وَمَنْ يَقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا

Dan siapa di antara kalian yang tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengerjakan amal saleh, niscaya Kami anugerahkan kepadanya pahala dua kali, dan Kami sediakan baginya rezeki yang mulia.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَمَنْ يَقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًاwa-man yaqnut minkunna li-llaahi wa-rasuulihi wa-ta'mal shaalihandan siapa di antara kalian yang tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengerjakan amal saleh
  2. نُؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًاnu'tihaa ajrahaa marratayni wa-a'tadnaa lahaa rizqan kariimanniscaya Kami anugerahkan kepadanya pahala dua kali, dan Kami sediakan baginya rezeki yang mulia

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. وَمَنْwa-mandan orang yang
  2. يَقْنُتْyaqnuttaat
  3. مِنْكُنَّminkunnadi antara kalian
  4. لِلَّهِli-llaahibagi Allah
  5. وَرَسُولِهِwa-rasuulihidan Rasul-Nya
  6. وَتَعْمَلْwa-ta'maldan ia mengerjakan
  7. صَالِحًاshaalihankebajikan
  8. نُؤْتِهَاnu'tihaaKami berikan kepadanya
  9. أَجْرَهَاajrahaapahalanya
  10. مَرَّتَيْنِmarrataynidua kali
  11. وَأَعْتَدْنَاwa-a'tadnaadan Kami menyediakan
  12. لَهَاlahaabaginya
  13. رِزْقًاrizqanrezeki
  14. كَرِيمًاkariimanyang mulia

Inti bacaan

Kata (كَرِيمًا, kariiman) dalam bentuk ini muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 4:31, 17:23, 33:31, dan 33:44, dan menyifati tempat masuk, perkataan, rezeki, dan pahala.

Penjelasan pilihan kata

Kata (يَقْنُتْ, yaqnut) berakar ق-ن-ت dan diterjemahkan "tetap taat". Data morfologi mencatatnya sebagai kata kerja sedang berlangsung, orang ketiga laki-laki tunggal, dengan akhiran yang menandai syarat, dan bentuk ini hanya ada di 33:31. Akarnya ada di dua belas ayat, yaitu 2:116, 2:238, 3:17, 3:43, 4:34, 16:120, 30:26, 33:31, 33:35, 39:9, 66:5, dan 66:12. Enam di antaranya menyebut kepada siapa kata itu ditujukan, dan semuanya memakai huruf li "bagi" atau "kepada" dengan Allah atau Tuhan sebagai tujuannya: (وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ, wa-quumuu li-llaahi qaanitiina) yang berarti "dan berdirilah karena Allah dengan taat", (قَانِتًا لِلَّهِ, qaanitan li-llaahi) yang berarti "yang taat kepada Allah", (اقْنُتِي لِرَبِّكِ, qnutii li-rabbiki) kepada Tuhan Maryam, serta (كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ, kullun lahu qaanituuna) dan (كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ, kullun lahu qaanituuna) yang berarti "semua tunduk kepada-Nya". Di 33:31 tujuannya dua, (لِلَّهِ وَرَسُولِهِ, li-llaahi wa-rasuulihi) yang berarti "kepada Allah dan Rasul-Nya", dan kedua tujuan itu berbagi satu huruf li. Enam ayat lainnya memakai akar ini sebagai sifat orang tanpa menyebut tujuannya. Di 33:35 sifat itu berbunyi (وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ, wa-l-qaanitiina wa-l-qaanitaati) yang berarti "laki-laki dan perempuan yang taat".

Rangkaian (وَتَعْمَلْ صَالِحًا, wa-ta'mal shaalihan) yang berarti "serta mengerjakan amal saleh" hanya ada di 33:31. Kata kerjanya, (وَتَعْمَلْ, wa-ta'mal), berakar ع-م-ل dan diterjemahkan "mengerjakan", sedangkan (صَالِحًا, shaalihan) berakar ص-ل-ح dan diterjemahkan "saleh". Kata kerja pertama, yaqnut, berawalan ya- yang bertanda laki-laki tunggal dalam data morfologi, sedangkan ta'mal berawalan ta- yang bertanda perempuan tunggal. Keduanya mengikuti man "siapa", dan ayat tidak menjelaskan sebab pergantian itu. Kata sambung wa "dan" menyatukan keduanya di bawah satu syarat.

