مَا كَانَ عَلَى النَّبِيِّ مِنْ حَرَجٍ فِيمَا فَرَضَ اللَّهُ لَهُ ۖ سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا

Tidak ada keberatan apa pun pada Nabi tentang apa yang telah diwajibkan Allah baginya, sunah Allah yang berlaku pada orang-orang yang telah berlalu sebelumnya. Dan ketetapan Allah adalah ketentuan yang telah ditentukan,

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. مَا كَانَ عَلَى النَّبِيِّ مِنْ حَرَجٍ فِيمَا فَرَضَ اللَّهُ لَهُmaa kaana 'ala n-nabiyyi min harajin fiimaa faradha llaahu lahutidak ada keberatan apa pun pada Nabi tentang apa yang telah diwajibkan Allah baginya
  2. سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُsunnata llaahi fii lladziina khalaw min qablusunah Allah yang berlaku pada orang-orang yang telah berlalu sebelumnya
  3. وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًاwa-kaana amru llaahi qadaran maqduurandan ketetapan Allah adalah ketentuan yang telah ditentukan

Terjemahan per kata (22 kata)

  1. مَاmaatidaklah
  2. كَانَkaanaadalah
  3. عَلَى'alaatas
  4. النَّبِيِّn-nabiyyiNabi
  5. مِنْmindari
  6. حَرَجٍharajinkesempitan
  7. فِيمَاfiimaapada apa yang
  8. فَرَضَfaradhamewajibkan
  9. اللَّهُllaahuAllah
  10. لَهُlahubaginya
  11. سُنَّةَsunnatasunah
  12. اللَّهِllaahiAllah
  13. فِيfiipada
  14. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  15. خَلَوْاkhalawmereka menyendiri
  16. مِنْmindari
  17. قَبْلُqablusebelumnya
  18. وَكَانَwa-kaanadan ia adalah
  19. أَمْرُamruurusan
  20. اللَّهِllaahiAllah
  21. قَدَرًاqadaranketentuan
  22. مَقْدُورًاmaqduuranyang ditentukan

Inti bacaan

Kata (سُنَّةَ, sunnata) dalam bentuk ini muncul empat kali di Al-Qur'an (17:77, 33:38, 33:62, 48:23), dan tiga ayat lain, yaitu 17:77, 33:62, dan 48:23, menyusulkan kalimat tentang tidak adanya perubahan, sedangkan 33:38 tidak.

Penjelasan pilihan kata

Kalimat pembuka ayat ini memuat (مِنْ حَرَجٍ, min harajin) yang berarti "dari keberatan". Kata (حَرَجٍ, harajin) berakar ح-ر-ج, dan bentuk persis ini muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 5:6, 22:78, dan 33:38. Di 5:6, (لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ, li-yaj'ala 'alaykum min harajin) berarti "untuk menjadikan keberatan atas kalian", dan di 22:78, (فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ, fii d-diini min harajin) berarti "dalam pertanggungjawaban suatu keberatan". Di kedua ayat itu Allah yang berbicara tentang menjadikan atau tidak menjadikan keberatan, sedangkan di 33:38 keberatan itu dinyatakan tidak ada pada Nabi.

Akar yang sama dipakai dengan dua cara lain. Di 4:65, (فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا, fii anfusihim harajan) berarti "keberatan dalam diri mereka", sehingga keberatan itu berada di dalam hati orang yang menerima putusan. Di 33:37, 33:50, 24:61, dan 48:17, bentuk (حَرَجٌ, harajun) berdiri sesudah huruf 'alaa dan orang yang dituju, misalnya (لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ, laysa 'alaa l-a'maa harajun) di 48:17 yang berarti "tidak ada keberatan atas orang buta". Surah yang sama memakai akar lain untuk "dosa", yaitu (جُنَاحٌ, junaahun) di 33:5 dan (جُنَاحَ, junaaha) di 33:51 dan 33:55, dan terjemahan membedakan keduanya: akar ج-ن-ح diterjemahkan "dosa", sedangkan akar ح-ر-ج di 33:37 dan 33:38 diterjemahkan "keberatan".

