فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami,” dan mereka menzalimi diri mereka sendiri. Kami jadikan mereka tuturan, dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang sangat sabar lagi bersyukur.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْfa-qaaluu rabbanaa baa'id bayna asfaarinaa wa-zhalamuu anfusahummereka berkata, ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami, dan mereka menzalimi diri mereka sendiri
  2. فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍfa-ja'alnaahum ahaadiitsa wa-mazzaqnaahum kulla mumazzaqinKami jadikan mereka tuturan, dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya
  3. إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍinna fii dzaalika la-aayaatin li-kulli shabbaarin syakuurinsesungguhnya pada itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang sangat sabar lagi bersyukur

Terjemahan per kata (19 kata)

  1. فَقَالُواfa-qaaluulalu mereka berkata
  2. رَبَّنَاrabbanaaTuhan kami
  3. بَاعِدْbaa'idjauhkanlah
  4. بَيْنَbaynadi antara
  5. أَسْفَارِنَاasfaarinaaperjalanan kami
  6. وَظَلَمُواwa-zhalamuudan mereka menzalimi
  7. أَنْفُسَهُمْanfusahumdiri mereka sendiri
  8. فَجَعَلْنَاهُمْfa-ja'alnaahummaka Kami menjadikan mereka
  9. أَحَادِيثَahaadiitsatuturan
  10. وَمَزَّقْنَاهُمْwa-mazzaqnaahumdan Kami mencerai-beraikan mereka
  11. كُلَّkullasetiap
  12. مُمَزَّقٍmumazzaqincerai-berai
  13. إِنَّinnasesungguhnya
  14. فِيfiipada
  15. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  16. لَآيَاتٍla-aayaatinbenar-benar tanda-tanda
  17. لِكُلِّli-kullibagi setiap
  18. صَبَّارٍshabbaarinyang sangat sabar
  19. شَكُورٍsyakuurinyang bersyukur

Inti bacaan

Susunan (جَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ, ja'alnaahum ahaadiitsa) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 23:44 dan 34:19.

Penjelasan pilihan kata

Kalimat ini dibuka dengan (فَقَالُوا رَبَّنَا, fa-qaaluu rabbanaa) yang berarti "lalu mereka berkata, Ya Tuhan kami". Susunan persis itu muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 18:10 dan 34:19. Di 18:10 ucapan sesudahnya berupa permintaan (آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً, aatinaa min ladunka rahmatan) yang berarti "anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu", sedangkan di 34:19 kata kerja perintahnya (بَاعِدْ, baa'id) yang berarti "jauhkanlah". Kedua ucapan ditujukan kepada Tuhan dengan kata kerja perintah, tetapi arahnya berlawanan: yang satu meminta sesuatu didatangkan, yang lain meminta jarak dilebarkan. Awalan fa pada fa-qaaluu menyambung ayat ini dengan 34:18, tempat negeri-negeri yang tampak dan perjalanan yang aman disebut.

Kata baa'id adalah perintah untuk satu pihak yang diajak bicara, dan bentuk persisnya hanya muncul di 34:19. Kata kerja itu langsung disusul (بَيْنَ أَسْفَارِنَا, bayna asfaarinaa) yang berarti "antara perjalanan-perjalanan kami". Karena bayna menunjuk ruang di antara dua hal, terjemahan memakai "jarak" untuk bayna dan "perjalanan" untuk asfaar, sehingga yang dijauhkan terbaca sebagai jarak di antara perjalanan-perjalanan itu. Bentuk jamak asfaarinaa hanya muncul di 34:19. Untuk perjalanan, ayat lain memakai bentuk tunggal, misalnya (عَلَىٰ سَفَرٍ, 'alaa safarin) yang berarti "dalam perjalanan" di 2:184 dan (مِنْ سَفَرِنَا, min safarinaa) yang berarti "dari perjalanan kami" di 18:62. Kata dengan huruf dasar yang sama muncul juga di 62:5, (يَحْمِلُ أَسْفَارًا, yahmilu asfaaran) yang berarti "membawa kitab-kitab", tentang keledai yang memikul muatan. Di sana artinya lain, dan kata di sekitarnya memperlihatkan bedanya: di 34:19 asfaar bersanding dengan bayna dan kata kerja menjauhkan, di 62:5 dengan kata kerja membawa. Akar ب-ع-د juga ada di 43:38, (بُعْدَ, bu'da) yang berarti "jarak sejauh", dalam ucapan yang berharap ada jarak sejauh timur dan barat antara dua pihak.

