مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ ۚ وَمَا جَعَلَ أَزْوَاجَكُمُ اللَّائِي تُظَاهِرُونَ مِنْهُنَّ أُمَّهَاتِكُمْ ۚ وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ ۖ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ
Allah tidak menjadikan bagi seorang lelaki dua hati dalam rongganya, dan Dia tidak menjadikan istri-istri kalian yang kalian zihar sebagai ibu kalian, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkat kalian sebagai anak-anak kalian. Yang demikian itu perkataan kalian dengan mulut kalian. Dan Allah mengatakan kebenaran, dan Dia menunjukkan jalan.
Terjemahan bertahap (5 jeda)
- مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِmaa ja'ala llaahu li-rajulin min qalbayni fii jawfihiAllah tidak menjadikan bagi seorang lelaki dua hati dalam rongganya
- وَمَا جَعَلَ أَزْوَاجَكُمُ اللَّائِي تُظَاهِرُونَ مِنْهُنَّ أُمَّهَاتِكُمْwa-maa ja'ala azwaajakumu llaa'ii tuzhaahiruuna minhunna ummahaatikumdan Dia tidak menjadikan istri-istri kalian yang kalian zihar sebagai ibu kalian
- وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْwa-maa ja'ala ad'iyaa'akum abnaa'akumdan Dia tidak menjadikan anak-anak angkat kalian sebagai anak-anak kalian
- ذَٰلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْdzaalikum qawlukum bi-afwaahikumyang demikian itu perkataan kalian dengan mulut kalian
- وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَwa-llaahu yaquulu l-haqqa wa-huwa yahdi s-sabiiladan Allah mengatakan kebenaran, dan Dia menunjukkan jalan
Terjemahan per kata (28 kata)
- مَاmaatidaklah
- جَعَلَja'alamenjadikan
- اللَّهُllaahuAllah
- لِرَجُلٍli-rajulinbagi seorang lelaki
- مِنْmindari
- قَلْبَيْنِqalbaynidua hati
- فِيfiidalam
- جَوْفِهِjawfihirongganya
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- جَعَلَja'alamenjadikan
- أَزْوَاجَكُمُazwaajakumuistri-istri kalian
- اللَّائِيllaa'iiperempuan-perempuan yang
- تُظَاهِرُونَtuzhaahiruunakalian saling membantu
- مِنْهُنَّminhunnadari mereka
- أُمَّهَاتِكُمْummahaatikumibu-ibu kalian
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- جَعَلَja'alamenjadikan
- أَدْعِيَاءَكُمْad'iyaa'akumanak-anak angkat kalian
- أَبْنَاءَكُمْabnaa'akumanak-anak lelaki kalian
- ذَٰلِكُمْdzaalikumdemikian itu
- قَوْلُكُمْqawlukumperkataan kalian
- بِأَفْوَاهِكُمْbi-afwaahikumdengan mulut kalian
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- يَقُولُyaquuluberkata
- الْحَقَّl-haqqakebenaran
- وَهُوَwa-huwadan Dia
- يَهْدِيyahdimemberi petunjuk
- السَّبِيلَs-sabiilajalan
Inti bacaan
Bentuk (بِأَفْوَاهِكُمْ, bi-afwaahikum) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 24:15 dan 33:4.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (مَا جَعَلَ اللَّهُ, maa ja'ala llaahu) yang berarti "Allah tidak menjadikan". Kata kerja (جَعَلَ, ja'ala) berakar ج-ع-ل, dan penyangkalan di depannya diulang dua kali di ayat yang sama, pada (وَمَا جَعَلَ, wa-maa ja'ala) yang berarti "dan Dia tidak menjadikan". Akibatnya ayat ini memuat tiga penyangkalan sejajar yang memakai satu kata kerja. Susunan (مَا جَعَلَ اللَّهُ, maa ja'ala llaahu) muncul tiga kali, yaitu di 4:90, 5:103, dan 33:4, sedangkan (وَمَا جَعَلَ, wa-maa ja'ala) muncul empat kali, yaitu di 3:126, 8:10, 22:78, dan 33:4. Sesudah (جَعَلَ, ja'ala) langsung datang dua kata benda tanpa kata penghubung, misalnya (أَزْوَاجَكُمُ, azwaajakumu) lalu (أُمَّهَاتِكُمْ, ummahaatikum), sehingga kata "sebagai" dalam terjemahan hadir dari susunan itu dan tidak mewakili kata Arab tersendiri.
