سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا
Sunah Allah yang berlaku pada orang-orang yang telah berlalu sebelumnya. Dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunah Allah.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُsunnata llaahi fii lladziina khalaw min qablusunah Allah yang berlaku pada orang-orang yang telah berlalu sebelumnya
- وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًاwa-lan tajida li-sunnati llaahi tabdiilandan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunah Allah
Terjemahan per kata (12 kata)
- سُنَّةَsunnatasunah
- اللَّهِllaahiAllah
- فِيfiipada
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- خَلَوْاkhalawtelah berlalu
- مِنْmindari
- قَبْلُqablusebelumnya
- وَلَنْwa-landan tidak akan
- تَجِدَtajidaengkau mendapati
- لِسُنَّةِli-sunnatipada sunah
- اللَّهِllaahiAllah
- تَبْدِيلًاtabdiilanperubahan
Inti bacaan
Kata (تَحْوِيلًا, tahwiilan) muncul tiga kali di Al-Qur'an (17:56, 17:77, 35:43), dan 33:62 tidak termasuk di antaranya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini bermula dari (سُنَّةَ اللَّهِ, sunnata llaahi) yang berarti "sunah Allah". Kata (سُنَّةَ, sunnata) berakar س-ن-ن, dan terjemahan menulisnya "sunah" menurut ejaan baku. Bentuk persis (سُنَّةَ اللَّهِ, sunnata llaahi) muncul tiga kali di dua surah, yaitu 33:38, 33:62, dan 48:23. Di 33:38 bentuk itu satu ayat dengan (أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا, amru llaahi qadaran maqduuran) yang berarti "ketetapan Allah adalah ketentuan yang telah ditentukan", jadi ayat itu memuat dua kata Arab yang berbeda, sunnah dan amr. Terjemahan memberi keduanya padanan yang berbeda, "sunah" dan "ketetapan", dan 33:62 mengikuti padanan itu karena kalimat pembukanya sama dengan 33:38.
Kata (خَلَوْا, khalaw) berakar خ-ل-و, dan (الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ, lladziina khalaw min qablu) diterjemahkan "orang-orang yang telah berlalu sebelumnya". Bentuk khalaw muncul tujuh kali di lima surah, yaitu 2:14, 2:214, 3:119, 10:102, 24:34, 33:38, dan 33:62. Di 2:14 bunyinya (وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ, wa-idzaa khalaw ilaa syayaathiinihim) yang berarti "apabila mereka menyendiri bersama setan-setan mereka", dan di 3:119 (وَإِذَا خَلَوْا, wa-idzaa khalaw) yang berarti "apabila mereka menyendiri". Dua ayat itu tidak memuat keterangan waktu sesudah khalaw, dan terjemahan memakai "menyendiri". Pada lima ayat lainnya khalaw diikuti (مِنْ قَبْلِكُمْ, min qablikum), (مِنْ قَبْلِهِمْ, min qablihim), atau (مِنْ قَبْلُ, min qablu), yang berarti "sebelum kalian", "sebelum mereka", atau "sebelumnya", yaitu di 2:214, 10:102, 24:34, 33:38, dan 33:62. Di kelima ayat itu terjemahan memakai "terdahulu" atau "telah berlalu". Susunan (فِي الَّذِينَ خَلَوْا, fii lladziina khalaw) yang berarti "pada orang-orang yang telah berlalu" hanya ada di dua ayat, 33:38 dan 33:62.
Bagian kedua dibuka (وَلَنْ تَجِدَ, wa-lan tajida) yang berarti "dan engkau tidak akan mendapati". Kata kerja (تَجِدَ, tajida) berakar و-ج-د dan menunjuk satu orang yang diajak bicara, sehingga terjemahan memakai "engkau", bukan "kalian". Susunan (وَلَنْ تَجِدَ, wa-lan tajida) muncul lima kali di lima surah, yaitu 4:145, 18:27, 33:62, 35:43, dan 48:23. Kata (تَبْدِيلًا, tabdiilan) yang berarti "perubahan" berakar ب-د-ل, dan bentuk persis itu muncul lima kali di empat surah, yaitu 33:23, 33:62, 35:43, 48:23, dan 76:28. Pada tiga di antaranya, yaitu 33:62, 35:43, dan 48:23, tabdiilan menjadi sesuatu yang tidak akan didapati. Pada dua lainnya kata itu menguatkan kata kerja: (وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا, wa-maa baddaluu tabdiilan) di 33:23 yang berarti "dan mereka tidak mengubahnya sedikit pun", dan (بَدَّلْنَا أَمْثَالَهُمْ تَبْدِيلًا, baddalnaa amtsaalahum tabdiilan) di 76:28 yang berarti "Kami mengganti mereka dengan yang serupa". Terjemahan 33:62 memakai "perubahan" karena di sini kata itu menjadi benda yang tidak akan didapati, bukan kata kerja yang dikuatkan.
