لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

Sungguh, bagi Saba' pada tempat kediaman mereka ada suatu tanda, yaitu dua bidang kebun di sebelah kanan dan kiri. “Makanlah dari rezeki Tuhan kalian dan bersyukurlah kepada-Nya. Negeri yang baik, dan Tuhan Yang Pengampun.”

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍla-qad kaana li-saba'in fii maskanihim aayatun jannataani 'an yamiinin wa-syimaalinsungguh, bagi Saba' pada tempat kediaman mereka ada suatu tanda, yaitu dua bidang kebun di sebelah kanan dan kiri
  2. كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُkuluu min rizqi rabbikum wa-sykuruu lahumakanlah dari rezeki Tuhan kalian dan bersyukurlah kepada-Nya
  3. بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌbaldatun thayyibatun wa-rabbun ghafuurunnegeri yang baik, dan Tuhan Yang Pengampun

Terjemahan per kata (20 kata)

  1. لَقَدْla-qadsungguh
  2. كَانَkaanaada
  3. لِسَبَإٍli-saba'inbagi Saba
  4. فِيfiipada
  5. مَسْكَنِهِمْmaskanihimtempat tinggal mereka
  6. آيَةٌaayatuntanda
  7. جَنَّتَانِjannataanidua taman
  8. عَنْ'andari
  9. يَمِينٍyamiininkanan
  10. وَشِمَالٍwa-syimaalindan kiri
  11. كُلُواkuluumakanlah kalian
  12. مِنْmindari
  13. رِزْقِrizqirezeki
  14. رَبِّكُمْrabbikumTuhan kalian
  15. وَاشْكُرُواwa-sykuruudan bersyukurlah kalian
  16. لَهُlahubaginya
  17. بَلْدَةٌbaldatunnegeri
  18. طَيِّبَةٌthayyibatunyang baik
  19. وَرَبٌّwa-rabbundan Tuhan
  20. غَفُورٌghafuurunpengampun

Inti bacaan

Dua kebun kaum Saba' sebagai tanda nyata disertai instruksi eksplisit: 'makanlah rezeki Tuhanmu dan bersyukurlah. negeri yang baik, Tuhan yang pengampun', kelimpahan alam dipasangkan langsung dengan kewajiban bersyukur sebagai respons yang semestinya.

Penjelasan pilihan kata

Enam tambahan kurung dihapus: '(kaum)', 'saba'in' berdiri sendiri sebagai nama tanpa kata benda tambahan; '(Kami berpesan kepada mereka,)', pergeseran ke kalimat perintah 'kuluu' dirajut langsung sebagai kutipan tanpa penanda naratif tambahan; '(yang dianugerahkan)', '(Negerimu)', '(nyaman)', '(Tuhanmu)', teks Arab menyajikan 'baldatun tayyibatun wa-rabbun ghafuurun' sebagai frasa apositif tanpa subjek eksplisit, dibiarkan sebagai pernyataan deskriptif ringkas sesuai bentuk aslinya.

Tafsiran

Ayat ini membuka narasi kaum Saba' dengan gambaran kemakmuran sebagai tanda kekuasaan Allah: dua kebun subur di kanan-kiri, disertai perintah bersyukur yang menjadi kunci bagi kelanjutan kisah berikutnya.

Renungan dan Hikmah

  • Dua kebun di kanan dan kiri disebut Allah sebagai tanda. Bukan sebagai upah, bukan sebagai bukti keutamaan mereka. Kelimpahan diperlakukan sebagai sesuatu yang menunjuk kepada Pemberinya, dan itu bacaan yang paling jarang dipakai orang yang sedang menikmatinya.
  • Perintah Allah dua dan berurutan: makanlah, lalu bersyukurlah. Menikmati tidak dilarang, bahkan diperintahkan lebih dulu. Yang diminta bukan menahan diri dari pemberian, melainkan tidak berhenti pada menikmatinya.
  • Dua hal disandingkan di penutup: negeri yang baik, dan Tuhan Yang Pengampun. Yang kedua tak diduga muncul di tengah gambaran kemakmuran. Sebab yang paling dibutuhkan orang yang hidup berkecukupan memang bukan tambahan, melainkan pengampunan atas apa yang kecukupan itu sembunyikan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

akar a-y (aayah), 353 ayat / 382 kemunculan, SATU lema, tak ada dasar morfologis utk memecahnya. tambahan terjemahan lain '(kebesaran)/(kekuasaan)' dibuang, TIDAK ADA di teks Arab. Negeri yang baik dan Tuhan yang pengampun!”'