Kata (لِرَجُلٍ, li-rajulin) yang berarti "bagi seorang lelaki" tersusun dari (لِ, li) yang berarti "bagi" dan (رَجُلٍ, rajulin) yang berarti "lelaki", kata berakar ر-ج-ل dalam bentuk tunggal tanpa kata sandang. Terjemahan memakai "lelaki" atau "laki-laki" untuk kata ini di 28:20, 36:20, 40:28, dan 7:63, sehingga di sini kata itu ditulis "seorang lelaki". Kata (مِنْ, min) di (مِنْ قَلْبَيْنِ, min qalbayni) tidak mendapat padanan tersendiri. Susunan yang sama, yaitu penyangkalan dengan (جَعَلَ, ja'ala) lalu min dan benda tak tentu, ada di 5:103, (مِنْ بَحِيرَةٍ, min bahiiratin), dan di 22:78, (مِنْ حَرَجٍ, min harajin), dan di keduanya min juga tidak diterjemahkan sendiri.
Kata (قَلْبَيْنِ, qalbayni) yang berarti "dua hati" adalah bentuk ganda dari (قَلْبٍ, qalbin), kata berakar ق-ل-ب. Bentuk ganda ini hanya ada di 33:4. Kata (جَوْفِهِ, jawfihi) yang berarti "rongganya" tersusun dari (جَوْفِ, jawfi), kata berakar ج-و-ف, dan akhiran (هِ, -hi) yang berarti "-nya" dan menunjuk lelaki tadi. Kata jawf hanya muncul sekali di Al-Qur'an, yaitu di 33:4, sehingga artinya tidak dapat ditelusuri lewat ayat lain. Terjemahan memilih "rongga" karena ayat memakai kata itu sebagai tempat bagi hati di dalam tubuh seorang lelaki, dan tidak menambahkan "dada".
Kata (أَزْوَاجَكُمُ, azwaajakumu) yang berarti "istri-istri kalian" berakar ز-و-ج. Kata yang sama diterjemahkan "pasangan-pasangan" di 36:56, dan di 33:4 diterjemahkan "istri-istri" karena sesudahnya ada (مِنْهُنَّ, minhunna) yang berarti "dari mereka" dengan kata ganti perempuan jamak, yang menunjuk perempuan-perempuan itu. Kata penghubung (اللَّائِي, llaa'ii) yang berarti "yang" untuk perempuan jamak muncul tiga kali, yaitu di 33:4, 58:2, dan 65:4. Kata kerja (تُظَاهِرُونَ, tuzhaahiruuna) berakar ظ-ه-ر dan hanya muncul di 33:4, sedangkan bentuk dengan awalan ya, (يُظَاهِرُونَ, yuzhaahiruuna), muncul dua kali, yaitu di 58:2 dan 58:3. Kata zihar dipertahankan dalam terjemahan tanpa uraian, karena ayat ini dan kedua ayat di surah 58 tidak mendefinisikannya. Di 58:3 kelanjutannya berbunyi (ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا, tsumma ya'uuduuna li-maa qaaluu) yang berarti "kemudian mereka kembali kepada apa yang mereka katakan", sehingga zihar di ayat itu berupa sesuatu yang dikatakan.
Kata (أُمَّهَاتِكُمْ, ummahaatikum) yang berarti "ibu kalian" berakar أ-م-م dalam bentuk jamak. Bentuk persis ini muncul lima kali, yaitu di 16:78, 24:61, 33:4, 39:6, dan 53:32. Kata jamak yang sama dengan akhiran lain, (أُمَّهَاتُهُمْ, ummahaatuhum) yang berarti "ibu-ibu mereka", muncul di 33:6 dan 58:2. Di 58:2, dalam ayat yang memuat kata zihar, bunyinya (إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ, in ummahaatuhum illaa llaa'ii waladnahum) yang berarti "ibu-ibu mereka tidak lain adalah perempuan-perempuan yang melahirkan mereka". Di 33:4 kata ibu tidak dijelaskan, dan penjelasannya ada di 58:2.
Kata (أَدْعِيَاءَكُمْ, ad'iyaa'akum) yang berarti "anak-anak angkat kalian" berakar د-ع-و, akar yang diterjemahkan "memanggil", dan muncul satu kali di 33:4. Bentuk dengan akhiran lain, (أَدْعِيَائِهِمْ, ad'iyaa'ihim), muncul satu kali di 33:37. Akar yang sama dipakai oleh perintah (ادْعُوهُمْ, ud'uuhum) di 33:5. Kata Arab ini tidak memuat kata untuk "angkat", dan di ayat ini kata itu dipasangkan dengan (أَبْنَاءَكُمْ, abnaa'akum) yang berarti "anak-anak kalian". Kata (أَبْنَاءَكُمْ, abnaa'akum) berakar ب-ن-و dan muncul lima kali di lima surah, yaitu 2:49, 3:61, 7:141, 14:6, dan 33:4. Terjemahan tidak memakai "kandung" di sini. Di 4:23 terjemahan memakai "anak kandung" untuk keseluruhan frasa (أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ, abnaa'ikumu lladziina min ashlaabikum), sehingga "kandung" di sana mewakili keterangan tambahan (الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ, lladziina min ashlaabikum), dan 33:4 tidak memuat keterangan tambahan seperti itu.
