رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا
Wahai Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًاrabbanaa aatihim dhi'fayni mina l-'adzaabi wa-l'anhum la'nan kabiiranwahai Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat, dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar
Terjemahan per kata (8 kata)
- رَبَّنَاrabbanaaTuhan kami
- آتِهِمْaatihimberikanlah kepada mereka
- ضِعْفَيْنِdhi'faynidua kali lipat
- مِنَminadari
- الْعَذَابِl-'adzaabiazab
- وَالْعَنْهُمْwa-l'anhumdan laknatlah mereka
- لَعْنًاla'nanlaknat
- كَبِيرًاkabiiranyang besar
Inti bacaan
Rangkaian (لَعْنًا كَبِيرًا, la'nan kabiiran) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 33:68.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini melanjutkan ucapan yang dibuka di 33:67, dan seruan (رَبَّنَا, rabbanaa) yang berarti "wahai Tuhan kami" dipakai lagi di sini setelah muncul di awal ayat sebelumnya, (رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا, rabbanaa innaa atha'naa saadatanaa wa-kubaraa'anaa) yang berarti "wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami". Di 33:67 seruan itu mengantar laporan, dan di 33:68 mengantar permohonan. Pembicara memakai akhiran -naa untuk dirinya sendiri, sedangkan akhiran -him pada kata kerja berikutnya menunjuk pihak lain, yaitu para pemimpin dan pembesar yang disebut di 33:67.
Kata kerja (آتِهِمْ, aatihim) yang berarti "timpakanlah kepada mereka" tersusun dari bentuk perintah aati, berakar ا-ت-ي, dan akhiran -him yang berarti "mereka". Bentuk persis aatihim muncul dua kali, yaitu di 7:38 dan 33:68. Di 7:38 bunyinya (فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ, fa-aatihim 'adzaaban dhi'fan mina n-naari) yang berarti "maka datangkanlah kepada mereka azab berlipat ganda dari api". Kata kerja, akhiran, dan benda yang diminta sama di kedua ayat, dan kedua terjemahannya menjaga arah gerak yang sama, yaitu azab yang menuju mereka. Terjemahan 33:68 memilih "timpakanlah" dan 7:38 memilih "datangkanlah"; perbedaannya ada pada kata Indonesia, sedangkan padanan kata per kata di 33:68 adalah "berikanlah kepada mereka".
Kata (ضِعْفَيْنِ, dhi'fayni) yang berarti "dua kali lipat" tersusun dari dhi'f, "lipatan", dan akhiran -ayni yang menandai dua. Bentuk persis dhi'fayni muncul tiga kali di dua surah, yaitu di 2:265, 33:30, dan 33:68. Di 2:265, (فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ, fa-aatat ukulahaa dhi'fayni) yang berarti "lalu kebun itu menghasilkan buah-buahannya dua kali lipat", kata itu menyebut hasil sebuah kebun di dataran tinggi yang disiram hujan lebat, dan kata kerjanya, (فَآتَتْ, fa-aatat), berakar ا-ت-ي seperti aatihim. Di 33:30, (يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ, yudhaa'af lahaa l-'adzaabu dhi'fayni) yang berarti "azabnya dilipatgandakan dua kali", kata itu menyebut azab bagi pelaku kekejian yang nyata. Satu kata yang sama dengan begitu menyebut hasil panen di satu ayat dan azab di dua ayat lain, sehingga isi lipatan itu ditentukan oleh benda yang disebut bersamanya. Bentuk tunggalnya, (ضِعْفًا, dhi'fan), muncul dalam rangkaian (عَذَابًا ضِعْفًا, 'adzaaban dhi'fan) yang berarti "azab berlipat ganda" di 7:38 dan 38:61, dua ayat yang sama-sama memuat permohonan dari dalam api. Di 38:61 bunyinya (فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ, fa-zid-hu 'adzaaban dhi'fan fii n-naari) yang berarti "tambahkanlah kepadanya azab yang berlipat ganda di dalam api". Terjemahan 33:68 memakai "dua kali lipat" karena akhiran -ayni menandai dua. Ayat ini tidak merinci apa yang membentuk dua lipatan itu dan tidak menyebut alasan angka dua.
Kata (مِنَ الْعَذَابِ, mina l-'adzaabi) yang berarti "dari azab" tersusun dari mina, "dari", dan (الْعَذَابِ, l-'adzaabi) yang memakai kata sandang al-, sehingga azab yang dimaksud sudah dikenal pembaca. Di surah ini akar ع-ذ-ب muncul di 33:8, 33:24, 33:30, 33:57, 33:68, dan 33:73. Di 7:38 kata mina menunjuk api sebagai asal lipatan, dan di 33:68 azab menjadi asal lipatan itu. Terjemahan menulis "azab dua kali lipat" dan tidak memberi padanan terpisah bagi mina, yang padanan kata per katanya "dari".
