وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ فَلَا تَكُنْ فِي مِرْيَةٍ مِنْ لِقَائِهِ ۖ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ
Dan sungguh, Kami telah memberi Musa Kitab, maka janganlah engkau ragu tentang pertemuan dengannya, dan Kami jadikan ia sebagai petunjuk bagi Bani Israil.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَwa-la-qad aataynaa muusaa l-kitaabadan sungguh, Kami telah memberi Musa Kitab
- فَلَا تَكُنْ فِي مِرْيَةٍ مِنْ لِقَائِهِfa-laa takun fii miryatin min liqaa'ihimaka, janganlah engkau ragu tentang pertemuan dengannya
- وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَwa-ja'alnaahu hudan li-banii israa'iiladan Kami jadikan ia sebagai petunjuk bagi Bani Israil
Terjemahan per kata (14 kata)
- وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
- آتَيْنَاaataynaaKami memberikan
- مُوسَىmuusaaMusa
- الْكِتَابَl-kitaabaKitab
- فَلَاfa-laamaka janganlah
- تَكُنْtakunadalah
- فِيfiidalam
- مِرْيَةٍmiryatinkeraguan
- مِنْmindari
- لِقَائِهِliqaa'ihipertemuan dengan-Nya
- وَجَعَلْنَاهُwa-ja'alnaahudan Kami menjadikannya
- هُدًىhudanpetunjuk
- لِبَنِيli-baniibagi Bani
- إِسْرَائِيلَisraa'iilaIsrail
Inti bacaan
Susunan (وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ, wa-la-qad aataynaa muusaa l-kitaaba) muncul tujuh kali di Al-Qur'an (2:87, 11:110, 23:49, 25:35, 28:43, 32:23, 41:45).
Penjelasan pilihan kata
Kalimat pembuka (وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ, wa-la-qad aataynaa muusaa l-kitaaba) yang berarti "dan sungguh, Kami telah memberi Musa Kitab" muncul tujuh kali di tujuh surah, yaitu 2:87, 11:110, 23:49, 25:35, 28:43, 32:23, dan 41:45. Kata kerjanya (آتَيْنَا, aataynaa) berakar أ-ت-ي dan berbentuk selesai dengan pelaku Kami. Ketujuh ayat itu menyambungnya dengan hal yang berbeda. Di 2:87 sambungannya (وَقَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ, wa-qaffaynaa min ba'dihi bi-r-rusuli) yang berarti "dan Kami susulkan setelahnya rasul-rasul", di 11:110 dan 41:45 (فَاخْتُلِفَ فِيهِ, fa-khtulifa fiihi) yang berarti "lalu diperselisihkan tentangnya", di 23:49 (لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ, la'allahum yahtaduuna) yang berarti "agar mereka mendapat petunjuk", dan di 25:35 (وَجَعَلْنَا مَعَهُ أَخَاهُ هَارُونَ وَزِيرًا, wa-ja'alnaa ma'ahu akhaahu haaruuna waziiran) yang berarti "dan Kami jadikan bersamanya saudaranya, Harun, sebagai wazir". Di 32:23 sambungannya ialah larangan kepada pihak yang disapa, dan tidak ada ayat lain di antara ketujuhnya yang menyambungnya dengan larangan.
Kata (مِرْيَةٍ, miryatin) yang berarti "keraguan" berakar م-ر-ي dan tanpa kata sandang. Susunan (فِي مِرْيَةٍ, fii miryatin) muncul lima kali, yaitu 11:17, 11:109, 22:55, 32:23, dan 41:54. Larangan (فَلَا تَكُ فِي مِرْيَةٍ, fa-laa taku fii miryatin) yang berarti "maka janganlah engkau berada dalam keraguan" ada di 11:17 dan 11:109, dan 32:23 memakai bentuk lengkapnya (فَلَا تَكُنْ, fa-laa takun). Di 11:17 larangan itu didahului (وَمِنْ قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَىٰ, wa-min qablihi kitaabu muusaa) yang berarti "dan sebelumnya ada Kitab Musa", lalu berbunyi (فَلَا تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ, fa-laa taku fii miryatin minhu) yang berarti "maka janganlah engkau ragu terhadapnya". Di 11:109 keraguan yang dilarang menyangkut apa yang disembah orang-orang ini. Dua ayat lain tidak berupa larangan, melainkan keterangan tentang orang lain: 22:55 (فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ, fii miryatin minhu) berarti "dalam keraguan mengenainya" untuk orang-orang yang kufur, dan 41:54 (أَلَا إِنَّهُمْ فِي مِرْيَةٍ مِنْ لِقَاءِ رَبِّهِمْ, alaa innahum fii miryatin min liqaa'i rabbihim) berarti "ketahuilah, sesungguhnya mereka dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka". Pihak yang disapa dengan kata engkau di 32:23 tidak dinamai, dan terjemahan memakai "engkau" tanpa menambahkan sebutan.
