تَنْزِيلُ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Diturunkannya Kitab, tidak ada keraguan di dalamnya, dari Tuhan seisi alam.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. تَنْزِيلُ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِtanziilu l-kitaabi laa rayba fiihiditurunkannya Kitab, tidak ada keraguan di dalamnya
  2. مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَmin rabbi l-'aalamiinadari Tuhan seisi alam

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. تَنْزِيلُtanziiluditurunkannya
  2. الْكِتَابِl-kitaabiKitab
  3. لَاlaatidak
  4. رَيْبَraybakeraguan
  5. فِيهِfiihidi dalamnya
  6. مِنْmindari
  7. رَبِّrabbiTuhan
  8. الْعَالَمِينَl-'aalamiinaseisi alam

Inti bacaan

Gabungan (لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ, laa rayba fiihi min rabbi l-'aalamiina) muncul dua kali di Al-Qur'an (10:37, 32:2).

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (تَنْزِيلُ الْكِتَابِ, tanziilu l-kitaabi) yang berarti "diturunkannya Kitab". Kata (تَنْزِيلُ, tanziilu) berakar ن-ز-ل dan berupa kata benda yang dibentuk dari kata kerja nazzala "menurunkan", sehingga artinya perbuatan menurunkan yang mengandaikan pihak yang menurunkan. Kata kerja itu berbunyi (نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ, nazzala 'alayka l-kitaaba) di 3:3, yang berarti "Dia menurunkan kepadamu Kitab", dan di sana pelakunya Dia, yaitu Allah yang disebut di 3:2. Terjemahan karena itu memakai "diturunkannya", bentuk yang masih membawa pelaku penurun, dan tidak memakai "turunnya" yang terbaca seperti Kitab turun dengan sendirinya. Susunan tanziilu l-kitaabi persis sama muncul di lima ayat, yaitu 32:2, 39:1, 40:2, 45:2, dan 46:2, dan keempat ayat selain 32:2 diterjemahkan "Diturunkannya Kitab".

Kata (الْكِتَابِ, l-kitaabi) berakar ك-ت-ب dan memakai kata sandang al-, sehingga terjemahan menulis "Kitab" dengan huruf besar. Terjemahan tidak menggantinya dengan kata lain, sebab kata lain itu tidak ada di ayat ini.

Frasa (لَا رَيْبَ فِيهِ, laa rayba fiihi) yang berarti "tidak ada keraguan di dalamnya" memuat (رَيْبَ, rayba) berakar ر-ي-ب. Bentuk rayba muncul 15 kali, yaitu di 2:2, 3:9, 3:25, 4:87, 6:12, 10:37, 17:99, 18:21, 22:7, 32:2, 40:59, 42:7, 45:26, 45:32, dan 52:30. Empat belas di antaranya didahului laa dan disusul fii yang bersambung dengan kata ganti: fiihi di sepuluh ayat dan (فِيهَا, fiihaa) di empat ayat, yaitu 18:21, 22:7, 40:59, dan 45:32. Kata ganti itu merujuk Kitab di 2:2, 10:37, dan 32:2, dan merujuk hari, saat, atau ajal di sebelas ayat sisanya. Ayat 52:30 memakai kata rayba dalam susunan lain, (رَيْبَ الْمَنُونِ, rayba l-manuuni). Terjemahan memakai "di dalamnya" di 2:2 dan 10:37, tempat kata ganti itu merujuk Kitab, dan "padanya" di sembilan ayat tentang hari atau saat, yaitu 3:9, 3:25, 4:87, 6:12, 18:21, 22:7, 40:59, 42:7, dan 45:32. Ayat 17:99 dan 45:26 diterjemahkan dengan susunan lain, sehingga tidak dihitung dalam pembagian itu.

Keraguan di ayat ini tidak berada pada orang. Bentuk bertanwin (رَيْبٍ, raybin) ada di dua ayat, dan keduanya menyebut keraguan sebagai keadaan pihak yang diajak bicara, dalam susunan (إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ, in kuntum fii raybin) yang berarti "jika kalian dalam keraguan", yaitu di 2:23 dan 22:5. Di 32:2 keraguan ditiadakan dari Kitab, dan ayat ini tidak menyatakan apa pun tentang keadaan batin pembaca.

