بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

Segala puji bagi Allah, yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan bagi-Nya segala puji di akhirat. Dan Dia Sang Penuh Hikmah lagi Sang Teliti.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِal-hamdu li-llaahi lladzii lahu maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhisegala puji bagi Allah, yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi
  2. وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِwa-lahu l-hamdu fii l-aakhiratidan bagi-Nya segala puji di akhirat
  3. وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُwa-huwa l-hakiimu l-khabiirudan Dia Sang Penuh Hikmah lagi Sang Teliti

Terjemahan per kata (17 kata)

  1. الْحَمْدُal-hamdusegala puji
  2. لِلَّهِli-llaahibagi Allah
  3. الَّذِيlladziiyang
  4. لَهُlahubaginya
  5. مَاmaaapa yang
  6. فِيfiidi
  7. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  8. وَمَاwa-maadan apa yang
  9. فِيfiidi
  10. الْأَرْضِl-ardhibumi
  11. وَلَهُwa-lahudan bagi-Nya
  12. الْحَمْدُl-hamdusegala puji
  13. فِيfiidi
  14. الْآخِرَةِl-aakhiratiakhirat
  15. وَهُوَwa-huwadan Dialah
  16. الْحَكِيمُl-hakiimuSang Penuh Hikmah
  17. الْخَبِيرُl-khabiiruYang Maha Teliti

Inti bacaan

Rangkaian (الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ, al-hamdu fii l-aakhirati) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 34:1, sedangkan 28:70 memuat (فِي الْأُولَىٰ وَالْآخِرَةِ, fii l-uulaa wa-l-aakhirati) dengan dua tempat sekaligus.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (الْحَمْدُ لِلَّهِ, al-hamdu li-llaahi) yang berarti "segala puji bagi Allah". Kata (الْحَمْدُ, al-hamdu) berakar ح-م-د, dan terjemahan menulisnya "segala puji" di semua ayat yang dibuka dengan rangkaian ini. Ayat semacam itu ada enam, yaitu 1:2, 6:1, 14:39, 18:1, 34:1, dan 35:1. Huruf (لِ, li-) pada (لِلَّهِ, li-llaahi) berarti "bagi", sehingga puji diletakkan pada Allah sebagai pihak yang menerimanya.

Kata (لَهُ, lahu) pada (الَّذِي لَهُ, lladzii lahu) tersusun dari (لِ, li-) yang berarti "bagi" dan (هُ, -hu) yang berarti "-nya". Huruf li- yang sama dipakai untuk puji di awal ayat dan untuk kepemilikan di anak kalimat ini, dan terjemahan "yang memiliki" mengikuti arah li-, yaitu sesuatu yang menjadi bagian pihak tertentu. Di 64:1, (لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ, lahu l-mulku wa-lahu l-hamdu) yang berarti "milik-Nyalah segala kerajaan dan segala pujian" memakai li- yang sama untuk kerajaan dan puji dalam satu kalimat. Rangkaian (الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ, lladzii lahu maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhi) muncul tiga kali, yaitu di 14:2, 34:1, dan 42:53, dan hanya di 34:1 rangkaian itu langsung mengikuti (الْحَمْدُ لِلَّهِ, al-hamdu li-llaahi) dalam satu ayat.

Kata (مَا, maa) hadir dua kali dalam (مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ, maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhi) yang berarti "apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi". Dengan dua maa, langit dan bumi masing-masing disebut lewat isinya, sehingga yang dimiliki adalah apa yang ada di dalam keduanya. Kata (السَّمَاوَاتِ, s-samaawaati) berakar س-م-و dan berbentuk jamak, sedangkan (الْأَرْضِ, l-ardhi) berakar أ-ر-ض dan berbentuk tunggal. Terjemahan memakai "langit" dan "bumi" untuk keduanya.

