لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
Sungguh, bagi Saba' pada tempat kediaman mereka ada suatu tanda, yaitu dua kebun di sebelah kanan dan kiri. “Makanlah dari rezeki Tuhan kalian dan bersyukurlah kepada-Nya. Negeri yang baik, dan Tuhan yang pengampun.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍla-qad kaana li-saba'in fii maskanihim aayatun jannataani 'an yamiinin wa-syimaalinsungguh, bagi Saba' pada tempat kediaman mereka ada suatu tanda, yaitu dua kebun di sebelah kanan dan kiri
- كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُkuluu min rizqi rabbikum wa-sykuruu lahumakanlah dari rezeki Tuhan kalian dan bersyukurlah kepada-Nya
- بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌbaldatun thayyibatun wa-rabbun ghafuurunnegeri yang baik, dan Tuhan yang pengampun
Terjemahan per kata (20 kata)
- لَقَدْla-qadsungguh
- كَانَkaanaada
- لِسَبَإٍli-saba'inbagi Saba
- فِيfiipada
- مَسْكَنِهِمْmaskanihimtempat tinggal mereka
- آيَةٌaayatuntanda
- جَنَّتَانِjannataanidua taman
- عَنْ'andari
- يَمِينٍyamiininkanan
- وَشِمَالٍwa-syimaalindan kiri
- كُلُواkuluumakanlah kalian
- مِنْmindari
- رِزْقِrizqirezeki
- رَبِّكُمْrabbikumTuhan kalian
- وَاشْكُرُواwa-sykuruudan bersyukurlah kalian
- لَهُlahubaginya
- بَلْدَةٌbaldatunnegeri
- طَيِّبَةٌthayyibatunyang baik
- وَرَبٌّwa-rabbundan Tuhan
- غَفُورٌghafuurunpengampun
Inti bacaan
Bentuk (رَبٌّ, rabbun) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 34:15.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ, la-qad kaana li-saba'in) yang berarti "sungguh, bagi Saba' ada". Susunan (لَقَدْ كَانَ, la-qad kaana) muncul lima kali, yaitu di 12:7, 12:111, 33:21, 34:15, dan 60:6, dan di 12:7 bunyinya (لَقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ, la-qad kaana fii Yuusufa) yang berarti "sungguh, pada Yusuf ada" tanda-tanda bagi para penanya. Nama (سَبَإٍ, saba'in) muncul dua kali, yaitu di 27:22, (مِنْ سَبَإٍ, min saba'in) yang berarti "dari Saba'", dan di 34:15. Kata ganti -him pada kata kediaman berbentuk jamak, sehingga Saba' di sini terbaca sebagai pihak yang berpenghuni, dan terjemahan tidak menambahkan "kaum".
Kata (فِي مَسْكَنِهِمْ, fii maskanihim) yang berarti "pada tempat kediaman mereka" memakai maskan berbentuk tunggal, dan bentuk persis maskanihim muncul satu kali. Bentuk jamaknya, masaakin dengan berbagai akhiran, muncul sebelas kali di sepuluh surah, yaitu di 9:24, 9:72, 14:45, 20:128, 21:13, 27:18, 28:58, 29:38, 32:26, 46:25, dan 61:12. Di 29:38, (مِنْ مَسَاكِنِهِمْ, min masaakinihim) yang berarti "dari tempat tinggal mereka", kata itu menyebut tempat tinggal Ad dan Tsamud. Di 34:15 kata tunggal itu dikenakan pada -him jamak, dan terjemahan memakai "tempat kediaman" dalam bentuk tunggal.
Kata (آيَةٌ, aayatun) yang berarti "suatu tanda" muncul dua belas kali di tujuh surah, yaitu di 2:118, 3:13, 6:37, 6:109, 6:124, 10:20, 13:7, 13:27, 34:15, 36:33, 36:37, dan 36:41. Di 36:33 dan 36:37 bunyinya (وَآيَةٌ لَهُمُ, wa-aayatun lahumu) yang berarti "suatu tanda bagi mereka", dan tandanya berupa bumi yang mati yang dihidupkan di 36:33 serta malam di 36:37. Di 36:41 tandanya keturunan yang diangkut dalam kapal. Di 34:15 tandanya dua kebun, dan kata tanda bersanding dengan kata kebun tanpa kata penghubung, sehingga terjemahan memakai "yaitu" di antara keduanya.