Kata (لِقَائِهِ, liqaa'ihi) yang berarti "pertemuan dengannya" berakar ل-ق-ي dan berupa kata benda dari bentuk ketiga. Dengan akhiran -hi, bentuk itu muncul tiga kali, yaitu 18:105, 29:23, dan 32:23. Di 29:23 (وَلِقَائِهِ, wa-liqaa'ihi) mengikuti (بِآيَاتِ اللَّهِ, bi-aayaati llaahi) yang berarti "dengan tanda-tanda Allah", sehingga akhiran -hi merujuk Allah dan terjemahan memakai "pertemuan dengan-Nya". Di 18:105 (وَلِقَائِهِ, wa-liqaa'ihi) mengikuti (آيَاتِ رَبِّهِمْ, aayaati rabbihim) yang berarti "tanda-tanda Tuhan mereka". Di 32:23 tidak ada kata Allah atau Tuhan di dekat akhiran itu. Dua kata benda laki-laki tunggal mendahuluinya, yaitu (مُوسَى, muusaa) dan (الْكِتَابَ, l-kitaaba), sehingga teks tidak memilih antara keduanya dan terjemahan memakai "pertemuan dengannya" tanpa menetapkan siapa yang ditunjuk. Kata pertemuan sudah muncul di surah ini dengan bentuk lain: (بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ, bi-liqaa'i rabbihim) di 32:10 berarti "terhadap pertemuan dengan Tuhan mereka", dan (لِقَاءَ يَوْمِكُمْ, liqaa'a yawmikum) di 32:14 berarti "pertemuan hari kalian". Susunan (مِنْ لِقَائِهِ, min liqaa'ihi) persis hanya ada di 32:23.
Kalimat penutup (وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ, wa-ja'alnaahu hudan li-banii israa'iila) yang berarti "dan Kami jadikan ia sebagai petunjuk bagi Bani Israil" muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu 17:2 dan 32:23. Kata (هُدًى, hudan) berakar ه-د-ي dan berarti "petunjuk", sedangkan huruf (لِ, li-) di depan Bani Israil berarti "bagi" dan menyebut penerimanya. Akhiran -hu pada kata kerja itu juga tidak dinamai di 32:23, jadi terjemahan memakai "ia" tanpa menetapkan Kitab atau Musa. Di 28:43 Kitab yang diberikan kepada Musa disebut dengan penerima yang lebih luas: (بَصَائِرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةً, bashaa'ira li-n-naasi wa-hudan wa-rahmatan) yang berarti "sebagai penerang bagi manusia, petunjuk, dan rahmat". Dua ayat itu berbeda penerimanya dan tidak saling meniadakan, karena 28:43 dan 32:23 berbicara dari sudut yang berlainan.
Tafsiran
Susunan 32:23 menaruh sebuah larangan di tengah dua pernyataan tentang Kitab. Pernyataan pertama memuat pemberian kepada Musa, dengan pelaku Kami. Larangan di tengah, (فَلَا تَكُنْ فِي مِرْيَةٍ, fa-laa takun fii miryatin), ditujukan kepada pihak yang disapa dengan kata engkau. Pernyataan ketiga menyebut penerima Kitab, yaitu Bani Israil. Ketiganya berjalan tanpa sambungan yang menjelaskan hubungan satu dengan yang lain.
Ayat 11:17 memuat urutan yang sama: Kitab Musa disebut, lalu larangan ragu menyusul. Pihak yang disapa sudah dikenal dari surah ini, sebab 32:3 memakai kata engkau, menyebut kebenaran dari Tuhanmu, dan 32:25 dua ayat sesudahnya menyebut Tuhanmu lagi. Dapat dibaca bahwa 32:23 menyapa pihak yang sama dengan 32:3 dan 32:25, tetapi ayat ini sendiri tidak menamainya.
Kata pertemuan membawa pembaca kembali ke bagian awal surah. Di 32:10 sebagian orang kufur terhadap pertemuan dengan Tuhan mereka, dan di 32:14 pertemuan hari itu dilupakan. Karena akhiran -hi di 32:23 tidak menyebut siapa yang ditemui, pembaca dapat menautkannya pada Kitab, pada Musa, atau pada pertemuan yang sudah disebut di surah ini. Ayat tidak memilih, dan terjemahan membiarkan pilihan itu terbuka.
Pernyataan penutup memberi Kitab itu alamat: Bani Israil. Alamat ini menyiapkan ayat berikutnya, sebab 32:24 membuka dengan (وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ, wa-ja'alnaa minhum) yang berarti "dan Kami jadikan di antara mereka", dan kata ganti -hum paling dekat merujuk Bani Israil. Kitab yang sama disebut diperselisihkan di 11:110 dan 41:45, dan 32:25 menyebut perselisihan dengan kata (يَخْتَلِفُونَ, yakhtalifuuna). Ayat 32:23 sendiri tidak menyebut perselisihan, sehingga hubungan itu hanya terlihat bila ketiga ayat dibaca bersama. Sesudah 32:22 yang menyebut sosok yang diperingatkan lalu berpaling, 32:23 beralih ke sebuah pemberian yang disebut petunjuk.
