وَلَقَدْ كَانُوا عَاهَدُوا اللَّهَ مِنْ قَبْلُ لَا يُوَلُّونَ الْأَدْبَارَ ۚ وَكَانَ عَهْدُ اللَّهِ مَسْئُولًا
Dan sungguh, sebelum itu mereka benar-benar telah berjanji kepada Allah tidak akan berbalik ke belakang. Dan perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungjawabannya.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَلَقَدْ كَانُوا عَاهَدُوا اللَّهَ مِنْ قَبْلُ لَا يُوَلُّونَ الْأَدْبَارَwa-la-qad kaanuu 'aahaduu llaaha min qablu laa yuwalluuna l-adbaaradan sungguh, sebelum itu mereka benar-benar telah berjanji kepada Allah tidak akan berbalik ke belakang
- وَكَانَ عَهْدُ اللَّهِ مَسْئُولًاwa-kaana 'ahdu llaahi mas'uulandan perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungjawabannya
Terjemahan per kata (13 kata)
- وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
- كَانُواkaanuumereka selalu
- عَاهَدُوا'aahaduumereka berikrar
- اللَّهَllaahaAllah
- مِنْmindari
- قَبْلُqablusebelumnya
- لَاlaatidak
- يُوَلُّونَyuwalluunamereka berpaling
- الْأَدْبَارَl-adbaarapunggung
- وَكَانَwa-kaanadan ia adalah
- عَهْدُ'ahdujanji
- اللَّهِllaahiAllah
- مَسْئُولًاmas'uulanyang ditanya
Inti bacaan
Susunan (عَهْدُ اللَّهِ, 'ahdu llaahi) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 33:15, dan kerangka kalimat yang sama dengan (مَسْئُولًا, mas'uulan) ada di 17:34.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (وَلَقَدْ كَانُوا عَاهَدُوا اللَّهَ, wa-la-qad kaanuu 'aahaduu llaaha) yang berarti "dan sungguh, mereka benar-benar telah berjanji kepada Allah" memuat dua penegas, la dan qad, yang diterjemahkan "sungguh" dan "benar-benar". Kata kerja (كَانُوا, kaanuu) dan (عَاهَدُوا, 'aahaduu) sama-sama berbentuk perbuatan yang sudah selesai, dan bersama (مِنْ قَبْلُ, min qablu) yang berarti "sebelum itu" keduanya menaruh janji itu pada waktu yang lebih awal daripada keadaan di 33:13 dan 33:14. Kata (عَاهَدُوا, 'aahaduu) berakar ع-ه-د, dan kata kerja dari akar ini yang menyebut Allah sebagai pihak perjanjian muncul di empat ayat, yaitu 9:75, 33:15, 33:23, dan 48:10. Di 9:75, (عَاهَدَ اللَّهَ, 'aahada llaaha) yang berarti "berjanji kepada Allah" memuat janji bersyarat tentang sedekah, sedangkan di 33:15 isi janji langsung dikutip. Ayat tidak menyebut kapan janji itu diucapkan.
Isi janji itu, (لَا يُوَلُّونَ الْأَدْبَارَ, laa yuwalluuna l-adbaara) yang berarti "tidak akan berbalik ke belakang", memakai (الْأَدْبَارَ, l-adbaara), bentuk jamak dari kata yang berarti belakang. Bentuk jamak dengan kata sandang itu muncul di lima ayat, yaitu 3:111, 8:15, 33:15, 48:22, dan 59:12, dan di kelimanya kata kerja yang menyertainya berasal dari akar و-ل-ي dengan arti memalingkan atau berbalik: (يُوَلُّوكُمُ الْأَدْبَارَ, yuwalluukumu l-adbaara) di 3:111, (تُوَلُّوهُمُ الْأَدْبَارَ, tuwalluuhumu l-adbaara) di 8:15, (لَوَلَّوُا الْأَدْبَارَ, la-wallawu l-adbaara) di 48:22, dan (لَيُوَلُّنَّ الْأَدْبَارَ, la-yuwallunna l-adbaara) di 59:12. Kelima ayat itu berbicara tentang pertemuan dengan lawan, dan 33:15 berbeda karena memuat bunyi janji dari pihak yang berjanji. Bentuk tunggal (الدُّبُرَ, d-dubura) muncul di 54:45 dalam (وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ, wa-yuwalluuna d-dubura) yang berarti "dan mereka berbalik ke belakang", dengan terjemahan yang sama.
