ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Itu karena sesungguhnya Allah, Dialah Yang Nyata, dan apa saja yang mereka seru selain-Nya adalah batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Sang Tinggi lagi Sang Besar.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّdzaalika bi-anna llaaha huwa l-haqquitu karena sesungguhnya Allah, Dialah Yang Nyata
  2. وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُwa-anna maa yad'uuna min duunihi l-baathiludan apa saja yang mereka seru selain-Nya adalah batil
  3. وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُwa-anna llaaha huwa l-'aliyyu l-kabiirudan sesungguhnya Allah, Dialah Sang Tinggi lagi Sang Besar

Terjemahan per kata (16 kata)

  1. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  2. بِأَنَّbi-annakarena
  3. اللَّهَllaahaAllah
  4. هُوَhuwaDia
  5. الْحَقُّl-haqqukebenaran
  6. وَأَنَّwa-annadan bahwa
  7. مَاmaaapa yang
  8. يَدْعُونَyad'uunamereka menyeru
  9. مِنْmindari
  10. دُونِهِduunihiselain-Nya
  11. الْبَاطِلُl-baathilukebatilan
  12. وَأَنَّwa-annadan bahwa
  13. اللَّهَllaahaAllah
  14. هُوَhuwaDia
  15. الْعَلِيُّl-'aliyyuMahatinggi
  16. الْكَبِيرُl-kabiiruMahabesar

Inti bacaan

Rangkaian (ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ, dzaalika bi-anna llaaha huwa l-haqqu) muncul tiga kali di Al-Qur'an (22:6, 22:62, 31:30), dan hanya 22:62 dan 31:30 yang melanjutkannya dengan lawan kata al-baathilu.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (ذَٰلِكَ, dzaalika) yang berarti "itu" dan (بِأَنَّ, bi-anna) yang berarti "karena sesungguhnya". Terjemahan memakai "itu" untuk dzaalika, sedangkan "ini" dipakai untuk (هَٰذَا, haadzaa), misalnya di 31:11, (هَٰذَا خَلْقُ اللَّهِ, haadzaa khalqu llaahi) yang berarti "ini ciptaan Allah". Rangkaian (ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ, dzaalika bi-anna llaaha huwa l-haqqu) yang berarti "itu karena sesungguhnya Allah, Dialah Yang Nyata" muncul tiga kali di dua surah, yaitu di 22:6, 22:62, dan 31:30. Di 22:6 rangkaian itu disambung dengan pernyataan bahwa Dia menghidupkan orang-orang yang mati, sedangkan di 22:62 dan 31:30 disambung dengan pernyataan tentang apa yang diseru selain Allah.

Kata (الْحَقُّ, l-haqqu) berakar ح-ق-ق. Allah disebut dengan kata ini di enam ayat, yaitu 20:114, 22:6, 22:62, 23:116, 24:25, dan 31:30. Di 20:114 dan 23:116 bunyinya (الْمَلِكُ الْحَقُّ, l-maliku l-haqqu) yang berarti "Sang Raja Yang Nyata". Dari enam ayat itu hanya 22:62 dan 31:30 yang menaruh sebutan ini berhadapan dengan lawannya, yaitu (الْبَاطِلُ, l-baathilu) yang berarti "yang batil" dan berakar ب-ط-ل. Terjemahan memakai "Yang Nyata" untuk sebutan ini di 20:114, 22:6, 22:62, 23:116, dan 31:30. Di 22:62 dan 31:30 pilihan itu ditopang oleh lawannya yang hadir di ayat yang sama, sehingga pasangannya terbaca sebagai yang tegak berhadapan dengan yang runtuh.

Gambaran tentang yang batil bisa dilihat di ayat lain. Bentuk (الْبَاطِلُ, l-baathilu) muncul lima kali di lima surah, yaitu di 17:81, 22:62, 31:30, 34:49, dan 41:42, dan di empat dari kelima ayat itu kata itu berdampingan dengan al-haqqu, yaitu 17:81, 22:62, 31:30, dan 34:49. Di 17:81 bunyinya (جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ, jaa'a l-haqqu wa-zahaqa l-baathilu) yang berarti "kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap". Di 34:49 bunyinya (وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ, wa-maa yubdi'u l-baathilu wa-maa yu'iidu) yang berarti "dan kebatilan tidak dapat memulai dan tidak pula mengulang". Kedua ayat itu membicarakan kebatilan secara umum dan tidak menyebut apa yang diseru, sehingga keduanya tidak disamakan dengan 31:30. Namun keduanya memperlihatkan arah pemakaian kata ini di Al-Qur'an: yang batil lenyap dan tidak sanggup memulai. Karena itu lawannya diterjemahkan dengan kata yang berarti ada dan tegak.