Renungan dan Hikmah
- Larangan ragu di 32:23 berada di antara dua kalimat tentang pemberian: Kami memberi Musa Kitab, lalu Kami jadikan petunjuk bagi Bani Israil. Di 11:17, yang konteksnya berlainan, urutan serupa terjadi: Kitab Musa disebut sebelum larangan ragu, dan ayat itu menyebut kebenaran dari Tuhanmu. Dari kedua ayat terlihat larangan ragu muncul di dekat sesuatu yang sudah diberikan. Pembaca dapat bertanya, keraguan mana dalam hidupnya yang muncul ketika sesuatu sudah diterima, dan apakah larangan semacam itu terbaca berbeda bila datang sesudah pemberian?
- Kata pertemuan sudah hadir di surah ini sebelum 32:23: di 32:10 sebagian orang kufur terhadap pertemuan dengan Tuhan mereka, dan di 32:14 pertemuan hari itu dilupakan. Ketika 32:23 melarang ragu tentang pertemuan, pembaca membawa dua pemakaian itu ke dalam ayat ini. Karena akhiran -hi tidak menamai siapa yang ditemui, pembaca dapat menautkannya pada Kitab, pada Musa, atau pada pertemuan yang sudah dibicarakan, dan ayat tidak memilihnya. Orang dapat bertanya, pertemuan mana yang terbayang lebih dulu ketika membaca kata itu, dan apa yang berubah pada keraguan pembaca bila yang ditemui adalah yang pertama disebut di 32:10?
- Di 29:23 pertemuan dengan-Nya disebut sesudah tanda-tanda Allah, sehingga pemilik kata ganti itu jelas. Di 32:23 kata ganti yang sama berdiri tanpa kata Allah di dekatnya. Akibatnya pembaca memegang kata ganti yang terbuka, dan makna ayat bergantung pada ke mana kata ganti itu ditautkan. Ayat tidak menutupnya, dan pembaca tidak perlu menutupnya sendiri dengan keyakinan yang tidak tertulis. Orang dapat bertanya, bagaimana sebuah larangan terbaca bila sasarannya dipegang terbuka, dan apakah keraguan lebih mudah bertahan pada sasaran yang belum disebutkan namanya?
- Di 32:23 dan 17:2 Kitab Musa dijadikan petunjuk bagi Bani Israil, sedangkan di 28:43 Kitab yang sama disebut penerang bagi manusia, petunjuk, dan rahmat. Tiga ayat itu menyebut penerima dengan lingkup yang berbeda tanpa saling membantah, karena masing-masing berbicara dari sudut yang berlainan. Bagi pembaca, siapa yang dituju sebuah petunjuk menjadi hal yang ditimbang: satu kaum di satu ayat, manusia di ayat lain. Orang dapat bertanya, bila petunjuk yang sama bisa disebut bagi satu kaum dan bagi semua manusia, di antara keduanya yang mana yang lebih dekat pada hal yang sedang dibacanya sekarang?
- Ayat 32:23 tidak menyebut perselisihan, tetapi 11:110 dan 41:45 membuka dengan kalimat yang sama lalu menyebut Kitab itu diperselisihkan, dan menambahkan ketetapan yang mendahului dari Tuhanmu. Dua ayat sesudah 32:23, ayat 32:25 menyebut bahwa Tuhanmu yang memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Tiga ayat itu tidak digabung menjadi satu kisah, sebab masing-masing berdiri dalam suratnya. Pembaca yang membacanya berdampingan melihat pemberian yang tetap berada di tangan orang yang memperdebatkannya. Orang dapat bertanya, pemberian apa dalam hidupnya yang kini diperselisihkan, dan siapa yang bisa memutuskannya?
- Di 32:23 pihak yang disapa dilarang berada dalam keraguan, sedangkan di 22:55 orang-orang yang kufur disebut senantiasa dalam keraguan, dan di 41:54 mereka disebut dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Dua bentuk itu berbeda: yang pertama larangan kepada satu pihak, yang lain keterangan tentang pihak lain. Dengan melarang, ayat 32:23 menyiratkan bahwa keraguan itu mungkin terjadi, dan dengan menyebut, 22:55 dan 41:54 mencatat bahwa keraguan itu memang terjadi. Pembaca dapat bertanya, ketika sebuah larangan ragu terbaca, apakah yang terdengar lebih dulu kemungkinan ragu itu sendiri, dan bagaimana kemungkinan itu terdengar bila pembaca sendiri yang disapa?