Kata (نُؤْتِهَا, nu'tihaa) berakar أ-ت-ي dan berarti "Kami anugerahkan kepadanya". Kata kerjanya berbentuk "Kami", dan akhiran -haa menandai orang ketiga perempuan, sama seperti pada (أَجْرَهَا, ajrahaa) yang berakar أ-ج-ر dan berarti "pahalanya". Kata (مَرَّتَيْنِ, marratayni) berakar م-ر-ر dan muncul lima kali di Al-Qur'an, yaitu di 9:101, 9:126, 17:4, 28:54, dan 33:31, dalam empat surah karena Surah 9 memuatnya dua kali. Terjemahannya "dua kali" di kelima ayat, misalnya di 9:126 pada (مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ, marratan aw marratayni) yang berarti "sekali atau dua kali". Kata ini menyertai pahala di dua ayat saja, yaitu 28:54 pada (يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ, yu'tawna ajrahum marratayni) yang berarti "diberi pahala dua kali", dan 33:31. Kata lain untuk dua kali lipat, (ضِعْفَيْنِ, dhi'fayni), dipakai di ayat sebelumnya untuk azab.

Kata (وَأَعْتَدْنَا, wa-a'tadnaa) berakar ع-ت-د dan berarti "dan Kami sediakan". Bentuknya kata kerja selesai dengan pelaku "Kami", dan muncul di tiga belas ayat dalam delapan surah, yaitu 4:18, 4:37, 4:151, 4:161, 17:10, 18:29, 18:102, 25:11, 25:37, 33:31, 48:13, 67:5, dan 76:4. Dua belas ayat yang lain menyediakan azab, api, atau Jahanam, misalnya (أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا, a'tadnaa lahum 'adzaaban aliiman) yang berarti "Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih" dan (أَعْتَدْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ نُزُلًا, a'tadnaa jahannama li-l-kaafiriina nuzulan) yang berarti "Kami sediakan Jahanam bagi orang-orang kafir sebagai jamuan". Di 33:31 Kami menyediakan rezeki, dan penerimanya ditandai (لَهَا, lahaa) yang berarti "baginya".

Kata (رِزْقًا, rizqan) berakar ر-ز-ق dan berarti "rezeki", sedangkan (كَرِيمًا, kariiman) berakar ك-ر-م dan berarti "mulia". Bentuk kariiman muncul empat kali, yaitu di 4:31, 17:23, 33:31, dan 33:44, dan di setiap ayat kata itu menyifati benda yang berlainan: (مُدْخَلًا كَرِيمًا, mudkhalan kariiman) yang berarti "tempat masuk yang mulia", (قَوْلًا كَرِيمًا, qawlan kariiman) yang berarti "perkataan yang mulia", dan (أَجْرًا كَرِيمًا, ajran kariiman) yang berarti "pahala yang mulia". Terjemahannya "mulia" di keempatnya.

Tafsiran

Ayat ini menjawab 33:30 dengan susunan yang sama. Keduanya dibuka dengan man ... minkunna "siapa di antara kalian", syaratnya berbentuk kata kerja, dan akibatnya disebut dua kali: azab yang dilipatgandakan dua kali lipat di 33:30 dan pahala dua kali di 33:31. Syaratnya berlawanan. Di 33:30 syaratnya kekejian yang nyata, dan di 33:31 syaratnya tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengerjakan amal saleh. Dua ayat itu menaruh dua ujung dalam kalimat yang bentuknya sama, berurutan, dan ditujukan kepada orang yang sama.

Ayat ini memuat tambahan yang tidak ada di pasangannya. Ayat 33:30 berhenti pada akibat dan satu kalimat tentang Allah, sedangkan 33:31 menyebut dua pemberian dengan dua kata kerja yang berbeda: Kami anugerahkan pahala dua kali, dan Kami sediakan rezeki yang mulia. Pahala dan rezeki berdiri terpisah, masing-masing dengan kata kerjanya sendiri, dan hanya pahala yang diberi bilangan. Di 33:29 pahala disebut agung, dan di 33:31 pahala itu disebut dua kali, sehingga tiga ayat berturut-turut memuat tiga ukuran yang berlainan bagi tiga keadaan yang berlainan.

Cara pelaku disebut juga berganti. Di 33:30 azab dilipatgandakan dalam bentuk pasif, tanpa pelaku, dan Allah disebut sebagai orang ketiga pada kalimat penutup. Di 33:31 pelakunya disebut langsung dengan "Kami" pada dua kata kerja yang aktif. Ayat tidak menjelaskan sebab pergantian itu. Pembaca hanya dapat memastikan bahwa bentuk kalimat akibat buruk dan akibat baik berbeda, sedangkan ukuran dua kali sama.

Dalam rangkaian 33:28 sampai 33:31, dua ayat pertama memuat dua pilihan, ayat ketiga memuat akibat bagi yang melampaui batas, dan ayat keempat memuat akibat bagi yang tetap taat. Ayat ini tidak menyebut sebab angka dua dan tidak menyebut kapan pahala dan rezeki itu diterima.