Kata (جَنَّتَانِ, jannataani) yang berarti "dua kebun" adalah bentuk ganda dari jannah. Bentuk ganda kata ini muncul tujuh kali di tiga surah, yaitu di 18:32, 18:33, 34:15, 34:16, 55:46, 55:54, dan 55:62. Di 18:32 terjemahan memakai "dua kebun anggur" bagi salah satu dari dua orang, dan di 18:33 "kedua kebun itu menghasilkan buahnya". Terjemahan 34:15 memakai "dua kebun" dan tidak lagi memakai "dua bidang kebun", karena tidak ada kata Arab untuk "bidang".
Rangkaian (عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ, 'an yamiinin wa-syimaalin) yang berarti "di sebelah kanan dan kiri" memakai kedua kata tanpa kata sandang. Bentuk bersandang, (عَنِ الْيَمِينِ, 'ani l-yamiini), muncul empat kali, yaitu di 16:48, 37:28, 50:17, dan 70:37. Di 16:48, 50:17, dan 70:37 kanan dan kiri menyebut letak bayang-bayang, dua penerima, dan kelompok-kelompok. Di 34:15 kanan dan kiri menyebut letak kebun terhadap tempat kediaman.
Perintah (كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ, kuluu min rizqi rabbikum) yang berarti "makanlah dari rezeki Tuhan kalian" berakar أ-ك-ل dan ر-ز-ق. Susunan (كُلُوا مِنْ رِزْقِ, kuluu min rizqi) muncul dua kali, yaitu di 34:15 dan 67:15, dan pemilik rezeki di dua ayat itu disebut lewat akhiran, "Tuhan kalian" di 34:15 dan "-Nya" di 67:15. Di 2:60 pemiliknya disebut dengan nama, (كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ, kuluu wa-syrabuu min rizqi llaahi) yang berarti "makan dan minumlah dari rezeki Allah". Dalam ketiga ayat itu pemilik rezeki disebut di dalam perintah makan itu sendiri.
Perintah (وَاشْكُرُوا لَهُ, wa-sykuruu lahu) yang berarti "dan bersyukurlah kepada-Nya" berakar ش-ك-ر dan muncul dua kali, yaitu di 29:17 dan 34:15. Di 29:17, (فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ, fa-btaghuu 'inda llaahi r-rizqa wa-'buduuhu wa-sykuruu lahu) yang berarti "maka carilah rezeki di sisi Allah, mengabdilah kepada-Nya, dan bersyukurlah kepada-Nya", perintah syukur datang sesudah perintah tentang rezeki, seperti di 34:15 sesudah perintah makan. Kata ganti -hu pada lahu di 34:15 menunjuk Tuhan kalian dalam perintah makan di ayat yang sama, sehingga arah syukur yang belum tertulis di 34:13 tertulis di sini.
Kata (بَلْدَةٌ, baldatun) yang berarti "negeri" muncul satu kali dalam bentuk ini. Bentuk perempuan dengan sifat yang berlawanan ada di 25:49, (بَلْدَةً مَيْتًا, baldatan maytan) yang berarti "negeri yang mati". Bentuk laki-laki dengan kata sandang dan sifat yang sama dengan 34:15 ada di 7:58, (وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ, wa-l-baladu th-thayyibu) yang berarti "dan tanah yang baik". Terjemahan memakai "negeri" untuk baldatun seperti di 25:49, dan "tanah" di 7:58 karena yang dibahas ayat itu tanaman yang tumbuh. Sifat (طَيِّبَةٌ, thayyibatun) yang berarti "yang baik" berakar ط-ي-ب. Kata qaryah di 34:18 berbeda dari baldah di sini.