Kata kerja (فَرَضَ, faradha) berakar ف-ر-ض dan berarti "mewajibkan", sehingga dalam kalimat ini menjadi "diwajibkan". Di 2:197 dan 28:85 terjemahan juga memakai "mewajibkan". Bentuk persis faradha muncul empat kali, yaitu di 2:197, 28:85, 33:38, dan 66:2. Di 28:85, (فَرَضَ عَلَيْكَ, faradha 'alayka) berarti "mewajibkan atasmu", dan di 66:2, (فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ, faradha llaahu lakum) berarti "Allah mewajibkan bagi kalian". Di 33:38 kata kerja itu disusul (لَهُ, lahu) yang berarti "baginya", dengan huruf lam seperti di 66:2, sedangkan 28:85 memakai 'alaa. Ayat ini tidak menjelaskan sebab pilihan huruf itu. Terjemahan tidak memakai "ditetapkan" untuk faradha, karena kata "menetapkan" sudah dipakai di 33:36 untuk (إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا, idzaa qadhaa llaahu wa-rasuuluhu amran) yang berarti "apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu urusan", dan kata kerja di sana berakar ق-ض-ي.

Kata (سُنَّةَ, sunnata) berakar س-ن-ن dan diterjemahkan "sunah". Bentuk persis sunnata muncul empat kali, yaitu di 17:77, 33:38, 33:62, dan 48:23, dan tiga di antaranya berpasangan dengan nama Allah: (سُنَّةَ اللَّهِ, sunnata llaahi) di 33:38, 33:62, dan 48:23. Rangkaian (سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ, sunnata llaahi fii lladziina khalaw min qablu) muncul dua kali, di 33:38 dan 33:62. Di 33:62 rangkaian itu disusul (وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا, wa-lan tajida li-sunnati llaahi tabdiilan) yang berarti "dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunah Allah", dan kalimat serupa ada di 48:23, sedangkan 17:77 memakai (وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلًا, wa-laa tajidu li-sunnatinaa tahwiilan). Di 33:38 kalimat tentang tidak adanya perubahan itu tidak ada, dan sunah Allah langsung disusul penutup ayat.

Kata (خَلَوْا, khalaw) berakar خ-ل-و dan di sini diterjemahkan "telah berlalu". Bentuk persis khalaw muncul tujuh kali, yaitu di 2:14, 2:214, 3:119, 10:102, 24:34, 33:38, dan 33:62. Di 2:14, (خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ, khalaw ilaa syayaathiinihim) berarti "menyendiri bersama setan-setan mereka", dan 3:119 juga menggambarkan orang yang menyendiri. Di 2:214, (خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ, khalaw min qablikum) berarti "telah berlalu sebelum kalian", dan 10:102 memakai (خَلَوْا مِنْ قَبْلِهِمْ, khalaw min qablihim) dengan arti yang sama tentang orang-orang sebelum mereka. Di 33:38 kata itu juga disusul min dan kata yang menunjuk waktu sebelumnya, sehingga terjemahannya "berlalu" dan tidak "menyendiri".

Penutup ayat memuat (قَدَرًا مَقْدُورًا, qadaran maqduuran) yang berarti "ketentuan yang ditentukan". Kedua kata berakar ق-د-ر: (قَدَرًا, qadaran) adalah kata benda dan (مَقْدُورًا, maqduuran) adalah bentuk pasif dari kata kerjanya. Keduanya muncul hanya di 33:38 dalam bentuk persis ini. Bentuk pasif kata kerjanya, (قُدِرَ, qudira), muncul di 54:12 dan 65:7. Di 54:12, (عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ, 'alaa amrin qad qudira) berarti "atas suatu ketetapan yang telah ditentukan", sedangkan di 65:7, (قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ, qudira 'alayhi rizquhu) berarti "disempitkan rezekinya" karena disusul 'alayhi dan kata rezeki. Di 33:38 tidak ada kata yang mengarahkannya ke arti menyempitkan, jadi terjemahan memakai "ditentukan" seperti di 54:12.