Renungan dan Hikmah

  • Kata yaqnut dalam ayat ini berbentuk sedang berlangsung, sehingga taat yang dimaksud terus dijalani dan tidak dihitung dari satu hari atau satu peristiwa. Rangkaian ini disambung dengan wa-ta'mal shaalihan, amal saleh yang juga berbentuk sedang berlangsung. Pembaca yang pernah memulai sesuatu dengan semangat, misalnya kebiasaan beribadah, pekerjaan yang dijalani dengan jujur, atau kebiasaan membantu orang lain, mengenal masa ketika semangat itu surut dan kebiasaan itu terasa seperti beban. Ayat ini menaruh janji Allah pada kata kerja yang masih berjalan. Bagaimana pembaca menilai ketaatannya kepada Allah, dari hari ketika keputusan itu diambil atau dari hari ini?
  • Taat kepada Allah dan Rasul-Nya disambung dengan amal saleh memakai kata sambung "dan", dan keduanya berada di bawah satu syarat, yaitu "siapa di antara kalian". Ayat tidak menyebut mana yang lebih dahulu atau mana yang lebih berat. Keduanya hadir sebagai dua kata kerja yang berjalan berdampingan. Pembaca dapat melihat kebiasaannya sendiri. Sebagian orang rapi dalam ibadah tetapi lalai dalam pekerjaan dan hubungan dengan sesama, dan sebagian lain giat berbuat baik tetapi jarang mengingat Allah. Ayat ini menaruh kedua kata kerja itu di bawah satu syarat dan satu janji dari Allah. Bagian mana dari keduanya yang paling sering dibiarkan menunggu, dan apa yang membuatnya menunggu?
  • Pahala dua kali di ayat ini diberikan dengan kata kerja "Kami anugerahkan", jadi pemberinya Allah dan ukurannya ditetapkan oleh Dia. Ayat tidak menghubungkan angka dua dengan lamanya taat atau besarnya amal. Di 28:54 pahala dua kali disebut bersama kesabaran, dan di 33:31 bersama taat dan amal saleh, sehingga tiap ayat mengikat ukuran itu pada keadaan yang disebutnya sendiri. Pembaca yang terbiasa menghitung amalnya sering memakai ukuran dagang, yaitu sekian dikerjakan lalu sekian didapat. Kata kerja nu'tihaa memberi arah lain, karena pahala itu pemberian Allah dan ukurannya tidak dihitung seperti upah harian. Apa yang berubah pada cara pembaca bekerja bila hasil akhirnya tidak dihitung seperti upah harian?
  • Kata a'tadnaa berbentuk selesai, dan dua belas dari tiga belas ayat yang memuatnya menyebut azab, api, atau Jahanam sebagai benda yang disediakan. Di 33:31 benda yang disediakan adalah rezeki yang mulia. Kata kerja yang di ayat lain menyertai peringatan di sini menyertai pemberian. Pembaca yang pernah menunggu kabar baik tanpa tahu apakah kabar itu sudah disiapkan, misalnya hasil ujian, panggilan kerja, atau kesembuhan orang yang disayang, mengenal rasa menunggu itu. Ayat ini menyebut bahwa Allah, dengan kata "Kami", telah menyediakan sesuatu bagi orang yang tetap taat, dan menyebutnya dengan kata kerja yang sudah selesai. Apakah pembaca pernah menyadari bahwa ada sesuatu yang telah disediakan Allah baginya sebelum diminta?
  • Rezeki dalam ayat ini diberi sifat mulia, dan ayat tidak menyebut jumlah, bentuk, atau tempatnya. Sifat itu tidak diukur dengan angka. Pembaca yang menimbang rezekinya dengan bilangan, misalnya gaji, simpanan, atau harga rumah, dapat memeriksa apakah rezeki yang pernah paling menenangkan hatinya selalu yang terbesar. Allah menyebut mulia, dan ayat tidak menyebut banyak. Pertanyaan yang tersisa menyangkut yang pernah diterima pembaca dan layak disebut mulia walaupun tidak tampak besar, misalnya orang yang menemani di masa sulit, waktu yang cukup untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan, atau kesehatan pada hari yang biasa. Dengan sifat apa pembaca biasanya menyebut rezeki yang datang dari Allah?
  • Ayat peringatan di 33:30 dan ayat janji di 33:31 berdiri berurutan dengan bentuk kalimat yang sama dan ukuran yang sama, dua kali. Pembaca yang hanya menghafal salah satunya menerima gambaran yang timpang, hanya rasa takut atau hanya rasa tenang. Susunan ayat menaruh keduanya di depan orang yang sama, dan menyebut Allah di kalimat penutup pertama serta "Kami" di dua kata kerja kedua. Pembaca yang sedang takut dapat memeriksa apakah ia sudah membaca ayat berikutnya, dan pembaca yang sedang merasa aman dapat memeriksa apakah ia sudah membaca ayat sebelumnya. Dua keadaan itu, takut dan tenang, sama-sama datang kepada orang yang memikirkan Tuhannya. Dari ayat mana pembaca biasanya mulai membaca ketika hatinya sedang gelisah?