وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا ۚ وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا
Dan Allah menghalau orang-orang yang kufur itu dalam keadaan penuh kemarahan, mereka tidak memperoleh kebaikan apa pun. Dan Allah mencukupi orang-orang mukmin dari peperangan itu. Dan Allah kuat lagi digdaya.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًاwa-radda llaahu lladziina kafaruu bi-ghayzhihim lam yanaaluu khayrandan Allah menghalau orang-orang yang kufur itu dalam keadaan penuh kemarahan, mereka tidak memperoleh kebaikan apa pun
- وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَwa-kafa llaahu l-mu'miniina l-qitaaladan Allah mencukupi orang-orang mukmin dari peperangan itu
- وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًاwa-kaana llaahu qawiyyan 'aziizandan Allah kuat lagi digdaya
Terjemahan per kata (16 kata)
- وَرَدَّwa-raddadan Dia menghalau
- اللَّهُllaahuAllah
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- كَفَرُواkafaruukufur
- بِغَيْظِهِمْbi-ghayzhihimdengan kemarahan mereka
- لَمْlamtidak
- يَنَالُواyanaaluumereka memperoleh
- خَيْرًاkhayrankebaikan
- وَكَفَىwa-kafadan cukuplah
- اللَّهُllaahuAllah
- الْمُؤْمِنِينَl-mu'miniinaorang-orang beriman
- الْقِتَالَl-qitaalapeperangan
- وَكَانَwa-kaanadan ia adalah
- اللَّهُllaahuAllah
- قَوِيًّاqawiyyanyang kuat
- عَزِيزًا'aziizandigdaya
Inti bacaan
Kata (قَوِيًّا, qawiyyan) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 33:25.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا, wa-radda llaahu lladziina kafaruu) yang berarti "dan Allah menghalau orang-orang yang kufur itu". Bentuk (وَرَدَّ, wa-radda) hanya tertulis di ayat ini. Kata kerja dari akar yang sama di tiga ayat berikut disertai tujuan. Di 28:13 bunyinya (فَرَدَدْنَاهُ إِلَىٰ أُمِّهِ, fa-radadnaahu ilaa ummihi) yang berarti "lalu Kami mengembalikannya kepada ibunya". Di 3:149 bunyinya (يَرُدُّوكُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ, yarudduukum 'alaa a'qaabikum) yang berarti "mereka mengembalikan kalian ke belakang", dan di 3:100 (يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ, yarudduukum ba'da iimaanikum kaafiriina) yang berarti "mereka mengembalikan kalian menjadi orang-orang yang kufur setelah beriman". Di 33:25 tidak ada tempat atau keadaan tujuan yang disebut. Terjemahan memakai "menghalau" karena kata "mengembalikan" menuntut sebuah tujuan, sedangkan ayat ini hanya menyebut orang-orang yang kufur itu pergi dalam keadaan tertentu.
Keadaan itu tertulis dalam (بِغَيْظِهِمْ, bi-ghayzhihim) yang berarti "dengan kemarahan mereka". Kata (غَيْظ, ghayzh) berakar غ-ي-ظ dan bentuk ini hanya ada di 33:25. Di 3:119 bunyinya (قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ, qul muutuu bi-ghayzhikum) yang berarti "katakanlah, matilah kalian karena kemurkaan kalian", dan sebelumnya (عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ, 'adhdhuu 'alaykumu l-anaamila mina l-ghayzhi) yang berarti "mereka menggigit ujung jari karena murka kepada kalian". Di 67:8 bunyinya (تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ, takaadu tamayyazu mina l-ghayzhi) yang berarti "hampir-hampir meledak karena marah". Di 9:15 bunyinya (وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ, wa-yudzhib ghayzha quluubihim) yang berarti "dan menghilangkan kemarahan hati mereka", dengan Allah sebagai pelaku yang menghilangkan. Di 33:25 ayat tidak menyebut kemarahan itu hilang. Huruf (بِ, bi-) di depan kata ini ditulis "dalam keadaan penuh" dalam terjemahan.
Kalimat (لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا, lam yanaaluu khayran) berarti "mereka tidak memperoleh kebaikan apa pun". Susunan (لَمْ يَنَالُوا, lam yanaaluu) ada di dua ayat, yaitu 9:74 dan 33:25. Di 9:74 bunyinya (وَهَمُّوا بِمَا لَمْ يَنَالُوا, wa-hammuu bi-maa lam yanaaluu) yang berarti "dan mereka menginginkan apa yang tidak dapat mereka capai". Di sana sesuatu yang diinginkan tidak tercapai, dan di 33:25 (خَيْرًا, khayran) yang berarti "kebaikan" tidak diperoleh. Terjemahan memakai "kebaikan" untuk akar خ-ي-ر dan menambahkan "apa pun" sebagai pilihan terjemahan untuk kata tak tentu yang menyusul peniadaan. Di 33:19 kata yang sama tertulis dalam (أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ, asyihhatan 'alaa l-khayri) yang berarti "kikir terhadap kebaikan", sehingga di surah ini kata itu menjadi sesuatu yang dikikiri di 33:19 dan sesuatu yang tidak diperoleh di 33:25.