Kata (رَبِّ, rabbi) berarti "Tuhan", dan (الْعَالَمِينَ, l-'aalamiina) berakar ع-ل-م dan berbentuk jamak. Terjemahan memakai "seisi alam" untuk kata ini di 72 dari 73 ayat yang memuatnya, dan 28:30 memakai "seluruh alam". Al-Qur'an sendiri memuat jawaban atas pertanyaan tentang sebutan ini di 26:23 dan 26:24. Di 26:23 ada pertanyaan tentang siapa Tuhan seisi alam itu, dan jawabannya di 26:24 adalah (رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا, rabbu s-samaawaati wa-l-ardhi wa-maa baynahumaa) yang berarti "Tuhan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya". Kata al-'aalamiin dipakai juga untuk manusia di 26:165, (مِنَ الْعَالَمِينَ, mina l-'aalamiina) yang diterjemahkan "di antara seisi alam" dan menyusul kata untuk laki-laki.

Frasa (مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ, min rabbi l-'aalamiina) muncul tujuh kali, yaitu di 7:61, 7:67, 7:104, 10:37, 32:2, 56:80, dan 69:43. Di 7:61, 7:67, dan 7:104 frasa itu menyusul kata rasul, dan di empat ayat sisanya frasa itu menyusul Kitab atau bacaan yang diturunkan atau dijelaskan. Kata (تَنْزِيلٌ, tanziilun) dan (تَنْزِيلُ, tanziilu) berdampingan dengan rabbi l-'aalamiina di empat ayat, yaitu 26:192, 32:2, 56:80, dan 69:43. Gabungan (لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ, laa rayba fiihi min rabbi l-'aalamiina) hanya ada di dua ayat, 10:37 dan 32:2.

Tafsiran

Ayat ini menyusun satu kalimat dalam tiga bagian: apa yang terjadi pada Kitab, keadaannya, dan dari mana asalnya. Bagian pertama, diturunkannya Kitab, adalah susunan yang sama dengan pembuka 39:1, 40:2, 45:2, dan 46:2. Keempat ayat itu langsung menyebut Allah dengan dua sifat sesudah susunan itu, yaitu Sang Digdaya dengan Sang Penuh Hikmah di 39:1, 45:2, dan 46:2, dan Sang Digdaya dengan Sang Berilmu di 40:2. Ayat 32:2 mengambil jalan lain: ayat ini menyisipkan peniadaan keraguan lebih dulu, lalu menyebut asalnya dengan sebutan Tuhan seisi alam.

Ayat 10:37 memuat gabungan yang sama dan juga disusul tuduhan di ayat berikutnya, yaitu am yaquuluuna ftaraahu di 10:38. Bedanya, 10:37 lebih dulu menyatakan bahwa Al-Qur'an ini tidak mungkin dibuat-buat oleh selain Allah, sedangkan 32:2 langsung menyatakan asal Kitab tanpa pernyataan pembuka itu. Di 32:2 tuduhan baru muncul di 32:3 lewat (أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ, am yaquuluuna ftaraahu) yang berarti "ataukah mereka berkata, 'Dia mengada-adakannya'". Jawabannya di ayat yang sama menyebut kebenaran itu datang dari Tuhanmu, sehingga sebutan Tuhan dipakai dua kali berturut-turut dengan dua bentuk, seisi alam di 32:2 dan Tuhanmu di 32:3.

Dalam urutan surah, 32:2 menaruh satu pernyataan tentang Kitab sebelum ada yang menyanggahnya. Ayat 32:4 kemudian menyebut Allah sebagai yang menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, rumusan yang di 26:24 dipakai untuk menjawab pertanyaan siapa Tuhan seisi alam. Surah ini dengan demikian memulai dari sumber bacaan di 32:2 dan menyambung ke pekerjaan Allah dari 32:4 sampai 32:6.

