أَلَمْ تَرَ أَنَّ الْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِنِعْمَتِ اللَّهِ لِيُرِيَكُمْ مِنْ آيَاتِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

Tidakkah engkau memperhatikan bahwa kapal berlayar di laut dengan nikmat Allah, agar Dia memperlihatkan kepada kalian sebagian dari tanda-tanda-Nya? Sesungguhnya pada itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang sangat sabar lagi bersyukur.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. أَلَمْ تَرَ أَنَّ الْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِنِعْمَتِ اللَّهِa-lam tara anna l-fulka tajrii fii l-bahri bi-ni'mati llaahitidakkah engkau memperhatikan bahwa kapal berlayar di laut dengan nikmat Allah
  2. لِيُرِيَكُمْ مِنْ آيَاتِهِli-yuriyakum min aayaatihiagar Dia memperlihatkan kepada kalian sebagian dari tanda-tanda-Nya
  3. إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍinna fii dzaalika la-aayaatin li-kulli shabbaarin syakuurinsesungguhnya pada itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang sangat sabar lagi bersyukur

Terjemahan per kata (19 kata)

  1. أَلَمْa-lamtidakkah
  2. تَرَtaraengkau memperhatikan
  3. أَنَّannabahwa
  4. الْفُلْكَl-fulkakapal
  5. تَجْرِيtajriimengalir
  6. فِيfiidi
  7. الْبَحْرِl-bahrilaut
  8. بِنِعْمَتِbi-ni'matidengan nikmat
  9. اللَّهِllaahiAllah
  10. لِيُرِيَكُمْli-yuriyakumagar Dia memperlihatkan kepada kalian
  11. مِنْmindari
  12. آيَاتِهِaayaatihitanda-tanda-Nya
  13. إِنَّinnasesungguhnya
  14. فِيfiipada
  15. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  16. لَآيَاتٍla-aayaatinbenar-benar tanda-tanda
  17. لِكُلِّli-kullibagi setiap
  18. صَبَّارٍshabbaarinyang sangat sabar
  19. شَكُورٍsyakuurinyang bersyukur

Inti bacaan

Susunan (أَلَمْ تَرَ أَنَّ الْفُلْكَ, a-lam tara anna l-fulka) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 31:31, sedangkan di 31:29 pembuka yang sama dipakai dengan Allah sebagai pelaku.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَلَمْ تَرَ, a-lam tara) yang berarti "tidakkah engkau memperhatikan", dari akar ر-أ-ي. Susunan (أَلَمْ تَرَ أَنَّ, a-lam tara anna) muncul tiga belas kali di sembilan surah, yaitu di 14:19, 19:83, 22:18, 22:63, 22:65, 24:41, 24:43, 26:225, 31:29, 31:31, 35:27, 39:21, dan 58:7. Di sepuluh dari tiga belas ayat itu kata sesudah anna adalah Allah. Di 31:31 kata itu adalah (الْفُلْكَ, l-fulka) yang berarti "kapal", dan susunan (أَلَمْ تَرَ أَنَّ الْفُلْكَ, a-lam tara anna l-fulka) hanya muncul di ayat ini. Surah 31 memakai pembuka yang sama di 31:29 dan 31:31: di 31:29 pembaca diminta melihat perbuatan Allah, dan di 31:31 pembaca diminta melihat kapal. Di 31:20 pembukanya berbentuk jamak, (أَلَمْ تَرَوْا, a-lam taraw) yang berarti "tidakkah kalian memperhatikan".

Kata kerja (تَجْرِي, tajrii) berakar ج-ر-ي dan dipakai juga untuk sungai, misalnya di 2:25, (تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ, tajrii min tahtihaa l-anhaaru) yang berarti "mengalir di bawahnya sungai-sungai". Untuk kapal terjemahan memakai "berlayar", sebab pelakunya kapal dan tempatnya laut. Rangkaian (تَجْرِي فِي الْبَحْرِ, tajrii fii l-bahri) yang berarti "berlayar di laut" muncul di tiga ayat, yaitu 2:164, 22:65, dan 31:31, dan di ketiganya disambung dengan huruf (بِ, bi-) yang berarti "dengan". Di 2:164 huruf itu disusul (بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ, bi-maa yanfa'u n-naasa) yang berarti "dengan apa yang bermanfaat bagi manusia", di 22:65 disusul (بِأَمْرِهِ, bi-amrihi) yang berarti "dengan perintah-Nya", dan di 31:31 disusul (بِنِعْمَتِ اللَّهِ, bi-ni'mati llaahi) yang berarti "dengan nikmat Allah". Terjemahan memakai "dengan" pada ketiganya, sehingga yang berbeda hanya hal yang disebut sesudahnya.

Kata (نِعْمَتِ, ni'mati) yang berarti "nikmat" berakar ن-ع-م. Susunan (بِنِعْمَتِ اللَّهِ, bi-ni'mati llaahi) muncul dua kali, yaitu di 16:72 dan 31:31. Di 16:72 susunan itu berada dalam pertanyaan (وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ, wa-bi-ni'mati llaahi hum yakfuruuna) yang berarti "sedangkan terhadap nikmat Allah mereka kufur?", sehingga di sana nikmat Allah disebut bersama kekufuran, dan di 31:31 disebut bersama kapal yang berlayar.