Kata (وَالْعَنْهُمْ, wa-l'anhum) yang berarti "dan laknatlah mereka" tersusun dari wa, "dan", bentuk perintah dari akar ل-ع-ن, dan akhiran -hum yang berarti "mereka". Bentuk persis wa-l'anhum hanya muncul di 33:68. Di surah yang sama akar ini dipakai dengan Allah sebagai pelaku, yaitu (لَعَنَهُمُ اللَّهُ, la'anahumu llaahu) yang berarti "Allah melaknat mereka" di 33:57, dan (لَعَنَ الْكَافِرِينَ, la'ana l-kaafiriina) yang berarti "melaknat orang-orang kafir" di 33:64. Di 33:68 kata kerja itu berbentuk permintaan dari mulut pembicara. Kata (لَعْنًا, la'nan) yang berarti "laknat" hanya muncul di 33:68, sedangkan kata bendanya di tempat lain berbentuk (لَعْنَةُ, la'natu), misalnya (لَعْنَةُ اللَّهِ, la'natu llaahi) yang berarti "laknat Allah" di 2:89, 2:161, 7:44, dan 11:18.
Kata (كَبِيرًا, kabiiran) yang berarti "yang besar" berakar ك-ب-ر, akar yang sama dengan (كُبَرَاءَنَا, kubaraa'anaa) yang berarti "para pembesar kami" di 33:67. Dalam dua ayat berurutan akar itu muncul dua kali, sekali untuk pihak yang ditaati dan sekali untuk ukuran laknat yang diminta. Rangkaian (لَعْنًا كَبِيرًا, la'nan kabiiran) hanya muncul di 33:68. Kata sifat yang sama dipakai di 33:47 untuk sesuatu yang diberikan Allah kepada orang mukmin, yaitu (فَضْلًا كَبِيرًا, fadhlan kabiiran) yang berarti "karunia yang besar". Karena itu "besar" dalam terjemahan ini mengikuti kata Arabnya dan tidak membawa nilai baik atau buruk sendiri; arahnya ditentukan oleh benda yang disifatinya.
Tanda kutip yang ditutup di ujung terjemahan menandai selesainya ucapan yang dibuka di 33:67. Ayat ini sendiri tidak memuat kata "mereka berkata"; kelanjutan itu dibaca dari (وَقَالُوا, wa-qaaluu) di awal 33:67.
Tafsiran
Ayat ini memuat permohonan dalam ucapan yang bermula di 33:66. Ucapan itu tersusun dari tiga bentuk bicara dalam tiga ayat: harapan di 33:66, (يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا, yaa laytanaa atha'naa llaaha wa-atha'naa r-rasuulaa) yang berarti "aduhai, sekiranya dahulu kami menaati Allah dan menaati Rasul", laporan di 33:67, dan permohonan di 33:68. Perintah kepada Tuhan baru muncul pada ayat ketiga, dan isinya menyangkut orang lain.
Permohonan ini tidak memuat kata untuk diri pembicara. Di 23:107 penghuni api berkata, "Tuhan kami, keluarkanlah kami darinya", dan di 35:37 mereka berteriak meminta dikeluarkan. Di 33:68 pembicara meminta azab dan laknat bagi pihak yang disebut di 33:67. Ayat-ayat itu menggambarkan kelompok yang tidak tentu sama, sehingga perbandingan ini memperlihatkan isi tiap ayat saja.
Permohonan agar azab dilipatkan juga ada di 7:38 dan 38:61. Di 7:38 permohonan itu dijawab, (لِكُلٍّ ضِعْفٌ, li-kullin dhi'fun) yang berarti "bagi masing-masing ada lipatan". Di 38:61 ayat sesudahnya, 38:62, memuat ucapan mereka yang lain tanpa jawaban atas permohonan itu. Ayat sesudah 33:68 adalah 33:69, yang berganti kepada seruan bagi orang-orang beriman dan tidak memuat jawaban pula. Dari tiga tempat itu jawabannya tercatat di 7:38 saja, dan teks tidak menyebut apakah jawaban di 7:38 berlaku di 33:68.
Kata kerja laknat di 33:68 berbeda kedudukannya dari dua ayat sebelumnya. Di 33:64 Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan api bagi mereka, dan di 33:65 mereka kekal di dalamnya tanpa pelindung dan penolong. Pada 33:68 kata kerja yang sama keluar dari makhluk dan dialamatkan kepada Tuhan. Ayat-ayat itu menyebut pihak yang berlainan, yaitu orang-orang kafir di 33:64 dan para pemimpin serta pembesar di 33:67, dan tidak menyatakan keduanya sama.
