وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan seandainya pohon-pohon yang ada di bumi menjadi pena-pena, dan laut menjadi tinta, disambung oleh tujuh laut lagi sesudahnya, kalimat-kalimat Allah tidak akan pernah habis. Sesungguhnya Allah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌwa-law annamaa fii l-ardhi min syajaratin aqlaamundan seandainya pohon-pohon yang ada di bumi menjadi pena-pena
  2. وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍwa-l-bahru yamudduhu min ba'dihi sab'atu abhurindan laut menjadi tinta, disambung oleh tujuh laut lagi sesudahnya
  3. مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِmaa nafidat kalimaatu llaahikalimat-kalimat Allah tidak akan pernah habis
  4. إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌinna llaaha 'aziizun hakiimunsesungguhnya Allah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah

Terjemahan per kata (21 kata)

  1. وَلَوْwa-lawdan sekiranya
  2. أَنَّمَاannamaabahwa hanyalah
  3. فِيfiidi
  4. الْأَرْضِl-ardhibumi
  5. مِنْmindari
  6. شَجَرَةٍsyajaratinpohon
  7. أَقْلَامٌaqlaamunpena
  8. وَالْبَحْرُwa-l-bahrudan laut
  9. يَمُدُّهُyamudduhumenambahnya
  10. مِنْmindari
  11. بَعْدِهِba'dihisesudahnya
  12. سَبْعَةُsab'atutujuh
  13. أَبْحُرٍabhurinlautan
  14. مَاmaatidaklah
  15. نَفِدَتْnafidathabis
  16. كَلِمَاتُkalimaatukalimat-kalimat
  17. اللَّهِllaahiAllah
  18. إِنَّinnasesungguhnya
  19. اللَّهَllaahaAllah
  20. عَزِيزٌ'aziizunMahaperkasa
  21. حَكِيمٌhakiimunbijaksana

Inti bacaan

Metafora yang menakjubkan tentang kedalaman firman: 'seandainya pohon-pohon menjadi pena dan lautan tinta. niscaya tidak akan pernah habis kalimatullah', cakupan pengetahuan yang melampaui skala terbesar yang bisa dibayangkan manusia.

Penjelasan pilihan kata

'Kalimaatu llaahi' diverifikasi lewat morfologi berbentuk jamak (FP): diterjemahkan 'kalimat-kalimat Allah', bukan 'kalimatullah' sebagai istilah tunggal. Frasa 'laut menjadi tinta' bukan tambahan kurung melainkan pelengkap elips yang tersirat lewat paralelisme struktur Arab sendiri ('aqlaamun' berpasangan dengan tinta yang tidak disebutkan tapi dituntut maknanya oleh susunan kalimat): dirajut langsung ke kalimat mengalir tanpa tanda kurung, berbeda dari kasus 28:47 yang sepenuhnya tambahan fabrikasi baru. 'Aziizun hakiimun' diterjemahkan 'Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah', konsisten dengan 26:9 dan 31:9.

Dua rangkaian di ayat ini tak terulang. Yang pertama “pena-pena” (أَقْلَامٌ, aqlaamun). Yang kedua “tujuh laut lagi” (سَبْعَةُ أَبْحُرٍ, sab'atu abhurin). Keduanya hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya berada di ayat ini.

Bahan yang dipilih untuk pengandaian ini semuanya benda yang bisa habis, dan itulah cara kerjanya. Pohon habis, laut habis, dan tujuh laut tambahan pun habis. Yang dipertentangkan bukan besar melawan kecil, melainkan yang terbatas melawan yang tidak. Sebuah perbandingan antara dua hal yang sama-sama besar tidak akan menghasilkan apa-apa; yang menghasilkan justru perbandingan antara dua jenis yang berbeda.

Angka tujuh yang disebut pun layak diperhatikan. Ia tidak dipakai untuk mengukur, melainkan untuk menutup penawaran. Kalau disebut satu laut tambahan, orang masih bisa membayangkan dua. Menyebut tujuh menghentikan tawar-menawar itu, dan sesudah itu kesimpulan yang sama tetap berlaku.

Gambaran yang hampir sama dipakai di tempat lain dengan bahan yang lebih sedikit (18:109), yaitu hanya lautan tanpa pena dan tanpa tujuh tambahan. Di sini bahannya diperbanyak, dan hasilnya tetap sama. Perbandingan antara kedua ayat itu sendiri menerangkan sesuatu: menambah bahan pada pengandaian yang sama tidak menggeser kesimpulannya sedikit pun, dan itu persis yang hendak ditunjukkan.

Penutupnya menahan gambaran itu agar tidak melayang. Sesudah keluasan tanpa batas disebut, ayat ini ditutup dengan dua nama, dan nama kedua yang menahannya. Keluasan tanpa pertimbangan adalah gambaran yang menakutkan; keluasan yang disertai hikmah gambaran yang lain sama sekali. Letak dua nama itu di ujung, sesudah pengandaian selesai, membuat keduanya berfungsi sebagai penyeimbang, bukan sebagai tambahan. Yang disebut habis di sini pun bukan satu firman melainkan kalimat-kalimat dalam bentuk jamak, sehingga yang digambarkan bukan satu hal yang terlalu besar untuk dicatat, melainkan sesuatu yang tidak berhenti datang.

