يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا
Wahai istri-istri Nabi, kalian tidaklah seperti seorang pun dari perempuan lain, jika kalian bertakwa. Maka janganlah kalian melembutkan perkataan sehingga bangkit hasrat orang yang di hatinya ada penyakit, dan ucapkanlah perkataan yang baik.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّyaa nisaa'a n-nabiyyi lastunna ka-ahadin mina n-nisaa'i ini ttaqaytunnawahai istri-istri Nabi, kalian tidaklah seperti seorang pun dari perempuan lain, jika kalian bertakwa
- فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌfa-laa takhdha'na bi-l-qawli fa-yathma'a lladzii fii qalbihi maradhunmaka janganlah kalian melembutkan perkataan sehingga bangkit hasrat orang yang di hatinya ada penyakit
- وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًاwa-qulna qawlan ma'ruufandan ucapkanlah perkataan yang baik
Terjemahan per kata (20 kata)
- يَاyaawahai
- نِسَاءَnisaa'aperempuan-perempuan
- النَّبِيِّn-nabiyyiNabi
- لَسْتُنَّlastunnakalian bukanlah
- كَأَحَدٍka-ahadinseperti seorang pun
- مِنَminadari
- النِّسَاءِn-nisaa'ipara perempuan
- إِنِinijika
- اتَّقَيْتُنَّttaqaytunnakalian bertakwa
- فَلَاfa-laamaka janganlah
- تَخْضَعْنَtakhdha'nakalian melembutkan
- بِالْقَوْلِbi-l-qawlidengan perkataan
- فَيَطْمَعَfa-yathma'amaka berkeinginan
- الَّذِيlladziiyang
- فِيfiidi
- قَلْبِهِqalbihihatinya
- مَرَضٌmaradhunpenyakit
- وَقُلْنَwa-qulnadan ucapkanlah kalian
- قَوْلًاqawlanperkataan
- مَعْرُوفًاma'ruufanyang baik
Inti bacaan
Bentuk (فَيَطْمَعَ, fa-yathma'a) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 33:32, sedangkan akarnya ط-م-ع terdapat di dua belas ayat.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ, yaa nisaa'a n-nabiyyi) yang berarti "wahai istri-istri Nabi". Kata (نِسَاءَ, nisaa'a) berakar ن-س-و dan berarti "perempuan-perempuan". Padanan "istri-istri" mengikuti 33:28, yang memuat perintah (قُلْ لِأَزْوَاجِكَ, qul li-azwaajika) yang berarti "katakanlah kepada istri-istrimu". Sapaan yang sama, (يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ, yaa nisaa'a n-nabiyyi), membuka 33:30 dan 33:32, dan keduanya meneruskan ucapan kepada kelompok itu. Sapaan ini muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 33:30 dan 33:32, dan di kedua tempat tidak ada nama seorang pun dari mereka.
Kalimat (لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ, lastunna ka-ahadin mina n-nisaa'i) yang berarti "kalian tidaklah seperti seorang pun dari perempuan lain" terdiri dari tiga bagian: (لَسْتُنَّ, lastunna) yang berarti "kalian bukanlah", (كَأَحَدٍ, ka-ahadin) yang berarti "seperti seorang pun", dan (مِنَ النِّسَاءِ, mina n-nisaa'i) yang berarti "dari para perempuan". Bentuk lastunna hanya ada di 33:32, begitu pula bentuk ka-ahadin. Pembandingnya adalah perempuan pada umumnya, dan ayat ini tidak merinci apa yang membedakan kelompok yang disapa. Sesudahnya datang syarat, (إِنِ اتَّقَيْتُنَّ, ini ttaqaytunna) yang berarti "jika kalian bertakwa", dan bentuk ttaqaytunna juga hanya muncul sekali, di ayat ini. Awalan (فَ, fa) pada (فَلَا تَخْضَعْنَ, fa-laa takhdha'na) menyambung larangan berikutnya ke syarat itu, sehingga terjemahan memakai "maka" di sana.