Kata sunah muncul dua kali dalam ayat ini, di awal sebagai (سُنَّةَ, sunnata) dan di akhir sebagai (لِسُنَّةِ, li-sunnati) yang berarti "pada sunah". Kata (تَحْوِيلًا, tahwiilan) yang berarti "penyimpangan" muncul tiga kali di dua surah, yaitu 17:56, 17:77, dan 35:43. Dua di antaranya menyandingkannya dengan sunah: (لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلًا, li-sunnatinaa tahwiilan) di 17:77 yang berarti "penyimpangan pada sunah Kami", dan di 35:43 kata itu menyusul tabdiilan. Ayat 33:62 dan 48:23 tidak memuat tahwiilan, sehingga pernyataannya memakai satu kata saja, "perubahan". Ayat ini juga tidak merinci isi sunah itu dan apa yang dialami orang-orang yang telah berlalu; yang tertulis hanya bahwa sunah itu milik Allah dan berlaku pada mereka.
Tafsiran
Ayat ini memberi nama pada apa yang dikatakan 33:60 dan 33:61. Ayat 33:60 menyebut tiga golongan yang belum berhenti dan bahwa mereka tidak akan lama bertetangga dengan orang yang disapa. Ayat 33:61 menyebut mereka terlaknat, ditangkap, dan dibunuh sehabis-habisnya di mana pun dijumpai. Bagian pertama 33:62 tidak memuat perbuatan; isinya sunah Allah yang berlaku pada orang-orang terdahulu, sehingga sasaran terdekatnya adalah 33:61. Pembacaan itu bersandar pada letak ayat, sebab 33:62 sendiri tidak menunjuk ayat mana pun.
Kalimat pembuka yang sama ada di 33:38, di tempat yang lain. Ayat itu menyebut tidak adanya keberatan pada Nabi tentang apa yang telah diwajibkan Allah baginya, dan sesudahnya menyebut ketetapan Allah sebagai ketentuan yang telah ditentukan. Dua ayat dalam satu surah memakai sebutan yang sama untuk dua urusan yang berlainan, yaitu urusan yang ditetapkan bagi Nabi di 33:38 dan nasib golongan pengganggu di 33:60 sampai 33:61. Ayat 48:23 memakai sebutan itu sesudah 48:22, yang menyebut orang-orang kufur yang memerangi lalu berbalik ke belakang. Pada tiga ayat itu sunah Allah melekat pada tiga urusan, dan teks tidak menyatakan bahwa isi ketiganya sama.
Dalam ayat ini arah waktunya berbalik di tengah. Bagian pertama menoleh ke belakang lewat kata sebelumnya, dan bagian kedua menatap ke depan lewat kata tidak akan. Bagian kedua menyapa satu orang, seperti 33:60 yang memakai akhiran -ka dalam (لَنُغْرِيَنَّكَ, la-nughriyannaka) yang berarti "pasti Kami menggerakkanmu". Dapat dibaca bahwa penutup ini menutup kemungkinan mencari perubahan pada sunah itu. Ayat tidak menyebut siapa yang mungkin mencari perubahan itu, dan tidak menyebut apa yang akan diubah.
