وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا

Mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَاwa-qaaluu rabbanaa innaa atha'naa saadatanaa wa-kubaraa'anaamereka berkata, wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami
  2. فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَاfa-adhalluunaa s-sabiilaalalu mereka menyesatkan kami dari jalan

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. وَقَالُواwa-qaaluudan mereka berkata
  2. رَبَّنَاrabbanaaTuhan kami
  3. إِنَّاinnaasesungguhnya kami
  4. أَطَعْنَاatha'naakami menaati
  5. سَادَتَنَاsaadatanaapemimpin kami
  6. وَكُبَرَاءَنَاwa-kubaraa'anaadan pembesar-pembesar kami
  7. فَأَضَلُّونَاfa-adhalluunaamaka mereka menyesatkan kami
  8. السَّبِيلَاs-sabiilaajalan

Inti bacaan

Susunan (سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا, saadatanaa wa-kubaraa'anaa) muncul satu kali di Al-Qur'an (33:67).

Penjelasan pilihan kata

Pembuka ucapan di ayat ini adalah (وَقَالُوا رَبَّنَا, wa-qaaluu rabbanaa) yang berarti "dan mereka berkata, wahai Tuhan kami". Kata (رَبَّنَا, rabbanaa) berakar ر-ب-ب, dan terjemahan menaruh "wahai" di depan "Tuhan kami" sebagai seruan. Susunan (وَقَالُوا رَبَّنَا, wa-qaaluu rabbanaa) muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 4:77, 33:67, dan 38:16. Di 4:77 kelanjutannya (لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ, li-ma katabta 'alaynaa l-qitaala) yang berarti "mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami", dan di 38:16 (عَجِّلْ لَنَا قِطَّنَا, 'ajjil lanaa qiththanaa) yang berarti "segerakanlah untuk kami bagian kami". Pada ketiga ayat itu seruan Tuhan kami diikuti keberatan atau tuntutan, dan di 33:67 isinya keberatan terhadap pihak yang diikuti.

Kata (سَادَتَنَا, saadatanaa) berakar س-و-د dan diterjemahkan "para pemimpin kami", sedangkan (كُبَرَاءَنَا, kubaraa'anaa) berakar ك-ب-ر dan diterjemahkan "para pembesar kami". Masing-masing bentuk persis itu muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 33:67, dan susunan (سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا, saadatanaa wa-kubaraa'anaa) juga satu kali. Bentuk tunggal (سَيِّد, sayyid) muncul di dua ayat, yaitu 3:39 dan 12:25, sedangkan 33:67 memuat bentuk jamak yang berbeda, yaitu saadatanaa di atas. Di 3:39 bentuknya (سَيِّدًا, sayyidan) yang berarti "seorang panutan", dan di 12:25 (سَيِّدَهَا, sayyidahaa) yang berarti "suaminya". Padanan berbeda dipakai karena hubungannya berbeda, dan di 33:67 hubungannya adalah pihak yang ditaati, sehingga terjemahan memakai "pemimpin". Akar ك-ب-ر muncul lagi di ayat berikutnya, (لَعْنًا كَبِيرًا, la'nan kabiiran) yang berarti "laknat yang besar" di 33:68, dan terjemahan memakai "besar" pada kata itu serta "pembesar" pada kubaraa'anaa.

Kata kerja (فَأَضَلُّونَا, fa-adhalluunaa) berakar ض-ل-ل dan berarti "lalu mereka menyesatkan kami"; awalan (فَ, fa) yang berarti "lalu" menyambung "kami menaati" dengan "mereka menyesatkan". Bentuk (فَأَضَلُّونَا, fa-adhalluunaa) hanya muncul di 33:67, sedangkan (أَضَلُّونَا, adhalluunaa) tanpa awalan muncul dua kali, yaitu di 7:38 dan 33:67. Di 7:38 bunyinya (رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ أَضَلُّونَا, rabbanaa haa'ulaa'i adhalluunaa) yang berarti "Ya Tuhan kami, mereka ini telah menyesatkan kami". Bentuk lain dari kata kerja yang sama dipakai di 26:99, (وَمَا أَضَلَّنَا إِلَّا الْمُجْرِمُونَ, wa-maa adhallanaa illaa l-mujrimuuna) yang berarti "dan tidak ada yang menyesatkan kami kecuali para pendosa", dan di 41:29, (أَرِنَا اللَّذَيْنِ أَضَلَّانَا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ, arinaa lladzayni adhallaanaa mina l-jinni wa-l-insi) yang berarti "perlihatkanlah kepada kami keduanya yang menyesatkan kami dari jin dan manusia". Kata kerja yang berarti "tersesat sendiri" berbeda, yaitu (ضَلُّوا, dhalluu), dan di 25:17 keduanya berdampingan dalam satu pertanyaan kepada apa yang mereka sembah selain Allah, (أَأَنْتُمْ أَضْلَلْتُمْ عِبَادِي, a-antum adhlaltum 'ibaadii) yang berarti "apakah kalian yang menyesatkan hamba-hamba-Ku" dan (أَمْ هُمْ ضَلُّوا السَّبِيلَ, am hum dhalluu s-sabiila) yang berarti "ataukah mereka sendiri yang sesat dari jalan".

