أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ ۖ فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَىٰ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ ۖ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ ۚ أُولَٰئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

Mereka kikir terhadap kalian. Maka, apabila datang ketakutan, engkau melihat mereka memandang kepadamu dengan mata berputar-putar seperti orang yang pingsan karena kematian. Maka, apabila ketakutan hilang, mereka mencaci kalian dengan lidah yang tajam, sedang mereka kikir terhadap kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menggugurkan amal-amal mereka. Dan itu mudah bagi Allah.

Terjemahan bertahap (5 jeda)

  1. أَشِحَّةً عَلَيْكُمْasyihhatan 'alaykummereka kikir terhadap kalian
  2. فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَىٰ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِfa-idzaa jaa'a l-khawfu ra'aytahum yanzhuruuna ilayka taduuru a'yunuhum ka-lladzii yughsyaa 'alayhi mina l-mawtimaka, apabila datang ketakutan, engkau melihat mereka memandang kepadamu dengan mata berputar-putar seperti orang yang pingsan karena kematian
  3. فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِfa-idzaa dzahaba l-khawfu salaquukum bi-alsinatin hidaadin asyihhatan 'alaa l-khayrimaka, apabila ketakutan hilang, mereka mencaci kalian dengan lidah yang tajam, sedang mereka kikir terhadap kebaikan
  4. أُولَٰئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْulaa'ika lam yu'minuu fa-ahbatha llaahu a'maalahummereka itu tidak beriman, maka Allah menggugurkan amal-amal mereka
  5. وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًاwa-kaana dzaalika 'alaa llaahi yasiirandan itu mudah bagi Allah

Terjemahan per kata (35 kata)

  1. أَشِحَّةًasyihhatanyang kikir
  2. عَلَيْكُمْ'alaykumatas kalian
  3. فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
  4. جَاءَjaa'adatang
  5. الْخَوْفُl-khawfuketakutan
  6. رَأَيْتَهُمْra'aytahumengkau melihat mereka
  7. يَنْظُرُونَyanzhuruunamemandang
  8. إِلَيْكَilaykakepadamu
  9. تَدُورُtaduuruberputar
  10. أَعْيُنُهُمْa'yunuhummata mereka
  11. كَالَّذِيka-lladziiseperti orang yang
  12. يُغْشَىٰyughsyaaditutupi
  13. عَلَيْهِ'alayhiatasnya
  14. مِنَminadari
  15. الْمَوْتِl-mawtikematian
  16. فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
  17. ذَهَبَdzahabapergi
  18. الْخَوْفُl-khawfuketakutan
  19. سَلَقُوكُمْsalaquukummereka mencaci kalian
  20. بِأَلْسِنَةٍbi-alsinatindengan lidah
  21. حِدَادٍhidaadinyang tajam
  22. أَشِحَّةًasyihhatanyang kikir
  23. عَلَى'alaaatas
  24. الْخَيْرِl-khayrikebaikan
  25. أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
  26. لَمْlamtidak
  27. يُؤْمِنُواyu'minuumereka beriman
  28. فَأَحْبَطَfa-ahbathamaka Dia menggugurkan
  29. اللَّهُllaahuAllah
  30. أَعْمَالَهُمْa'maalahumamal-amal mereka
  31. وَكَانَwa-kaanadan ia adalah
  32. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  33. عَلَى'alaaatas
  34. اللَّهِllaahiAllah
  35. يَسِيرًاyasiiranyang mudah

Inti bacaan

Kata kerja (سَلَقُوكُمْ, salaquukum) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 33:19.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ, asyihhatan 'alaykum) yang berarti "mereka kikir terhadap kalian". Ayat 33:18 berakhir pada orang-orang yang tidak mendatangi peperangan kecuali sedikit, dan 33:19 tidak membawa kata untuk "mereka" sendiri, sehingga (أَشِحَّةً, asyihhatan) terbaca sebagai lanjutan dari pihak yang sama. Kata ini berakar ش-ح-ح dan bentuk persisnya tertulis dua kali di ayat ini, yaitu di awal dan di (أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ, asyihhatan 'alaa l-khayri) yang berarti "kikir terhadap kebaikan". Akar ش-ح-ح ada di empat ayat dari empat surah, yaitu 4:128, 33:19, 59:9, dan 64:16. Di 59:9 dan 64:16 akar itu berbentuk kata benda, (شُحَّ نَفْسِهِ, syuhha nafsihi) yang berarti "kekikiran dirinya", dan di 4:128 kata bendanya (الشُّحَّ, sy-syuhha). Di 33:19 bentuknya kata sifat jamak, dan terjemahan memakai "kikir" untuk orang-orangnya. Ayat ini tidak merinci wujud kikir terhadap "kalian" itu.

