بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Wahai Nabi, bertakwalah kepada Allah, dan janganlah engkau menaati orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah berilmu lagi penuh hikmah.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَyaa ayyuhaa n-nabiyyu ttaqi llaahawahai Nabi, bertakwalah kepada Allah
  2. وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَwa-laa tuthi'i l-kaafiriina wa-l-munaafiqiinadan janganlah engkau menaati orang-orang kafir dan orang-orang munafik
  3. إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًاinna llaaha kaana 'aliiman hakiimansesungguhnya Allah berilmu lagi penuh hikmah

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. يَاyaawahai
  2. أَيُّهَاayyuhaasekalian
  3. النَّبِيُّn-nabiyyuNabi
  4. اتَّقِttaqibertakwalah
  5. اللَّهَllaahaAllah
  6. وَلَاwa-laadan janganlah
  7. تُطِعِtuthi'iengkau menaati
  8. الْكَافِرِينَl-kaafiriinaorang-orang yang kufur
  9. وَالْمُنَافِقِينَwa-l-munaafiqiinadan orang-orang munafik
  10. إِنَّinnasesungguhnya
  11. اللَّهَllaahaAllah
  12. كَانَkaanaadalah
  13. عَلِيمًا'aliimanberilmu
  14. حَكِيمًاhakiimanbijaksana

Inti bacaan

Pasangan (الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ, l-kaafiriina wa-l-munaafiqiina) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 33:1 dan 33:48.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ, yaa ayyuhaa n-nabiyyu) yang berarti "wahai Nabi". Seruan (يَا أَيُّهَا, yaa ayyuhaa) yang berarti "wahai" bersambung dengan (النَّبِيُّ, n-nabiyyu), kata berakar ن-ب-أ yang memakai kata sandang al- dan berdiri tanpa nama pribadi. Rangkaian persis ini muncul tiga belas kali di enam surah, yaitu 8:64, 8:65, 8:70, 9:73, 33:1, 33:28, 33:45, 33:50, 33:59, 60:12, 65:1, 66:1, dan 66:9. Surah 33 memuatnya lima kali. Sapaan kepada rasul memakai kata lain, yaitu (يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ, yaa ayyuhaa r-rasuulu) yang berarti "wahai Rasul", dan sapaan itu hanya ada di 5:41 dan 5:67. Dari tiga belas sapaan "wahai Nabi", hanya 33:1 yang langsung disusul perintah bertakwa, sebab rangkaian (يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ, yaa ayyuhaa n-nabiyyu ttaqi) tidak ada di ayat lain.

Perintah pertama adalah (اتَّقِ اللَّهَ, ttaqi llaaha) yang berarti "bertakwalah kepada Allah". Kata kerja (اتَّقِ, ttaqi) berakar و-ق-ي dan berbentuk perintah untuk satu orang. Kata (اللَّهَ, llaaha) langsung mengikuti kata kerja itu tanpa kata depan, sehingga "kepada" dalam terjemahan hadir demi bahasa Indonesia dan tidak mewakili kata Arab tersendiri. Susunan (اتَّقِ اللَّهَ, ttaqi llaaha) muncul tiga kali di dua surah, yaitu 2:206, 33:1, dan 33:37. Di 2:206 susunan itu dikutip sebagai ucapan kepada orang yang kedigdayaannya lalu membawanya kepada dosa, dan di 33:37 susunan itu berada di dalam kutipan ucapan. Di 33:1 kalimat itu tidak berada di dalam kutipan siapa pun, dan menjadi perintah pertama yang ditujukan langsung kepada orang yang disapa.

Perintah kedua berbentuk larangan, yaitu (وَلَا تُطِعِ, wa-laa tuthi'i) yang berarti "dan janganlah engkau menaati". Kata kerjanya berakar ط-و-ع, akar yang sama dengan (أَطِيعُوا, athii'uu) yang diterjemahkan "taatilah" dalam ayat-ayat perintah seperti 4:59. Larangan menaati untuk satu orang dengan akar ini muncul sebelas kali di sembilan surah, yaitu 6:116, 18:28, 25:52, 29:8, 31:15, 33:1, 33:48, 68:8, 68:10, 76:24, dan 96:19. Sasaran larangannya berbeda-beda: kebanyakan orang di bumi di 6:116, orang-orang yang mendustakan di 68:8, dan setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina di 68:10. Rangkaian persis (وَلَا تُطِعِ, wa-laa tuthi'i) hanya ada di 33:1 dan 33:48.