Kata (السَّبِيلَا, s-sabiilaa) berakar س-ب-ل dan diterjemahkan "jalan". Terjemahan menulis "menyesatkan kami dari jalan", sama dengan 25:17 yang menulis "sesat dari jalan", karena di kedua ayat kata sabiil menjadi tempat yang ditinggalkan oleh yang sesat. Alif di ujung kata ini sama dengan alif pada (الرَّسُولَا, ar-rasuulaa) di 33:66 dan tidak membawa kata baru.

Tafsiran

Ayat ini membuka ucapan kedua dan memuat dua bagian: pengakuan atas perbuatan sendiri, kami menaati para pemimpin dan pembesar kami, lalu tuduhan atas perbuatan pihak lain, mereka menyesatkan kami. Perbuatan pertama ditulis dengan kata kerja milik para penutur, dan perbuatan kedua dengan kata kerja milik pihak yang dituduh. Ayat ini tidak menyebut bahwa para pemimpin dan pembesar itu memaksa, dan tidak menyebut bahwa para penutur diberi pilihan lain. Ayat ini mencatat urutannya, yaitu menaati lalu disesatkan.

Pada empat ayat berikut ucapan para penutur menuduh pihak yang menyesatkan mereka, dan tiap ayat memberi nama yang berbeda kepada pihak itu. Di 7:38 pihak itu disebut dengan kata tunjuk, mereka ini. Di 26:99 namanya para pendosa, nama menurut perbuatan. Di 41:29 namanya jin dan manusia, nama menurut golongan. Di 33:67 namanya para pemimpin dan para pembesar, nama menurut kedudukan. Di 14:21, 34:31, dan 40:47 pihak yang ditanyai disebut (الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا, lladziina stakbaruu) yang berarti "orang-orang yang menyombongkan diri", dan nama itu berasal dari penutur kisah, bukan dari ucapan orang-orang yang lemah itu sendiri. Di 33:67 nama itu keluar dari mulut para penutur.

Larangan menaati juga ada di surah ini, di 33:1 dan 33:48, dengan kata kerja dari akar ط-و-ع yang sama dengan menaati di 33:67: (وَلَا تُطِعِ, wa-laa tuthi'i) yang berarti "dan janganlah engkau menaati", dengan objek orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Ayat 33:67 menaruh objek lain, para pemimpin dan para pembesar. Tidak ada ayat di surah ini yang menyatakan kedua daftar itu sama.

Ayat 33:36 memakai (ضَلَّ, dhalla) untuk orang yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, dan 33:67 memakai kata kerja dari akar yang sama dengan arah berbeda, yaitu menyesatkan orang lain. Dalam satu surah, satu ayat menyebut orang yang mendurhakai sebagai yang sesat, dan ayat lain memuat pengakuan bahwa orang menjadi sesat karena disesatkan. Ayat 33:68 melanjutkan ucapan yang sama dengan seruan Tuhan kami yang kedua.