Kata (غَفُورٌ, ghafuurun) yang berarti "pengampun" berakar غ-ف-ر dan muncul 59 kali, dan di 48 ayat bergandengan dengan (رَحِيمٌ, rahiimun). Empat ayat memasangkannya dengan (حَلِيمٌ, haliimun), yaitu 2:225, 2:235, 3:155, dan 5:101. Tiga ayat memasangkannya dengan (شَكُورٌ, syakuurun), yaitu 35:30, 35:34, dan 42:23, dan empat ayat tidak memuat satu pun pasangan itu, yaitu 22:60, 34:15, 35:28, dan 58:2. Di 34:15 kata ini bergandengan dengan (رَبٌّ, rabbun), kata tanpa kata sandang dan tanpa akhiran kata ganti, sehingga keduanya sama-sama tak tentu. Terjemahan memakai huruf kecil untuk bentuk tak tentu, seperti di 35:34, (إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ, inna rabbanaa la-ghafuurun syakuurun) yang berarti "sesungguhnya Tuhan kami benar-benar pengampun lagi pengganjar", sehingga 34:15 menjadi "Tuhan yang pengampun" dan tidak lagi "Tuhan Yang Pengampun" dengan huruf besar. Dua frasa penutup, (بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ, baldatun thayyibatun) dan (رَبٌّ غَفُورٌ, rabbun ghafuurun), tidak memuat kata kerja ataupun kata ganti, dan terjemahan membiarkannya sebagai frasa pendek tanpa menambahkan "negerimu" atau "Tuhanmu".
Tafsiran
Ayat ini membuka kisah Saba' dengan keadaan yang baik. Isinya sebuah tanda berupa dua kebun, dua perintah, dan dua frasa penutup tentang negeri dan Tuhan. Larangan, ancaman, dan syarat tidak ada di dalamnya.
Kisah ini tersambung dengan 34:13 lewat syukur. Ayat 34:13 memerintahkan keluarga Daud bekerja untuk bersyukur dan menyebut sedikitnya hamba yang bersyukur, sedangkan 34:15 memerintahkan Saba' bersyukur sesudah makan. Dua kelompok menerima perintah syukur di dua ayat yang berdekatan, dan wujud perintahnya berbeda, yaitu bekerja di 34:13 dan makan di 34:15. Ayat 34:14 yang berada di antara keduanya membicarakan jin dan kematian, sehingga bagian surah ini beralih dari satu kisah ke kisah lain tanpa kata peralihan yang menyebut hubungannya.
Susunan ayat ini menaruh perintah di tengah dan pernyataan di ujung. Perintah makan dan bersyukur berada di antara tanda dan penutup, lalu dua frasa terakhir berdiri tanpa kata kerja: negeri yang baik dan Tuhan yang pengampun. Dalam ayat ini sifat pengampun disebut sebelum kesalahan apa pun disebut. Ayat 34:16 baru menyebut mereka berpaling, sehingga ampunan hadir lebih dulu daripada kesalahan dalam urutan teks.
Ayat ini juga menjadi dasar bagi ayat sesudahnya. Kebun yang di 34:15 disebut tanda diganti di 34:16 dengan dua kebun lain, dan 34:18 kembali ke perjalanan yang aman dan negeri-negeri yang diberkahi. Perintah makan dan syukur di 34:15 karena itu menjadi tolok ukur untuk membaca apa yang terjadi sesudahnya. Ayat 34:15 sendiri tidak menyebut apakah perintah itu dijalankan, dan jawabannya dibiarkan pada ayat berikutnya.
Renungan dan Hikmah
- Tanda dalam ayat ini tidak berada di tempat jauh. Ayat menyebutnya di tempat kediaman mereka, dua kebun di sebelah kanan dan kiri, yaitu benda yang sehari-hari terlihat dari pintu. Karena kata tanda dan kata kebun bersanding tanpa kata penghubung, kebun itu sendiri yang disebut tanda, dan tidak ada keajaiban lain yang menyertainya dalam ayat ini. Pembaca dapat melihat apa yang ada di kanan dan kirinya setiap hari, misalnya pekarangan, jalan, atau meja kerja, dan menimbang bagian mana yang dihitung sebagai milik tetapi belum pernah dibaca sebagai tanda. Apa yang berada paling dekat dengan pintu rumahnya, yang belum pernah pembaca perlakukan sebagai tanda?
