يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang tepat,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًاyaa ayyuhaa lladziina aamanuu ttaquu llaaha wa-quuluu qawlan sadiidanwahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang tepat

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. يَاyaawahai
  2. أَيُّهَاayyuhaasekalian
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. آمَنُواaamanuuberiman
  5. اتَّقُواttaquubertakwalah kalian
  6. اللَّهَllaahaAllah
  7. وَقُولُواwa-quuluudan katakanlah kalian
  8. قَوْلًاqawlanperkataan
  9. سَدِيدًاsadiidanyang benar

Inti bacaan

Rangkaian (وَقُولُوا قَوْلًا, wa-quuluu qawlan) muncul satu kali di Al-Qur'an, di 33:70.

Penjelasan pilihan kata

Kata (اتَّقُوا, ttaquu) yang berarti "bertakwalah kalian" adalah perintah untuk banyak orang dari akar و-ق-ي, dan objeknya, (اللَّهَ, llaaha) yang berarti "Allah", mengikutinya langsung. Akar و-ق-ي muncul di lima ayat surah ini, yaitu 33:1, 33:32, 33:37, 33:55, dan 33:70. Perintah kepada satu orang berbunyi (اتَّقِ اللَّهَ, ttaqi llaaha) yang berarti "bertakwalah kepada Allah" di 33:1, ditujukan kepada Nabi, dan (وَاتَّقِ اللَّهَ, wa-ttaqi llaaha) di 33:37, dalam kutipan ucapan kepada pihak yang disebut di ayat itu. Di 33:70 bentuk jamaknya dipakai untuk orang-orang beriman yang disapa di awal ayat. Terjemahan memakai "bertakwalah kepada Allah" di ketiga ayat itu.

Kata (وَقُولُوا, wa-quuluu) yang berarti "dan ucapkanlah" adalah perintah dari akar ق-و-ل, dan huruf wa menyambungnya dengan perintah bertakwa dalam satu kalimat. Bentuk persis wa-quuluu muncul delapan kali di lima surah, yaitu 2:58, 2:83, 2:104, 4:5, 4:8, 7:161, 29:46, dan 33:70. Di 4:5 dan 4:8 kata itu disusul (لَهُمْ, lahum) yang berarti "kepada mereka", sehingga penerima ucapannya disebut, sedangkan di 33:70 rangkaian (وَقُولُوا قَوْلًا, wa-quuluu qawlan) tidak memuat penerima dan hanya muncul di ayat ini. Akar ق-و-ل juga ada di ayat-ayat sebelumnya dalam bentuk yang berbeda: (يَقُولُونَ, yaquuluuna) yang berarti "mereka berkata" di 33:66, (وَقَالُوا, wa-qaaluu) yang berarti "dan mereka berkata" di 33:67, dan (قَالُوا, qaaluu) di 33:69, sehingga 33:70 membawa akar itu dalam bentuk perintah setelah tiga bentuk berita.

Kata (قَوْلًا, qawlan) yang berarti "perkataan" dipakai dengan kata sifat yang berganti. Rangkaian (قَوْلًا مَعْرُوفًا, qawlan ma'ruufan) yang berarti "perkataan yang patut" muncul empat kali di tiga surah, yaitu 2:235, 4:5, 4:8, dan 33:32, dan di tiga ayat pertama terjemahan memakai kata "patut". Rangkaian (قَوْلًا سَدِيدًا, qawlan sadiidan) muncul dua kali di dua surah, yaitu 4:9 dan 33:70. Daftar keduanya tidak berpotongan, jadi tidak ada ayat yang memuat kedua kata sifat itu bersama-sama. Terjemahan memakai "tepat" untuk sadiidan di 4:9 dan 33:70, dan "patut" untuk ma'ruufan di 2:235, 4:5, dan 4:8, sehingga dua kata sifat itu tetap terbedakan dalam bahasa Indonesia.

