ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ
kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍtsumma ja'ala naslahu min sulaalatin min maa'in mahiininkemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina
Terjemahan per kata (8 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- جَعَلَja'alamenjadikan
- نَسْلَهُnaslahuketurunannya
- مِنْmindari
- سُلَالَةٍsulaalatinsari pati
- مِنْmindari
- مَاءٍmaa'inair
- مَهِينٍmahiininyang hina
Inti bacaan
Kata (سُلَالَةٍ, sulaalatin) hanya muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 23:12 dan 32:8.
Penjelasan pilihan kata
Kata (جَعَلَ, ja'ala) yang berarti "menjadikan" berakar ج-ع-ل dan didahului (ثُمَّ, tsumma) yang berarti "kemudian". Rangkaian (ثُمَّ جَعَلَ, tsumma ja'ala) muncul empat kali di tiga surah, yaitu 30:54 sebanyak dua kali, 32:8, dan 39:6. Di 30:54 yang dijadikan adalah kekuatan sesudah keadaan lemah, lalu kelemahan sesudah kekuatan, dan di 39:6, (ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا, tsumma ja'ala minhaa) yang berarti "kemudian darinya Dia menjadikan" pasangannya. Pada keempatnya Allah pelakunya, dan tahap yang dijadikan menyusul tahap yang lebih awal, sebagaimana 32:8 menyusul penciptaan manusia di 32:7. Ayat 32:7 memakai kata kerja menciptakan dan memulai, sedangkan 32:8 berganti ke menjadikan, sehingga terjemahan menjaga ketiga kata kerja itu tetap berbeda.
Kata (نَسْلَهُ, naslahu) yang berarti "keturunannya" tersusun dari (نَسْلَ, nasla) yang berarti "keturunan" dan akhiran -hu yang berarti "-nya", yang menunjuk ke manusia di 32:7. Kata (نَسْلَ, nasla) berakar ن-س-ل, dan sebagai kata benda akar ini muncul dua kali, di 32:8 dan di 2:205, (وَالنَّسْلَ, wa-n-nasla) yang berarti "dan keturunan", yang bersanding dengan tanam-tanaman sebagai hal yang dirusak orang yang berpaling. Akar yang sama muncul sebagai kata kerja di 21:96 dan 36:51, (يَنْسِلُونَ, yansiluuna) yang berarti "mereka bergegas", sehingga terjemahan "keturunan" mengikuti kata bendanya dan tidak mengikuti kata kerja itu.
Kata (سُلَالَةٍ, sulaalatin) yang berarti "sari pati" berakar س-ل-ل dan hanya muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 23:12 dan 32:8. Di 23:12 bunyinya (مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ, min sulaalatin min thiinin) yang berarti "dari sari pati dari tanah liat", dan di 32:8 (مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ, min sulaalatin min maa'in mahiinin) yang berarti "dari sari pati air yang hina". Pada keduanya kata ini diikuti (مِنْ, min) dan bahan asalnya, sehingga kata ini menyebut bagian atau sari dari bahan itu. Dua min berurutan di 32:8 diterjemahkan sebagai satu rangkaian "dari sari pati air", karena min kedua menyebut bahan bagi sari pati itu, sedangkan 23:12 menuliskan kedua "dari" dan Arabnya tidak berbeda. Akar yang sama muncul juga di 24:63 sebagai kata kerja, (يَتَسَلَّلُونَ, yatasallaluuna) yang berarti "mereka menyelinap pergi". Kedua ayat sari pati menyebut bahan yang berlainan, tanah liat di 23:12 dan air di 32:8.