Sasaran larangan di ayat ini adalah dua golongan, yaitu (الْكَافِرِينَ, l-kaafiriina) yang berarti "orang-orang kafir" dan (الْمُنَافِقِينَ, l-munaafiqiina) yang berarti "orang-orang munafik". Kata pertama berakar ك-ف-ر dan kata kedua berakar ن-ف-ق; keduanya menyebut pelaku dalam bentuk jamak, dan keduanya memakai kata sandang al-. Pasangan (الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ, l-kaafiriina wa-l-munaafiqiina) dengan urutan ini muncul dua kali, yaitu di 33:1 dan 33:48. Urutan terbalik, (الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ, l-munaafiqiina wa-l-kaafiriina), muncul satu kali di 4:140. Di 9:73 dan 66:9 pasangannya memakai bentuk jamak lain dari akar ك-ف-ر, yaitu (الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ, l-kuffaara wa-l-munaafiqiina) yang diterjemahkan "orang-orang kufar dan orang-orang munafik", sehingga terjemahan menjaga perbedaan antara dua bentuk itu.

Penutup ayat adalah (إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا, inna llaaha kaana 'aliiman hakiiman) yang berarti "sesungguhnya Allah berilmu lagi penuh hikmah". Kata (عَلِيمًا, 'aliiman) berakar ع-ل-م dan kata (حَكِيمًا, hakiiman) berakar ح-ك-م. Keduanya tanpa kata sandang, sehingga terjemahan memakai huruf kecil, "berilmu lagi penuh hikmah". Kalimat utuh ini muncul empat kali, yaitu di 4:11, 4:24, 33:1, dan 76:30. Pasangan (عَلِيمًا حَكِيمًا, 'aliiman hakiiman) muncul sepuluh kali di empat surah, yaitu 4:11, 4:17, 4:24, 4:92, 4:104, 4:111, 4:170, 33:1, 48:4, dan 76:30, dan di kesepuluhnya terjemahannya sama. Kata kerja (كَانَ, kaana) tidak diberi penanda waktu di ayat-ayat itu, sehingga terjemahan tidak menambahkan "senantiasa" atau "dahulu". Di 33:1 kata 'aliiman tidak diikuti kata yang menyebut apa yang diketahui, dan teks tidak menyebut hal tertentu sebagai isi ilmu dan hikmah itu.

Tafsiran

Ayat ini membuka Surah Al-Ahzab dengan satu perintah, satu larangan, dan satu keterangan tentang Allah, dan ketiganya ditujukan kepada satu orang yang disapa dengan gelar Nabi. Perintahnya mengarah kepada Allah, sedangkan larangannya menjauhkan dari dua golongan yang disebut berdampingan dengan kata "dan". Ayat tidak menyebut apa yang diminta kedua golongan itu, dan tidak menyebut bentuk ketaatan yang dilarang. Dua golongan itu diperkenalkan lewat namanya saja.

Larangan yang sama kembali di 33:48, sesudah 33:45 sampai 33:47 yang menyebut tugas orang yang disapa sebagai saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan. Di sana larangan itu disusul (وَدَعْ أَذَاهُمْ, wa-da' adzaahum) yang berarti "dan abaikan gangguan mereka", sehingga kedua golongan itu di 33:48 dikaitkan dengan gangguan. Di 33:1 kaitan itu belum ada. Surah ini menyebut golongan munafik lagi di 33:24, tempat Allah dikatakan akan mengazab mereka jika Dia menghendaki atau menyambut tobat mereka, dan di 33:73, tempat mereka disebut bersama orang-orang musyrik sebagai yang akan diazab. Ketiga ayat itu tidak menjelaskan satu sama lain, tetapi bersama-sama memperlihatkan bahwa surah ini kembali pada golongan itu dari sudut yang berbeda-beda.

Urutan di dalam ayat ini menaruh perintah bertakwa lebih dulu, larangan menaati sesudahnya, dan keterangan tentang Allah paling akhir. Keterangan penutup itu tidak membicarakan dua golongan tadi. Keterangan itu menyebut Allah, sehingga alasan bagi perintah dan larangan di awal ayat diletakkan pada Allah yang berilmu lagi penuh hikmah, dan tidak diletakkan pada keadaan kedua golongan itu. Ayat 33:2 dan 33:3 juga ditutup dengan keterangan tentang Allah, masing-masing setelah perintah untuk satu orang yang sama.

Sesudah tiga ayat pembuka yang menyapa satu orang, 33:4 beralih ke sapaan jamak dan ke pernyataan tentang apa yang tidak dijadikan Allah. Dengan begitu 33:1 menjadi ayat yang menetapkan arah lebih dulu, yaitu kepada siapa orang yang disapa itu berpegang dan kepada siapa orang itu tidak menurut, sebelum surah ini masuk ke pokok-pokok lain.