Kalimat (وَكَانَ عَهْدُ اللَّهِ مَسْئُولًا, wa-kaana 'ahdu llaahi mas'uulan) yang berarti "dan perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungjawabannya" memakai (عَهْدُ, 'ahdu), akar ع-ه-د juga, yang berarti perjanjian, dan (مَسْئُولًا, mas'uulan), akar س-أ-ل, yang berarti "yang diminta" atau "yang ditanya". Akar س-أ-ل ini sama dengan (سُئِلُوا, su'iluu) di 33:14, sehingga ayat sebelumnya dan ayat ini sama-sama memakai kata kerja meminta. Kata (مَسْئُولًا, mas'uulan) muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 17:34, 17:36, 25:16, dan 33:15. Di 17:34, (إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا, inna l-'ahda kaana mas'uulan) yang berarti "sesungguhnya janji itu akan diminta pertanggungjawabannya" memakai kerangka kalimat yang sama dengan 33:15, tetapi pihak perjanjiannya tidak disebut. Di 17:36, (كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا, kaana 'anhu mas'uulan) menyangkut pendengaran, penglihatan, dan hati, dan di 25:16, (وَعْدًا مَسْئُولًا, wa'dan mas'uulan) menyangkut janji yang diminta. Terjemahan memakai "diminta pertanggungjawabannya" di 17:34, 17:36, dan 33:15 karena permintaan itu menyangkut pertanggungjawaban.
Di 33:23 janji yang sama diucapkan dengan hasil yang lain. Rangkaian (صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ, shadaquu maa 'aahadu llaaha 'alayhi) yang berarti "menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah" memakai (صَدَقُوا, shadaquu), akar ص-د-ق, dengan janji sebagai objeknya, sehingga terjemahannya "menepati". Kalimat berikutnya, (وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا, wa-maa baddaluu tabdiilan), menyatakan bahwa isi janji itu tidak diubah sedikit pun.
Tafsiran
Ayat ini membawa pembaca dari jawaban yang dibayangkan di 33:14 ke janji yang sudah diucapkan. Ayat 33:14 menyebut kesediaan yang cepat, dan 33:15 menyebut bahwa mereka sudah berjanji kepada Allah dengan isi yang berlawanan: tidak akan berbalik ke belakang. Isi janji itu dikutip dalam satu kalimat pendek, sehingga ukuran yang dipakai ayat adalah kata-kata mereka sendiri.
Ayat ini bergerak dari yang khusus ke yang umum. Kalimat pertama menyebut janji tertentu oleh pihak tertentu pada masa sebelum itu. Kalimat kedua, dengan kata kerja kaana, menyatakan sesuatu tentang perjanjian dengan Allah secara umum, yaitu bahwa perjanjian itu akan diminta pertanggungjawabannya. Pergeseran itu membuat 33:15 berlaku di luar peristiwanya. Kalimat serupa di 17:34, "janji itu akan diminta pertanggungjawabannya", ada di surah lain dengan konteks lain, yaitu harta anak yatim, dan tidak menyebut pihak perjanjiannya.
Dalam surah ini sisi sebaliknya muncul di 33:23, tempat sebagian orang beriman disebut menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah dan tidak mengubahnya sedikit pun. Dua ayat itu memakai kata kerja berjanji yang sama untuk dua pihak, sehingga janji itu sendiri tidak membedakan siapa yang setia. Ukuran kesetiaan terletak pada apa yang terjadi sesudah janji diucapkan.
Dapat dibaca bahwa 33:15 juga menyiapkan dua ayat sesudahnya. Perintah "katakanlah" di 33:16 dan 33:17 menjawab pihak yang sudah terikat janji, sehingga argumen tentang lari dan perlindungan datang kepada orang yang pernah menyatakan arah sebaliknya. Pembacaan ini bersifat kemungkinan, sebab ayat-ayat itu tidak menyebut apakah penerima jawabannya sama dengan pihak yang berjanji.
Renungan dan Hikmah
- Isi janji di 33:15 dikutip pendek: tidak akan berbalik ke belakang. Janji itu tidak menyebut kemenangan, keselamatan, atau imbalan, dan hanya menyebut sikap badan di depan lawan. Janji sependek itu mudah diingat, dan karena mudah diingat, mudah pula ditagih. Ayat menyebut bahwa janji itu dibuat kepada Allah, sehingga pihak yang menerimanya tidak berubah ketika keadaan berubah. Orang dapat bertanya, janji apa yang pernah diucapkannya dengan kalimat sependek itu, dan di mana kalimat itu berada sekarang, ketika keadaan sudah tidak aman?
