فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami,” dan mereka menzalimi diri mereka sendiri. Kami jadikan mereka buah bibir, dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang sangat sabar lagi bersyukur.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْfa-qaaluu rabbanaa baa'id bayna asfaarinaa wa-zhalamuu anfusahummereka berkata, ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami, dan mereka menzalimi diri mereka sendiri
- فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍfa-ja'alnaahum ahaadiitsa wa-mazzaqnaahum kulla mumazzaqinKami jadikan mereka buah bibir, dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya
- إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍinna fii dzaalika la-aayaatin li-kulli sabbaarin shakuurinsesungguhnya pada itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang sangat sabar lagi bersyukur
Catatan pilihan kata (ringkas)
Akar akar a-y (aayah), 353 ayat / 382 kemunculan, SATU lema, tak ada dasar morfologis utk memecahnya. alaamah); 'verse of the Kur-án' cuma sense turunan KE-8, di-hedge Lane sendiri: ''. Bukti internal: satu kata menampung manusia (Isa 19:21), hewan (unta 7:73), benda (tongkat 7:106), bahasa & warna kulit (30:22), kisah (26:8), monumen (26:128), DAN satuan teks, hanya 'tanda' yang menampung semuanya. Keputusan Pak FD 16 Jul: 'tanda' TANPA pengecualian (diuji: 'tanda' tak mustahil bahkan di 2:252/10:1/24:1/41:3). tambahan terjemahan lain '(kebesaran)/(kekuasaan)' dibuang, TIDAK ADA di teks Arab. Lih. sebagian penerjemah: 'But they said: “Long has our Lord made the distance between our journeys”; and they wronged their souls, and We made them tales told, and scattered them utterly. In that are proofs for everyone patient and grateful.'
Aplikasi
Keluhan kaum Saba' tentang jarak perjalanan yang terlalu dekat/nyaman (menuntut lebih menantang) berujung pada kehancuran yang menjadikan mereka 'buah bibir', tanda bagi 'setiap orang yang sangat sabar lagi bersyukur', menegaskan bahwa mensyukuri kemudahan yang sudah ada lebih bijak daripada menuntut kondisi yang lebih sulit tanpa alasan jelas.