Kata (مَاءٍ, maa'in) yang berarti "air" dalam bentuk ini muncul tujuh kali di tujuh surah, yaitu 2:164, 14:16, 24:45, 32:8, 47:15, 77:20, dan 86:6. Tiga di antaranya menyebut air hujan di 2:164, air nanah di 14:16, dan air sungai surga di 47:15. Empat sisanya menyebut air sebagai bahan makhluk: (خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ, khalaqa kulla daabbatin min maa'in) yang berarti "menciptakan semua jenis hewan dari air" di 24:45, 32:8, 77:20, dan (خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ, khuliqa min maa'in daafiqin) yang berarti "diciptakan dari air yang memancar" di 86:6. Sifat (مَهِينٍ, mahiinin) yang berarti "hina" berakar م-ه-ن dan muncul empat kali di empat surah, yaitu 32:8, 43:52, 68:10, dan 77:20, dan diterjemahkan "hina" pada keempatnya. Di 77:20 sifat itu menyertai air dalam bunyi yang sama dengan 32:8, (مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ, min maa'in mahiinin) yang berarti "dari air yang hina". Di 43:52, (هُوَ مَهِينٌ, huwa mahiinun) yang berarti "dia hina", kata itu ucapan seorang penguasa tentang orang lain, dan di 68:10, (حَلَّافٍ مَهِينٍ, hallaafin mahiinin) yang berarti "orang yang banyak bersumpah lagi hina", kata itu menjadi sifat si penyumpah. Di 24:45 dan di 21:30, (وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ, wa-ja'alnaa mina l-maa'i kulla syay'in hayyin) yang berarti "dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup", air disebut tanpa sifat itu. Di 32:8 sifat itu tidak disertai alasan.
Teksnya tidak menyebut cara keturunan dihasilkan, tidak menyebut berapa lama, dan tidak memakai kata mani. Terjemahan memakai "air yang hina" tanpa tambahan penjelas, dan memakai "keturunannya" tanpa merinci siapa saja yang termasuk di dalamnya.
Tafsiran
Pembicaraan di ayat ini beralih dari manusia yang dimulai dari tanah liat ke keturunannya yang dijadikan dari sari pati air yang hina, dalam rangkaian yang masih terbuka. Kata (ثُمَّ, tsumma) di awal ayat memberi urutan tanpa menyebut lamanya, dan kata kerjanya berganti dari memulai dan menciptakan di 32:7 menjadi menjadikan di 32:8. Kata ganti -hu pada (نَسْلَهُ, naslahu) menunjuk ke manusia di 32:7, sehingga dua ayat itu bersambung sebagai satu kisah yang melewati dua generasi.
Ayat ini berbeda dari 23:12 sampai 23:14, yang menyusun tahap penciptaan seorang manusia dari sari pati sampai menjadi ciptaan yang lain. Di 23:12 sari pati itu berasal dari tanah liat dan dikatakan bagi manusia, sedangkan di 32:8 sari pati itu berasal dari air dan dikatakan bagi keturunan. Teks 32:8 tidak berkata bahwa sari pati dari air itu tahap berikutnya dalam tubuh satu orang, dan tidak berkata bahwa ia tahap yang sama dengan sari pati di 23:12. Pembaca dibiarkan memegang dua gambar itu berdampingan.
Sifat hina di 32:8 menyiapkan sebuah kontras dengan 32:9. Air itu diberi sifat yang rendah tanpa dibela, dan kalimat berikutnya memuat menyempurnakan, meniupkan roh, dan memberi pendengaran, penglihatan, dan hati. Ayat 32:8 sendiri berhenti di air yang hina dan tidak menyebut apa yang menyusul, sehingga susunan itu terbaca sebagai kalimat yang belum selesai. Dalam rangkaian 32:7 sampai 32:9, kalimat ini bersambung ke ayat sesudahnya.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 32:8 menyebut air itu hina dan tidak menambahkan alasan atau pembelaan, dan di 77:20 kata yang sama muncul dalam pertanyaan, "Bukankah Kami menciptakan kalian dari air yang hina?" Dalam kedua ayat itu Allah sendiri yang memakai kata tersebut tentang bahan manusia. Pembaca yang menganggap kerendahan hati sebagai perasaan yang perlu dipupuk dapat melihat bahwa teks menaruhnya sebagai keterangan tentang asal, sebelum ada urusan perasaan. Apa yang berubah pada cara pembaca membanggakan dirinya bila asal yang disebut hina itu dituturkan oleh Dia sendiri?
