وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًاwa-sabbihuuhu bukratan wa-ashiilandan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَسَبِّحُوهُwa-sabbihuuhudan bertasbihlah kepada-Nya
- بُكْرَةًbukratandi waktu pagi
- وَأَصِيلًاwa-ashiilandan petang
Inti bacaan
Rangkaian (بُكْرَةً وَأَصِيلًا, bukratan wa-ashiilan) muncul empat kali di Al-Qur'an (25:5, 33:42, 48:9, 76:25), dan di 33:42 serta 48:9 rangkaian itu mengikuti kata kerja bertasbih.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَسَبِّحُوهُ, wa-sabbihuuhu) yang berarti "dan bertasbihlah kepada-Nya". Kata kerja ini berakar س-ب-ح, berbentuk perintah untuk banyak orang, dan memakai akhiran -hu yang berarti "-Nya" dan merujuk ke Allah yang disebut di 33:41. Perintah bertasbih dari akar yang sama muncul 18 kali di 17 ayat, yaitu 3:41, 15:98, 19:11, 20:130 dua kali, 25:58, 33:42, 40:55, 50:39, 50:40, 52:48, 52:49, 56:74, 56:96, 69:52, 76:26, 87:1, dan 110:3. Enam belas di antaranya ditujukan kepada satu orang, dan dua yang lain ditujukan kepada banyak orang, yaitu (سَبِّحُوا, sabbihuu) di 19:11 dan (وَسَبِّحُوهُ, wa-sabbihuuhu) di 33:42. Di 19:11 perintah itu diterjemahkan "agar bertasbih pada waktu pagi dan petang", dan penerimanya kaum yang diberi isyarat.
Akhiran -hu sesudah kata kerja bertasbih muncul di enam ayat, yaitu 7:206, 33:42, 48:9, 50:40, 52:49, dan 76:26. Perintah lain memakai ungkapan perantara. Di 15:98, (فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ, fa-sabbih bi-hamdi rabbika) berarti "maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu", dan rangkaian sabbih bi-hamdi rabbika muncul enam kali, yaitu di 15:98, 20:130, 40:55, 50:39, 52:48, dan 110:3. Di 56:74, (فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ, fa-sabbih bi-smi rabbika l-'azhiimi) berarti "maka bertasbihlah dengan nama Tuhanmu Sang Agung". Di 33:42 tasbih langsung tertuju kepada Allah lewat akhiran -hu, tanpa ungkapan pujian atau nama.
Pasangan waktu (بُكْرَةً وَأَصِيلًا, bukratan wa-ashiilan) berarti "pada waktu pagi dan petang". Kata (بُكْرَةً, bukratan) berakar ب-ك-ر dan muncul tujuh kali, yaitu di 19:11, 19:62, 25:5, 33:42, 48:9, 54:38, dan 76:25. Kata (وَأَصِيلًا, wa-ashiilan) berakar أ-ص-ل dan muncul empat kali, yaitu di 25:5, 33:42, 48:9, dan 76:25, sehingga pasangan lengkapnya ada di empat ayat itu. Kata kerja yang mendahuluinya berbeda menurut ayat: (تُمْلَىٰ عَلَيْهِ, tumlaa 'alayhi) yang berarti "didiktekan kepadanya" di 25:5, (وَتُسَبِّحُوهُ, wa-tusabbihuuhu) yang berarti "dan kalian bertasbih kepada-Nya" di 48:9, dan (وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ, wa-dzkuri sma rabbika) yang berarti "dan sebutlah nama Tuhanmu" di 76:25.
Terjemahan menuliskan "pagi dan petang" untuk tiga pasangan Arab yang berlainan. Selain bukratan wa-ashiilan, ada (بُكْرَةً وَعَشِيًّا, bukratan wa-'asyiyyan) di 19:11 dan 19:62, dan (بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ, bi-l-ghuduwwi wa-l-aashaali) di 7:205, 13:15, dan 24:36. Di 54:38, kata bukratan berdiri sendiri dan diterjemahkan "pada pagi hari". Ayat 3:41 memakai urutan terbalik, (بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ, bi-l-'asyiyyi wa-l-ibkaari), yang diterjemahkan "pada waktu petang dan pagi hari". Ayat 33:42 menyebut dua waktu dan tidak menyebut jumlah, sedangkan jumlah ada di ayat sebelumnya, lewat kata katsiiran.
Tafsiran
Ayat ini menyambung perintah mengingat Allah di 33:41 dengan perintah bertasbih kepada-Nya pada dua waktu, yaitu pagi dan petang. Ayat 33:41 memuat jumlah tanpa waktu, yaitu ingatan yang banyak, dan ayat 33:42 memuat waktu tanpa jumlah. Kedua ayat dibaca sebagai satu kalimat, sebab terjemahan 33:41 berakhir dengan koma dan 33:42 dibuka dengan kata sambung dan, dan pembagian ayat hanya memisahkan dua bagian perintah itu.
Pasangan ini sudah ada di 3:41, yaitu (وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ, wa-dzkur rabbaka katsiiran wa-sabbih bi-l-'asyiyyi wa-l-ibkaari) yang berarti "sebutlah Tuhanmu sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah pada waktu petang dan pagi hari". Di 3:41 perintah itu ditujukan kepada satu orang dan berada dalam satu ayat, sedangkan di 33:41 dan 33:42 perintah itu ditujukan kepada orang-orang beriman dan dibagi dua ayat. Ayat 76:25 dan 76:26 juga menempatkan perintah menyebut nama Tuhan pada pagi dan petang berdampingan dengan perintah bertasbih. Ketiga tempat itu tidak sama dalam keadaan dan penerimanya, tetapi memakai dua perintah yang sama.