Kalimat (وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ, wa-kaana amru llaahi) muncul tiga kali, yaitu di 4:47, 33:37, dan 33:38. Di 4:47 dan 33:37 kalimat itu berakhir dengan (مَفْعُولًا, maf'uulan), dan di 33:38 berakhir dengan qadaran maqduuran. Kata (أَمْرُ, amru) diterjemahkan "ketetapan" di 4:47, 16:1, 33:37, 33:38, dan 57:14, jadi terjemahan memisahkan amr yang berarti "ketetapan" dari qadar yang berarti "ketentuan". Kata qadar sendiri berarti "ukuran" di lima ayat yang memakai (بِقَدَرٍ, bi-qadarin), yaitu 15:21, 23:18, 42:27, 43:11, dan 54:49.

Tafsiran

Ayat ini menyatakan bahwa tidak ada keberatan pada Nabi dalam apa yang Allah wajibkan baginya, menempatkan keadaan itu dalam sunah Allah pada orang-orang yang telah berlalu, lalu menutup dengan ketetapan yang telah ditentukan. Ketiga bagian itu bersambung dengan ayat sebelumnya. Ayat 33:36 menyebut urusan yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan, ayat 33:37 menyebut tujuan agar tidak ada keberatan (حَرَجٌ, harajun) bagi orang-orang beriman, dan ayat 33:38 menyebut keberatan itu tidak ada pada Nabi. Kata yang sama berpindah dari kelompok yang luas ke satu orang, tanpa ayat ini mengubah artinya.

Kalimat pembuka (مَا كَانَ, maa kaana) muncul di empat ayat surah ini, yaitu 33:36, 33:38, 33:40, dan 33:53, dan tiap kalimat menyatakan apa yang tidak ada atau tidak patut. Di 33:36 kalimat itu menafikan adanya pilihan lain bagi orang beriman, di 33:38 menafikan keberatan pada Nabi, dan di 33:40 menafikan kebapakan. Ayat 33:38 menjadi kalimat kedua dalam deretan itu, dan kalimat itu berbicara tentang Nabi, sedangkan kalimat pertama berbicara tentang orang-orang beriman.

Ayat ini tidak merinci isi apa yang Allah wajibkan. Pembaca yang mengikuti urutan ayat menemukan di 33:37 satu perbuatan yang disebut dengan (زَوَّجْنَاكَهَا, zawwajnaakahaa) yang berarti "Kami nikahkan engkau dengannya", dan dapat membaca bahwa kedua ayat itu berkaitan. Ayat 33:38 sendiri tidak menyebut pertalian itu, sehingga bacaan tersebut tetap bacaan pembaca.