Ayat ini tidak memuat nama pembawa Kitab, tidak menyebut kaum penerimanya, dan tidak menjelaskan isinya, sehingga yang dikatakan tentang Kitab terbatas pada tiga hal tadi, yaitu diturunkan, tidak ada keraguan di dalamnya, dan berasal dari Tuhan seisi alam.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 32:2 menyatakan bahwa tidak ada keraguan di dalam Kitab sebelum ada satu pun suara yang meragukannya, dan tuduhan baru terdengar di 32:3. Di 10:37 pernyataan yang sama didahului penegasan bahwa bacaan itu tidak mungkin dibuat-buat oleh selain Allah, lalu tuduhan datang di 10:38. Pembaca yang membandingkan keduanya melihat bahwa pernyataan yang sama bisa berdiri dengan penegasan pembuka atau tanpanya, dan bobotnya terasa lain di tiap tempat. Pernyataan yang diucapkan tanpa ada yang menantang terdengar sebagai keterangan, dan pernyataan yang diucapkan sesudah penegasan terdengar sebagai kelanjutan. Bagaimana seseorang menimbang sebuah klaim yang datang lebih dulu daripada keberatan terhadapnya?
  • Di 7:61, 7:67, dan 7:104 sebutan Tuhan seisi alam diucapkan oleh seorang rasul kepada kaum atau penguasa yang diajak bicara, sehingga ada alamat yang jelas. Di 32:2 sebutan itu muncul tanpa alamat: tidak ada yang dipanggil, tidak ada kaum yang disebut, dan Kitab diturunkan dari Tuhan seisi alam begitu saja. Pembaca yang membuka ayat ini tidak didudukkan sebagai pihak yang dituju secara khusus. Posisinya mirip pendengar kalimat yang sedang diumumkan kepada siapa saja. Apa yang dirasakan seseorang bila membaca keterangan tentang asal sebuah Kitab tanpa merasa sedang disapa oleh nama tertentu?
  • Di 2:23 dan 22:5 keraguan dikaitkan dengan orang yang diajak bicara, lewat susunan yang berbunyi jika kalian dalam keraguan. Di 32:2 keraguan ditiadakan dari Kitab, dan ayat ini tidak berbicara tentang keadaan batin pembaca. Dua pernyataan itu dapat berdiri berdampingan: Kitab tidak mengandung keraguan, dan pembaca bisa saja sedang meragu. Bila ada ragu yang dirasakan seseorang saat membaca, ayat ini tidak mencatatnya sebagai sifat Kitab, dan tidak menyebut hukuman atau hinaan untuk keadaan itu. Di mana seseorang menaruh rasa ragunya, pada bacaan yang dihadapinya atau pada dirinya yang sedang membaca?
  • Ayat ini dibuka dengan kata diturunkannya, yang membawa pertanyaan tentang siapa yang menurunkan, dan jawabannya baru tiba di bagian terakhir lewat sebutan Tuhan seisi alam. Peniadaan keraguan ditaruh di antara pertanyaan yang terbuka dan jawabannya. Pembaca dibiarkan menempuh dua bagian kalimat sambil menahan pertanyaan tentang pelaku, dan hanya di ujung kalimat Tuhan seisi alam disebut sebagai asal. Susunan kalimat seperti ini dapat membuat sebutan itu terasa sebagai tujuan akhir bacaan. Apa yang bergerak dalam diri seseorang yang menunggu nama pelaku sampai ujung kalimat?
  • Kitab yang disebut sebagai diturunkan di lima ayat memiliki sebutan asal yang berlainan: dari Allah Sang Digdaya dan Sang Penuh Hikmah di 39:1, 45:2, dan 46:2, dari Allah Sang Digdaya dan Sang Berilmu di 40:2, dan dari Tuhan seisi alam di 32:2. Pembaca yang membaca kelimanya berurutan menemukan satu kata yang sama dengan sebutan pemberi yang berganti-ganti, dan ayat tidak menjelaskan mengapa sebutan itu berganti. Sebutan yang berbeda bisa dibaca sebagai sudut pandang yang berlainan terhadap pihak yang sama, tetapi ayat tidak menyatakannya. Bagaimana seseorang membaca nama yang berganti untuk pengirim sebuah Kitab tanpa memutuskan lebih dulu bahwa semuanya sama saja?
  • Tuhan seisi alam di 32:2 memakai kata yang di 26:165 dipakai untuk manusia yang disebut berada di antara seisi alam. Pembaca yang membaca ayat ini adalah salah satu dari seisi alam itu, sehingga sebutan yang dipilih ayat ini untuk sumber Kitab menyertakannya tanpa menyebut namanya. Ayat ini tidak menuliskan pembaca sebagai penerima khusus, tetapi sebutan seisi alam sudah memasukkannya. Seseorang tidak perlu menjadi pihak yang disapa lebih dulu agar termasuk di dalam sebutan itu. Apa yang berubah ketika seseorang menyadari bahwa dirinya sudah termasuk dalam kata seisi alam sebelum sempat menyebut dirinya sebagai pendengar?