Kalimat (وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ, wa-kafa llaahu l-mu'miniina l-qitaala) berarti "dan Allah mencukupi orang-orang mukmin dari peperangan itu". Bentuk (وَكَفَى, wa-kafa) berakar ك-ف-ي dan tertulis satu kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuk yang lazim, (وَكَفَىٰ بِاللَّهِ, wa-kafaa bi-llaahi), ada di dua belas ayat, yaitu 4:6, 4:45, 4:70, 4:79, 4:81, 4:132, 4:166, 4:171, 33:3, 33:39, 33:48, dan 48:28. Di 33:3 bunyinya (وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا, wa-kafaa bi-llaahi wakiilan) yang berarti "dan cukuplah Allah sebagai pelindung". Di ayat ini Allah menjadi pelaku langsung dan kata kerjanya memakai dua objek, yaitu orang-orang mukmin dan peperangan, sehingga terjemahan memakai "mencukupi ... dari". Kata (الْقِتَالَ, l-qitaala) dalam bentuk ini ada di dua ayat, yaitu 4:77 dan 33:25. Di 4:77 bunyinya (فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ, fa-lammaa kutiba 'alayhimu l-qitaalu) yang berarti "maka ketika perang diwajibkan atas mereka", sehingga di sana peperangan menjadi sesuatu yang dituliskan atas orang-orang, dan di 33:25 menjadi sesuatu yang dicukupkan Allah dari mereka.
Penutup (وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا, wa-kaana llaahu qawiyyan 'aziizan) berarti "dan Allah kuat lagi digdaya". Bentuk (قَوِيًّا, qawiyyan) berakar ق-و-ي dan tertulis satu kali di seluruh Al-Qur'an. Susunan (قَوِيٌّ عَزِيزٌ, qawiyyun 'aziizun) ada di empat ayat, yaitu 22:40, 22:74, 57:25, dan 58:21. Di 22:74 bunyinya (إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ, inna llaaha la-qawiyyun 'aziizun) yang berarti "sesungguhnya Allah benar-benar kuat lagi digdaya". Kata (عَزِيزًا, 'aziizan) dalam bentuk tak tentu ada di tujuh ayat, yaitu 4:56, 4:158, 4:165, 33:25, 48:3, 48:7, dan 48:19. Di 4:56 bunyinya (إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا, inna llaaha kaana 'aziizan hakiiman) yang berarti "sesungguhnya Allah perkasa lagi bijaksana", dan di 48:3 (وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا, wa-yanshuraka llaahu nashran 'aziizan) yang berarti "dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang digdaya". Pasangan kata untuk 'aziizan di 33:25 adalah qawiyyan, dan terjemahan memakai "digdaya" seperti di 22:40 dan 22:74. Di surah ini rumus (وَكَانَ اللَّهُ, wa-kaana llaahu) ada di sepuluh ayat, yaitu 33:5, 33:9, 33:25, 33:27, 33:40, 33:50, 33:51, 33:52, 33:59, dan 33:73. Di 33:27 bunyinya (وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا, wa-kaana llaahu 'alaa kulli syay'in qadiiran) yang berarti "dan Allah berkuasa atas segala sesuatu".
Tafsiran
Ayat ini memuat tiga kalimat yang semuanya berpelaku Allah. Kalimat pertama memakai kata kerja menghalau, kalimat kedua mencukupi, dan kalimat ketiga menyebut dua sifat. Orang-orang yang kufur dan orang-orang mukmin sama-sama menjadi penerima kata kerja itu. Kata kerja yang berpelaku manusia ada satu, yaitu tidak memperoleh, dan bentuknya peniadaan. Seluruh gerak dalam ayat ini berpusat pada satu pelaku, dan dua kelompok itu muncul sebagai sasaran.
Di 33:9 orang-orang yang beriman diminta mengingat nikmat Allah ketika bala tentara datang, dan Allah menyatakan telah mengirim angin dan bala tentara yang tidak terlihat. Ayat 33:25 tidak memakai kata angin atau bala tentara, sehingga dua hal itu tidak dapat disamakan dengan menghalau berdasarkan ayat ini. Ayat 33:25 menuliskan akibat bagi dua pihak. Pihak yang kufur pergi dengan kemarahan dan tanpa kebaikan apa pun, dan pihak yang beriman dicukupkan dari peperangan.
