إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bersalat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalatlah atas dirinya dan berserah dirilah dengan keberserahan penuh.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّinna llaaha wa-malaa'ikatahu yushalluuna 'ala n-nabiyyisesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bersalat atas Nabi
- يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًاyaa ayyuhaa lladziina aamanuu shalluu 'alayhi wa-sallimuu tasliimanwahai orang-orang yang beriman, bersalatlah atas dirinya dan berserah dirilah dengan keberserahan penuh
Terjemahan per kata (14 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- وَمَلَائِكَتَهُwa-malaa'ikatahudan para malaikat-Nya
- يُصَلُّونَyushalluunamereka bersalat
- عَلَى'alaatas
- النَّبِيِّn-nabiyyiNabi
- يَاyaawahai
- أَيُّهَاayyuhaasekalian
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- آمَنُواaamanuuberiman
- صَلُّواshalluubersalatlah kalian
- عَلَيْهِ'alayhiatasnya
- وَسَلِّمُواwa-sallimuudan berserah dirilah
- تَسْلِيمًاtasliimandengan keberserahan penuh
Inti bacaan
Bentuk (يُصَلُّونَ, yushalluuna) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 33:56, sedangkan bentuk (يُصَلِّي, yushallii) muncul dua kali, yaitu di 3:39 dan 33:43.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (يُصَلُّونَ, yushalluuna) yang berarti "mereka bersalat" berakar ص-ل-و, dan bentuk persis ini muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 33:56. Kata kerja bentuk kedua dari akar yang sama muncul di sepuluh ayat, yaitu 3:39, 4:102, 9:84, 9:103, 33:43, 33:56, 75:31, 87:15, 96:10, dan 108:2. Terjemahan memakai "bersalat" di kesepuluhnya, sehingga satu akar mendapat satu padanan dan tidak dipecah menjadi "berdoa" untuk satu pelaku dan "salat" untuk pelaku lain.
Dari sepuluh ayat itu, empat memakai (عَلَى, 'ala) sesudah kata kerjanya, yaitu 9:84, 9:103, 33:43, dan 33:56. Di 9:84 kalimatnya (وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ, wa-laa tushalli 'alaa ahadin) yang berarti "dan janganlah engkau bersalat atas seorang pun". Di 9:103 ada (وَصَلِّ عَلَيْهِمْ, wa-shalli 'alayhim) yang berarti "dan bersalatlah atas mereka", lalu disusul (إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ, inna shalaataka sakanun lahum) yang berarti "sesungguhnya salatmu adalah ketenteraman bagi mereka". Di 108:2 arahnya lain, yaitu (فَصَلِّ لِرَبِّكَ, fa-shalli li-rabbika) yang berarti "maka bersalatlah bagi Tuhanmu", dengan huruf li dan bukan 'ala. Pasangan itu menunjukkan bahwa 'ala menandai pihak yang menerima salat, dan 9:103 menyebut akibatnya pada penerima, yaitu ketenteraman.
Di 33:43 pelakunya Allah bersama malaikat-Nya, dengan kalimat (يُصَلِّي عَلَيْكُمْ, yushallii 'alaykum) yang berarti "bersalat atas kalian". Penerimanya orang-orang beriman, dan tujuannya tertulis di ayat yang sama, yaitu (لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ, li-yukhrijakum mina zh-zhulumaati ila n-nuuri) yang berarti "agar Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan menuju cahaya". Di 33:56 penerimanya Nabi dan ayat tidak menyebut tujuan atau akibat. Karena itu terjemahan 33:56 tidak menambahkan "rahmat", "doa", atau "restu", sebab tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkan kata-kata itu.
Kata (وَمَلَائِكَتَهُ, wa-malaa'ikatahu) yang berarti "dan malaikat-Nya" menjadikan malaikat pelaku kedua bersama Allah, dan akhiran -hu menunjuk Allah. Susunan Allah beserta malaikat-Nya sebagai pelaku bersalat hanya ada di dua ayat, yaitu 33:43 dan 33:56. Perintah kepada orang beriman memakai kata kerja yang sama, (صَلُّوا عَلَيْهِ, shalluu 'alayhi) yang berarti "bersalatlah atas dirinya", dengan akhiran -hi yang menunjuk Nabi di awal ayat. Kata kerja perintah itu berbentuk jamak, sama dengan orang-orang yang disapa di (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا, yaa ayyuhaa lladziina aamanuu).