Dua kalimat sesudahnya disusun sejajar. (فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ, fa-idzaa jaa'a l-khawfu) berarti "maka apabila datang ketakutan", dan (فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ, fa-idzaa dzahaba l-khawfu) berarti "maka apabila ketakutan hilang". Keduanya sama kecuali pada kata kerja, jaa'a dan dzahaba, dan masing-masing susunan itu hanya tertulis di 33:19. Kata (الْخَوْفُ, l-khawfu) berakar خ-و-ف dan, dengan kata sandang al-, ada di empat ayat, yaitu 2:155, 4:83, 16:112, dan 33:19, antara lain dalam bentuk (مِنَ الْخَوْفِ, mina l-khawfi) di 2:155 dan (أَوِ الْخَوْفِ, awi l-khawfi) di 4:83. Hanya di 33:19 kata itu berakhiran -u dan hadir dua kali. Terjemahan memakai "ketakutan" di keempat ayat itu. Untuk dzahaba, terjemahan memakai "hilang" karena pelaku kata kerjanya sebuah perasaan dan tidak ada orang yang berjalan, sama seperti di 11:74, (ذَهَبَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ الرَّوْعُ, dzahaba 'an ibraahiima r-raw'u) yang berarti "rasa takut telah hilang dari Ibrahim".

Kalimat (رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ, ra'aytahum yanzhuruuna ilayka) berarti "engkau melihat mereka memandang kepadamu". Akhiran -ka pada kedua kata itu menunjuk satu orang yang diajak bicara, dan terjemahan memakai "engkau" dan "kepadamu" untuk keduanya. Susunan (يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ, yanzhuruuna ilayka) ada di tiga ayat, yaitu 7:198, 33:19, dan 47:20. Di 7:198 ayat meneruskan dengan (وَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ, wa-hum laa yubshiruuna) yang berarti "padahal mereka tidak melihat", sedangkan di 47:20 susunan itu disusul perbandingan yang sama dengan 33:19, yaitu (نَظَرَ الْمَغْشِيِّ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ, nazhara l-maghsyiyyi 'alayhi mina l-mawti) yang berarti "pandangan orang yang pingsan karena kematian". Kata kerja (تَدُورُ, taduuru) dalam (تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ, taduuru a'yunuhum) yang berarti "mata mereka berputar-putar" hanya tertulis di ayat ini.

Perbandingan (كَالَّذِي يُغْشَىٰ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ, ka-lladzii yughsyaa 'alayhi mina l-mawti) tersusun dari (كَ, ka-) yang berarti "seperti", (الَّذِي, lladzii) yang berarti "orang yang", dan kata kerja (يُغْشَىٰ, yughsyaa) dari akar غ-ش-و yang berarti "ditutupi". Dalam kalimat ini pihak yang menutupi tidak disebut, dan sesudah kata kerja itu tertulis (مِنَ الْمَوْتِ, mina l-mawti) yang berarti "dari kematian". Terjemahan memakai "pingsan" seperti di 47:20, tempat rangkaian (عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ, 'alayhi mina l-mawti) tertulis juga, dan rangkaian tersebut ada di dua ayat itu saja. Frasa (مِنَ الْمَوْتِ, mina l-mawti) sendiri ada di tiga ayat, yaitu 33:16, 33:19, dan 47:20. Dua di antaranya berada di surah yang sama, yaitu (فَرَرْتُمْ مِنَ الْمَوْتِ, farartum mina l-mawti) yang berarti "kalian lari dari kematian" di 33:16, dan perbandingan di 33:19.

Kata kerja (سَلَقُوكُمْ, salaquukum) berarti "mereka mencaci kalian", dan akarnya س-ل-ق hanya tertulis di ayat ini, sehingga artinya tidak bisa dibandingkan dengan ayat lain. Terjemahan "mencaci" ditopang oleh kata sesudahnya, (بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ, bi-alsinatin hidaadin) yang berarti "dengan lidah-lidah yang tajam", sebab ayat menyebut lidah sebagai alatnya. Lidah sebagai alat terhadap pihak lain ada juga di 60:2, (أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوءِ, aydiyahum wa-alsinatahum bi-s-suu'i) yang berarti "tangan-tangan dan lidah-lidah mereka dengan kejahatan", dan di 48:11 lidah dipisahkan dari hati dalam (يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ, yaquuluuna bi-alsinatihim maa laysa fii quluubihim) yang berarti "mereka mengucapkan dengan lidah mereka apa yang tidak ada dalam hati mereka". Kata (حِدَادٍ, hidaadin) hanya tertulis di sini, tetapi akar ح-د-د yang sama membentuk (حَدِيدٌ, hadiidun) di 50:22, tempat sifat itu dipakai untuk penglihatan, (فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ, fa-basharuka l-yawma hadiidun) yang berarti "maka penglihatanmu pada hari ini sangat tajam".