Ungkapan (وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ, wa-zhalamuu anfusahum) yang berarti "dan mereka menzalimi diri mereka sendiri" tersusun dari (ظَلَمُوا, zhalamuu) yang berarti "mereka menzalimi" dan (أَنْفُسَهُمْ, anfusahum) yang berarti "diri mereka". Rangkaian zhalamuu anfusahum muncul enam kali di lima surah, yaitu 3:117, 3:135, 4:64, 11:101, 14:45, dan 34:19, dan surah 3 memuatnya dua kali. Dengan awalan wa seperti di sini, bentuknya hanya ada di 34:19. Ayat-ayat lain menyertakan keterangan yang tidak ada di 34:19. Di 3:117 tertulis (وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ, wa-maa zhalamahumu llaahu) yang berarti "dan Allah tidak menzalimi mereka", dan di 11:101 tertulis (وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ, wa-maa zhalamnaahum) yang berarti "dan Kami tidak menzalimi mereka". Di 3:135 dan 4:64 ada (فَاسْتَغْفَرُوا, fa-staghfaruu) yang berarti "lalu memohon ampunan". Ayat 34:19 tidak memuat penyangkalan itu maupun permohonan ampun.

Kata (أَحَادِيثَ, ahaadiitsa) yang berarti "tuturan" berbentuk jamak. Susunan (جَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ, ja'alnaahum ahaadiitsa) yang berarti "Kami jadikan mereka tuturan" muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 23:44 dan 34:19. Di 23:44 umat-umat yang rasulnya mereka dustakan dijadikan tuturan, dan sesudahnya tertulis (فَبُعْدًا لِقَوْمٍ, fa-bu'dan li-qawmin) yang berarti "maka kebinasaanlah bagi kaum". Di 34:19 kata kerja yang sama disusul perbuatan lain, (وَمَزَّقْنَاهُمْ, wa-mazzaqnaahum). Bentuk jamak yang sama dengan akhiran berbeda ada di 12:6, 12:21, dan 12:101 dalam (تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ, ta'wiili al-ahaadiitsi) yang berarti "takwil tuturan". Di tiga ayat itu tuturan menjadi bahan yang diajarkan, sedangkan di 23:44 dan 34:19 tuturan menjadi nasib orang-orangnya. Terjemahan memakai "tuturan" di semua tempat itu.

Kata kerja mazzaqnaahum memuat pelaku "Kami" dan sasaran "mereka" dalam satu kata, dan terjemahannya "Kami hancurkan mereka". Akar م-ز-ق hanya ada di 34:7 dan 34:19. Keduanya memuat (كُلَّ مُمَزَّقٍ, kulla mumazzaqin) yang secara harfiah berarti "setiap yang dihancurkan" dan diterjemahkan "sehancur-hancurnya", sehingga frasa itu muncul dua kali dalam satu surah. Di 34:7 kata kerjanya berbentuk (مُزِّقْتُمْ, muzziqtum) dengan pelaku yang tidak disebut, sedangkan di 34:19 pelakunya disebut, yaitu "Kami".