Surah ini memakai kata perubahan untuk dua pihak. Di 33:23 orang-orang beriman yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah disebut tidak mengubah sedikit pun, dan di 33:62 sunah Allah disebut tidak akan didapati berubah, jadi satu surah menyebut dua pelaku yang tidak berubah. Sesudah ayat ini, 33:63 membawa percakapan ke pertanyaan orang-orang tentang hari Kiamat.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 33:62 menyebut sasaran sunah itu dengan sebutan orang-orang yang telah berlalu sebelumnya, tanpa nama dan tanpa jumlah. Pembaca yang membaca kalimat itu berada di sisi lain garis waktunya, yaitu sebagai orang yang datang sesudah mereka. Pertanyaan di 10:102 hampir sama, apakah orang-orang menunggu sesuatu selain seperti hari-hari orang-orang yang telah berlalu sebelum mereka, dan ayat itu menjawabnya dengan perintah untuk menunggu bersama. Kedua ayat tidak mengatakan bahwa generasi yang kemudian mendapat jalan lain. Jika sunah Allah memang tidak berganti, pembaca dapat membandingkan urusannya sendiri dengan urusan mereka. Urusan mana dalam hidup pembaca yang dianggap sudah keluar dari barisan itu, hanya karena zamannya terasa baru?
- Sunah dalam ayat ini disebut dua kali, dan pada kedua tempat kata Allah menyertainya. Pola yang berulang dalam hidup dapat diberi pemilik lain oleh pembacanya, misalnya keadaan pasar, selera zaman, atau pendapat orang banyak. Ayat ini menaruh satu pemilik saja, yaitu Allah, di awal dan di akhir. Bila pola yang menentukan nasib orang-orang terdahulu memang milik Dia, maka mengamati pola itu berarti mengamati sesuatu yang tidak berubah menurut keadaan. Pembaca dapat bertanya kepada diri sendiri, kepada siapa kuasa atas pola yang berulang itu selama ini diserahkan, dan apakah penyerahan itu pernah dicocokkan dengan ayat ini?
- Kata mendapati menunjukkan hasil sebuah pencarian. Ayat ini tidak mengatakan bahwa orang yang disapa sudah mencari perubahan pada sunah Allah; ayat memberi tahu apa yang akan didapat bila pencarian itu dilakukan. Orang yang berharap aturan akan melunak setelah menunggu cukup lama, atau setelah pandai menemukan celah, menerima hasil pencariannya sebelum memulainya. Pengetahuan itu menghemat waktu yang akan dihabiskan pada pintu yang menurut ayat tidak akan terbuka. Pembaca dapat menimbang pencarian apa yang sedang dijalankannya, dan apakah perubahan yang dicari memang berada pada sunah Allah, bukan pada diri sendiri?
- Di 33:23 orang-orang beriman yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah disebut tidak mengubah sedikit pun, dan di 33:62 sunah Allah disebut tidak akan didapati berubah. Kedua pernyataan memakai kata yang sama dalam satu surah. Ayat 33:23 tidak menggolongkan pembaca ke pihak itu; pembaca dapat memakainya sebagai pembanding bagi janjinya sendiri. Janji apa yang pernah diucapkan pembaca kepada Allah, lalu isinya diubah tanpa diberitahukan kepada siapa pun?
- Ayat 33:60 membuka dengan syarat, yaitu jika golongan-golongan itu tidak berhenti, dan 33:62 menyebut sunah sesudahnya. Di 8:38 sunah orang-orang terdahulu juga disebut sesudah syarat berhenti: jika orang-orang kufur berhenti, apa yang telah berlalu diampuni bagi mereka, dan jika mereka kembali, sunah orang-orang terdahulu sudah berlaku. Dua ayat dari surah yang berbeda itu menaruh pintu berhenti sebelum sunah disebut. Ayat 8:38 tidak membicarakan golongan yang sama dengan 33:60, jadi keduanya tidak disamakan. Dari keduanya pembaca dapat membaca bahwa sunah yang tidak berubah masih menyisakan satu pilihan, yaitu berhenti. Kebiasaan buruk apa yang masih dijalankan pembaca, padahal pintu untuk berhenti belum ditutup?
- Ayat 33:62 tidak memuat satu contoh pun tentang apa yang dialami orang-orang yang telah berlalu. Di 3:137 ada kalimat yang mengisi kekosongan itu dengan cara lain: sungguh telah berlalu sebelum kalian sunah-sunah, maka berjalanlah di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan para pendusta. Ayat itu meminta pengamatan atas kesudahan para pendusta. Ketika pembaca memperhatikan kesudahan para pendusta seperti diminta ayat itu, apa yang dicarinya di sana, dan siapa pemilik sunah itu menurut 33:62, yaitu Allah?