Kalimat (أُولَٰئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا, ulaa'ika lam yu'minuu) berarti "mereka itu tidak beriman". Susunan (لَمْ يُؤْمِنُوا, lam yu'minuu) ada di empat ayat, yaitu 6:110, 7:87, 18:6, dan 33:19. Sesudahnya, (فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ, fa-ahbatha llaahu a'maalahum) berarti "maka Allah menggugurkan amal-amal mereka". Kata kerja (أَحْبَطَ, ahbatha) berakar ح-ب-ط dan ada di tiga ayat, yaitu 33:19, 47:9, dan 47:28, dan terjemahan memakai "menggugurkan" di ketiganya. Padanan itu berbeda dari "menghapus", yang dipakai untuk (كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ, kaffara 'anhum sayyi'aatihim) yang berarti "Dia menghapus keburukan-keburukan mereka" di 47:2. Huruf (فَ, fa-) yang berarti "maka" membuat penggugurannya terbaca sebagai akibat dari kalimat sebelumnya, yaitu tidak beriman di 33:19, membenci apa yang Allah turunkan di 47:9, dan mengikuti apa yang membuat Allah murka di 47:28. Rangkaian (فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ, fa-ahbatha a'maalahum) ada di 47:9 dan 47:28 tanpa nama pelaku, sedangkan di 33:19 Allah disebut di tengahnya.

Penutup (وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا, wa-kaana dzaalika 'alaa llaahi yasiiran) berarti "dan itu mudah bagi Allah". Rangkaian utuh itu muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:30, 4:169, 33:19, dan 33:30, dan semuanya berada di dua surah. Di tiga ayat selain 33:19 rangkaian itu menyusul pernyataan akibat buruk, yaitu dimasukkan ke neraka di 4:30, kekal di jalan Jahanam di 4:169, dan azab yang dilipatgandakan dua kali di 33:30, sedangkan di 33:19 rangkaian itu menyusul amal yang digugurkan. Kata (ذَٰلِكَ, dzaalika) berarti "itu" dan menunjuk kalimat yang mendahuluinya. Ayat ini tidak menyatakan apakah "itu" hanya penggugurannya atau seluruh isi ayat.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan gambaran 33:18 tentang orang-orang yang menghalangi dan yang berkata "Marilah bersama kami", lalu memperlihatkan keadaan mereka pada dua saat yang berlawanan, yaitu ketika ketakutan datang dan ketika ketakutan hilang. Ayat ini tidak memberi nama kelompok itu. Sebutan orang-orang munafik ada di 33:12 dan 33:24, dan pembaca dapat menautkannya, tetapi tautan itu tidak dibuat oleh 33:19 sendiri.

Dua saat itu dibagi antara dua anggota tubuh dan dua sasaran. Ketika takut, mata mereka berputar sambil memandang kepada satu orang, yaitu "engkau" yang diajak bicara. Ketika takut hilang, lidah mereka yang bergerak, dan sasarannya "kalian", bentuk jamak yang sama dengan "kalian" di kalimat pembuka ayat. Ayat memakai "kalian" di awal dan pada saat lega, dan memakai "engkau" hanya pada saat takut.

Ayat ini dibuka dan ditutup, sebelum putusannya, dengan kata yang sama, kikir, mula-mula terhadap "kalian" dan terakhir terhadap kebaikan. Dua saat tadi dengan demikian terbingkai oleh satu sifat, dan sifat itu tetap ada baik ketika ketakutan datang maupun ketika ketakutan pergi.

Putusan datang sesudah gambaran itu, yaitu tidak beriman, lalu amal digugurkan. Ayat tidak mengatakan amal mereka sedikit atau banyak, dan tidak mengatakan amal itu buruk. Teks hanya menyebut bahwa amal itu ada dan bahwa Allah yang menggugurkannya. Tiga kalimat pertama ayat ini berisi gerak manusia saja, dan Allah baru disebut pada putusan dan pada penutup. Penutupnya, "dan itu mudah bagi Allah", memindahkan sudut pandang dari mata dan lidah manusia ke pihak yang bagi-Nya penggugurannya mudah.

