يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ ۖ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ ۚ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah Nabi, kecuali jika kalian diizinkan untuk makan, tanpa menunggu waktu masaknya. Tetapi jika kalian diundang, masuklah, dan apabila kalian selesai makan, keluarlah, dan janganlah asyik dalam percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu menyakiti Nabi, sehingga dia malu kepada kalian, sedangkan Allah tidak malu dari kebenaran. Dan apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka, mintalah dari belakang tabir; yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Dan tidaklah patut bagi kalian menyakiti Rasul Allah, dan tidak pula menikahi istri-istrinya sesudahnya selama-lamanya. Sesungguhnya yang demikian itu agung di sisi Allah.
Terjemahan bertahap (6 jeda)
- يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُyaa ayyuhaa lladziina aamanuu laa tadkhuluu buyuuta n-nabiyyi illaa an yu'dzana lakum ilaa tha'aamin ghayra naazhiriina inaahuwahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah Nabi, kecuali jika kalian diizinkan untuk makan, tanpa menunggu waktu masaknya
- وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍwa-laakin idzaa du'iitum fa-dkhuluu fa-idzaa tha'imtum fa-ntasyiruu wa-laa musta'nisiina li-hadiitsintetapi jika kalian diundang, masuklah, dan apabila kalian selesai makan, keluarlah, dan janganlah asyik dalam percakapan
- إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ ۖ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّinna dzaalikum kaana yu'dzii n-nabiyya fa-yastahyii minkum wa-llaahu laa yastahyii mina l-haqqisesungguhnya yang demikian itu menyakiti Nabi, sehingga dia malu kepada kalian, sedangkan Allah tidak malu dari kebenaran
- وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّwa-idzaa sa'altumuuhunna mataa'an fa-sa'aluuhunna min waraa'i hijaabin dzaalikum atharu li-quluubikum wa-quluubihinnadan apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka, mintalah dari belakang tabir; yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka
- وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًاwa-maa kaana lakum an tu'dzuu rasuula llaahi wa-laa an tankihuu azwaajahu min ba'dihi abadandan tidaklah patut bagi kalian menyakiti Rasul Allah, dan tidak pula menikahi istri-istrinya sesudahnya selama-lamanya
- إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًاinna dzaalikum kaana 'inda llaahi 'azhiimansesungguhnya yang demikian itu agung di sisi Allah
Terjemahan per kata (70 kata)
- يَاyaawahai
- أَيُّهَاayyuhaasekalian
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- آمَنُواaamanuuberiman
- لَاlaajanganlah
- تَدْخُلُواtadkhuluukalian masuk
- بُيُوتَbuyuutarumah-rumah
- النَّبِيِّn-nabiyyiNabi
- إِلَّاillaakecuali
- أَنْanbahwa
- يُؤْذَنَyu'dzanadiizinkan
- لَكُمْlakumkepada kalian
- إِلَىٰilaauntuk
- طَعَامٍtha'aaminmakanan
- غَيْرَghayraselain
- نَاظِرِينَnaazhiriinamenunggu
- إِنَاهُinaahumasaknya
- وَلَٰكِنْwa-laakintetapi
- إِذَاidzaaapabila
- دُعِيتُمْdu'iitumkalian diseru
- فَادْخُلُواfa-dkhuluumaka masuklah kalian
- فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
- طَعِمْتُمْtha'imtumkalian makan
- فَانْتَشِرُواfa-ntasyiruumaka bertebaranlah kalian
- وَلَاwa-laadan janganlah
- مُسْتَأْنِسِينَmusta'nisiinaasyik berbincang
- لِحَدِيثٍli-hadiitsinkepada suatu perkataan
- إِنَّinnasesungguhnya
- ذَٰلِكُمْdzaalikumdemikian itu
- كَانَkaanaadalah
- يُؤْذِيyu'dziimenyakiti
- النَّبِيَّn-nabiyyaNabi
- فَيَسْتَحْيِيfa-yastahyiimaka dia malu