Kalimat penutup memuat (لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ, la-aayaatin li-kulli shabbaarin syakuurin) yang berarti "benar-benar tanda-tanda bagi setiap orang yang sangat sabar lagi bersyukur". Susunan itu muncul empat kali di empat surah, yaitu 14:5, 31:31, 34:19, dan 42:33. Kata (صَبَّارٍ, shabbaarin) yang berarti "yang sangat sabar" hanya ada di empat ayat itu. Kata (شَكُورٍ, syakuurin) yang berarti "yang bersyukur" muncul sembilan kali di tujuh surah, yaitu 14:5, 17:3, 31:31, 34:19, 35:30, 35:34, 42:23, 42:33, dan 64:17, dan bentuk dengan kata sandang (الشَّكُورُ, sy-syakuuru) ada di 34:13. Untuk manusia kata ini dipakai di 14:5, 17:3, 31:31, 34:13, 34:19, dan 42:33. Untuk Allah kata itu dipakai di 35:30, 35:34, 42:23, dan 64:17, dan di sana terjemahan memakai "pengganjar".

Tafsiran

Ayat ini mengutip ucapan kaum Saba' kepada Tuhan mereka, dan antara 34:15 dan 34:21 tidak ada ucapan mereka yang lain. Sebelum ayat ini kisahnya menuturkan perbuatan. Mereka diberi tanda berupa dua kebun di 34:15, mereka berpaling di 34:16, dan negeri-negeri yang tampak ditetapkan bagi mereka di 34:18. Ucapan di 34:19 datang sesudah rangkaian itu. Teks tidak menyebutkan apakah permintaan tersebut diucapkan sebelum atau sesudah banjir di 34:16, dan alasan mereka meminta jarak yang lebih jauh juga tidak dinyatakan.

Kalimat sesudahnya disusun dengan huruf wa, "dan", tidak dengan kata sebab. Permintaan, penzaliman diri, lalu perbuatan Allah dijejerkan tanpa penghubung yang menyatakan mana yang menjadi akibat mana. Dapat dibaca bahwa permintaan itu termasuk yang disebut menzalimi diri, karena keduanya berdampingan, tetapi ayat tidak menegaskannya. Dua perbuatan Allah sesudahnya tertulis jelas, yaitu Kami jadikan mereka tuturan dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya.

Frasa sehancur-hancurnya di sini sama dengan yang dikutip di 34:7, tempat frasa itu diucapkan orang-orang yang kufur ketika membicarakan pemberitaan tentang ciptaan yang baru. Di 34:7 frasa itu menjadi bagian dari ucapan mereka, dan di 34:19 menjadi gambaran tentang apa yang menimpa satu kaum. Pembicara dan urusannya berbeda, sehingga kedua ayat tidak disamakan. Meskipun begitu, satu surah memakai kata yang sama di dua tempat yang berjauhan.

Penutup ayat melebarkan pembacanya. Di 34:15 tanda itu satu, (آيَةٌ, aayatun) yang berarti "suatu tanda", dan diberikan kepada Saba'. Di 34:19 tandanya jamak, (آيَاتٍ, aayaatin) yang berarti "tanda-tanda", dan diperuntukkan bagi setiap orang yang sangat sabar lagi bersyukur. Pada 34:15 kaum itu diperintah (وَاشْكُرُوا لَهُ, wa-sykuruu lahu) yang berarti "dan bersyukurlah kepada-Nya", dan pada 34:13 Allah menyebut bahwa orang yang bersyukur dari hamba-hamba-Nya sedikit. Dengan demikian sifat yang dahulu diminta dari kaum itu menjadi sifat pembaca kisah mereka. Kata itu (ذَٰلِكَ, dzaalika) yang berarti "itu" tidak menunjuk peristiwa tertentu, apakah kebun, banjir, permintaan, atau kehancuran, dan teks tidak memilihnya.