Kata (سَدِيدًا, sadiidan) berakar س-د-د. Bentuk sadiid hanya muncul pada dua ayat itu, dan di keduanya kata sifat itu berdiri tanpa keterangan tentang apa yang menjadi ukuran ketepatannya. Akar yang sama dipakai untuk kata lain, (سَدًّا, saddan) yang berarti "penghalang" di 36:9 dan "tembok pembatas" di 18:94, dan kedua kata itu tidak memuat sifat perkataan. Di 4:9 bunyinya (فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا, fa-l-yattaquu llaaha wa-l-yaquuluu qawlan sadiidan) yang berarti "maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berkata dengan perkataan yang tepat". Urutan perintah takwa lalu perkataan yang tepat itu sama dengan 33:70, (اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا, ttaquu llaaha wa-quuluu qawlan sadiidan), dan urutan itu hanya ditemukan di dua ayat tersebut, 4:9 dan 33:70. Konteks 4:9 menyebut orang yang khawatir meninggalkan (ذُرِّيَّةً ضِعَافًا, dzurriyyatan dhi'aafan) yang berarti "keturunan yang lemah", dan konteks 33:70 menyusul larangan menyakiti di 33:69, sehingga dua ayat itu menaruh pasangan perintah yang sama pada keadaan yang berlainan.

Koma di ujung terjemahan menandai bahwa kalimat berlanjut ke 33:71, yang dibuka dengan (يُصْلِحْ, yushlih) yang berarti "niscaya Dia memperbaiki".

Tafsiran

Ayat ini memuat dua perintah yang dihubungkan satu huruf wa, dan keduanya dialamatkan kepada pihak yang sama dengan larangan di 33:69, yaitu orang-orang beriman. Larangan di ayat itu menyebut apa yang dilakukan orang-orang pada Musa, dan di 33:70 dua perintah menggantikannya dengan bentuk yang diminta: bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang tepat. Susunan dua ayat berurutan ini, larangan lalu perintah, dapat dibaca sebagai satu pelajaran dalam dua langkah, meskipun masing-masing ayat memiliki seruannya sendiri.

Takwa disebut lebih dulu dan perkataan menyusul. Urutan itu sama di 4:9, jadi kedua ayat menaruh perkataan sesudah takwa dan tidak sebelumnya. Ayat 33:70 tidak menyebut hubungan antara dua perintah itu, misalnya bahwa takwa menghasilkan perkataan yang tepat atau sebaliknya; keduanya hanya berdampingan. Ayat 33:71 yang menyusul memuat janji bagi orang yang menaati.

Letak ayat ini menaruh perintah berbicara di antara dua hal yang sudah dituturkan. Sebelumnya ada ucapan para penghuni api di 33:66 sampai 33:68 dan perkataan orang-orang tentang Musa yang dibersihkan Allah di 33:69, dan sesudahnya ada janji di 33:71 bagi orang yang menaati. Dapat dibaca bahwa perintah di 33:70 menjadi titik balik dari perkataan yang sudah terlanjur diucapkan ke perkataan yang masih bisa dipilih, meskipun ayat-ayat itu tidak menyusun perbandingan tersebut sendiri.

Perintah ini memuat takwa kepada Allah dengan objek yang disebut, tetapi perkataannya tanpa penerima, berbeda dari 4:5 dan 4:8 yang memuat lahum. Ayat 33:69 juga tidak menyebut kepada siapa ucapan tentang Musa itu dialamatkan.