Kalimat (ذَٰلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ, dzaalikum qawlukum bi-afwaahikum) yang berarti "yang demikian itu perkataan kalian dengan mulut kalian". Kata (ذَٰلِكُمْ, dzaalikum), (قَوْلُكُمْ, qawlukum), dan (بِأَفْوَاهِكُمْ, bi-afwaahikum) sama-sama memakai akhiran -kum yang menunjuk banyak orang yang diajak bicara. Kata (أَفْوَاهِ, afwaahi), jamak dari kata berakar ف-و-ه yang berarti mulut, muncul di dua belas ayat pada sembilan surah, yaitu 3:118, 3:167, 5:41, 9:8, 9:30, 9:32, 14:9, 18:5, 24:15, 33:4, 36:65, dan 61:8. Bentuk (بِأَفْوَاهِكُمْ, bi-afwaahikum) hanya ada di 24:15 dan 33:4. Rumus yang mirip, (ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ, dzaalika qawluhum bi-afwaahihim), ada di 9:30, dan terjemahannya tidak memuat kata hanya. Perbandingan itu menjadi kontras yang membuat terjemahan 33:4 tidak menambahkan kata hanya. Empat dari dua belas ayat itu menyandingkan ucapan dari mulut dengan ketiadaan sesuatu yang menopangnya, yaitu hati di 3:167 dan 5:41, dan pengetahuan di 18:5 dan 24:15. Ayat 33:4 tidak menyebut ketiadaan itu.
Kalimat penutup (وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ, wa-llaahu yaquulu l-haqqa wa-huwa yahdi s-sabiila) yang berarti "dan Allah mengatakan kebenaran, dan Dia menunjukkan jalan". Kata kerja (يَقُولُ, yaquulu) berakar ق-و-ل, akar yang sama dengan (قَوْلُكُمْ, qawlukum) di kalimat sebelumnya, sehingga ayat ini memakai satu akar untuk dua pihak, yaitu perkataan kalian dan apa yang dikatakan Allah. Kata (الْحَقَّ, l-haqqa) yang berarti "kebenaran" berakar ح-ق-ق. Frasa (يَقُولُ الْحَقَّ, yaquulu l-haqqa) dan (يَهْدِي السَّبِيلَ, yahdi s-sabiila) masing-masing hanya muncul di 33:4. Kata (يَهْدِي, yahdi) berakar ه-د-ي dan kata (السَّبِيلَ, s-sabiila) berakar س-ب-ل.
Tafsiran
Ayat ini memuat tiga penyangkalan yang sejajar, satu penilaian, dan dua pernyataan tentang Allah. Tiga penyangkalan memakai kata kerja yang sama dan subjek yang sama, tetapi sasarannya berbeda jenis: yang pertama menyangkut isi tubuh seorang lelaki, dan dua yang lain menyangkut sebutan antara orang-orang. Penyangkalan pertama berbicara tentang seorang lelaki dalam bentuk tunggal, sedangkan dua yang lain memakai akhiran -kum yang menunjuk banyak orang yang diajak bicara. Dengan begitu sapaan ayat ini bergeser dari lelaki yang disebut ke kalian yang disapa.
Penilaian di tengah ayat, (ذَٰلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ, dzaalikum qawlukum bi-afwaahikum), juga memakai akhiran -kum. Karena itu penilaian tersebut dapat dibaca menunjuk pada dua penyangkalan terakhir, yang memuat kata kalian, dan tidak pada penyangkalan pertama. Ayat tidak menyatakan sasaran itu secara terang, sehingga pembacaan ini bersandar pada bentuk kata ganti saja.
Dua pernyataan penutup menaruh perkataan kalian di samping apa yang dikatakan Allah, dengan akar kata yang sama untuk keduanya. Di 58:2 kata ibu didefinisikan dalam ayat yang memuat zihar, dan ayat itu menyebut ucapan para pelaku zihar sebagai perkataan yang mungkar dan dusta. Pokok kedua ayat berbeda: 58:2 menilai ucapan, sedangkan 33:4 menyatakan apa yang tidak dijadikan Allah dan menyebut ucapan sebagai ucapan. Kedua ayat saling menguatkan tanpa saling menjelaskan, dan masing-masing berdiri dengan teksnya.
Ayat 33:5 menanggapi hanya penyangkalan ketiga, dengan perintah memanggil mereka kepada bapak mereka. Ayat 33:6 menyebut kata ibu lagi untuk istri-istri Nabi, tanpa kata kerja menjadikan dan tanpa penyangkalan. Dua penyangkalan pertama tidak mendapat perintah lanjutan di 33:5, dan 33:4 sendiri tidak menyebut perlakuan terhadap istri yang dizihar atau terhadap anak yang dipanggil anak. Ayat ini juga tidak menyebut kasih sayang, tanggung jawab, atau pengasuhan.