Kata (تَخْضَعْنَ, takhdha'na) yang berarti "kalian melembutkan" berakar خ-ض-ع, dan akar ini hanya ada di dua ayat, yaitu 26:4 dan 33:32. Di 26:4 bentuknya (خَاضِعِينَ, khaadhi'iina) yang berarti "yang tunduk", dalam (فَظَلَّتْ أَعْنَاقُهُمْ لَهَا خَاضِعِينَ, fa-zhallat a'naaquhum lahaa khaadhi'iina) yang berarti "sehingga tengkuk mereka selalu tunduk kepadanya". Di sana tengkuk menunduk di hadapan sebuah tanda, sedangkan di 33:32 gerak menunduk itu dikenakan pada perkataan. Karena benda yang ditundukkan berbeda, terjemahan memakai "tunduk" di 26:4 dan "melembutkan" di 33:32. Akar ini punya dua pemakaian, dan korpus tidak memuat pemakaian ketiga yang dapat menunjukkan arti lain.
Kata (بِالْقَوْلِ, bi-l-qawli) yang berarti "dengan perkataan" berakar ق-و-ل, dan bentuk bi-l-qawli muncul lima kali di lima surah, yaitu 14:27, 20:7, 21:27, 33:32, dan 49:2. Di 20:7 dan 49:2 kata itu berdampingan dengan kata kerja yang berarti "mengeraskan", yaitu (تَجْهَرْ, tajhar) dan (تَجْهَرُوا, tajharuu), sehingga di kedua ayat itu perkataan dibicarakan dari segi caranya dibawakan. Di 49:2 suara disebut dengan kata tersendiri, (أَصْوَاتَكُمْ, ashwaatakum) yang berarti "suara kalian", dan kata itu tidak ada di 33:32. Terjemahan karena itu memakai "perkataan" untuk bi-l-qawli dan tidak menambahkan kata "suara".
Kata (فَيَطْمَعَ, fa-yathma'a) yang berarti "sehingga berkeinginan" berakar ط-م-ع. Awalan fa di sini menyebut akibat dari larangan sebelumnya, jadi terjemahan memakai "sehingga". Akar ط-م-ع ada di dua belas ayat, yaitu 2:75, 5:84, 7:46, 7:56, 13:12, 26:51, 26:82, 30:24, 32:16, 33:32, 70:38, dan 74:15. Pasangan (خَوْفًا وَطَمَعًا, khawfan wa-thama'an) yang berarti "dengan rasa takut dan penuh harap" muncul empat kali di empat surah, yaitu 7:56, 13:12, 30:24, dan 32:16. Di 7:56 dan 32:16 harapan itu ditujukan kepada Allah dalam doa. Akarnya sendiri karena itu tidak membawa nilai buruk, dan arah keinginannya ditentukan oleh pelakunya. Di 33:32 pelakunya orang yang di hatinya ada penyakit, dan apa yang diinginkannya tidak disebut.
Frasa (مَرَضٌ, maradhun) yang berarti "penyakit" dipakai bersama hati di sebelas ayat dalam bentuk (فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ, fii quluubihim maradhun) yang berarti "di hati mereka ada penyakit", yaitu 2:10, 5:52, 8:49, 9:125, 22:53, 24:50, 33:12, 33:60, 47:20, 47:29, dan 74:31. Semuanya menyebut kelompok. Ayat 33:32 sendiri menyebut satu orang, lewat (الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ, lladzii fii qalbihi maradhun) yang berarti "orang yang di hatinya ada penyakit". Di 33:12 dan 33:60 kelompok itu disebut di samping orang-orang munafik dengan (وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ, wa-lladziina fii quluubihim maradhun) yang berarti "dan orang-orang yang di hati mereka ada penyakit". Di 33:32 tidak ada kata munafik dan tidak ada gambaran penyakit itu, hanya tempatnya, yaitu hati, dan akibatnya pada keinginan.
Perintah terakhir, (وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا, wa-qulna qawlan ma'ruufan) yang berarti "dan ucapkanlah perkataan yang baik", memakai kata kerja perintah untuk beberapa perempuan yang diajak bicara. Pasangan (قَوْلًا مَعْرُوفًا, qawlan ma'ruufan) muncul empat kali di tiga surah, yaitu 2:235, 4:5, 4:8, dan 33:32. Di tiga ayat lainnya kata kerjanya (تَقُولُوا, taquuluu) dan (وَقُولُوا, wa-quuluu), dan di 4:5 serta 4:8 penerima ucapan disebut dengan (لَهُمْ, lahum) yang berarti "kepada mereka". Di 33:32 tidak ada penerima yang disebut. Kata (مَعْرُوفًا, ma'ruufan) berakar ع-ر-ف, akar yang sama dengan (لِتَعَارَفُوا, li-ta'aarafuu) yang berarti "agar kalian saling mengenal" di 49:13, sehingga perkataan yang dimaksud ialah perkataan yang dikenali orang.