Renungan dan Hikmah

  • Takwa kepada Allah dan perkataan yang tepat dirangkai dalam satu kalimat di 33:70, dan di 4:9 dirangkai dengan urutan yang sama untuk keadaan yang berlainan. Ayat tidak menyebut bahwa satu menghasilkan yang lain, hanya menaruhnya berdampingan. Dapat dibaca bahwa perkataan ditempatkan di samping sikap kepada Allah dan tidak di tempat yang terpisah dari hidup beragama. Pembaca dapat memperhatikan bagian hari yang paling banyak diisi kata-kata, di rumah, di tempat kerja, atau di layar, dan bertanya apakah bagian itu terasa terhubung dengan sikapnya kepada Allah atau terasa seperti urusan tersendiri. Apa yang berubah pada bagian itu bila takwa dan perkataan diperlakukan sebagai satu kalimat?
  • Ayat sebelumnya menyebut perkataan orang lain tentang Musa, dan ayat ini mengubah akar yang sama menjadi perintah bagi orang beriman. Larangan menyakiti diikuti bentuk perkataan yang diminta, jadi ayat 33:69 dan 33:70 tidak berhenti pada apa yang tidak boleh dilakukan. Dua ayat itu memiliki seruannya sendiri-sendiri dan tidak menyebut satu sama lain. Pembaca dapat membayangkan satu kalimat yang pernah diucapkannya tentang orang lain dan memeriksa dua hal: apakah kalimat itu masuk ke daftar yang dilarang atau ke bentuk yang diminta. Kalimat apa yang lebih mudah diucapkan, dan kalimat apa yang tertahan, bila Allah disebut lebih dulu dalam kalimat yang sama?
  • Di 33:66 sampai 33:70 akar perkataan hadir dalam empat keadaan: harapan yang terlambat di 33:66, laporan di 33:67, perkataan orang tentang Musa di 33:69, dan perintah di 33:70. Tiga keadaan pertama menyangkut apa yang sudah terjadi, dan keadaan keempat menyangkut apa yang belum diucapkan. Ayat 33:68 tidak memuat akar itu, dan isinya permohonan. Pembaca dapat menyusun daftar perkataan yang paling sering keluar dari mulutnya sendiri, apakah penyesalan, pembelaan, tuduhan, atau sesuatu yang lain, lalu bertanya di bagian mana daftar itu bertemu dengan perkataan yang tepat. Siapakah yang dibayangkannya mendengar daftar itu dibacakan: orang yang dibicarakan, atau Tuhan yang disebut dalam ayat ini?
  • Perintah di 33:70 tidak menyebut kepada siapa perkataan itu diucapkan. Di 4:5 dan 4:8 perintah yang bentuknya sama menyebut penerimanya, yaitu mereka yang diberi rezeki, dan di 33:70 tempat penerima itu kosong. Ayat 33:69 juga tidak menyebut kepada siapa orang-orang mengucapkan apa yang mereka katakan tentang Musa. Pembaca dapat membaca kekosongan itu sebagai ruang yang meliputi perkataan di hadapan orang, di belakang orang, dan di dalam dirinya sendiri, meskipun ayat tidak menyatakan batas itu. Bila perintah bertakwa kepada Allah ada di kalimat yang sama, perkataan mana yang biasa dianggapnya tidak didengar siapa pun, dan apakah anggapan itu masih bisa dipertahankan?
  • Dua kata sifat untuk perkataan yang diperintahkan muncul berulang: patut, ma'ruuf, di empat ayat termasuk 33:32, dan tepat, sadiid, di 4:9 dan 33:70. Tidak ada ayat yang memuat keduanya bersama-sama. Dapat dibaca bahwa sebuah perkataan dapat dinilai dari dua sisi yang tidak identik, yaitu kepatutannya dan ketepatannya, meskipun ayat-ayat itu tidak menjelaskan perbedaan keduanya. Perkataan yang tepat di 33:70 datang setelah larangan menyakiti, sedangkan perkataan yang patut di 4:5 dan 4:8 ditujukan kepada orang yang menerima rezeki. Pembaca dapat bertanya, dalam kebiasaannya berbicara, apakah lebih sering menimbang kepatutan atau ketepatan? Perkataan apa yang pernah patut tetapi meleset, dan perkataan apa yang tepat tetapi terasa tidak patut?
  • Di 33:1 perintah bertakwa kepada Allah berbentuk tunggal dan ditujukan kepada Nabi, di 33:37 bentuk tunggal itu berada dalam kutipan ucapan kepada pihak lain, dan di 33:70 bentuk jamaknya ditujukan kepada orang-orang beriman. Perintah yang di awal surah dialamatkan kepada satu orang kini dialamatkan kepada banyak orang, dan Allah tetap menjadi objeknya. Tiga ayat itu menyapa pihak yang berbeda di bagian surah yang berbeda, sehingga tidak dapat dibaca sebagai pengulangan satu perintah kepada satu orang. Pembaca dapat memperhatikan bahwa kata kalian pada ayat ini mencakup dirinya, dan bertanya apa yang berubah ketika perintah itu didengar sebagai bagian dari sebuah jamaah dan bukan sebagai pesan pribadi? Apakah perintah yang diterima bersama terasa lebih ringan atau lebih berat daripada yang diterima sendirian?