Renungan dan Hikmah

  • Ucapan di 33:67 dibuka dengan pengakuan atas perbuatan sendiri, kami menaati, dan baru sesudahnya memuat tuduhan, mereka menyesatkan kami. Urutan itu terdengar wajar, tetapi urutan kebalikannya mudah dibayangkan, yaitu menyebut kesalahan pihak lain lebih dulu dan menyebut ketaatan sendiri sambil lalu. Seruan kepada Tuhan kami berdiri di depan keduanya, jadi pengakuan dan tuduhan diucapkan di hadapan yang mendengar semuanya. Pembaca yang menjelaskan sebuah kekeliruan kepada orang lain atau kepada Tuhan dapat memeriksa bagian mana dari kalimatnya yang diucapkan lebih dulu. Dalam penjelasan pembaca tentang jalan yang salah, perbuatannya sendiri disebut di awal atau di akhir?
  • Orang-orang di 33:67 menyebut pihak yang mereka tuduh dengan nama kedudukan, para pemimpin dan para pembesar, sedangkan 26:99 memakai nama perbuatan, para pendosa, dan 41:29 memakai nama golongan, jin dan manusia. Ketiga nama itu menjawab pertanyaan yang berbeda: siapa mereka di mata penutur, apa yang mereka lakukan, dan dari kelompok mana mereka. Pembaca yang menyebut seseorang dengan jabatannya saja dapat memperhatikan bahwa ayat 33:67 memilih nama yang menunjuk pangkat, bukan perbuatan yang membuat mereka menyesatkan. Nama apa yang dipakai pembaca untuk pihak yang diikutinya, pangkatnya atau perbuatannya?
  • Di 25:17 Dia bertanya, apakah kalian yang menyesatkan hamba-hamba-Ku ini ataukah mereka sendiri yang sesat dari jalan. Pertanyaan itu menaruh dua kemungkinan berdampingan, dan 33:67 hanya memuat salah satunya, yaitu mereka menyesatkan kami. Pertanyaan 25:17 ditujukan kepada apa yang mereka sembah selain Allah, bukan kepada para pemimpin di 33:67, sehingga pihak yang ditanyai berbeda, tetapi dua kemungkinan yang ditaruhnya sama. Pembaca yang membaca keduanya melihat bahwa ucapan para penutur di 33:67 memuat satu sisi dari dua sisi yang pernah ditanyakan. Ayat 33:67 tidak memuat sisi kedua, dan tidak menyebut apakah para penutur menyetujuinya. Ketika pembaca menjelaskan sebuah kekeliruan, apakah kalimatnya seperti 33:67 saja, atau juga seperti pertanyaan 25:17 yang memeriksa kedua kemungkinan itu?
  • Ucapan di 33:67 hanya memuat satu pihak, dan jawaban pihak yang dituduh tidak ada di ayat itu. Di 34:31 orang-orang zalim dihentikan di hadapan Tuhan mereka dan saling melempar perkataan, lalu di 34:32 pihak yang disebut menyombongkan diri menjawab dengan pertanyaan, apakah kami yang menghalangi kalian dari petunjuk. Situasi itu berbeda dari 33:67, tetapi bentuknya serupa: tuduhan dari satu pihak dan jawaban yang tersimpan di ayat lain. Pembaca yang berhenti di 33:67 tidak mendengar jawaban semacam itu. Dalam pertengkaran yang sampai ke telinga pembaca, siapa yang suaranya terdengar dan siapa yang jawabannya tidak tercatat?
  • Di 4:77, 33:67, dan 38:16 seruan Tuhan kami diikuti pengaduan atau tuntutan: mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami, para pemimpin kami menyesatkan kami, dan segerakanlah bagian kami. Dalam tiga ayat itu seruan yang sama dipakai untuk isi yang tidak sama dengan permohonan ampun. Pembaca dapat memperhatikan bahwa kata Tuhan kami bisa menjadi pembuka bagi berbagai macam ucapan, termasuk ucapan yang menyalahkan. Dengan kalimat apa pembaca memulai ucapannya kepada Tuhan, dan apakah isinya lebih mirip pengaduan seperti tiga ayat itu atau permintaan?
  • Pengandaian di 33:66 tentang menaati Allah dan Rasul punya padanan di 25:27 sampai 25:29. Di sana orang zalim berkata aduhai sekiranya aku mengambil jalan bersama Rasul, lalu aduhai sekiranya aku tidak menjadikan si fulan teman akrab, lalu menyatakan bahwa si fulan itu telah menyesatkannya dari peringatan. Penyesalan dan tuduhan muncul berdampingan, dan kata jalan serta kata menyesatkan juga ada di 33:67. Bedanya, di 25:27 yang berbicara satu orang dengan kata aku, sedangkan di 33:66 sampai 33:67 yang berbicara banyak orang dengan kata kami. Dengan kata siapa pembaca memikirkan jalan yang salah, aku atau kami, dan jalan bersama siapa yang diandaikannya?