Perintah kedua, (وَسَلِّمُوا, wa-sallimuu), berakar س-ل-م dan berbentuk kedua. Kata kerja bentuk kedua dari akar ini muncul di enam ayat, yaitu 2:233, 4:65, 8:43, 24:27, 24:61, dan 33:56. Di 24:27 dan 24:61 kata kerjanya disusul (عَلَىٰ, 'alaa) beserta penerimanya, misalnya (فَسَلِّمُوا عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ, fa-sallimuu 'alaa anfusikum) yang berarti "maka ucapkanlah salam kepada diri kalian", dan di kedua ayat itu terjemahannya salam. Di 4:65 muncul (وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا, wa-yusallimuu tasliiman) yang berarti "dan mereka berserah diri dengan keberserahan penuh", tanpa penerima yang disebut. Kata benda (تَسْلِيمًا, tasliiman) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 4:65, 33:22, dan 33:56. Di 33:22 ada (إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا, illaa iimaanan wa-tasliiman) yang berarti "kecuali keimanan dan keberserahan".
Di 33:56, (وَسَلِّمُوا, wa-sallimuu) tidak membawa (عَلَىٰ, 'alaa) sendiri, dan (تَسْلِيمًا, tasliiman) mengikutinya seperti di 4:65. Karena itu terjemahan memakai "berserah dirilah dengan keberserahan penuh". Sebagian pembaca menerjemahkan bagian ini sebagai "ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan". Pembacaan itu bertumpu pada (عَلَيْهِ, 'alayhi) yang berdiri tepat sebelum (وَسَلِّمُوا, wa-sallimuu) dan dapat terbaca menjangkau kedua kata kerja. Susunan kalimatnya memang memungkinkan itu, tetapi tasliiman di dua ayat lain diterjemahkan keberserahan, dan tidak ada ayat lain yang memakainya untuk ucapan salam. Ayat ini juga tidak menyebut kepada siapa keberserahan itu diarahkan.
Tafsiran
Ayat ini terdiri dari satu pernyataan dan satu seruan. Pernyataannya menaruh Allah dan malaikat-Nya pada satu kata kerja yang objeknya Nabi, dan seruannya mengajak orang beriman masuk ke kata kerja yang sama. Di 33:43 arahnya berlawanan: Allah dan malaikat-Nya bersalat atas orang beriman, sedangkan di 33:56 orang beriman berpindah menjadi pelaku bersama mereka. Kedua ayat berada dalam surah yang sama dan berjarak tiga belas ayat, sehingga pembaca yang sama tampil sebagai penerima di ayat pertama dan sebagai pelaku di ayat kedua.
Ayat 33:43 menyebut tujuan salat itu, sedangkan 33:56 tidak menuliskan tujuan atau akibat, jadi seruan di ujung ayat berdiri tanpa alasan tertulis di dalam ayat yang sama. Alasannya dapat dicari di sekitarnya. Ayat 33:55 ditutup dengan Allah sebagai Sang Menyaksikan atas segala sesuatu, lalu 33:56 membuka dengan Allah sebagai pelaku. Ayat 33:53 memakai kata Nabi dan Rasul Allah dalam satu ayat tentang perbuatan menyakiti, dan 33:57 menyebut orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya.
Dengan susunan itu, 33:56 terletak di antara larangan menyakiti di 33:53 dan ancaman bagi yang menyakiti di 33:57. Penempatan ini dapat dibaca sebagai dua arah terhadap pihak yang sama, satu arah berupa bersalat dan satu arah berupa menyakiti. Ayat-ayat itu tidak menyatakan sendiri bahwa keduanya berpasangan, sehingga pembacaan ini tetap berupa kemungkinan yang ditopang urutan ayat.