- Kata yang di 32:8 menyebut keturunan yang dijadikan Dia muncul juga di 2:205, dalam kalimat tentang orang yang berpaling lalu berusaha berbuat kerusakan di bumi, dan di sana keturunan disebut bersama tanam-tanaman sebagai hal yang dirusaknya. Ayat 2:205 ditutup dengan pernyataan bahwa Allah tidak mencintai kerusakan. Ayat 2:205 berbicara tentang orang yang merusak, dan 32:8 tentang penciptaan, sehingga keduanya tidak disamakan. Kedua ayat itu menaruh keturunan dalam dua kedudukan: sesuatu yang dirusak orang yang berpaling di 2:205 dan sesuatu yang Dia jadikan di 32:8. Pembaca dapat membaca keduanya berdampingan ketika menimbang ongkos dari pekerjaan yang sedang dikejarnya. Apakah keturunan dan tanaman masuk dalam daftar ongkos yang dianggap wajar, padahal 32:8 menyebut keturunan sebagai sesuatu yang Dia jadikan?
- Kata kemudian di awal 32:8 mengurutkan dua perbuatan Dia tanpa menyebut berapa lama jedanya, dan teks tidak memberi angka masa di antara tanah liat dan keturunan. Pembaca yang terbiasa menagih ukuran waktu pada setiap proses, seperti berapa lama sampai berhasil atau kapan hasilnya terlihat, dapat memperhatikan bahwa ayat ini cukup menyebut urutannya. Perbandingan yang terdekat ada di 30:54, yang juga memakai kata kerja menjadikan berurutan untuk lemah, kuat, lalu lemah lagi, tanpa memberi hitungan tahun. Kedua ayat itu berbeda topiknya, yang satu tentang asal manusia dan yang lain tentang tahap umur. Apa yang terjadi pada kesabaran pembaca bila kabar tentang Dia hanya berisi urutan, tanpa jam dan kalender?
- Pelaku kata kerja menjadikan di 32:8 adalah Dia, dan yang dijadikan adalah keturunan manusia, tanpa peran orang tua disebut di kalimat ini. Hal itu tidak menandakan bahwa peran orang tua tidak ada, sebab ayat hanya tidak membicarakannya di sini. Orang yang menjadi ayah atau ibu dapat memperhatikan bagaimana bahasanya sendiri menyebut anak, yaitu hasil jerih payahnya atau sesuatu yang Dia jadikan. Teks tidak memutuskan di antara dua sebutan itu, dan pembaca dapat menimbang sendiri nada mana yang lebih sering dipakainya. Ketika seorang tua berkata anak ini hasil didikan saya, bagian mana dari kalimat itu yang ayat ini sebut?
- Kedua ayat yang memuat air yang hina melanjutkan kalimatnya ke tahap berikutnya: 77:21 menyebut Dia menjadikan air itu di tempat yang kukuh sampai waktu yang ditentukan, dan 32:9 menyebut penyempurnaan, peniupan roh, serta pendengaran, penglihatan, dan hati. Dalam kedua susunan itu kata hina tidak jatuh di akhir kalimat. Pembaca yang sedang berada pada tahap yang disebutnya rendah, misalnya pemula di pekerjaan baru atau orang yang baru memulai belajar, dapat memperhatikan di mana kata itu diletakkan oleh teks yang memakainya. Ayat 77:21 dan 32:9 berbeda isinya, dan tidak ada ayat yang menjanjikan nasib tertentu bagi pembaca. Pada kalimat hidupnya sendiri, di bagian mana kata rendah itu diletakkan?
- Air disebut sebagai bahan makhluk di 24:45, yang memuat semua jenis hewan, dan di 21:30, yang memuat segala sesuatu yang hidup, tanpa sifat hina. Di 32:8 dan 77:20 air yang sama disebut hina, dan dua ayat itu berbicara tentang manusia. Alasan sifat itu menyertai manusia saja tidak diberikan, sehingga pertanyaan itu boleh dibiarkan terbuka. Pembaca yang memperhatikan susunan ini dapat melihat bahwa sifat hina pada air ada di ayat tentang manusia dan tidak di ayat tentang hewan. Penjelasan atas susunan itu tidak dinyatakan ayat, sehingga pembaca menimbangnya sebagai pertanyaan yang terbuka. Apa yang akan dipilih pembaca bila ditanya mengapa sifat itu hanya ada di ayat tentang manusia?