- مِنْكُمْminkumdari kalian
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- لَاlaatidak
- يَسْتَحْيِيyastahyiisegan
- مِنَminadari
- الْحَقِّl-haqqihak
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- سَأَلْتُمُوهُنَّsa'altumuuhunnakalian meminta kepada mereka
- مَتَاعًاmataa'ankesenangan
- فَاسْأَلُوهُنَّfa-sa'aluuhunnamaka mintalah kepada mereka
- مِنْmindari
- وَرَاءِwaraa'ibalik
- حِجَابٍhijaabintabir
- ذَٰلِكُمْdzaalikumdemikian itu
- أَطْهَرُatharulebih suci
- لِقُلُوبِكُمْli-quluubikumbagi hati kalian
- وَقُلُوبِهِنَّwa-quluubihinnadan hati mereka
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- كَانَkaanaadalah
- لَكُمْlakumkepada kalian
- أَنْanuntuk
- تُؤْذُواtu'dzuukalian menyakiti
- رَسُولَrasuularasul
- اللَّهِllaahiAllah
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- أَنْanuntuk
- تَنْكِحُواtankihuukalian menikahi
- أَزْوَاجَهُazwaajahuistri-istrinya
- مِنْmindari
- بَعْدِهِba'dihisesudahnya
- أَبَدًاabadanselamanya
- إِنَّinnasesungguhnya
- ذَٰلِكُمْdzaalikumdemikian itu
- كَانَkaanaadalah
- عِنْدَ'indadi sisi
- اللَّهِllaahiAllah
- عَظِيمًا'azhiimanyang agung
Inti bacaan
Frasa (مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ, min waraa'i hijaabin) muncul dua kali di Al-Qur'an (33:53, 42:51), dan di 42:51 ia dipakai untuk cara Allah berbicara kepada manusia.
Penjelasan pilihan kata
Larangan pertama berbunyi (لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ, laa tadkhuluu buyuuta n-nabiyyi) yang berarti "janganlah kalian memasuki rumah-rumah Nabi". Kata (بُيُوتَ, buyuuta) berbentuk jamak, dan ayat tidak merinci rumah mana saja. Susunan (لَا تَدْخُلُوا, laa tadkhuluu) muncul di tiga ayat, yaitu 12:67, 24:27, dan 33:53. Di 24:27, (لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ, laa tadkhuluu buyuutan ghayra buyuutikum) diikuti syarat meminta izin, dan 24:28 menyebut syarat lain dengan (حَتَّىٰ يُؤْذَنَ لَكُمْ, hattaa yu'dzana lakum) yang berarti "sebelum mendapat izin". Kata kerja (يُؤْذَنَ, yu'dzana) muncul di tiga ayat, yaitu 9:90, 24:28, dan 33:53, tempat bunyinya (إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ, illaa an yu'dzana lakum) yang berarti "kecuali jika kalian diizinkan". Frasa (إِلَىٰ طَعَامٍ, ilaa tha'aamin) harfiahnya "menuju makanan", dan terjemahan menulisnya "untuk makan" agar terbaca sebagai izin bagi sebuah kegiatan.
Frasa (غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ, ghayra naazhiriina inaahu) berarti "tanpa menunggu waktu masaknya". Kata (نَاظِرِينَ, naazhiriina) dan (إِنَاهُ, inaahu) masing-masing hanya muncul di 33:53. Akar أ-ن-ي dalam korpus membawa dua arah arti, waktu dan panas: (آنَاءَ, aanaa'a) diterjemahkan "waktu-waktu" di 3:113, 20:130, dan 39:9, sedangkan (آنٍ, aanin) di 55:44 diterjemahkan "yang sangat panas". Terjemahan "waktu masaknya" menggabungkan kedua arah itu karena yang dibicarakan adalah makanan. Kalimat berikutnya, (وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا, wa-laakin idzaa du'iitum fa-dkhuluu) yang berarti "tetapi jika kalian diundang, masuklah", memuat (دُعِيتُمْ, du'iitum) yang hanya ada di sini. Kata kerja (طَعِمْتُمْ, tha'imtum) berbentuk lampau dan menandai perbuatan makan yang sudah terjadi, sehingga terjemahan menulis "selesai makan". Kata kerja (فَانْتَشِرُوا, fa-ntasyiruu) muncul di dua ayat, yaitu 33:53 dan 62:10, tempat (فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ, fa-ntasyiruu fii l-ardhi) diterjemahkan "bertebaranlah kalian di bumi". Ayat 33:53 tidak menyebut tempat tujuan, dan terjemahan memakai "keluarlah" sesuai dengan pembicaraan tentang rumah.