Kata kerja pertama memakai bentuk yang menandai perbuatan sedang berlangsung, sedangkan dua kata kerja terakhir berbentuk perintah. Urutan itu membuat ayat bergerak dari keadaan yang sudah berjalan menuju tuntutan kepada manusia, dan tuntutan itu mencakup dua hal sekaligus, bersalat atas Nabi dan berserah diri dengan penuh.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 33:56 menaruh Allah, malaikat-Nya, dan orang-orang beriman pada satu kata kerja yang sama, sehingga pembaca yang disapa dengan wahai orang-orang yang beriman mendapati dirinya berdiri di barisan yang pelaku pertamanya Allah. Ayat itu tidak menyebut seberapa sering atau dengan cara apa pembaca ikut. Teksnya menuliskan bahwa dua pihak sudah melakukannya sebelum seruan datang. Pembaca dapat membayangkan dirinya tiba di tengah pekerjaan yang sudah berjalan, dan tidak memulainya dari nol. Apakah rasanya berbeda bagi pembaca bila perintah datang sebagai ajakan masuk ke pekerjaan yang sudah dikerjakan Allah dan malaikat-Nya?
- Di 33:43 orang beriman berada di pihak penerima, karena Allah dan malaikat-Nya bersalat atas mereka agar mereka dikeluarkan dari kegelapan menuju cahaya. Di 33:56 mereka berpindah ke pihak pelaku, karena merekalah yang diseru bersalat atas Nabi. Satu surah menaruh pembaca yang sama di dua sisi kata kerja yang sama, dengan jarak tiga belas ayat di antaranya. Sesudah menerima sesuatu dari Allah dan malaikat-Nya, pembaca dapat menanyai dirinya apa yang dilakukannya dengan kedudukan sebagai penerima itu. Apakah ia berhenti di sana, atau meneruskan arah itu kepada orang lain seperti seruan di ayat ini?
- Ayat 33:56 tidak memerinci isi bersalat atas Nabi. Dari 9:103 dapat dipetik satu petunjuk tentang kata kerja yang sama, yaitu bahwa salat yang ditujukan kepada pihak lain menjadi ketenteraman bagi mereka. Ayat 9:103 berbicara tentang pihak lain dan pelakunya engkau yang disapa di sana, sehingga ayat itu tidak dapat dipakai menentukan isi di 33:56. Petunjuk yang dapat dipetik hanya bahwa kata kerja ini punya akibat pada penerimanya. Pembaca yang menyimak seruan itu dapat bertanya apa yang kira-kira sampai kepada penerima dari tindakan yang disebut tanpa isi, dan siapa yang mengisinya, orang yang melakukannya atau Allah yang mengetahui apa yang dilakukan?
- Ayat 33:56 dibuka dengan penegas sesungguhnya dan dengan kata kerja yang menandai perbuatan sedang berlangsung, baru sesudah itu datang seruan. Pernyataan tentang apa yang dilakukan Allah dan malaikat-Nya mendahului perintah kepada manusia, sehingga perintah itu dapat dibaca bersandar pada keadaan yang sudah ada di sisi Allah. Ayat ini memilih urutan alasan lebih dulu, sehingga pembaca menerima seruan itu dengan alasan yang sudah tertulis di hadapannya. Apakah perintah terasa lebih ringan dijalani bila Allah sudah lebih dulu disebut melakukannya?
- Perintah terakhir di 33:56 meminta keberserahan penuh dan tidak menyebut kepada siapa keberserahan itu diarahkan. Di 33:22 keberserahan bertambah pada orang-orang mukmin ketika mereka melihat pasukan sekutu dan mengatakan bahwa hal itu yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka. Di 4:65 keberserahan berhubungan dengan putusan yang diberikan kepada orang yang disapa di sana. Tiga ayat itu menaruh keberserahan di keadaan yang berlainan, dan 33:56 membiarkan alamatnya kosong. Dalam keadaan apa keberserahan pernah bertambah pada diri pembaca, seperti pada orang-orang mukmin di 33:22 yang menerima janji Allah ketika pasukan datang?
- Ayat 33:56 menyatukan dua perintah dengan satu kata sambung, bersalat atas Nabi dan berserah diri dengan penuh. Perintah pertama mengarahkan perhatian kepada pihak lain, dan perintah kedua menyangkut sikap diri sendiri. Urutannya tertulis, tetapi hubungan sebab di antara keduanya tidak tertulis. Pembaca dapat menimbang apakah berserah itu mendahului bersalat atas pihak lain, atau menyusulnya, dan apa yang diubah olehnya pada cara pembaca memandang Allah dan malaikat-Nya yang disebut lebih dulu di ayat itu sebagai pelaku. Apakah bersalat atas orang lain terasa berbeda bagi pembaca yang sudah berserah?