Ayat berikutnya, 33:20, masih membicarakan mereka dan memuat dugaan mereka tentang golongan-golongan yang datang. Teks tidak menyebut apakah dugaan itu terjadi pada saat yang sama dengan lidah yang tajam atau pada saat lain.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 33:19 menggambarkan orang-orang yang sama pada dua saat, ketika ketakutan datang dan ketika ketakutan hilang, dan penampilan mereka berubah sepenuhnya di antara keduanya. Mata yang berputar dan lidah yang tajam tidak pernah terlihat bersamaan pada satu saat saja. Pembaca yang menilai orang lain dari satu pertemuan, atau menilai dirinya dari satu hari yang sulit, dapat memeriksa apakah saat yang satunya lagi sudah pernah dilihatnya. Siapa yang paling mengenal rupa seseorang ketika takut, siapa yang paling mengenal rupanya ketika lega, dan apakah keduanya orang yang sama?
  • Ketika takut, mata mereka memandang kepada satu orang yang diajak bicara dan berputar tanpa tempat berhenti. Di 33:17 ayat bertanya siapa yang dapat melindungi dari Allah, dan menyebut bahwa mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah. Ayat 33:19 sendiri tidak menulis bahwa pandangan itu tertuju kepada Allah. Yang ditulis adalah pandangan kepada seorang manusia dan gerak yang tidak menetap. Pembaca dapat memperhatikan ke mana matanya mengarah ketika ketakutan datang. Kepada siapa pandangan pertama itu jatuh?
  • Kikir di 33:19 muncul dua kali dengan sasaran berbeda, yaitu kepada "kalian" dan kepada kebaikan. Di 59:9 dan 64:16 akar yang sama berbentuk kekikiran diri, dan orang yang dijaga dari kekikiran dirinya disebut beruntung. Kedua ayat itu memakai bentuk "dijaga" tanpa menyebut siapa yang menjaga, sehingga kekikiran tergambar sebagai sesuatu yang bisa dijauhkan dari diri dan tidak sebagai watak yang tertutup untuk berubah. Pembaca dapat bertanya terhadap siapa dan terhadap apa kekikiran dalam dirinya paling terasa, dan apakah saat-saat ketika dirinya terhindar darinya pernah diperhatikan.
  • Putusan ayat ini menyebut amal-amal mereka ada, lalu Allah menggugurkannya karena mereka tidak beriman. Dari susunan itu terbaca bahwa amal bergantung pada sesuatu yang bisa tidak ada. Dua ayat lain, 47:9 dan 47:28, menaruh penggugurannya sesudah membenci apa yang Allah turunkan dan sesudah mengikuti apa yang membuat Allah murka, jadi alasnya berbeda di tiap ayat. Ayat 33:19 tidak berbicara tentang banyak atau sedikitnya amal, sehingga yang bisa ditimbang pembaca adalah alasnya, bukan jumlahnya. Di atas apa amal-amal dalam hidupnya berdiri, dan kapan terakhir kali alas itu diperiksa?
  • Karena Allah baru disebut pada dua kalimat terakhir, ayat ini memuat gambaran ketakutan yang hanya berisi manusia, lalu berpindah ke kalimat tentang Dia yang bagi-Nya penggugurannya mudah. Dua sudut pandang itu tertulis berdampingan dalam satu ayat dan ukuran sebuah perkara tampak berbeda dari masing-masing sudut. Pembaca yang sedang gemetar oleh suatu urusan dapat memperhatikan sudut mana yang sedang dipakai untuk menimbang ukuran urusan itu. Apakah ukuran itu ditimbang dari gerak mata orang-orang di sekitarnya, atau dari kalimat yang menutup ayat ini?
  • Ayat ini menempatkan satu orang di pusat pandangan orang-orang yang gentar, sebab banyak mata memandang dan satu orang menjadi sasaran pandangan itu. Orang yang dipandangi dengan cara itu tidak diminta berkata apa pun dalam ayat ini dan tidak digambarkan melakukan sesuatu. Pembaca yang pernah berada di tengah orang-orang yang cemas, dan dipandangi banyak mata, dapat mengingat bagaimana pandangan itu terasa. Bagaimana rasanya menjadi tempat yang dituju mata orang lain, ketika mata itu sendiri belum menemukan tempat berhenti?