Tafsiran

Ayat ini memakai citra yang sama dengan yang dipakai di 18:109, tetapi dengan bahan yang jauh lebih banyak, dan perbandingan antara kedua ayat itulah yang paling menerangkan. Di sana hanya lautan; di sini seluruh pohon menjadi pena, seluruh laut menjadi tinta, dan tujuh laut lagi ditambahkan.

Hasilnya tetap sama. Kalau menambah bahan sebanyak itu tidak menggeser kesimpulan sedikit pun, maka yang sedang dinyatakan bukan soal jumlah. Dan itu memang yang hendak ditunjukkan: perbandingan ini bukan antara besar dan lebih besar, melainkan antara yang terbatas dan yang tidak. Dua jenis yang berbeda tidak bisa diperbandingkan dengan menambah salah satunya.

Semua bahan yang dipilih pun benda yang bisa habis. Pohon habis, laut habis, tujuh laut tambahan habis. Justru sifat itu yang membuatnya berguna sebagai bahan pengandaian. Sesuatu yang tak terhingga hanya bisa ditunjukkan lewat kehabisan sesuatu yang lain di hadapannya, sebab ia sendiri tidak bisa digambarkan.

Penutupnya menahan gambaran itu agar tidak melayang. Sesudah keluasan tanpa batas disebut, ayat ini ditutup dengan dua nama, yaitu Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah. Nama kedua itulah yang menahannya. Tak terhingga tanpa hikmah adalah gambaran yang menakutkan; tak terhingga yang disertai pertimbangan adalah gambaran yang lain sama sekali. Dan yang disebut habis di ayat ini bukan satu firman melainkan kalimat-kalimat dalam bentuk jamak, sehingga yang digambarkan bukan satu hal terlalu besar untuk dicatat, melainkan sesuatu yang tidak berhenti datang.

Renungan dan Hikmah

  • Pena dari seluruh pohon, tinta dari seluruh laut, ditambah tujuh laut lagi. Semua bahan yang dipakai adalah benda yang bisa habis, dan justru itu caranya bekerja: yang tak terbatas dijelaskan Allah dengan menghabiskan satu per satu hal yang terasa tak akan pernah habis. Bahan yang dipilih juga bahan yang paling sering dipakai orang untuk mengukur banyaknya sesuatu. Pohon dan laut adalah dua benda yang dalam bahasa sehari-hari menjadi lambang tak terhitung. Keduanya diambil, dijadikan alat tulis, lalu dinyatakan habis.
  • Yang disebut 'kalimat-kalimat Allah' berbentuk jamak. Bukan satu firman yang terlalu besar untuk ditulis, melainkan firman yang tidak berhenti datang. Perbedaannya penting bagi pembaca: yang dihadapi bukan satu benda raksasa yang harus dipahami sekaligus, melainkan sesuatu yang tak akan pernah selesai dibaca. Bentuk jamak itu juga mengubah sikap yang wajar terhadapnya. Terhadap sesuatu yang besar, orang bersiap sekali lalu menyerah. Terhadap sesuatu yang terus datang, yang diperlukan bukan kesiapan sekali, melainkan kesediaan kembali setiap hari.
  • Sesudah gambaran tanpa batas itu, ayatnya ditutup dengan Allah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah. Nama kedua yang menahannya. Tak terhingga tanpa hikmah cuma berarti tak berbentuk; yang dijanjikan di sini bukan kebanyakan yang membingungkan, melainkan kekayaan yang punya arah. Nama kedua itu juga menutup satu ketakutan yang wajar. Sesuatu yang tak terbatas mudah terasa sewenang-wenang, sebab tidak ada yang membatasinya dari luar. Yang membatasinya di sini disebutkan dari dalam, yaitu hikmah-Nya sendiri.
  • Sesudah gambaran tanpa batas itu, Allah menutup dengan dua nama, dan nama kedua yang menahannya. Keluasan tanpa pertimbangan menakutkan; keluasan yang disertai hikmah lain sama sekali. Urutan dua nama itu penting. Yang lebih dahulu disebut kekuatan, dan yang menyusul pertimbangan. Kalau urutannya dibalik, yang terbayang cuma kebijaksanaan tanpa daya, dan itu tidak menenangkan siapa pun yang sedang tertekan.
  • Semua yang Allah sebut sebagai bahan di sini benda yang bisa habis: pohon, laut, tujuh laut lagi. Kalau yang tak terhingga cuma bisa ditunjukkan lewat habisnya yang terhingga, seberapa sering kita menakar-Nya dengan ukuran yang kita punya? Ukuran yang kita punya selalu ukuran benda, dan benda selalu punya ujung. Karena itu setiap gambaran yang kita susun tentang Dia pasti terlalu kecil, termasuk gambaran yang kita anggap paling luas.
  • Ayat ini memuat dua rangkaian yang masing-masing hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran: سَبْعَةُ أَبْحُرٍ dan كَلِمَاتُ اللَّهِ. Gambaran serupa memang ada di 18:109, tetapi di sana yang disebut lautan tanpa penambahan tujuh, dan sebutannya kalimat-kalimat Tuhanku, bukan kalimat-kalimat Allah. Jadi dua ayat yang mengajukan perumpamaan yang sama sekalipun tidak memakai satu susunan kata yang sama. Pengulangan gagasan tanpa pengulangan kalimat itu sendiri sebuah tanda: yang diulang maksudnya, bukan rumusannya, dan itu menyulitkan siapa pun yang hendak menghafal jawabannya tanpa memahaminya.