Kata (لِيُرِيَكُمْ, li-yuriyakum) yang berarti "agar Dia memperlihatkan kepada kalian" hanya muncul di ayat ini. Tujuannya disebut dengan (مِنْ آيَاتِهِ, min aayaatihi), dan kata (مِنْ, min) di situ berarti "sebagian dari". Buktinya ada pada kata kerja yang sama di ayat lain. Tanpa min, bunyinya (يُرِيكُمْ آيَاتِهِ, yuriikum aayaatihi) yang berarti "Dia memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda-Nya", di 2:73, 40:13, dan 40:81, dan dalam bentuk akan datang di 27:93, dan terjemahannya memuat seluruh tanda-tanda itu. Dengan min, kata kerja itu muncul di tiga ayat, yaitu 17:1, 20:23, dan 31:31. Di 17:1 bunyinya (لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا, li-nuriyahu min aayaatinaa) yang berarti "agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda Kami", dan di 20:23 (لِنُرِيَكَ مِنْ آيَاتِنَا الْكُبْرَى, li-nuriyaka min aayaatinaa l-kubraa) yang berarti "untuk memperlihatkan kepadamu sebagian tanda-tanda Kami yang terbesar". Berdasarkan pola itu terjemahan 31:31 memakai "sebagian dari", sehingga kapal yang berlayar terbaca sebagai satu di antara tanda-tanda-Nya.

Kalimat penutup ayat adalah (لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ, li-kulli shabbaarin syakuurin) yang berarti "bagi setiap orang yang sangat sabar lagi bersyukur". Kata "orang" tidak berasal dari kata Arab di ayat ini, yang menyebut dua sifat saja, dan terjemahan menambahkannya karena sifat dalam bahasa Indonesia sulit berdiri sendiri sebagai pelaku. Kata (صَبَّارٍ, shabbaarin) berakar ص-ب-ر dan (شَكُورٍ, syakuurin) berakar ش-ك-ر. Pasangan (صَبَّارٍ شَكُورٍ, shabbaarin syakuurin) muncul empat kali, yaitu di 14:5, 31:31, 34:19, dan 42:33, dan di keempatnya sabar disebut lebih dulu daripada syukur. Keempat ayat itu memakai kalimat penutup yang sama persis, (إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ, inna fii dzaalika la-aayaatin) yang berarti "sesungguhnya pada itu benar-benar terdapat tanda-tanda", tetapi hal yang ditunjuk "itu" berbeda. Di 14:5 itu adalah hari-hari Allah, (بِأَيَّامِ اللَّهِ, bi-ayyaami llaahi), di 34:19 itu adalah mereka yang menzalimi diri sendiri lalu dijadikan buah bibir dan dihancurkan, dan di 42:33 itu adalah kapal-kapal yang terhenti di permukaan laut ketika angin dihentikan.

Kata (شَاكِرًا, syaakiran) dan (كَفُورًا, kafuuran) berpasangan di 76:3, (إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا, immaa syaakiran wa-immaa kafuuran) yang berarti "ada yang bersyukur dan ada pula yang sangat kufur". Kata syakuur di 31:31 berakar sama dengan syaakir di 76:3, dan lawannya di 76:3 adalah kafuur, kata yang berakar ك-ف-ر dan muncul lagi dua ayat sesudah 31:31, yaitu di 31:32.

Tafsiran

Ayat ini membawa pembaca dari pernyataan-pernyataan besar di 31:25 sampai 31:30 ke satu benda yang dapat dilihat, yaitu kapal di laut. Pertanyaan pembukanya sama dengan 31:29. Keduanya ditujukan kepada satu orang dengan kata "engkau", lalu kalimat berikutnya melebar ke kata "kalian": di 31:31 pelebaran itu ada pada (لِيُرِيَكُمْ, li-yuriyakum), dan di 31:29 ada pada (تَعْمَلُونَ, ta'maluuna) yang berarti "kalian kerjakan". Pola itu membuat tanda yang dilihat seorang diri langsung diletakkan di hadapan banyak orang.

Laut disebut dua kali di surah ini, yaitu di 31:27 dan 31:31. Di 31:27 laut menjadi tinta yang masih disambung tujuh laut lagi dan tetap tidak menghabiskan kalimat-kalimat Allah, sedangkan di 31:31 laut menjadi jalan yang dilalui sebuah kapal. Ayat-ayat itu menaruh laut pada dua kedudukan yang berjauhan, sebagai bahan tulis yang tidak cukup dan sebagai jalur yang dapat ditempuh.

Dalam ayat ini berlayarnya kapal disebut sebagai nikmat Allah, tujuannya disebut sesudahnya, dan penerimanya disebut paling akhir. Satu peristiwa dengan demikian memuat tiga hal: kapal berlayar, peristiwa itu nikmat, dan peristiwa itu tanda. Ayat tidak merinci tanda-tanda yang lain, karena yang diperlihatkan adalah sebagian.