Sebelum ayat ini, 33:1 sampai 33:3 menyapa satu orang dengan perintah dan ditutup keterangan tentang Allah. Ayat 33:4 memindahkan sapaan ke banyak orang dan memindahkan pokok ke apa yang dijadikan dan tidak dijadikan Allah, dengan Allah sebagai subjek di ketiga kata kerja pertama dan di dua kata kerja terakhir.
Renungan dan Hikmah
- Penyangkalan pertama menyebut tempatnya, seorang lelaki, dan ruangnya, rongganya, lalu menyatakan bahwa Allah tidak menjadikan dua hati di dalamnya. Ayat tidak menyebut kesetiaan, kebimbangan, atau pilihan, sehingga yang disangkal hanya jumlah hati. Pembaca yang merasa terbelah antara dua tarikan dapat memperhatikan bahwa ayat ini berbicara tentang satu hati dan tidak menyebut apa yang mengisinya. Bila hati dinyatakan satu, ke arah mana ia hendak dihadapkan, dan apa yang terjadi pada tarikan kedua yang tidak punya tempat sendiri?
- Ayat menyebut dua sebutan yang dapat diucapkan orang, istri sebagai ibu dan anak yang dipanggil sebagai anak, lalu menyatakan bahwa Allah tidak menjadikan sesuatu menjadi demikian. Di 33:4 sendiri tidak ada larangan mengucapkannya, hanya pernyataan tentang apa yang tidak dijadikan Allah. Pembaca dapat membedakan menyebut dari menjadikan: sebutan apa dalam hidupnya yang dipakai seakan-akan sudah menjadikan sesuatu, padahal Allah tidak menjadikannya demikian?
- Di 24:15 orang-orang yang diajak bicara dikatakan mengucapkan dengan mulut mereka apa yang tidak mereka ketahui, dengan bentuk yang sama seperti di 33:4, dan di sana ucapan itu dianggap remeh padahal di sisi Allah perkara yang agung. Dua ayat itu membicarakan pokok yang berbeda, tetapi sama-sama menyebut mulut milik kalian. Pembaca dapat bertanya berapa banyak dari yang diucapkannya sudah diperiksa terhadap pengetahuan, dan bagaimana ucapan itu terdengar bila ditimbang di sisi Allah?
- Allah disebut mengatakan kebenaran dan menunjukkan jalan, sedangkan perkataan kalian disebut perkataan dengan mulut. Pembaca yang baru melihat tiga anggapan dibongkar masih memerlukan sesuatu untuk dipegang, dan ayat ini menyebut jalan sebagai jawabannya tanpa memerincinya. Perincian itu tidak ada di 33:4. Apakah ayat sesudahnya, yang memerintahkan memanggil mereka kepada bapak mereka, dapat dibaca sebagai salah satu bagian dari jalan yang ditunjukkan Dia?
- Penyangkalan ketiga menyebut anak yang dipanggil anak, dan tidak menyebut perlakuan terhadap anak itu, kasih sayang, atau pengasuhan. Teks menyatakan bahwa Allah tidak menjadikan anak-anak angkat kalian sebagai anak-anak kalian. Orang yang membesarkan anak orang lain dapat bertanya apa yang tidak dikatakan ayat ini tentang dirinya, dan pertimbangan apa yang diserahkan kepadanya sendiri di hadapan Allah?
- Zihar di 33:4 disebut lewat kata kerja tanpa uraian cara, sedangkan 58:2 menyebut ucapan itu perkataan yang mungkar dan dusta dan 58:3 menyebutnya apa yang mereka katakan. Dua ayat itu menaruh zihar di wilayah ucapan, dan 33:4 menambahkan bahwa Allah tidak menjadikan istri sebagai ibu. Ucapan yang menyamakan satu hubungan dengan hubungan lain dengan begitu dinilai dari dua arah, oleh apa yang tidak dijadikan Allah dan oleh sebutan mungkar dan dusta. Pembaca dapat bertanya apa yang perlu diperiksanya sebelum menyamakan dua hubungan dalam ucapan?
- Tiga penyangkalan memakai kata kerja yang sama dengan sasaran berbeda jenis, yaitu tubuh, perkawinan, dan anak. Ayat tidak menyebut hubungan antara ketiganya, dan tidak menyatakan satu prinsip umum yang menaungi semuanya. Pembaca dapat bertanya apa yang hilang bila ketiganya dibaca sebagai satu prinsip, dan apa yang diperoleh bila masing-masing dibaca menurut teksnya sendiri, dengan Allah sebagai subjek yang tidak menjadikan.