Tafsiran
Ayat ini memindahkan pembicaraan dari kedudukan ke cara berbicara. Dua ayat sebelumnya memuat dua hal yang berlipat: azab dua kali lipat bagi kekejian yang nyata, (ضِعْفَيْنِ, dhi'fayni) di 33:30, dan pahala dua kali bagi yang tetap taat, (مَرَّتَيْنِ, marratayni) di 33:31. Ayat 33:32 tidak mengulang pelipatan itu. Ayat ini dibuka dengan kalimat kedudukan, lalu langsung memuat larangan dan perintah tentang perkataan. Dapat dibaca bahwa kedudukan yang tidak sama itu menjadi dasar bagi pelipatan di dua ayat sebelumnya, tetapi sambungan tertulis di antara ketiganya hanya sapaan yang sama di 33:30 dan 33:32.
Larangan di ayat ini disertai akibat, (فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ, fa-yathma'a lladzii fii qalbihi maradhun), sedangkan perintah di ujung berdiri tanpa akibat dan tanpa penerima. Dua pihak hadir di dalamnya: yang berbicara, yaitu kelompok yang disapa, dan yang mendengar, yaitu orang yang di hatinya ada penyakit. Keinginan itu tertulis berada pada pendengar, tetapi larangannya diarahkan kepada yang berbicara. Ayat ini tidak menjelaskan mengapa beban itu jatuh pada pihak yang berbicara, dan tidak menyebut bahwa semua pendengar demikian.
Bentuk sapaan di 33:32 juga mengikat ayat ini dengan ayat-ayat di sekitarnya. Kata kerja yang menyapa beberapa perempuan dengan bentuk "kalian" khusus perempuan hanya ada di delapan ayat Al-Qur'an, yaitu 12:32, 12:51, 33:28, 33:29, 33:32, 33:33, 33:34, dan 33:55, menurut data morfologi proyek. Dari delapan belas kata kerja semacam itu, sepuluh berada di tiga ayat berturut-turut, yaitu empat di 33:32, lima di 33:33, dan satu di 33:34. Ayat ini karena itu membuka rangkaian tempat sapaan kepada kelompok yang sama berlangsung tanpa jeda sampai 33:34, sebelum 33:35 berganti ke kelompok yang jauh lebih luas.
Perintah menetap di rumah pada 33:33 menyambung ayat ini tanpa kata pembuka baru selain awalan (وَ, wa) yang berarti "dan". Larangan dan perintah di 33:32 karena itu dapat dibaca sebagai bagian pertama dari satu rangkaian pesan yang berlanjut ke ayat berikutnya, dan tidak berdiri sebagai peraturan yang terpisah.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 33:32 menaruh kalimat kedudukan dan syaratnya berdampingan: kalian tidaklah seperti seorang pun dari perempuan lain, jika kalian bertakwa. Di 49:13 ukuran kemuliaan di sisi Allah disebut dengan akar yang sama dengan takwa, yaitu (أَتْقَاكُمْ, atqaakum) yang berarti "yang paling bertakwa", dan ayat itu menyebutnya sesudah menyebut bangsa dan suku. Ayat 49:13 menyapa manusia secara umum, sedangkan 33:32 menyapa satu kelompok, sehingga keduanya tidak disamakan. Satu pembacaan dapat dicoba: kedudukan di 33:32 dan kemuliaan di 49:13 sama-sama diikat pada takwa, dan di kedua kalimat itu tidak ada tempat bagi garis keturunan sebagai syarat tambahan. Seseorang dapat menimbang kedudukan yang disandangnya sehari-hari, entah jabatan, nama keluarga, atau pengalaman, dan apakah syarat yang menyertainya pernah diperiksanya sebagaimana kalimat ini menyebutnya.
