ذَٰلِكَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

Itu Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Sang Digdaya lagi Sang Pengasih,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. ذَٰلِكَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِdzaalika 'aalimu l-ghaybi wa-sy-syahaadatiitu Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata
  2. الْعَزِيزُ الرَّحِيمُal-'aziizu r-rahiimuSang Digdaya lagi Sang Pengasih

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  2. عَالِمُ'aalimuyang mengetahui
  3. الْغَيْبِl-ghaybiyang gaib
  4. وَالشَّهَادَةِwa-sy-syahaadatidan yang tampak
  5. الْعَزِيزُal-'aziizuSang Digdaya
  6. الرَّحِيمُr-rahiimuSang Pengasih

Inti bacaan

Gabungan (عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ, 'aalimu l-ghaybi wa-sy-syahaadati al-'aziizu r-rahiimu) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 32:6.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (ذَٰلِكَ, dzaalika) yang berarti "itu". Kata tunjuk ini menunjuk pihak yang sudah disebut, dan terjemahan menulis "Itu" tanpa akhiran penegas. Dua ayat sebelumnya memerinci pelaku yang menciptakan, bersemayam, dan mengatur, dengan nama Allah di awal 32:4, sehingga dzaalika menunjuk kepada pelaku itu. Terjemahan tidak menambahkan kata "Tuhan" di depan sebutan sesudahnya. Ayat 13:9 dan 64:18 juga dibuka dengan (عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ, 'aalimu l-ghaybi wa-sy-syahaadati) tanpa kata benda di depannya, sehingga sebutan itu dapat berdiri sendiri.

Kata (عَالِمُ, 'aalimu) berakar ع-ل-م dan berbentuk pelaku dari kata kerja "mengetahui", sehingga diterjemahkan "Yang Mengetahui". Pasangan (الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ, l-ghaybi wa-sy-syahaadati) ada di sepuluh ayat. Bentuk 'aalimu ada di lima ayat, yaitu 6:73, 13:9, 32:6, 59:22, dan 64:18. Bentuk (عَالِمِ, 'aalimi) ada di empat ayat, yaitu 9:94, 9:105, 62:8, dan 23:92, dan bentuk (عَالِمَ, 'aalima) ada di 39:46. Terjemahan memakai "yang gaib dan yang nyata" untuk pasangan itu di 32:6 dan di 6:73, 9:94, 9:105, 13:9, 39:46, 59:22, 62:8, serta 64:18. Kata (الْغَيْبِ, l-ghaybi) berakar غ-ي-ب dan diterjemahkan "yang gaib". Kata (الشَّهَادَةِ, sy-syahaadati) berakar ش-ه-د dan kata benda dasarnya, syahaadah, ada di 21 ayat. Di sebelas ayat di antaranya, yaitu 2:140, 2:282, 2:283, 5:106, 5:107, 5:108, 6:19, 24:4, 24:6, 43:19, dan 65:2, kata itu berarti kesaksian. Di sepuluh ayat sisanya kata itu berpasangan dengan al-ghayb. Terjemahan memakai "yang nyata" di pasangan itu karena akar ش-ه-د berarti menyaksikan, sehingga yang dimaksud adalah hal yang dapat disaksikan, lawan dari yang gaib.

Dua sebutan sesudahnya, (الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ, al-'aziizu r-rahiimu), diterjemahkan "Sang Digdaya lagi Sang Pengasih". Kata (الْعَزِيزُ, al-'aziizu) berakar ع-ز-ز dan memakai kata sandang al-, sehingga ditulis "Sang Digdaya", sama dengan (تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ, taqdiiru l-'aziizi l-'aliimi) di 6:96, 36:38, dan 41:12. Kata (الرَّحِيمُ, r-rahiimu) berakar ر-ح-م dan ditulis "Sang Pengasih". Pasangan al-'aziizu r-rahiimu muncul sebelas kali di empat surah, yaitu delapan kali di surah 26 (26:9, 26:68, 26:104, 26:122, 26:140, 26:159, 26:175, 26:191), lalu 30:5, 32:6, dan 44:42. Di sepuluh ayat selain 32:6 pasangan itu didahului kata ganti (هُوَ, huwa) yang berarti "Dia", sedangkan di 32:6 pasangan itu langsung menyusul pasangan al-ghayb dan asy-syahaadah.

Sesudah 'aalimu l-ghaybi wa-sy-syahaadati, nama yang menyusul berbeda di tiap ayat: (الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, al-'aziizu l-hakiimu) di 64:18, (الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ, al-kabiiru al-muta'aali) di 13:9, (هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ, huwa r-rahmaanu r-rahiimu) di 59:22, dan (وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ, wa-huwa l-hakiimu l-khabiiru) di 6:73. Gabungan 'aalimu l-ghaybi wa-sy-syahaadati al-'aziizu r-rahiimu hanya ada di 32:6.

Tafsiran

Ayat ini berisi sebutan dan nama tanpa satu pun perbuatan. Sesudah 32:4 dan 32:5 menyebut tiga perbuatan, yaitu menciptakan, bersemayam, dan mengatur, 32:6 menunjuk pelakunya lewat kata tunjuk dan menyebutnya dengan satu sebutan pengetahuan serta dua nama. Perpindahan dari perbuatan ke sebutan itu menutup bagian tentang pekerjaan Allah dan mengganti tekanannya dari apa yang dikerjakan ke siapa yang mengerjakan.

