca, dan di 31:26 dalam hubungan dengan Allah. Kedua ayat tidak menyatakan bahwa kedua hubungan itu bertentangan, dan ayat ini tidak menjelaskan bagaimana keduanya bertemu.
Dua pernyataan ayat ini muncul terpisah di tempat lain sebagai jawaban atas kekufuran. Di 4:170 jawabannya kepemilikan, (وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, wa-in takfuruu fa-inna li-llaahi maa fii s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "dan jika kalian kufur, maka sesungguhnya milik Allahlah apa yang di langit dan di bumi", dan di 31:12 jawabannya nama, (وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ, wa-man kafara fa-inna llaaha ghaniyyun hamiidun) yang berarti "dan siapa yang kufur, maka sesungguhnya Allah berkecukupan lagi terpuji". Ayat 31:26 menyatukan keduanya dalam satu ayat, sesudah 31:23 menyebut orang yang kufur dan 31:24 menyebut akhir mereka.
Dari 31:26 sampai 31:30 tiap ayat ditutup dengan nama-nama Allah: (الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ, l-ghaniyyu l-hamiidu) di 31:26, (عَزِيزٌ حَكِيمٌ, 'aziizun hakiimun) di 31:27, (سَمِيعٌ بَصِيرٌ, samii'un bashiirun) di 31:28, (خَبِيرٌ, khabiirun) di 31:29, dan (الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ, l-'aliyyu l-kabiiru) di 31:30. Ayat ini membuka deretan itu.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 31:24 dan 31:25 dipenuhi kata kerja yang dikerjakan para pelakunya, yaitu memberi, memaksa, bertanya, menjawab, dan mengatakan. Ayat 31:26 tidak memuat satu kata kerja pun, hanya pernyataan tentang milik dan dua nama. Pembaca yang mengikuti rangkaian itu berpindah dari apa yang terjadi ke apa yang ada, dan perpindahan itu terasa seperti jeda. Orang yang terbiasa menilai sebuah urusan dari siapa melakukan apa dapat memperhatikan bahwa ayat ini berhenti pada pertanyaan siapa pemiliknya. Kapan terakhir seseorang menutup sebuah urusan dengan menyatakan siapa pemilik segalanya, tanpa menyebut siapa penyebabnya?
- Apa yang di langit dan di bumi disebut ditundukkan untuk kalian di 31:20, dan disebut milik Allah di 31:26. Dua ayat itu menaruh himpunan yang sama dalam dua hubungan, sebagai sesuatu yang dipakai dan sebagai sesuatu yang dimiliki pihak lain, dan teks tidak menyatakan bahwa keduanya bertentangan. Seseorang yang menyebut rumah, air, dan udara di sekitarnya sebagai miliknya dapat memperhatikan bahwa ayat-ayat ini memberinya kata kerja untuk memakai, tetapi memberi Allah kata untuk memiliki. Bila hubungan itu dibaca sebagai pemakaian, apa yang berubah pada cara seseorang memperlakukan benda-benda di sekelilingnya?
- Ayat ini menamai Allah Sang Berkecukupan, dan di 35:15 kata yang sama berdiri di samping pernyataan bahwa kalianlah yang memerlukan Allah, sedangkan di 47:38 disandingkan dengan kalianlah yang fakir. Tiga ayat itu menaruh kebutuhan pada satu arah. Di 31:12 syukur disebut untuk diri orang yang bersyukur, dan ayat yang sama menutup dengan Allah berkecukupan lagi terpuji. Orang yang memberi waktu, uang, atau tenaga dapat memeriksa kata yang dipakainya untuk perbuatan itu, apakah dirinya membantu atau sedang memperoleh bantuan. Bila Allah disebut berkecukupan, apa yang kembali kepada pemberinya?
- Ayat sebelumnya memerintahkan segala puji bagi Allah, dan ayat ini menyebut Allah Sang Terpuji dari akar yang sama. Puji dan yang terpuji disebut berurutan, dan keduanya dapat dibaca sebagai ucapan dan sasarannya. Pembaca yang memuji sesuatu, entah makanan, kota, atau seseorang, dapat memperhatikan bahwa kata puji di ayat-ayat ini tidak lepas dari siapa yang dipuji. Bila ayat ini dijadikan ukuran, kepada siapa puji yang diucapkannya hari ini benar-benar sampai, dan apa yang tinggal dari puji itu bila yang dipuji tidak memerlukannya?
- Di 31:12 dan di rangkaian 31:23 sampai 31:26 pasangan nama berkecukupan dan terpuji muncul dalam kalimat tentang orang yang kufur. Di 31:12 kalimatnya langsung menyambung: siapa yang kufur, maka sesungguhnya Allah berkecukupan lagi terpuji. Dari sambungan itu dapat dibaca bahwa penolakan seseorang tidak mengubah apa yang disebut tentang Allah. Seseorang yang kecewa karena pekerjaannya yang baik tidak disambut dapat bertanya apakah kecewanya bergantung pada sambutan, dan apa yang tersisa pada pekerjaan itu bila sambutan tidak pernah datang?
- Dalam sembilan ayat yang memuat dua nama itu, berkecukupan selalu disebut lebih dulu dan terpuji menyusul, yaitu di 2:267, 14:8, 22:64, 31:12, 31:26, 35:15, 57:24, 60:6, dan 64:6. Ayat-ayat itu tidak menjelaskan sebabnya, tetapi urutannya cukup tetap untuk diperhatikan: sifat tidak memerlukan disebut sebelum sifat dipuji. Seseorang yang sedang menerima pujian dapat bertanya bagaimana keadaannya bila pujian itu berhenti, dan apakah dirinya masih merasa cukup. Bagaimana pembaca menyusun dua hal itu dalam dirinya sendiri, bila Allah digambarkan ayat ini dengan urutan tersebut?