Ayat berikutnya menunjukkan laut dalam keadaan lain. Di 31:32 ombak menutupi orang-orang, mereka berdoa kepada Allah, dan sesudah mereka selamat sebagian bersikap pertengahan, sedangkan yang mengingkari tanda-tanda Kami disebut (كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ, kullu khattaarin kafuurin) yang berarti "setiap pengkhianat yang sangat kufur". Bentuk kedua ayat itu sejajar: 31:31 ditutup dengan "setiap" yang diikuti dua sifat, dan 31:32 ditutup dengan "setiap" yang diikuti dua sifat pula. Karena kafuur berhadapan dengan syaakir di 76:3, kata yang berakar sama dengan syakuur, penutup 31:31 dan penutup 31:32 dapat dibaca sebagai dua ujung yang berhadapan, dan pembacaan itu bersandar pada pasangan kata di 76:3, sebab 31:31 dan 31:32 tidak menyatakan keduanya pasangan.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 31:31 menyebut kapal berlayar di laut dengan nikmat Allah, dan tidak menyebut siapa yang membuat kapal itu atau siapa yang mengemudikannya. Seseorang yang bepergian lewat air dapat menyusun ceritanya dari waktu tempuh, ongkos, dan cuaca, dan semua itu dapat dibuktikan dengan angka. Pembaca dapat memeriksa apakah kata nikmat pernah masuk ke dalam cerita perjalanannya, dan di mana kata itu diletakkan di antara angka-angka tadi. Bila sebuah kapal sampai di tujuan dengan selamat, bagian mana dari kesampaian itu yang pernah disebutnya sebagai pemberian?
  • Ayat ini menyebut tujuannya, yaitu agar Dia memperlihatkan sebagian dari tanda-tanda-Nya, dan kata sebagian itu dipakai juga di 17:1 dan 20:23. Yang diperlihatkan di sini satu bagian, dan bagian lain tidak dirinci. Seseorang yang membaca ayat ini dapat bertanya tanda mana yang sudah diperlihatkan kepadanya dalam bentuk paling sederhana, misalnya sebuah perjalanan yang selesai tanpa kejadian apa pun, lalu apakah tanda itu pernah dihitungnya sebagai tanda. Pertanyaan itu bergerak dari tanda-tanda yang belum terlihat menuju satu tanda yang sudah lewat tanpa dihitung.
  • Dalam empat ayat yang memakai kalimat penutup yang sama, sabar disebut lebih dulu daripada syukur. Urutan itu dapat dibaca sebagai dua masa dalam satu pengalaman, yaitu masa menahan dan menanti, lalu masa menerima dan mengakui. Seseorang dapat memeriksa urutan itu pada hidupnya sendiri, misalnya pada pekerjaan yang lama belum selesai, dan melihat apakah ucapan syukurnya didahului masa menahan atau baru datang setelah hasil berada di tangan. Ayat tidak menyebut berapa lama masa sabar itu, sehingga ukuran waktunya dibiarkan kepada pembaca.
  • Pertanyaan di awal ayat ditujukan kepada satu orang, dan tujuan memperlihatkan tanda-tanda ditujukan kepada banyak orang, seperti pola yang sama di 31:29. Dia memperlihatkan tanda-tanda itu kepada kalian dalam bentuk jamak, sehingga pengamatan seorang diri berada di samping pengamatan bersama. Seseorang yang melihat sesuatu pada perjalanannya dapat bertanya kepada siapa saja pengamatan itu pernah diceritakan, dan apakah cerita itu mengubah cara orang lain memandang laut, jalan, atau hari yang akan datang.
  • Laut disebut di 31:27 sebagai tinta yang bahkan setelah disambung tujuh laut lagi tidak menghabiskan kalimat-kalimat Allah, dan di 31:31 sebagai tempat sebuah kapal berlayar. Dua ayat itu menaruh benda yang sama pada dua ukuran yang berjauhan, yaitu luas laut berhadapan dengan kalimat Allah, dan sebuah kapal di atas laut itu. Seseorang yang merasa perjalanan hidupnya terlalu kecil dapat memperhatikan bahwa sebuah kapal pun disebut dalam ayat ini sebagai tanda. Apakah ukuran sebuah perjalanan menentukan layak tidaknya perjalanan itu menjadi tanda?
  • Susunan nikmat Allah di 31:31 muncul lagi hanya di 16:72, di sana dalam pertanyaan tentang orang-orang yang kufur terhadapnya. Kedua ayat tidak disamakan, karena 16:72 membicarakan pasangan, anak-cucu, dan rezeki, sedangkan 31:31 membicarakan kapal. Pembaca dapat memperhatikan bahwa kata yang sama berdiri di dua tempat yang berjauhan, di samping kapal yang berlayar dan di samping kekufuran. Seseorang dapat menanyai dirinya, ketika menerima sesuatu yang sudah lama menjadi biasa, kata mana yang lebih dulu terucap, nikmat atau hak, dan apakah kata itu sama untuk semua pemberian yang diterimanya?