Akar ع-ل-م yang membuka surah ini lewat (الْعَالَمِينَ, l-'aalamiina) di 32:2 muncul lagi di 32:6 lewat 'aalimu. Sebutan Tuhan seisi alam di ayat kedua dan sebutan Yang Mengetahui di ayat keenam memakai akar yang sama, dan di antara keduanya terletak sumber Kitab, tuduhan, penciptaan, dan pengaturan. Teks tidak menyatakan bahwa kedua sebutan itu dimaksudkan sebagai bingkai, sehingga hubungan itu hanya terbaca dari letak akarnya.

Ayat 32:6 membuka dengan dzaalika di depan 'aalimu l-ghaybi wa-sy-syahaadati, dan susunan itu hanya ada di sini, sedangkan 13:9 dan 64:18 membuka dengan sebutan itu tanpa kata tunjuk. Kata tunjuk itu membuat 32:6 terbaca sebagai penunjukan kembali kepada ayat sebelumnya. Dua nama yang menyusulnya berbeda dari nama yang menyusul sebutan yang sama di ayat lain, dan teks tidak menyatakan mengapa pengetahuan di sini disusul Sang Digdaya lagi Sang Pengasih.

Ayat 32:7 menyambung dengan kata ganti relatif yang menerangkan pihak yang baru disebut, sehingga 32:4 sampai 32:9 dapat dibaca sebagai uraian bersambung tentang satu pihak, dengan 32:6 sebagai bagian yang paling pendek.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyebut dua wilayah, yang gaib dan yang nyata, dan menaruh keduanya dalam pengetahuan satu pihak, yaitu Dia yang diperkenalkan 32:4 dan 32:5. Ayat tidak merinci isi kedua wilayah itu. Pembaca yang membawa dalam hidupnya bagian yang tidak diketahui orang lain dan bagian yang terlihat semua orang dapat memakai dua kata ini sebagai cermin, dengan catatan bahwa ayat sendiri tidak menyebut diri pembaca. Teks menulis dua wilayah dan satu pihak yang mengetahui keduanya. Bagaimana seseorang membaca hidupnya sendiri bila diketahuinya bahwa pembagian antara yang tersembunyi dan yang tampak tidak berlaku bagi Dia?
  • Dua nama di ujung ayat ini, Sang Digdaya dan Sang Pengasih, disandingkan tanpa kata yang membandingkan atau menyela. Di surah 26 pasangan itu diulang delapan kali sebagai penutup, dan di sini pasangan itu menutup ayat tentang pengetahuan Dia. Pembaca yang biasa memikirkan kuasa dan kasih sebagai dua hal yang saling menjauh mendapati teks menaruh keduanya sebagai nama bagi satu pihak. Teks tidak menjelaskan bagaimana keduanya bertemu pada Dia, sehingga pembaca tinggal bersama dua nama itu tanpa rumus penghubung. Apa yang terasa pada seseorang yang diminta menyebut kuasa dan kasih dalam satu tarikan napas?
  • Di sepuluh ayat lain pasangan nama Sang Digdaya dan Sang Pengasih didahului kata ganti Dia, dan di 32:6 pasangan itu datang langsung sesudah pengetahuan tentang yang gaib dan yang nyata tanpa kata ganti. Pembaca yang terbiasa dengan rumus di surah 26 mendengar sebutan yang sama dengan nada lain, seperti nama yang disusulkan pada daftar dan tidak ditegaskan lagi dengan Dialah. Ayat tidak menjelaskan perbedaan itu. Bagaimana seseorang mendengar nama yang sama bila kali ini tidak didahului penegasan siapa yang dimaksud?
  • Ayat ini dibuka dengan kata tunjuk, sehingga pembaca harus menoleh ke ayat sebelumnya untuk mengetahui siapa yang ditunjuk. Dua ayat itu menyebut Allah, penciptaan, Arasy, dan urusan yang naik kepada-Nya, lalu kata tunjuk menggabungkan semuanya menjadi satu sosok yang dikenali dari pekerjaannya. Pembaca yang membaca sambil lalu dapat melewati kata tunjuk itu tanpa menyadari bahwa dirinya sedang diminta mengumpulkan kembali apa yang baru dibacanya. Apa yang tersisa di benak seseorang tentang pelaku dua ayat sebelumnya ketika sampai pada kata itu?
  • Ayat 32:4 dan 32:5 memerinci apa yang dikerjakan, dan 32:6 menyebut bahwa pelakunya Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Pengetahuan disebut sesudah perbuatan, sehingga perbuatan penciptaan dan pengaturan dibaca sebagai perbuatan pihak yang mengetahui, dan pembaca tidak diminta membayangkan pengaturan oleh pihak yang buta terhadap apa yang diaturnya. Teks tidak merinci hubungan antara mengetahui dan mengatur, dan hanya menaruh keduanya berurutan. Apa yang berubah pada seseorang yang membaca pengaturan dan pengetahuan sebagai milik pihak yang sama?
  • Seisi alam di 32:2 dan Yang Mengetahui di 32:6 berakar sama, dan pembaca yang berjalan dari ayat kedua ke ayat keenam melewati sumber Kitab, tuduhan, penciptaan, dan pengaturan sebelum akar itu muncul lagi. Akar yang sama di dua ujung rangkaian itu dapat dibaca sebagai tanda bahwa bagian tengahnya disusun di antara dua sebutan yang sekerabat, tetapi teks tidak menyatakan keduanya saling menerangkan, dan hubungan itu terbaca dari letak akar saja. Pembaca yang menahan diri dari menarik kesimpulan lebih jauh tetap mendapat satu pengamatan yang bisa diperiksa. Apa yang tersisa pada seseorang yang mengamati bahwa Tuhan seisi alam dan Dia yang mengetahui yang gaib dan yang nyata disebut dengan akar yang sama, tanpa teks menafsirkan kesamaan itu?