Renungan dan Hikmah

  • Perintah pertama di ayat ini, bertakwa kepada Allah, ditujukan kepada orang yang disapa dengan gelar Nabi. Ayat tidak menyebut bahwa orang itu belum bertakwa, dan tidak menyebut tingkatan takwa yang diminta. Perintah itu berdiri begitu saja di awal, sebelum larangan dan sebelum alasan. Di 2:206 kalimat yang sama diucapkan kepada orang lain, dan kedigdayaan orang itu membawanya kepada dosa. Dua ayat itu berbeda pokoknya, tetapi keduanya memperlihatkan bahwa kalimat yang sama dapat disambut dengan cara yang berlainan oleh orang yang berlainan. Pembaca dapat bertanya bagaimana kalimat itu disambutnya bila ditujukan kepadanya, sebagai sesuatu yang sudah selesai atau sebagai sesuatu yang masih berlaku?
  • Larangan di ayat ini menyebut dua golongan dalam satu rangkaian dan tidak menyebut apa yang diminta masing-masing. Di 4:140 kedua golongan itu juga disebut berdampingan, dan di sana Allah dikatakan akan mengumpulkan semuanya di Jahanam, sehingga ayat itu berbicara tentang tempat kembali dan tidak tentang ketaatan, dalam konteks yang berbeda dari 33:1. Pembaca yang mencari ciri-ciri mereka di 33:1 tidak menemukan daftar apa pun, sehingga pertanyaan yang tersisa bergeser kepada dirinya sendiri: suara mana dalam hidupnya yang diikuti tanpa pernah diperiksa dari pihak mana datangnya?
  • Ayat ini memberi alasan bagi perintah dan larangannya lewat keterangan tentang Allah, dan keterangan itu tidak menyebut dua golongan tadi. Ayat menutup dengan Allah berilmu lagi penuh hikmah tanpa menyebut ilmu tentang apa dan hikmah dalam hal apa. Di 76:30 rumus yang sama menutup pernyataan bahwa kalian tidak menghendaki kecuali jika Allah menghendaki, dan di 4:11 rumus itu menutup pembagian bagian antara anak dan orang tua, dua pokok yang jauh berbeda dari 33:1. Orang yang diminta menurut kepada sesuatu dapat memakai pertanyaan yang tersirat di sini: apakah pihak yang meminta itu berilmu lagi penuh hikmah, atau hanya tinggi suaranya?
  • Sapaan wahai Nabi muncul tiga belas kali, dan isi yang menyusulnya berbeda-beda. Di 8:64 sapaan itu disusul pernyataan bahwa Allah mencukupi yang disapa, di 8:65 perintah menggerakkan orang-orang beriman, dan di 66:1 pertanyaan yang diajukan kepada yang disapa. Di 33:1 sapaan itu disusul perintah bertakwa kepada Allah. Karena isinya berganti-ganti, gelar itu sendiri tidak membawa satu pesan tetap, dan pesan di 33:1 ditentukan oleh kalimat sesudahnya. Pembaca dapat bertanya apa yang biasanya diharapkannya lebih dulu ketika mendengar seseorang disapa dengan gelar, dan apakah harapan itu cocok dengan perintah yang benar-benar menyusul di ayat ini?
  • Larangan menaati dengan akar yang sama mempunyai sasaran yang jauh lebih beragam daripada dua golongan di ayat ini. Di 6:116 sasarannya kebanyakan orang di bumi, dengan keterangan bahwa mereka menyesatkan dari jalan Allah dan hanya mengikuti dugaan. Di 68:8 sasarannya orang-orang yang mendustakan, dan di 68:10 setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Di tiga ayat itu sasaran digambarkan lewat jumlah atau sifat, sedangkan di 33:1 sasaran itu disebut lewat nama golongan. Pembaca yang melihat kebanyakan orang di sekitarnya bergerak ke satu arah dapat bertanya apa yang dipakainya sebagai ukuran selain jumlah, dan apakah ukuran itu dapat ditunjukkan pada teks.
  • Larangan menaati yang sama di 29:8 dan 31:15 ditujukan kepada orang terhadap kedua orang tuanya, dengan batas yang disebut jelas, yaitu bila keduanya memaksanya mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak diketahuinya. Di 31:15 larangan itu disusul perintah menggauli keduanya di dunia dengan baik. Ayat 33:1 tidak memuat batas seperti itu bagi dua golongan yang disebutnya, dan tidak memuat perintah lanjutan sesudah larangan. Pembaca yang pernah menolak sebuah permintaan dapat bertanya sikap apa yang diambilnya sesudah menolak, dan apakah teks yang ia pegang menyebut sesuatu tentang sikap itu atau membiarkannya terbuka.