Larangan berikutnya, (وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ, wa-laa musta'nisiina li-hadiitsin) yang berarti "dan janganlah asyik dalam percakapan", memuat kata (مُسْتَأْنِسِينَ, musta'nisiina) dari akar أ-ن-س yang hanya muncul di sini. Bentuk kata kerja yang sama, (تَسْتَأْنِسُوا, tasta'nisuu), hanya ada di 24:27 dan diterjemahkan "meminta izin". Di 24:27 kata itu bersanding dengan "memberi salam kepada penghuninya", sedangkan di 33:53 bersanding dengan (لِحَدِيثٍ, li-hadiitsin) yang berarti "dalam suatu percakapan", sehingga terjemahan memakai "asyik". Isi percakapan itu tidak disebut.
Alasan bagian pertama berbunyi (إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ, inna dzaalikum kaana yu'dzii n-nabiyya) yang berarti "sesungguhnya yang demikian itu menyakiti Nabi". Kata kerja (يُؤْذِي, yu'dzii) berakar أ-ذ-ي. Bentuk (يُؤْذُونَ, yu'dzuuna) muncul di tiga ayat, yaitu 9:61, 33:57, dan 33:58, dan terjemahan memakai "menyakiti" di ketiganya, begitu pula untuk (تُؤْذُونَنِي, tu'dzuunanii) di 61:5 dan (آذَوْا, aadzaw) di 33:69. Di 33:59, (يُؤْذَيْنَ, yu'dzayna) diterjemahkan "diganggu". Ayat 33:53 memuat dua kata kerja dari akar ini, yu'dzii dan (تُؤْذُوا, tu'dzuu), dan terjemahan memakai "menyakiti" untuk keduanya. Kata kerja berikutnya (فَيَسْتَحْيِي, fa-yastahyii) yang berarti "sehingga dia malu" dan (يَسْتَحْيِي, yastahyii) pada (وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ, wa-llaahu laa yastahyii mina l-haqqi) memakai satu kata kerja yang sama. Kata (يَسْتَحْيِي, yastahyii) muncul di tiga ayat, yaitu 2:26, 28:4, dan 33:53. Di 2:26 pelakunya Allah dan terjemahan memakai "segan", di 28:4 pelakunya Firaun dan terjemahan memakai "membiarkan hidup", dan di 33:53 terjemahan memakai "malu" untuk dua pelakunya, Nabi dan Allah, supaya pengulangan itu terbaca. Susunan (لَا يَسْتَحْيِي, laa yastahyii) hanya ada di 2:26 dan 33:53. Kata min sesudah yastahyii diterjemahkan "kepada" untuk (مِنْكُمْ, minkum) yang berobjek orang, dan "dari" untuk (مِنَ الْحَقِّ, mina l-haqqi) yang berobjek sebuah hal.
Bagian kedua berbunyi (مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ, min waraa'i hijaabin) yang berarti "dari belakang tabir". Kata (حِجَابٍ, hijaabin) hanya ada di dua ayat, yaitu 33:53 dan 42:51, dan frasa persis min waraa'i hijaabin juga di keduanya. Kata benda (حِجَابٌ, hijaabun) di 7:46 dan 41:5 menyebut sesuatu yang berada di antara dua pihak: (وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ, wa-baynahumaa hijaabun) di 7:46 diterjemahkan "dan di antara keduanya ada dinding pemisah", dan 41:5 menyebutnya di antara "kami" dan "engkau". Akar ح-ج-ب muncul di delapan ayat, yaitu 7:46, 17:45, 19:17, 33:53, 38:32, 41:5, 42:51, dan 83:15. Kata (مَتَاعًا, mataa'an) tak tentu dan diterjemahkan "sesuatu" karena ayat tidak menyebut apa yang diminta. Alasan bagian ini berbunyi (ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ, dzaalikum athharu li-quluubikum wa-quluubihinna) yang berarti "yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka". Kata (أَطْهَرُ, athharu) muncul di empat ayat, yaitu 2:232, 11:78, 33:53, dan 58:12, dan terjemahan memakai "lebih suci" di 11:78 dan 33:53 serta "lebih bersih" di 2:232 dan 58:12. Frasa li-quluubikum wa-quluubihinna hanya ada di 33:53, dan menyebut hati dua pihak sekaligus.