Ucapan di 33:66 sampai 33:68 berhenti di sini, lalu 33:69 sampai 33:71 berbicara kepada orang-orang beriman tentang perkataan dan ketaatan. Kata kerja ketaatan muncul di 33:66 dan 33:67 dalam kalimat penyesalan, yaitu atha'naa, dan muncul lagi di 33:71 dalam janji bagi orang yang menaati, yaitu yuthi'i. Dapat dibaca bahwa permohonan di 33:68 terletak di antara dua kemunculan itu. Pembacaan ini bergantung pada letak ayat-ayat tersebut dan tidak dinyatakan oleh 33:68 sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Permohonan di 33:68 dialamatkan kepada Tuhan, dan seluruh isinya menyangkut pihak lain, yaitu azab dua kali lipat dan laknat yang besar bagi para pemimpin dan pembesar. Tidak ada kata untuk diri sendiri di ayat ini, tidak ada permintaan ampun dan tidak ada permintaan keluar. Di 23:107 penghuni api memohon kepada Tuhan agar mereka dikeluarkan, dan ayat itu membicarakan kelompok yang tidak tentu sama dengan pembicara di 33:68, sehingga keduanya hanya diletakkan berdampingan untuk melihat isi permohonan masing-masing. Pembaca dapat memperhatikan isi pengaduan yang disampaikannya kepada Tuhan: berapa bagian yang menyebut dirinya dan berapa bagian yang menyebut orang lain? Apakah bunyi pengaduan itu berubah bila Rabb yang dialamati dibayangkan menyimak seluruhnya?
- Di 7:38 permohonan agar azab dilipatkan dijawab, "Bagi masing-masing ada lipatan, tetapi kalian tidak mengetahui." Jawaban itu memakai kata masing-masing dan tidak menunjuk satu pihak saja. Ayat 33:68 tidak memuat jawaban apa pun, karena 33:69 sudah beralih kepada orang-orang beriman. Dua ayat itu menuturkan rombongan yang berlainan, jadi jawaban di 7:38 tidak dipindahkan ke 33:68. Dapat dibaca bahwa permintaan atas azab orang lain, bila dijawab Allah, dijawab dengan sesuatu yang berlaku bagi kedua pihak yang bercakap. Orang yang pernah menimbang kesalahan pihak lain dapat bertanya, bila jawaban itu dibacakan untuk masing-masing, bagian mana yang akan terdengar sebagai bagiannya sendiri?
- Para pemimpin disebut kubaraa', "para pembesar", di 33:67, dan laknat yang diminta bagi mereka disebut kabiir, "besar", di 33:68, dari satu akar. Pembicara dapat dibaca memakai kata yang sama untuk dua hal yang berbeda: kedudukan orang yang dahulu ditaatinya dan ukuran laknat yang kini dimintanya, meskipun teks tidak menyatakan hubungan itu. Di 33:47 kata sifat yang sama dipakai untuk karunia dari Allah kepada orang mukmin, sehingga "besar" tidak membawa nilai baik atau buruk sendiri. Pembaca dapat bertanya ukuran apa yang dipakainya untuk menentukan siapa yang dianggap besar di sekitarnya, dan apakah ukuran itu akan sama bila penilaian itu diulang di hadapan Tuhan?
- Kata dua kali lipat di 33:68 dipakai juga di 2:265 untuk buah kebun yang disiram hujan lebat, dan di 33:30 untuk azab pelaku kekejian. Angka dua tidak membawa isi sendiri; isinya ditentukan oleh benda yang dilipatkan, buah di satu ayat dan azab di dua ayat lain. Ayat 2:265 menyebut kebun itu sebagai perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya untuk mencari rida Allah, dan ditutup dengan pernyataan bahwa Allah melihat apa yang kalian kerjakan. Ketiga ayat itu berbicara tentang perkara yang berlainan dan tidak disamakan. Pelipatan bekerja pada apa yang sudah ada. Apa yang sudah ada pada diri pembaca yang bila dilipatkan dua kali akan terasa sebagai buah, dan apa yang bila dilipatkan akan terasa sebagai azab?
- Di 33:57 dan 33:64 kata laknat adalah kabar tentang apa yang dilakukan Allah, dan di 33:68 kata itu menjadi permintaan yang keluar dari mulut makhluk kepada Tuhannya; permintaan itu dicatat tanpa keterangan dikabulkan atau tidak. Ayat 33:64 menyebut orang-orang kafir dan 33:67 menyebut para pemimpin serta pembesar, dan tidak menyatakan keduanya satu golongan. Kata laknat terdengar berbeda di kedua tempat itu: dari mulut Allah ia berupa kabar, dari mulut orang yang sedang menyalahkan ia berupa permintaan. Pembaca yang pernah memakai kata keras terhadap pihak lain dapat bertanya, bagaimana kata itu terdengar bila Allah dibayangkan menyimaknya dan bukan orang di sekelilingnya?
- Ucapan di 33:66 sampai 33:68 berjalan dari harapan, ke laporan, ke permohonan, dan sesudah itu suara mereka tidak lagi dikutip. Ayat berikutnya berganti kepada orang-orang beriman, dan Allah yang berbicara. Harapan di 33:66 menyebut ketaatan kepada Allah dan Rasul, laporan di 33:67 menyebut ketaatan kepada pihak lain, dan permohonan di 33:68 tidak menyebut ketaatan sama sekali. Urutan itu dapat dibaca sebagai ucapan yang bergerak dari menyesali diri menuju menunjuk orang lain, meskipun teks tidak memberi nama pada gerak itu. Apa yang akan tinggal dalam ucapan pembaca sendiri bila bagian terakhirnya adalah permohonan tentang orang lain, tanpa jawaban yang dicatat sesudahnya?