Kata kerja mencukupi di sini berobjek peperangan. Peperangan menjadi sesuatu yang dicukupkan dari orang-orang mukmin, dan ayat tidak menyebutnya sesuatu yang mereka menangkan. Di 33:26 ayat sesudahnya memuat kata kerja membunuh dan menawan dengan pelaku "kalian", sehingga ayat 33:25 tidak boleh dibaca sebagai pernyataan bahwa orang-orang mukmin tidak melakukan apa pun. Peperangan menjadi objek yang dicukupkan, dan 33:26 memperlihatkan bahwa tindakan mereka tetap tertulis di tempat lain.
Ayat ini ditutup dengan rumus yang sama dengan ayat-ayat lain di surah ini, yaitu "dan Allah ...", tetapi isinya khas di sini, yaitu kuat dan digdaya. Dua sifat itu berdiri tepat sesudah dua tindakan. Sambungan antara sifat dan tindakan tidak dituliskan, tetapi letaknya yang berurutan membuat keduanya mudah dibaca bersama.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menyatakan Allah mencukupi orang-orang mukmin dari peperangan itu, dan kata kerja mencukupi memakai peperangan sebagai objek. Peperangan di sini menjadi sesuatu yang diambil dari orang-orang mukmin, tidak sesuatu yang mereka menangkan. Pembaca yang menghitung pertolongan dari hasil pertempuran dapat memperhatikan bahwa ayat ini menaruh pertolongan pada beban yang diangkat. Beban apa dalam hidupnya yang sudah dicukupkan Allah tanpa disadari, ketika bebannya masih terus dipikirkan?
- Orang-orang yang kufur di ayat ini dihalau dalam keadaan penuh kemarahan, dan ayat tidak menyebut kemarahan itu hilang. Di 9:15 kemarahan hati disebut dihilangkan oleh Allah, sedangkan di 33:25 kata kerja semacam itu tidak tertulis. Pembaca dapat membandingkan dua ayat itu dan menanyakan apa yang terjadi pada kemarahan yang tidak dilepaskan. Jika ada kemarahan yang sedang dibawanya hari ini, siapa yang dapat melepaskannya?
- Ayat ini menyebut orang-orang yang kufur tidak memperoleh kebaikan apa pun. Di 33:19 kata kebaikan dipakai untuk sesuatu yang dikikiri, dan di 33:25 untuk sesuatu yang tidak diperoleh. Ayat tidak menyatakan dua kelompok itu sama, tetapi kata yang sama dipakai di dua tempat, satu tentang menahan dan satu tentang tidak mendapat. Pembaca dapat memperhatikan bahwa kebaikan yang ditahan dan kebaikan yang tidak datang bisa berada dalam satu surah yang sama. Adakah kebaikan yang sedang ia tahan sendiri dan menunggu tangannya terbuka?
- Di 4:77 peperangan menjadi sesuatu yang dituliskan atas orang-orang, dan di 33:25 menjadi sesuatu yang dicukupkan Allah dari mereka. Kata yang sama dan bentuk yang sama dipakai untuk dua keadaan yang berbeda. Pembaca dapat membayangkan kedua ayat itu berdiri berdampingan dan menanyakan siapa yang menetapkan kapan sebuah beban dituliskan dan kapan dicukupkan. Jika Allah yang menuliskannya di satu tempat dan mencukupkannya di tempat lain, bagaimana menyikapi beban yang belum juga diangkat?
- Tiga kalimat di ayat ini semuanya berpelaku Allah, dan manusia muncul sebagai penerima kata kerja itu. Ayat tidak memuat kata kerja yang pelakunya orang-orang mukmin, meskipun 33:26 memuatnya di ayat sesudahnya. Pembaca yang terbiasa menghitung peran dirinya dalam setiap peristiwa dapat memperhatikan bahwa sebuah ayat bisa menuliskan seluruh peristiwa dari sudut pelaku yang lain. Apa yang berubah dalam hidupnya jika satu kejadian dibaca dari sudut pelaku itu?
- Allah menutup ayat ini dengan dua sifat, kuat dan digdaya, tepat sesudah menyebut dua tindakan-Nya. Di 22:74 dua sifat itu mengikuti kalimat tentang orang-orang yang tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya, dan di 33:25 mengikuti kalimat tentang menghalau dan mencukupi. Letak yang berbeda itu memperlihatkan bahwa dua sifat yang sama dapat menyusul kejadian yang berbeda. Pembaca dapat bertanya sifat Allah apa yang paling diingat ketika membaca sebuah peristiwa yang sudah selesai, dan sifat apa yang jarang disebut?