لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sungguh, pada diri Rasul Allah benar-benar ada teladan yang baik bagi kalian, bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌlaqad kaana lakum fii rasuuli llaahi uswatun hasanatunsungguh, pada diri Rasul Allah benar-benar ada teladan yang baik bagi kalian
- لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًاli-man kaana yarjuu llaaha wa-l-yawma l-aakhira wa-dzakara llaaha katsiiranbagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah
Terjemahan per kata (17 kata)
- لَقَدْla-qadsungguh
- كَانَkaanaada
- لَكُمْlakumbagi kalian
- فِيfiipada
- رَسُولِrasuulirasul
- اللَّهِllaahiAllah
- أُسْوَةٌuswatunteladan
- حَسَنَةٌhasanatunkebaikan
- لِمَنْli-manbagi orang yang
- كَانَkaanaadalah
- يَرْجُوyarjuumengharapkan
- اللَّهَllaahaAllah
- وَالْيَوْمَwa-l-yawmadan hari
- الْآخِرَl-aakhirayang akhir
- وَذَكَرَwa-dzakaradan menyebut
- اللَّهَllaahaAllah
- كَثِيرًاkatsiiranbanyak
Inti bacaan
Sang rasul disodorkan sebagai panutan di tengah kecemasan, khusus bagi orang yang menaruh harapan dan rajin berzikir; panutan serupa disebut pula untuk tokoh lain berikut satu perkecualian.
Penjelasan pilihan kata
Terjemahan ayat ini bertumpu pada empat bagian. Rangkaian (أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ, uswatun hasanatun) yang berarti "teladan yang baik" menjadi pusat ayat. Rangkaian (فِي رَسُولِ اللَّهِ, fii rasuuli llaahi) yang berarti "pada diri Rasul Allah" menyebut tempat teladan itu. Rangkaian (لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ, li-man kaana yarjuu llaaha wa-l-yawma l-aakhira) yang berarti "bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir" menyebut siapa yang diuntungkan oleh teladan itu. Rangkaian (وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا, wa-dzakara llaaha katsiiran) yang berarti "serta banyak mengingat Allah" menambah sifat ketiga.
Rangkaian (أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ, uswatun hasanatun) hanya ada di tiga ayat di seluruh Al-Qur'an, yaitu 33:21, 60:4, dan 60:6. Di 33:21 teladan itu ada (فِي رَسُولِ اللَّهِ, fii rasuuli llaahi) yang berarti "pada diri Rasul Allah", di 60:4 (فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ, fii ibraahiima wa-lladziina ma'ahu) yang berarti "pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya", dan di 60:6 (فِيهِمْ, fiihim) yang berarti "pada mereka". Ketiga ayat membuka dengan kata kerja lampau yang berarti "telah ada", yaitu (لَقَدْ كَانَ لَكُمْ, laqad kaana lakum) yang berarti "sungguh telah ada bagi kalian" di 33:21 dan 60:6, serta (قَدْ كَانَتْ لَكُمْ, qad kaanat lakum) di 60:4. Di ketiganya kata uswah berbentuk kata benda yang menyatakan keberadaan teladan, tanpa kalimat perintah yang memakai kata itu.
Di 60:4 teladan itu diberi satu pengecualian, yaitu (إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ, illaa qawla ibraahiima li-abiihi) yang berarti "kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya", perkataan (لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ, la-astaghfiranna laka) yang berarti "sungguh aku akan memohonkan ampunan bagimu". Sesudah pengecualian itu, ayat melanjutkan dengan (رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا, rabbanaa 'alayka tawakkalnaa) yang berarti "ya Tuhan kami, hanya kepada-Mu kami bertawakal". Dalam pemakaian Al-Qur'an sendiri, teladan dengan demikian menyangkut bagian tertentu dari sikap seseorang dan tidak dengan sendirinya mencakup semuanya.
Frasa (لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ, li-man kaana yarjuu llaaha wa-l-yawma l-aakhira) hanya ada di 33:21 dan 60:6. Kata (يَرْجُو, yarjuu) berakar ر-ج-و dan berarti "mengharap". Sifat ketiga di 33:21, (وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا, wa-dzakara llaaha katsiiran), berbentuk persis hanya di ayat ini, sedangkan padanan dengan bentuk lain ada di 8:45, 26:227, 33:35, dan 62:10. Di 33:35 sifat itu dipakai untuk orang yang bersiap menerima ampunan dan pahala, (وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا, wa-dz-dzaakiriina llaaha katsiiran) yang berarti "dan orang-orang yang banyak mengingat Allah", dan di 33:41 perintahnya (اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا, dzkuruu llaaha dzikran katsiiran) yang berarti "ingatlah Allah dengan ingatan yang banyak".
Perintah mengikuti memakai kata lain di ayat lain. Di 6:90 perintahnya (فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ, fa-bihudaahumu qtadih) yang berarti "maka ikutilah petunjuk mereka" dan objeknya berupa petunjuk para rasul terdahulu. Kata uswah di tiga ayat di atas ditawarkan, dan 6:90 memerintah dengan kata yang berbeda.
Tafsiran
Ayat ini menyatakan keberadaan sebuah teladan dan menyebut siapa yang akan memanfaatkannya. Kalimatnya berbentuk pernyataan, dan perintah meneladani tidak ada di dalamnya. Teladan itu tersedia bagi "kalian", tetapi syaratnya disebut di ujung: orang yang mengharap Allah dan hari akhir, dan banyak mengingat Allah. Manfaatnya dengan demikian dikaitkan dengan arah hati orang yang memandang, dan tidak dibagikan merata kepada semua orang yang menyaksikan.