Bagian ketiga berbunyi (وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ, wa-maa kaana lakum an tu'dzuu rasuula llaahi) yang berarti "dan tidaklah patut bagi kalian menyakiti Rasul Allah". Kata (رَسُولَ اللَّهِ, rasuula llaahi) muncul di lima ayat, yaitu 4:157, 9:61, 33:40, 33:53, dan 49:7, dan terjemahan memakai "Rasul Allah". Dalam satu ayat ini sebutan Nabi muncul dua kali, di awal dan di tengah, lalu Rasul Allah satu kali di bagian ketiga. Larangan berikutnya adalah (وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا, wa-laa an tankihuu azwaajahu min ba'dihi abadan) yang berarti "dan tidak pula menikahi istri-istrinya sesudahnya selama-lamanya". Di 33:6, (وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ, wa-azwaajuhu ummahaatuhum) menyebut istri-istrinya dengan akhiran -hu yang sama dan diterjemahkan "dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka". Kata (أَبَدًا, abadan) muncul di dua puluh delapan ayat, dua di antaranya di surah ini, yaitu 33:53 dan 33:65.
Penutupnya (إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا, inna dzaalikum kaana 'inda llaahi 'azhiiman) yang berarti "sesungguhnya yang demikian itu agung di sisi Allah" memuat (عَظِيمًا, 'azhiiman) yang muncul di dua puluh dua ayat, antara lain 4:48, 4:114, 33:29, 33:71, dan 48:5, tempat terjemahan memakai "agung". Di 48:5, (كَانَ ذَٰلِكَ عِنْدَ اللَّهِ, kaana dzaalika 'inda llaahi) memuat susunan yang sama dan kata 'azhiiman di sana menyifati kemenangan, sedangkan di 33:53 ia menyifati apa yang dibicarakan ayat ini. Kata (ذَٰلِكُمْ, dzaalikum) muncul tiga kali dalam ayat ini dan diterjemahkan sama, "yang demikian itu", masing-masing menutup satu bagian. Pada penutup, ayat tidak merinci apakah "yang demikian itu" menunjuk larangan terakhir saja atau seluruh isi ayat.
Tafsiran
Ayat ini menyusun tiga bagian yang masing-masing diikat oleh satu alasan. Bagian pertama mengatur masuk ke rumah-rumah Nabi, yaitu hanya dengan izin, tanpa menunggu makanan matang, keluar sesudah makan, dan tidak asyik bercakap. Alasannya: yang demikian itu menyakiti Nabi, sehingga Nabi malu kepada kalian. Bagian kedua mengatur permintaan kepada mereka, yaitu dari belakang tabir, dengan alasan bahwa yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Bagian ketiga melarang menyakiti Rasul Allah dan menikahi istri-istrinya sesudahnya selama-lamanya, dengan alasan bahwa yang demikian itu agung di sisi Allah. Tiga alasan itu berbeda sifatnya: yang pertama menyangkut perasaan seseorang, yang kedua menyangkut keadaan hati dua pihak, dan yang ketiga menyangkut kedudukan sebuah perbuatan di sisi Allah.
Di tengah bagian pertama ayat ini menaruh sebuah pasangan yang saling berhadapan: Nabi malu kepada kalian, sedangkan Allah tidak malu dari kebenaran. Dapat dibaca bahwa rasa malu itu menahan sebuah teguran yang tidak keluar dari mulut Nabi, lalu ayat ini sendiri yang mengatakannya. Pembacaan ini ditopang oleh susunan kalimatnya, yaitu dua kata kerja yang sama dengan dua pelaku, tetapi ayat tidak menyebut bahwa Nabi pernah menegur.
Ayat ini memakai sapaan jamak kepada orang-orang beriman sepanjang isinya, berbeda dari 33:50 sampai 33:52 yang menyapa satu orang dengan engkau. Ayat 33:6 menyebut istri-istrinya sebagai ibu-ibu orang beriman, dan dapat dibaca bahwa larangan menikahi mereka di 33:53 sejalan dengan sebutan itu, tetapi 33:53 sendiri tidak menyebut alasan larangan tersebut. Ayat 33:55 meneruskan dengan kata ganti jamak perempuan yang sama dan menyebut siapa saja yang tidak dikenai dosa terhadap mereka, tanpa memakai kata tabir, sehingga hubungan antara kedua ayat itu dapat dibaca tetapi tidak dinyatakan.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menaruh dua pelaku pada satu kata kerja: Nabi malu kepada kalian, dan Allah tidak malu dari kebenaran. Dari susunan itu terbaca keadaan yang akrab, yaitu seseorang yang tidak enak mengatakan sesuatu kepada tamunya, sehingga sesuatu itu tetap tinggal dalam dirinya. Rasa sungkan tidak menghentikan kebenaran, dan pihak yang sungkan menanggungnya sendiri sampai ayat ini, dalam satu pembacaan yang mungkin, mengucapkan apa yang tertahan. Pembaca yang menjadi tuan rumah dapat mengingat teguran mana yang tertahan oleh rasa tidak enak, dan pembaca yang menjadi tamu dapat bertanya, tanda apa yang selama ini terlewat karena tuan rumahnya terlalu santun untuk berkata? Siapa di sekitar pembaca yang kini sedang menanggung sesuatu tanpa pernah mengatakannya?