Kata (يَدْعُونَ, yad'uuna) yang berarti "mereka menyeru" berakar د-ع-و. Susunan (مَا يَدْعُونَ, maa yad'uuna) yang berarti "apa saja yang mereka seru" muncul tiga kali, yaitu di 22:62, 29:42, dan 31:30. Susunan yang lebih luas, (يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ, yad'uuna min duunihi) yang berarti "mereka seru selain-Nya", muncul di tujuh ayat, yaitu 4:117, 13:14, 22:62, 29:42, 31:30, 40:20, dan 43:86. Di tiga di antaranya, yaitu 13:14, 40:20, dan 43:86, kata kerja itu didahului (الَّذِينَ, alladziina) yang berarti "orang-orang yang". Ayat 31:30 memakai (مَا, maa) yang berarti "apa saja", sehingga terjemahan tidak menambahkan "berhala", "sembahan", atau "orang", sebab kata itu tidak menamai apa pun. Di 13:14 pihak yang diseru selain Allah tidak mengabulkan apa pun bagi penyerunya, dan di 40:20 mereka tidak memutuskan apa pun, sedangkan Allah memutuskan (بِالْحَقِّ, bi-l-haqqi) yang berarti "dengan hak".

Kata (هُوَ, huwa) yang berarti "dia" dipakai pada dua sebutan Allah, yaitu sebelum al-haqqu dan sebelum (الْعَلِيُّ, l-'aliyyu), dan terjemahan menjadikannya "Dialah" pada keduanya. Sebelum al-baathilu tidak ada kata itu, sedangkan di 22:62 kata itu ada, (هُوَ الْبَاطِلُ, huwa l-baathilu) yang berarti "dia adalah yang batil", dan susunan itu hanya muncul sekali, di 22:62. Terjemahan 31:30 karena itu berbunyi "adalah batil" tanpa kata "dia".

Dua sebutan terakhir ayat ini adalah (الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ, l-'aliyyu l-kabiiru) yang berarti "Sang Tinggi lagi Sang Besar". Susunan itu muncul tiga kali, yaitu di 22:62, 31:30, dan 34:23. Bentuknya yang berkedudukan lain, (الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ, l-'aliyyi l-kabiiri), muncul satu kali di 40:12. Pasangan lain dengan kata pertama yang sama, (الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ, l-'aliyyu l-'azhiimu), muncul dua kali, yaitu di 2:255 dan 42:4, dan diterjemahkan "Sang Tinggi, Sang Agung". Dengan begitu, dalam pasangan-pasangan ini kabiir diterjemahkan "besar" dan 'azhiim diterjemahkan "agung". Di 34:23 sebutan ini datang sesudah (قَالُوا الْحَقَّ, qaaluu l-haqqa) yang berarti "mereka menjawab, 'Kebenaran'", sehingga di 22:62, 31:30, dan 34:23 sebutan Sang Tinggi lagi Sang Besar sama-sama menyusul kata al-haqq.

Tafsiran

Ayat ini memberi alasan bagi sesuatu yang sudah dituturkan. Kata dzaalika menunjuk ke belakang, dan 31:29 paling dekat dengannya: ayat itu menyebut Allah memasukkan malam ke dalam siang, menundukkan matahari dan bulan, dan waskita terhadap apa yang dikerjakan manusia. Penunjukan itu dapat pula dibaca mencakup 31:25 sampai 31:29, yang memuat pertanyaan tentang siapa yang menciptakan langit dan bumi, pernyataan bahwa segala yang ada di langit dan bumi milik Allah, kalimat-kalimat Allah yang tidak habis, dan penciptaan serta kebangkitan manusia. Bunyi ayat membiarkan batas penunjukan itu terbuka, sehingga kedua pembacaan dapat dipegang.

Urutan serupa ada di surah 22. Ayat 22:61 menyebut Allah memasukkan malam ke dalam siang dan siang ke dalam malam serta mendengar dan melihat, lalu 22:62 memuat bunyi yang hampir sama dengan 31:30, dengan satu kata tambahan sebelum al-baathilu. Di surah 31 bahan itu terbagi ke 31:28 dan 31:29, lalu 31:30 menyimpulkan keduanya. Kedua surah menaruh kesimpulan yang sama sesudah tanda-tanda yang serupa, dan letak kesimpulan itu dapat dibaca sebagai penempatan pernyataan tentang Yang Nyata sebagai dasar bagi tanda-tanda sebelumnya.

Isi ayat terdiri atas tiga pernyataan yang disambung "dan sesungguhnya". Pernyataan pertama dan ketiga tentang Allah, sedangkan pernyataan kedua tentang apa yang diseru selain-Nya. Susunan itu menaruh yang diseru selain-Nya di tengah, diapit dua sebutan Allah, dan ayat berakhir pada Allah. Apa yang diseru itu dan siapa penyerunya dibiarkan tanpa uraian, sehingga ayat memberi penilaian atasnya dan tidak memberi gambaran tentangnya.