Sunah Allah dalam ayat ini tidak diberi isi aturan. Ayat berikutnya, 33:39, dibuka dengan (الَّذِينَ, alladziina) tanpa kalimat baru, dan dapat dibaca menyifati orang-orang yang telah berlalu: mereka menyampaikan risalah-risalah Allah, takut kepada-Nya, dan tidak takut kepada siapa pun selain Dia. Dengan bacaan itu, sunah Allah di sini dijelaskan lewat sifat orang-orang, bukan lewat daftar peristiwa. Ayat 33:62 mengulang rangkaian yang sama dan menambah pernyataan bahwa perubahan tidak akan ditemukan, sedangkan 33:38 beralih ke urusan Allah dan menutup di sana, sehingga tekanan ayat ini ada pada ketentuan itu.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 33:38 meniadakan keberatan dari Nabi, sedangkan 4:65 menyebut keberatan yang berada di dalam diri orang yang dimintai menerima putusan. Akar ح-ر-ج di dua ayat itu menunjuk dua tempat yang berlainan: sesuatu yang dikenakan dari luar dan sesuatu yang dirasakan dari dalam. Kewajiban dari Allah dapat terasa berat di dalam hati sementara tidak ada keberatan apa pun yang dipasang orang lain padanya, dan keduanya tidak harus muncul bersama. Pembaca yang sedang memikul suatu kewajiban dapat memeriksa letak bebannya. Apakah beban itu berasal dari isi kewajibannya, atau dari rasa sempit di dalam hati yang belum menemukan jalan untuk menerima apa yang Allah wajibkan?
  • Ayat ini menaruh keadaan Nabi di samping sunah Allah pada orang-orang yang telah berlalu. Perasaan bahwa keadaan sendiri tidak punya bandingan dapat menutup pintu bagi pelajaran dari orang lain. Dalam ayat ini keadaan Nabi disebut punya pendahulu, dan Allah tidak menyebut daftar nama mereka. Ayat 33:39 yang menyusul menyebut sifat para pendahulu itu, tidak kedudukan mereka. Pembaca yang menganggap ujiannya tidak ada duanya dapat bertanya, siapa di antara orang-orang terdahulu yang pernah berdiri di tempat yang sama, dan apa yang mereka lakukan dengan apa yang Allah wajibkan kepada mereka?
  • Dua ayat berturut-turut ditutup dengan pembuka yang sama, (وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ, wa-kaana amru llaahi), lalu 33:37 menyambungnya dengan kata "dikerjakan" dan 33:38 dengan kata "ditentukan". Kata pertama menunjuk pada perbuatan yang sudah terjadi, dan kata kedua menunjuk pada penentuan atas perbuatan itu. Sebuah keadaan dalam hidup dapat dipandang dari sisi apa yang sudah menimpa, dan ayat ini menaruh sisi lain di sebelahnya. Pembaca dapat menimbang apakah keadaan yang diterimanya pernah diletakkan di dua sisi itu sekaligus: sesuatu yang telah Allah kerjakan atas dirinya dan sesuatu yang telah Dia tentukan?
  • Kata kerja yang berarti "mewajibkan" disusul huruf 'alaa di 28:85, (فَرَضَ عَلَيْكَ, faradha 'alayka), dan disusul huruf lam di 33:38 dan 66:2. Di 66:2 yang Allah wajibkan bagi kalian adalah pelepasan dari sumpah, dan di 33:38 yang Allah wajibkan dinyatakan tanpa keberatan pada penerimanya. Ayat-ayat itu tidak menjelaskan sebab pilihan hurufnya, sehingga perbedaan itu hanya dapat dicatat. Dapat dibaca bahwa sebuah kewajiban bisa datang sebagai beban yang ditaruh di atas pundak dan bisa datang sebagai sesuatu yang ditetapkan bagi penerimanya. Pembaca dapat bertanya, kewajiban yang selama ini dipikulnya dilihat sebagai yang diletakkan atasnya atau yang diwajibkan baginya, dan apa yang berubah pada cara memikulnya bila Allah menyebutnya dengan huruf yang kedua?
  • Kata qadar di 33:38 melekat pada urusan Allah, sedangkan di 23:18, 43:11, dan 54:49 melekat pada air yang turun dan pada segala sesuatu yang diciptakan, (خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ, khalaqnaahu bi-qadarin), yang berarti "Kami menciptakannya dengan ukuran". Konteksnya berbeda, sehingga ayat-ayat itu tidak saling menafsirkan. Meski begitu, kata yang sama dipakai untuk hujan dan untuk urusan Allah, dan di kedua tempat itu Allah yang dibicarakan. Orang yang melihat hujan turun dengan ukuran dapat bertanya, apakah keadaan yang menimpanya juga berada dalam ukuran dari Allah, terukur dan tidak serampangan, dan apa yang berubah pada caranya menanggung keadaan itu bila ia memandangnya demikian?
  • Ayat 33:36 menutup ruang memilih bagi orang beriman apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu urusan, dan ayat 33:38 menutup ruang keberatan pada Nabi atas apa yang Allah wajibkan. Dua hal yang biasa menyertai kewajiban, yaitu kesempatan memilih dan rasa terbebani, dibicarakan terpisah dan masing-masing dengan kalimat sendiri. Bagi pembaca, perbedaan itu memberi dua pertanyaan yang berlainan atas satu kewajiban. Pertanyaan pertama menyangkut apakah masih ada pilihan, dan pertanyaan kedua menyangkut apakah kewajiban itu terasa sebagai beban yang Allah pasang. Pembaca dapat bertanya, ketika sebuah kewajiban terasa berat, pertanyaan mana dari keduanya yang sebenarnya sedang diajukan kepada Allah?