- Ayat menaruh janji itu pada waktu sebelum itu, tanpa menyebut kapan, dalam keadaan apa, atau di hadapan siapa selain Allah. Pembaca tidak diberi tahu apakah janji itu diucapkan ketika bahaya masih jauh atau sudah dekat, dan ayat menagihnya tanpa keterangan itu. Dapat dibaca bahwa nilai sebuah janji tidak bergantung pada keadaan saat diucapkan. Pembacaan ini bersifat kemungkinan, sebab ayat tidak membahas keadaan saat janji dibuat. Orang dapat menimbang, janji mana yang diucapkannya ketika tidak ada yang menekan, dan apakah janji itu masih terasa mengikat sekarang, padahal pihak yang dijanjikan adalah Allah?
- Kalimat kedua di 33:15 melampaui kisahnya. Kalimat itu menyatakan tentang perjanjian dengan Allah secara umum, bukan tentang janji kelompok itu saja, bahwa perjanjian itu akan diminta pertanggungjawabannya. Di 17:34 kalimat yang hampir sama muncul dalam urusan lain, yaitu harta anak yatim, dan pihak perjanjiannya tidak disebut. Dua ayat itu tidak disamakan, tetapi keduanya memperlakukan perjanjian sebagai sesuatu yang kelak ditanyakan. Orang yang pernah menjanjikan sesuatu kepada siapa pun dapat memeriksa, bila janji itu termasuk yang akan diminta pertanggungjawabannya, apakah daftar semua yang pernah dijanjikannya sudah tercatat, dan kepada siapa saja?
- Kata kerja berjanji kepada Allah di 33:15 muncul lagi di 33:23, dengan hasil yang disebut berbeda. Di 33:15 janji itu dikutip bersama kenyataan bahwa mereka berada di arah sebaliknya, dan di 33:23 sebagian orang beriman disebut menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah dan tidak mengubahnya sedikit pun. Ayat 48:10 menambahkan satu kalimat umum: siapa yang menepati janjinya kepada Allah, Dia akan menganugerahinya pahala yang agung. Tiga ayat itu berbeda konteks dan tidak disamakan, tetapi di ketiganya janji kepada Allah menjadi ukuran, dan kata janji itu sendiri tidak memberi tahu siapa yang akan menepatinya. Orang dapat bertanya, bila satu janji kepada Allah disebutnya hari ini, di sebelah mana dari dua kelompok itu diri sendiri sedang diletakkan?
- Kata yang di 33:15 menyebut janji sebagai sesuatu yang akan diminta pertanggungjawabannya dipakai di 17:36 untuk pendengaran, penglihatan, dan hati. Dua ayat itu tidak saling menafsirkan, karena 17:36 berbicara tentang mengikuti sesuatu yang tidak diketahui dan 33:15 tentang perjanjian. Namun kata yang sama menaruh janji pada barisan yang sama dengan alat untuk mendengar, melihat, dan memutuskan. Dapat dibaca bahwa janji pun termasuk barisan itu: sesuatu yang dimiliki, dipakai, dan kelak ditanyakan penggunaannya. Orang yang sedang berhitung tentang apa yang akan ditanyakan kepadanya dapat memperhatikan, janji termasuk yang mana dalam daftar itu, dan siapa yang akan menanyakannya, sebab kata ini tidak menyebut penanya?
- Janji di 33:15 menyebut arah badan, ke belakang, dan arah itu muncul lagi dalam bentuk kata kerja yang sama di 8:15, tempat orang beriman dilarang membelakangi lawan, dan di 48:22 dan 59:12 untuk pihak lain yang disebut akan berbalik. Ayat 33:15 menyebut arah itu sebagai isi janji, sehingga arah yang kelak ditempuh dibandingkan dengan arah yang pernah dijanjikan. Tidak ada kalimat yang menyuruh mereka mengingat janji itu, dan ayat hanya menuliskannya. Orang dapat menimbang, bila arah langkahnya hari ini dibandingkan dengan arah yang pernah dinyatakannya di hadapan Allah, apakah keduanya masih berhadapan?