Teladan itu menempel pada seseorang, dan 60:4 memperlihatkan cara teks sendiri membatasinya: yang diteladani berupa sikap tertentu dalam keadaan tertentu, dengan satu perkataan yang dikecualikan. 60:6 mengulang tawaran itu dengan syarat yang sama dengan 33:21, sehingga kata teladan di Al-Qur'an dipakai untuk dua pihak, yaitu Ibrahim beserta orang-orang yang bersamanya dan rasul yang disebut di 33:21. Keduanya memakai bagian yang sama, yaitu arah hati berupa harapan kepada Allah dan hari akhir.
Ayat-ayat di sekitar 33:21 menempatkan tawaran itu dalam percakapan tentang rasa takut. 33:20 menggambarkan orang yang mengira golongan-golongan itu belum pergi dan yang ingin berada jauh di dusun, sedangkan 33:22 menggambarkan orang-orang mukmin yang melihat pasukan itu lalu berkata (هَٰذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ, haadzaa maa wa'adanaa llaahu wa-rasuuluhu) yang berarti "ini yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita", dan hal itu menambah (إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا, iimaanan wa-tasliiman) yang berarti "keimanan dan keberserahan". Teladan ditawarkan di antara dua gambaran itu, sehingga isinya terbaca sebagai keteguhan harapan di tengah rasa takut. Ayat tidak menyebut perbuatan mana saja yang termasuk teladan itu.
Hubungan teladan dengan ketaatan dibahas ayat lain, dan ayat ini tidak menyebutnya. Menaati rasul disebut di 4:80 dan 4:59, sedangkan 33:21 hanya menyatakan bahwa orang yang berharap dan berzikir dapat melihat sesuatu yang baik pada diri rasul.
Renungan dan Hikmah
- Allah menunjuk seorang manusia sebagai tempat teladan dan tidak menyodorkan daftar aturan. Anak kecil belajar berjalan dari memperhatikan orang yang berjalan, dan jarang dari uraian tentang cara berjalan, dan seorang magang belajar sebuah pekerjaan dengan berdiri di samping orang yang sudah mengerjakannya selama bertahun-tahun. Kalimat ini memilih bentuk belajar yang paling tua itu, dan kata pada diri memperlihatkan bahwa yang dilihat berupa orangnya, tempat sikap dan keputusan terjadi satu per satu.
- Syarat disebut di ujung ayat: bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir, dan banyak mengingat Allah. Teladan yang sama bisa dilihat dua orang dengan hasil berbeda, karena yang satu mencari arah dan yang lain hanya menonton. Ayat ini tidak menyalahkan penonton, tetapi menyebutkan siapa yang mendapat manfaat, seolah ingin pembaca menanyakan dirinya berada di sisi mana. Pertanyaan itu bisa dijawab tanpa orang lain, karena kedua sifat yang disebut dapat diperiksa seseorang pada dirinya sendiri.
- Di 60:4 teladan Ibrahim disebut bersama satu pengecualian, perkataannya kepada ayahnya. Teks sendiri yang menandai bagian mana yang tidak ikut ditawarkan sebagai contoh. Orang yang mengagumi seseorang biasanya mengagumi seluruhnya, dan teks ini memperlihatkan cara yang lebih tertib: menyebut dengan jelas bagian yang dicontoh dan bagian yang tidak. Pembaca yang menyukai seorang tokoh tidak perlu merasa harus membela seluruh tindakannya, sebab ukuran yang dipakai teks sendiri sudah lebih sempit daripada kekaguman. Seberapa sering kita berani menyebut bagian mana dari seseorang yang tidak kita contoh?
- Kata teladan di Al-Qur'an dipakai untuk Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya di 60:4 dan 60:6, lalu untuk Rasul Allah di 33:21. Pembaca yang membuka ketiganya sekaligus melihat teladan berpindah dari satu orang ke orang lain dengan syarat yang sama. Ini mengubah pertanyaan dari siapa yang boleh dijadikan teladan menjadi apa yang membuat seseorang pantas dipandang, dan jawabannya di kedua tempat ada pada sikap yang disebut di ayat itu.
- Tawaran teladan diletakkan di antara orang yang ingin menjauh dari pasukan sekutu di 33:20 dan orang yang imannya bertambah ketika melihat pasukan itu di 33:22. Ayat ini menaruh teladan di tempat orang paling mungkin goyah, dan penempatan itu dapat dibaca sebagai isyarat bahwa teladan paling terasa gunanya ketika orang takut. Orang yang pernah memutuskan sesuatu dalam keadaan takut mengenal betapa contoh hidup bisa lebih membantu saat itu daripada nasihat tertulis.
- Dua sifat yang disebut di ujung ayat, mengharap dan banyak mengingat, berupa kegiatan di dalam diri yang tidak terlihat oleh orang lain. Keduanya tidak mensyaratkan jabatan, kemampuan, atau pengetahuan tertentu, sehingga teladan itu tersedia bagi siapa saja yang bersedia mengerjakannya. Orang yang merasa belum cukup layak untuk dicontohkan sesuatu mendapati bahwa syarat ayat ini bukan prestasi, dan keduanya dapat dikerjakan sambil melakukan pekerjaan sehari-hari.