Kalimat kedua, (وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ, wa-lahu l-hamdu fii l-aakhirati) yang berarti "dan bagi-Nya segala puji di akhirat", memakai li- dan al-hamdu yang sama seperti kalimat pertama, dengan tempat yang berbeda. Kata (الْآخِرَةِ, l-aakhirati) berakar أ-خ-ر dan diterjemahkan "akhirat". Susunan (لَهُ الْحَمْدُ فِي, lahu l-hamdu fii) muncul tiga kali, yaitu di 28:70, 30:18, dan 34:1. Di 28:70, (فِي الْأُولَىٰ وَالْآخِرَةِ, fii l-uulaa wa-l-aakhirati) yang berarti "di dunia dan di akhirat" menyebut dua tempat, dan di 30:18, (فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, fii s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "di langit dan di bumi" juga dua tempat. Di 34:1 tempatnya satu, yaitu akhirat, dan rangkaian (الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ, al-hamdu fii l-aakhirati) tidak ditemukan di ayat lain.

Ayat ini ditutup dengan (وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ, wa-huwa l-hakiimu l-khabiiru) yang berarti "dan Dia Sang Penuh Hikmah lagi Sang Teliti". Kedua nama bersandang al-, sehingga terjemahan menulis "Sang" di depan masing-masing. Nama pertama, (الْحَكِيمُ, l-hakiimu), berakar ح-ك-م dan diterjemahkan "Sang Penuh Hikmah". Nama kedua, (الْخَبِيرُ, l-khabiiru), berakar خ-ب-ر dan diterjemahkan "Sang Teliti". Rangkaian (وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ, wa-huwa l-hakiimu l-khabiiru) muncul tiga kali, yaitu di 6:18, 6:73, dan 34:1, sedangkan di 43:84 nama pertamanya sama dan nama keduanya berbeda, (الْعَلِيمُ, l-'aliimu), yang dalam ayat itu diterjemahkan "Sang Berilmu". Di delapan ayat, yaitu 2:234, 2:271, 3:180, 31:29, 57:10, 58:3, 58:11, dan 64:8, (خَبِيرٌ, khabiirun) mengikuti (بِمَا تَعْمَلُونَ, bimaa ta'maluuna) yang berarti "terhadap apa yang kalian kerjakan". Di 34:1 nama itu berdiri sendiri di ujung ayat, seperti di 6:18 dan 6:73, sehingga terjemahan tidak menambahkan objek apa pun kepadanya.

Tafsiran

Ayat ini membuka Surah Saba' dengan pujian yang alasannya tertulis di dalam ayat itu sendiri: Allah memiliki apa yang ada di langit dan di bumi, dan bagi-Nya puji berlaku juga di akhirat. Pembuka surah yang lain menyebut alasan yang berbeda. Di 6:1 pujian disusul penciptaan langit dan bumi, di 18:1 disusul turunnya Kitab kepada hamba-Nya, di 35:1 disusul sebutan Pencipta langit dan bumi yang menjadikan malaikat sebagai utusan, dan di 1:2 disusul sebutan Tuhan seisi alam. Alasan di tiga ayat pertama berupa perbuatan atau sebutan bagi pelaku perbuatan, sedangkan 34:1 menyebut kepemilikan yang mencakup isi langit dan bumi tanpa menunjuk satu perbuatan tertentu.

Kalimat kedua memperluas puji dari isi langit dan bumi ke akhirat. Akhirat muncul lagi di 34:8, ketika orang-orang yang (لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ, laa yu'minuuna bi-l-aakhirati) yang berarti "tidak beriman kepada akhirat" disebut berada dalam azab, dan di antara dua ayat itu 34:3 mencatat ucapan orang-orang yang kufur bahwa Kiamat tidak akan datang. Dapat dibaca bahwa surah ini menaruh akhirat lebih dulu sebagai tempat berlakunya puji, lalu sebagai hal yang disangkal. Ayat-ayat itu sendiri tidak menyatakan hubungan tersebut secara langsung.

Dua nama di ujung ayat menutup puji itu dengan sifat. Sesudah menyebut pemilik langit dan bumi, ayat ini menyebut hikmah dan ketelitian tanpa merinci apa yang diputuskan atau diamati. Rincian itu datang di ayat berikutnya: 34:2 menyebut pengetahuan tentang apa yang masuk dan keluar dari bumi serta apa yang turun dan naik dari langit, dan 34:3 menyebut pengetahuan yang sampai ke seberat zarah. Dengan susunan itu 34:1 berfungsi sebagai pernyataan pembuka yang belum memuat lawan bicara, dan perkataan manusia baru dicatat mulai 34:3.