- Ayat ini meminta tamu mengatur waktu dirinya sendiri: masuk bila diundang, tidak menunggu makanan matang, keluar sesudah makan, dan tidak larut dalam percakapan. Sesudah undangan datang, tak satu pun dari tindakan berikutnya menunggu tuan rumah mengucapkan sesuatu. Tugas membaca waktu ditaruh pada tamu. Pembaca yang pernah bertamu dapat menimbang apakah keramahan sebuah rumah di kunjungan itu disertai kelelahan yang tidak tampak di wajah penghuninya, dan apakah lamanya bertamu diukur dari rumah itu atau dari kenyamanan sang tamu. Dalam kunjungan terakhir pembaca ke rumah orang lain, kapan sebenarnya saat yang pas untuk pamit, dan siapa yang lebih dulu menyadarinya?
- Alasan bagian kedua menyebut hati dua pihak sekaligus: lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Ayat tidak menyebut hati satu pihak saja, seolah batas yang dipasang menguntungkan kedua sisi. Batas yang dipasang di antara dua pihak mudah dibayangkan sebagai beban bagi salah satunya, sedangkan ayat ini menyatakan bahwa batas itu ditujukan bagi keduanya. Pembaca yang pernah merasa terhalang oleh sebuah batas dapat bertanya apakah pihak di seberang batas itu juga memperoleh sesuatu darinya, dan pembaca yang pernah memasang batas dapat menimbang apakah manfaatnya bagi orang yang dibatasi pernah disebutkan. Batas apa yang kini pembaca pasang atau terima, dan hati siapa saja yang dimaksud ketika batas itu dikatakan perlu?
- Ayat ini memakai kata menyakiti untuk perbuatan yang tampak sopan: duduk terlalu lama sesudah makan dan bercakap-cakap. Sesudah itu 33:57 menyebut orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, sehingga akar kata yang sama dipakai untuk perbuatan kecil di meja makan dan untuk perbuatan besar yang diancam dengan laknat. Pembaca dapat melihat bahwa menyakiti tidak selalu terjadi lewat kata yang kasar, dan kadang terjadi lewat kebiasaan yang diterima semua orang di sekeliling. Perbuatan semacam itu dapat luput dari kesadaran bila pelakunya merasa sedang ramah. Kebiasaan ramah apa dalam diri pembaca yang mungkin sedang membebani orang lain, dan siapa yang cukup santun untuk tidak pernah mengatakannya kepada pembaca?
- Bagian ketiga ditutup dengan menaruh perbuatan itu pada tolok ukur yang berbeda: agung di sisi Allah. Bagian pertama memakai tolok ukur perasaan Nabi, bagian kedua memakai kesucian hati, dan bagian ketiga memakai kedudukan di sisi Allah. Tolok ukur yang disebut terakhir tidak bergantung pada apakah perbuatan itu terasa besar oleh pelakunya. Salah satu ukuran terdekat untuk menimbang perbuatan adalah ada tidaknya orang yang protes atau merasa rugi, dan ayat ini menunjukkan adanya ukuran yang lebih jauh dari itu. Perbuatan apa yang selama ini diukur hanya dengan ada tidaknya protes, dan bagaimana ia tampak bila ditaruh di sisi Allah?
- Ayat ini memberi alasan pada setiap bagiannya, dan alasan itu berbeda satu dari yang lain: perasaan Nabi, kesucian hati, dan kedudukan di sisi Allah. Tak satu bagian pun dibiarkan berdiri sebagai perintah kosong. Pembaca yang pernah menerima aturan tanpa alasan, atau memberikan aturan tanpa alasan, dapat melihat bahwa tiga alasan yang berbeda memberi tiga pintu masuk, sehingga orang yang tidak tersentuh oleh satu alasan masih dapat bertemu dengan alasan lain. Dalam aturan yang pembaca tetapkan bagi orang-orang di sekitarnya, berapa alasan yang sudah ditulis, dan alasan mana yang mungkin menyentuh orang yang paling sulit dibujuk?