- Dua perintah dalam ayat ini berurutan: makanlah, lalu bersyukurlah kepada-Nya. Perintah pertama tidak menahan siapa pun dari menikmati rezeki, dan perintah kedua datang sesudahnya tanpa mengurangi yang pertama. Pembaca dapat memperhatikan urutan itu pada meja makannya sendiri, yaitu apakah ada jeda antara suapan pertama dan satu kalimat yang ditujukan kepada Tuhan, atau makanan sudah habis lebih dulu. Perintah kedua tidak menuntut jamuan yang besar dan dapat terselip di antara dua suapan. Dalam sehari yang biasa, di titik mana langkah kedua itu bisa terselip di antara kegiatan yang sudah berjalan?
- Ayat ini menyebut makanan itu rezeki Tuhan kalian, sedangkan kebunnya disebut tanda. Kata milik baru muncul di 34:16, ketika kebun itu disebut kedua kebun mereka. Di 67:15 perintah makan juga menyebut rezeki-Nya, dan di 2:60 rezeki Allah. Tiga ayat itu berbicara kepada pihak yang berbeda dan tidak disamakan, tetapi ketiganya menaruh nama pemilik rezeki di dalam perintah makan. Pembaca yang memanen, menggaji, atau membeli dapat memperhatikan kata apa yang keluar ketika menyebut hasilnya, kata milikku atau kata yang menyebut Tuhan. Sebutan apa yang keluar dari mulut pembaca pada saat pertama melihat hasil kerjanya?
- Penutup ayat ini menyebut Tuhan yang pengampun, pada saat tidak ada kesalahan yang disebut. Sifat pengampun muncul di tengah gambaran kebun dan negeri yang baik, sebelum 34:16 menyebut mereka berpaling. Pembaca yang mengingat ampunan ketika bersalah dapat memperhatikan bahwa ayat ini meletakkannya di tempat yang lain, yaitu di dalam gambaran kecukupan dan tidak menunggu di ujung kesalahan. Gambaran itu mengubah cara memandang hasil kerja: bagian yang sedang baik pun dapat disebut bersama Tuhan yang pengampun. Adakah ruang dalam hari-hari pembaca untuk mengingat Allah sebagai pengampun pada saat tidak ada yang terasa perlu diampuni?
- Tanda dalam ayat ini disusul perintah makan, dan Surah 36 menyebut hal serupa: di 36:33 tanda bagi mereka adalah bumi yang mati yang Kami hidupkan, dan dari biji-bijian yang Kami keluarkan darinya mereka makan. Di kedua ayat tanda dan makanan berdampingan, sehingga makan menjadi cara bersentuhan dengan tanda itu, meskipun kaum yang dibicarakan berbeda. Pembaca dapat memandang makanan di mejanya pagi ini sebagai sesuatu yang berasal dari kebun, ladang, atau laut yang jauh, dan menimbang apa yang berubah bila pembaca bertanya dari mana tiap suapan itu datang. Makanan apa di piringnya hari ini yang belum pernah pembaca baca sebagai tanda?
- Perintah syukur dalam ayat ini diucapkan pada saat dua kebun masih berdiri di kedua sisi dan tidak ada kekurangan yang disebut. Kekurangan baru muncul di 34:16, dan 34:15 sendiri tidak memuatnya. Pembaca yang biasanya mengingat syukur ketika sesuatu hilang, sakit, atau nyaris terlepas dapat menimbang bahwa ayat ini menaruh perintah itu pada hari ketika tidak ada yang kurang. Apakah syukur yang datang lebih dulu menjaga sesuatu dari kehilangan, ayat ini tidak menjawabnya, dan pertanyaan itu dibiarkan terbuka. Bagian mana dari hidup pembaca yang saat ini lengkap dan belum pernah diberi satu kalimat syukur?