- Di 20:44 dua orang diminta berkata kepada seseorang dengan (قَوْلًا لَيِّنًا, qawlan layyinan) yang berarti "perkataan yang lembut", agar yang diajak bicara sadar atau takut. Kelembutan perkataan di sana diperintahkan, sedangkan di 33:32 yang dilarang adalah (تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ, takhdha'na bi-l-qawli). Ayat 20:44 membicarakan seorang penguasa sebagai pendengar, sedangkan 33:32 membicarakan orang yang di hatinya ada penyakit, sehingga keduanya tidak disamakan. Satu pembacaan dapat dicoba: larangan di 33:32 menyangkut sikap menunduk yang ikut masuk ke dalam perkataan, dan tidak menyangkut kelembutan nada. Orang yang sering berbicara dengan lembut dapat memperhatikan di mana kelembutannya berhenti sebagai kelembutan dan berubah menjadi kesediaan menunduk. Siapa yang paling dulu menyadari perubahan itu, pembicara atau pendengarnya?
- Di 2:10 hati yang berpenyakit disebut menerima tambahan penyakit dari Allah, dalam kalimat bahwa Allah menambah penyakit mereka. Ayat 2:10 berbicara tentang kelompok yang lain dengan akibat yang lain, jadi tidak dipakai untuk menafsirkan orang yang disebut di 33:32. Ayat 2:10 menunjukkan bahwa penyakit di hati dapat bertambah dan berkurang, dan bahwa Allah disebut sebagai pelaku penambahan itu. Dapat dibaca bahwa 33:32 mengatur perkataan yang keluar dari mulut, sedangkan yang bergerak di dalam hati pendengar tidak dapat diatur dari luar. Orang yang berbicara dapat bertanya, bagian mana dari pendengaran orang lain yang berada di luar kuasanya, dan apakah bagian yang berada dalam kuasanya sudah ditimbang dengan jujur?
- Akar kata yang melahirkan fa-yathma'a dipakai di 26:51 dan 26:82 pada kalimat yang menyebut Tuhan sebagai tujuan keinginan: di 26:51 (نَطْمَعُ, nathma'u) yang berarti "kami menginginkan" agar Tuhan kami mengampuni kesalahan, dan di 26:82 (أَطْمَعُ, athma'u) yang berarti "aku menginginkan" agar Dia mengampuni kesalahanku pada Hari Pertanggungjawaban. Dua kalimat itu diucapkan pihak lain dalam keadaan lain, dan tidak dipakai untuk menafsirkan pendengar di 33:32. Akar yang sama ternyata dapat menunjuk keinginan akan ampunan dari Tuhan. Seseorang dapat memperhatikan apa yang paling sering diinginkannya, lalu bertanya ke mana arah keinginan itu: kepada yang ada di hadapannya, atau kepada Tuhan yang disebut di dua ayat itu? Apakah arahnya berubah menurut siapa yang sedang menontonnya?
- Ayat 67:13 menyandingkan perkataan dan isi dada dalam satu kalimat: (وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ, wa-asirruu qawlakum awi jharuu bihi) yang berarti "rahasiakanlah perkataan kalian atau nyatakanlah", lalu ayat itu menutupnya dengan pernyataan bahwa Dia mengetahui segala isi hati. Ayat 33:32 juga menaruh perkataan dan hati dalam satu ayat, tetapi dalam urusan yang berbeda, sehingga keduanya tidak disamakan. Dapat dibaca bahwa perkataan yang baik menurut 33:32 adalah sesuatu yang dapat diperiksa orang lain, sedangkan isi hati tetap diketahui oleh Dia menurut 67:13. Pembaca dapat menanyakan pada dirinya, perkataan manakah yang sudah diperiksanya dari sisi orang yang mendengarnya, dan manakah yang dibiarkannya karena yakin niatnya baik?
- Perintah (وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا, wa-qulna qawlan ma'ruufan) di 33:32 tidak menyebut kepada siapa perkataan baik itu diucapkan. Di 4:8 penerimanya disebut: kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin yang hadir pada pembagian, dengan (لَهُمْ, lahum) yang berarti "kepada mereka". Di 33:32 sasarannya terbuka, dan ayat 4:8 berbicara tentang keadaan yang sama sekali lain, sehingga tidak dipakai sebagai tafsir. Dapat dibaca bahwa perintah tanpa penerima tertentu mengikat perkataan itu ke setiap pihak yang berhadapan dengan yang berbicara. Seseorang dapat menghitung kepada siapa saja perkataan baik dalam sepekan terakhir benar-benar sampai, dan kepada siapa ia membuat pengecualian tanpa pernah menyebutnya?