Renungan dan Hikmah

  • Surah Saba' dibuka dengan puji kepada Allah, dan alasannya langsung disebut, yaitu bahwa Dia memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Alasan puji di 6:1 adalah penciptaan dan di 18:1 turunnya Kitab, sehingga 34:1 membawa pembaca ke alasan yang lain lagi. Pembaca dapat memeriksa kapan dirinya terdorong memuji, ketika sesuatu yang diinginkan sampai ke tangan atau juga ketika tangan kosong. Kalau dasar puji adalah kepemilikan Allah atas segala yang ada, apakah puji itu masih menunggu keadaan yang menyenangkan lebih dulu?
  • Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi disebut milik Dia, dan pembaca sendiri berada di antara isi bumi itu. Rumah, jabatan, tabungan, dan nama keluarga dapat ditulis dengan kata milikku di dokumen dan percakapan. Ayat ini menaruh kata milik pada satu pihak tanpa memerinci satu pun benda di dalamnya. Pembaca dapat meletakkan daftar hartanya di samping kalimat ayat ini dan melihat bagian mana yang tetap terasa miliknya sendiri. Di hadapan kalimat itu, apa yang tersisa dari kata milikku?
  • Kalimat kedua ayat ini menyatakan bahwa bagi-Nya segala puji di akhirat, dan kalimat itu disusun dengan bentuk yang sama seperti kalimat pertama. Pembaca membacanya dari sisi dunia, dan sisi yang satu lagi disebut dengan nada yang sama dengan sisi yang ditempatinya sekarang. Rasa terima kasih yang dimiliki pembaca hari ini dapat ditanyakan arahnya: kepada keadaan yang menopang, kepada orang-orang di sekitarnya, atau kepada pihak yang oleh ayat ini disebut memiliki puji di dua tempat. Ke mana sebagian besar rasa terima kasih itu sampai?
  • Dua nama menutup ayat ini, Sang Penuh Hikmah lagi Sang Teliti, dan keduanya disebut sesudah penegasan bahwa Dia memiliki apa yang ada di langit dan di bumi. Pembaca dapat mengingat kejadian dalam hidupnya yang alasannya belum berhasil dimengerti, misalnya kehilangan, penundaan, atau pintu yang tertutup. Ayat ini tidak menyebut alasan kejadian apa pun. Ayat ini menyebut dua nama bagi Dia yang memiliki semuanya, lalu membiarkan pembaca membawa kejadiannya ke hadapan dua nama itu. Apa yang berubah dari sebuah peristiwa yang belum dimengerti bila peristiwa itu diletakkan di antara kedua nama tersebut?
  • Nama kedua, Sang Teliti, berdiri sendiri di ujung ayat tanpa penyebutan terhadap apa ketelitian itu diarahkan. Pembaca dapat mengisi titik itu dengan miliknya sendiri, seperti pekerjaan yang tidak sempat dilihat atasan, kebaikan kecil yang tidak dicatat siapa pun, atau kesabaran yang tidak pernah diumumkan. Ayat ini tidak mengisi titik itu, dan 34:3 sesudahnya memperlihatkan jangkauan pengetahuan yang sampai ke seberat zarah. Terhadap sesuatu yang pernah dikerjakan tanpa saksi, pembaca bisa bertanya apakah ia sudah menaruhnya di bawah nama itu.
  • Surah ini mulai dengan puji, dan ucapan orang yang menolak baru tercatat di 34:3, ketika orang-orang yang kufur berkata bahwa Kiamat tidak akan datang kepada mereka. Dua ayat pertama berdiri tanpa lawan bicara. Pembaca yang sedang berselisih dengan seseorang dapat membandingkan urutan itu dengan urutan percakapannya sendiri, yaitu apakah kalimat tentang Allah datang lebih dulu atau sesudah bantahan. Dalam surah ini Allah lebih dulu disebut sebagai pemilik apa yang di langit dan di bumi, lalu penyangkalan dicatat. Apa yang berubah pada cara mendengar sebuah penyangkalan bila telinga lebih dulu mendengar kalimat bahwa bagi-Nya segala puji di akhirat?