Kata ganti membuat tiga ayat berturut-turut terbaca sebagai satu rangkaian. Ayat 33:41 menyebut Allah dengan namanya, ayat 33:42 menyebut-Nya dengan akhiran -hu, dan ayat 33:43 menyebut-Nya dengan (هُوَ, huwa) yang berarti "Dia". Tidak ada seruan baru atau nama baru di antara ketiganya, sehingga pihak yang dibicarakan tetap sama dari awal sampai akhir.
Perintah ini ditujukan kepada banyak orang, dan di seluruh Al-Qur'an perintah bertasbih yang berbentuk begitu muncul dua kali, yaitu di 19:11 dan 33:42. Perintah lain ditujukan kepada satu orang. Dengan itu, 33:42 memberi kegiatan yang dialamatkan kepada seluruh orang beriman dalam surah ini, dan tidak kepada seorang penerima saja. Ayat ini tidak memuat kalimat tujuan atau janji sesudah perintahnya, jadi tekanannya ada pada kepada siapa tasbih itu ditujukan dan kapan.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 33:41 memberi jumlah tanpa waktu, dan ayat 33:42 memberi dua waktu tanpa jumlah. Ketika kedua bagian itu dibaca bersama, tidak ada angka yang dapat dipegang untuk memastikan perintahnya sudah terpenuhi. Ayat menyediakan dua titik dalam hari, pagi dan petang, dan sebuah kata banyak yang tidak punya batas atas. Pembaca yang terbiasa menutup sebuah kewajiban dengan hitungan dapat bertanya, apa yang dipakai sebagai penanda bahwa dua waktu itu sudah diisi, dan apakah ayat ini menyediakan penanda itu atau meninggalkannya kepada pembaca sendiri?
- Pagi dan petang adalah dua ujung sebuah hari, sehingga seluruh waktu di antaranya berada di dalam kurung yang dibuka dan ditutup dengan tasbih kepada Allah. Ayat ini tidak mengatakan apa yang terjadi di antara dua ujung itu. Dalam 13:15 dan 24:36 pasangan waktu yang sama dipakai untuk bayang-bayang yang tunduk kepada Allah dan untuk tasbih kepada-Nya di rumah-rumah yang Allah izinkan dimuliakan. Pembaca dapat bertanya, apa yang menempati pikirannya pada awal dan akhir harinya, dan apakah Allah, menurut ayat ini, disebut pada kedua ujung itu?
- Di 15:98 tasbih disertai pujian kepada Tuhan, dan di 56:74 disertai nama Tuhan, sedangkan di 33:42 tasbih langsung tertuju kepada-Nya lewat akhiran -hu. Dalam kalimat ini tidak ada kata perantara antara orang yang bertasbih dan yang dituju. Jarak antara keduanya hanya selebar satu akhiran kata. Pembaca yang membiasakan diri berbicara tentang Allah dengan banyak perantara dapat bertanya, apa yang berubah pada tasbihnya bila yang tertulis di ayat adalah tasbih kepada-Nya langsung, dan perantara mana yang dipasang di antara dirinya dan Allah?
- Dari delapan belas perintah bertasbih di Al-Qur'an, enam belas ditujukan kepada satu orang, dan perintah di 33:42 termasuk dua yang ditujukan kepada banyak orang. Bentuk itu menaruh tasbih sebagai pekerjaan yang dikerjakan bersama oleh orang-orang yang disapa di 33:41. Orang yang bertasbih sendirian di pagi hari dapat memperhatikan bahwa ayat ini berbicara kepada banyak orang. Pembaca dapat bertanya, siapa saja yang dihitungnya sebagai bagian dari kata kalian itu, dan apakah Allah menyebut orang-orang tersebut dalam ayat ini atau ayat sesudahnya?
- Tiga ayat berturut-turut menyebut Allah dengan tiga cara: nama di 33:41, akhiran -hu di 33:42, dan kata ganti Dia di 33:43. Tidak ada seruan baru di antaranya, namun pembaca tetap tahu siapa yang dibicarakan. Kejelasan itu datang dari urutan ayat dan tidak dari pengulangan nama. Pembaca dapat bertanya, ketika nama Allah tidak lagi diucapkan dan tinggal akhiran, apa yang membuatnya tahu bahwa Dia yang dimaksud, dan apakah pengenalan itu berasal dari ayat yang dibacanya atau dari kebiasaan menyebut-Nya?
- Pasangan perintah ingat dan tasbih muncul di 3:41 untuk satu orang, di 76:25 dan 76:26 untuk satu orang, dan di 33:41 dan 33:42 untuk orang-orang beriman. Di ketiga tempat itu Allah yang menjadi tujuan kedua perintah. Pembaca yang menemukan pasangan itu di beberapa tempat dapat melihat bahwa penerimanya berganti-ganti, sedangkan tujuannya tetap. Pembaca dapat bertanya, bila penerima perintah berpindah dari satu orang ke banyak orang, di bagian mana pasangan itu menjadi miliknya, dan apakah Allah menyebut perpindahan itu di ayat yang dibacanya?