Di sekitarnya, 31:31 membuka dengan pertanyaan tentang kapal yang berlayar di laut, dan 31:32 memuat orang-orang yang berdoa kepada Allah ketika ombak menutupi mereka. Kata kerja menyeru di 31:30 berasal dari akar yang sama dengan kata kerja berdoa di 31:32. Keduanya tidak dihubungkan oleh sebuah kata penyambung, tetapi dapat dibaca bahwa 31:30 menyebut tujuan seruan yang dinilai batil, dan 31:32 menunjukkan seruan yang diarahkan kepada Allah dalam keadaan terdesak.

Renungan dan Hikmah

  • Di 31:30 kata Dialah dipakai dua kali untuk Allah, pada sebutan Yang Nyata dan pada sebutan Sang Tinggi lagi Sang Besar, dan tidak dipakai untuk apa yang diseru selain-Nya. Seseorang dapat memeriksa kalimat-kalimatnya sendiri tentang apa yang menopang hidupnya, misalnya kepada siapa atau apa orang itu biasa berkata bahwa dialah yang membuat semuanya berjalan. Bila jawabannya sebuah jabatan, sebuah rekening, atau seorang kenalan yang berpengaruh, ayat ini menaruh kata Dialah di tempat yang lain. Apa yang terjadi pada ucapan itu ketika jabatan berganti, rekening menipis, atau kenalan itu tidak lagi menjawab pesan?
  • Di 13:14 pihak yang diseru selain Allah tidak mengabulkan apa pun bagi penyerunya, dan di 40:20 mereka tidak memutuskan apa pun, sedangkan Allah memutuskan dengan hak. Ayat 31:30 menyebut apa yang diseru selain-Nya itu batil tanpa menyebut siapa atau apa yang dimaksud, sehingga pembaca dapat mengisinya dengan hal-hal dalam hidupnya sendiri. Seseorang yang sedang terdesak dapat menghitung berapa pintu yang diketuknya sebelum berdoa, dan berapa di antaranya yang pernah memutuskan sesuatu untuknya. Permintaan tolong kepada sesama manusia tidak dibicarakan ayat ini, sehingga hitungan itu tidak menjadi penilaian atas orang-orang yang dimintai tolong.
  • Akar kata kerja menyeru di 31:30 muncul lagi dua ayat kemudian, di 31:32, ketika ombak menutupi orang-orang di laut dan mereka berdoa kepada Allah dengan tulus. Kedua ayat tidak saling menjelaskan secara tertulis, tetapi pembaca dapat meletakkannya berdampingan: di 31:30 seruan menuju yang selain-Nya dinilai batil, di 31:32 seruan menuju Allah keluar dari orang-orang yang terdesak. Seseorang dapat mengingat saat terakhir dirinya benar-benar terdesak dan ke arah mana seruan pertamanya pergi sebelum sempat dipikirkan. Apakah arah itu sama dengan yang dikatakannya tentang dirinya pada hari-hari yang tenang?
  • Sebutan Sang Tinggi lagi Sang Besar di 31:30 datang sesudah sebutan Yang Nyata, seperti di 22:62, dan sesudah kata kebenaran di 34:23. Dalam hidup sehari-hari banyak hal terasa tinggi dan besar, misalnya tenggat yang menekan, angka utang, atau penilaian orang banyak, dan ayat ini menaruh dua kata itu pada Allah. Pembaca dapat bertanya apa yang di matanya paling tinggi dan paling besar, lalu menimbang apakah ukuran itu masih sama ketika diletakkan di samping dua sebutan tersebut. Seseorang yang merasa kecil di hadapan masalahnya dapat memperhatikan ke mana ayat ini menaruh ukuran besar. Masalah itu masih sebesar tadi bila ditaruh di sana?
  • Di 17:81 kebatilan digambarkan lenyap, dan di 34:49 kebatilan tidak dapat memulai dan tidak pula mengulang. Kedua ayat itu berbicara tentang kebatilan secara umum dan tidak menyebut apa yang diseru, sehingga tidak disamakan dengan 31:30. Bila 31:30 dibaca bersama keduanya, apa yang diseru selain Allah dapat dilihat sebagai sesuatu yang tidak memulai apa pun bagi penyerunya dan tidak pula mengulanginya ketika yang pertama habis. Seseorang yang bersandar pada sesuatu dapat bertanya apakah sandaran itu pernah memulai sesuatu baginya, dan apakah sandaran itu mampu mengulanginya ketika bekal yang pertama sudah terpakai.
  • Ayat ini dibuka dengan kata yang berarti itu karena sesungguhnya, sehingga apa yang ditetapkan tentang Allah di dalamnya terbaca sebagai alasan bagi sesuatu yang telah disebut sebelumnya, yang terdekat adalah malam dan siang yang saling dimasukkan di 31:29. Pembaca dapat bertanya alasan apa yang selama ini dipegangnya tentang pergantian malam dan siang, dan apakah alasan itu sama dengan yang diberikan 31:30, yaitu pernyataan tentang Allah sebagai Yang Nyata. Alasan yang dipegangnya selama ini menyebut siapa, dan bagaimana alasan itu terdengar bila diucapkan keras-keras di samping kalimat 31:30?