Renungan dan Hikmah

  • Ucapan di 34:19 dibuka dengan sapaan yang sama seperti ucapan para pemuda di 18:10, "Ya Tuhan kami", lalu isinya meminta agar jarak diperlebar. Sapaan yang hormat dan permintaan agar sesuatu yang sudah ditetapkan diubah berada dalam satu kalimat. Ayat tidak menyebut alasan permintaan itu dan tidak menyebut jawabannya secara terpisah, karena kalimat berikutnya langsung berpindah ke perbuatan mereka dan perbuatan Allah. Pembaca yang berdoa dapat memperhatikan apakah isi permintaannya selaras dengan nikmat yang sedang ada di tangannya. Adakah permintaan dalam doanya yang sebenarnya meminta Tuhan menarik kembali sesuatu yang sudah diberikan-Nya?
  • Di 3:117 dan 11:101 Allah menyatakan bahwa Dia tidak menzalimi mereka, dan mereka sendirilah yang menzalimi diri mereka. Penyangkalan itu tidak tertulis di 34:19, padahal rangkaian katanya sama. Pembaca dapat membawa pernyataan di dua ayat itu ke sini sebagai bahan menimbang, sambil mengingat bahwa 34:19 sendiri tidak memuatnya. Kerugian yang menimpa seseorang dapat dicarikan pelakunya di luar dirinya, dan rangkaian kata ini menunjuk ke arah sebaliknya. Pembaca dapat bertanya, kerugian mana dalam hidupnya yang selama ini dialamatkan kepada keadaan, padahal pilihannya sendiri ikut menyusunnya?
  • Kaum itu sudah tiada, dan dari mereka tinggal tuturan, sesuai dengan kata Allah "Kami jadikan mereka tuturan". Pembaca yang membuka ayat ini sedang ikut menuturkannya. Orang yang sudah tiada tidak memilih apa yang akan diucapkan tentang dirinya, dan ayat tidak menyebut kalimat apa yang dahulu dituturkan tentang kaum itu. Bila hidup pembaca suatu hari menjadi bahan tuturan orang lain, kalimat apa yang paling mungkin terucap tentang dirinya?
  • Ungkapan sehancur-hancurnya diucapkan orang-orang yang kufur di 34:7 ketika mereka membicarakan kabar tentang ciptaan yang baru, dan muncul lagi di 34:19 sebagai gambaran apa yang Allah lakukan kepada satu kaum. Kedua ayat berbeda pembicara dan berbeda urusan, sehingga yang satu tidak menjadi tafsir yang lain. Ayat 34:19 memperlihatkan bahwa kata yang dipakai untuk meragukan sebuah kabar dapat kembali sebagai rupa kejadian yang nyata. Pembaca yang memakai kalimat tentang kehancuran untuk meragukan sebuah kabar dapat menimbang hal itu. Bila sebuah ungkapan dipakai untuk meragukan, apa yang tersisa dari keraguan itu ketika ungkapan yang sama menjadi gambaran peristiwa?
  • Tanda-tanda di akhir ayat disebut untuk orang yang sangat sabar lagi bersyukur, dua sifat sekaligus. Kaum itu pernah diperintah bersyukur di 34:15, dan Allah menyebut di 34:13 bahwa orang yang bersyukur dari hamba-hamba-Nya sedikit. Ayat menyebut keduanya sebagai sifat pembaca tanda, tanpa menyebut sifat mana yang lebih dulu. Pembaca dapat bertanya pada diri sendiri, dalam keadaan mana biasanya salah satu dari kedua sifat itu saja yang dimilikinya, dan apa yang berubah dalam caranya membaca kisah ini bila yang dimiliki satu saja?
  • Kata "itu" di akhir ayat tidak menunjuk peristiwa tertentu. Pilihannya terbuka, apakah dua kebun, banjir, permintaan agar jarak diperlebar, atau kehancuran. Allah menyebut tanda-tanda itu tanpa memilihkan satu bagi pembaca. Pembaca membawa pilihannya sendiri ke dalam kisah ini, dan pilihan itu memperlihatkan bagian mana dari hidupnya yang paling sering ia baca sebagai tanda. Bagian kisah mana yang paling cepat ia lewati, dan apakah bagian itu paling dekat dengan keadaannya sendiri?