إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bersalat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalatlah atas dirinya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّinna llaaha wa-malaa'ikatahu yusalluuna ala n-nabiyyisesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bersalat atas Nabi
- يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًاyaa ayyuhaa lladziina aamanuu salluu alayhi wa-sallimuu tasliimanwahai orang-orang yang beriman, bersalatlah atas dirinya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan
Catatan pilihan kata (ringkas)
Terjemahan mainstream (termasuk terjemahan lain: 'berselawat') memisahkan ayat ini dari makna 'salat', menganggap Allah/malaikat tidak mungkin 'melaksanakan salat' scr ritual, sehingga dibaca sbg 'memberi restu/berkah' (shalawat), berbeda kata dari 'salat' di ayat2 lain meski akarnya sama persis. KEPUTUSAN METODOLOGIS (ditetapkan Pak FD, 2026-07-15, BUKAN temuan independen terjemahan ini): mengikuti prinsip #1 proyek ini (konsistensi leksikal, root-ke-padanan-kata) dan pembacaan sebagian penerjemah bahwa salaat scr generik berarti 'kewajiban/tugas', bukan eksklusif ritual 5-waktu, root s-l-w diterjemahkan SERAGAM sbg 'salat' di seluruh 12 kemunculan verbanya, TERMASUK di sini, alih-alih dipecah jadi kata berbeda (doa/rahmat/berselawat) tergantung tafsir konteks spt yg dilakukan terjemahan lain. Ini BUKAN klaim bahwa terjemahan lain 'salah', pemisahan terjemahan lain linguistik masuk akal & sejalan tafsir mainstream, melainkan pilihan gaya/prinsip terjemahan ini sendiri yg secara sengaja MEMPERTAHANKAN kesatuan leksikal root ini dlm terjemahan Indonesia, konsisten dgn bagaimana sebagian penerjemah mempertahankannya dlm bahasa Inggris ('perform the duty' di semua 12 kemunculan). CATATAN PENTING: ini penyimpangan SIGNIFIKAN dari pemahaman hampir universal ayat ini (fondasi tradisi 'shalawat Nabi' yg sangat mengakar, terutama di Indonesia), dicatat eksplisit sbg pilihan gaya yg disengaja, bukan koreksi atas kekeliruan mainstream. sebagian penerjemah menerjemahkan seragam 'perform the duty' utk yusalluuna DAN salluu di ayat ini (sama dgn semua 12 kemunculan verba lainnya), tidak membedakan 'ritual' vs 'restu' sama sekali, konsisten dgn bacaan generiknya atas salaat sbg 'kewajiban'. Dari 99 kemunculan di 90 ayat (12 verba + 83 nomina salaat + 1 musallan + 3 musalliin, diverifikasi corpus Leeds 16 Jul), 12 verba terbagi: 8 konteks ritual jelas (3:39, 4:102×2, 9:84, 75:31, 87:15, 96:10, 108:2) dan 4 konteks yg tradisi baca sbg 'restu/berkah' (9:103, 33:43, dan ayat ini ×2). ⟶ akar s-l-w bentuk *sallaa * (putusan Pak FD 19 Jul): diterjemahkan ''., Qur'an membedakan TIGA relasi arah pada salaah: *sallaa -rabbika* (108:2, 'bagi Tuhan' = arah sembahan) · *sallaa * (ayat ini, 33:43, 9:84, 9:103) · dan yang menggabung keduanya: *'alayhim salawaatun rabbihim* ('mereka salawaat Tuhan mereka'), *'alaa* + *min* dalam satu kalimat membuktikan *'alaa* menandai, bukan pihak yang disembah. Karena itu 'kepada' DITOLAK: ia meruntuhkan pembedaan yang teks buat (108:2 sudah memakai *li-* untuk itu) dan membuka bacaan keliru 'menyembah Nabi'. Allah, malaikat, DAN orang beriman melakukan hal yang SAMA (*sallaa alaa*) kepada objek yang SAMA (Nabi), maka satu rendering untuk semua subjek adalah tuntutan teks, bukan pilihan gaya. Verba 'bersalat' (KBBI: 'melakukan salat') dipilih karena *sallaa* adalah verba DENOMINAL (bentuk II dari *salaah*), dan 'ber-'+nomina adalah padanan strukturalnya; 'melaksanakan salat' memperlakukan salat sebagai objek yang dieksekusi, framing prosedur yang justru periksa.
Aplikasi
Ayat kunci kedua: 'Allah dan para malaikat-Nya bersalat atas Nabi' diikuti perintah kepada orang beriman untuk turut 'bersalatlah atas dirinya', mengikuti pola yang sama dari Allah/malaikat. Konkretnya: bersalawat kepada Nabi dipahami sebagai tindakan aktif mengarahkan dukungan/penghormatan yang meniru gerak Ilahi, bukan sekadar formula lisan yang diulang tanpa penghayatan makna 'mengarahkan perhatian dan dukungan'.