وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Dan sungguh, Iblis telah membenarkan sangkaannya terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya, kecuali segolongan dari orang-orang beriman.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُwa-la-qad shaddaqa 'alayhim ibliisu zhannahudan sungguh, Iblis telah membenarkan sangkaannya terhadap mereka
  2. فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَfa-ttaba'uuhu illaa fariiqan mina l-mu'miniinalalu mereka mengikutinya, kecuali segolongan dari orang-orang beriman

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
  2. صَدَّقَshaddaqamembenarkan
  3. عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
  4. إِبْلِيسُibliisuIblis
  5. ظَنَّهُzhannahusangkaannya
  6. فَاتَّبَعُوهُfa-ttaba'uuhumaka mereka mengikutinya
  7. إِلَّاillaakecuali
  8. فَرِيقًاfariiqansegolongan
  9. مِنَminadari
  10. الْمُؤْمِنِينَl-mu'miniinaorang-orang beriman

Inti bacaan

Susunan (فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ, fariiqan mina l-mu'miniina) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 8:5 dan 34:20.

Penjelasan pilihan kata

Kalimat ini dibuka dengan (وَلَقَدْ, wa-la-qad) yang berarti "dan sungguh". Terjemahan memakai "sungguh" untuk la dan "telah" untuk qad pada kata kerja sesudahnya. Kata (صَدَّقَ, shaddaqa) yang berarti "membenarkan" berbentuk kata kerja lampau untuk satu pelaku laki-laki. Sasarannya ditunjuk oleh (عَلَيْهِمْ, 'alayhim) yang berarti "terhadap mereka", dan pelakunya disebut sesudah itu, yaitu (إِبْلِيسُ, ibliisu) yang berarti "Iblis". Nama itu tertulis sebelas kali di sembilan surah, yaitu 2:34, 7:11, 15:31, 15:32, 17:61, 18:50, 20:116, 26:95, 34:20, 38:74, dan 38:75. Bentuk persis ibliisu hanya ada di tiga ayat, yaitu 15:32, 34:20, dan 38:75. Di 15:32 dan 38:75 bentuk itu dipakai untuk memanggil, (يَا إِبْلِيسُ, yaa ibliisu) yang berarti "wahai Iblis", sedangkan di 34:20 Iblis menjadi pelaku kata kerja.

Kata kerja shaddaqa dalam bentuk ini dipakai juga di 37:37, 39:33, 75:31, dan 92:6. Di 37:37 tertulis (وَصَدَّقَ الْمُرْسَلِينَ, wa-shaddaqa l-mursaliina) yang berarti "dan membenarkan para rasul", di 39:33 (وَصَدَّقَ بِهِ, wa-shaddaqa bihi) yang berarti "dan membenarkannya", di 92:6 (وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ, wa-shaddaqa bi-l-husnaa) yang berarti "dan membenarkan yang terbaik", dan di 75:31 (فَلَا صَدَّقَ, fa-laa shaddaqa) yang berarti "maka dia tidak membenarkan". Pada ayat-ayat itu pelakunya manusia dan benda yang dibenarkan berada di luar dirinya, yaitu rasul, kebenaran, atau kebaikan. Sebagai kontras, kata kerja yang sama di sana mengarah ke luar diri pelaku. Di 34:20 benda yang dibenarkan milik pelakunya sendiri, yaitu (ظَنَّهُ, zhannahu) yang berarti "sangkaannya". Susunan shaddaqa 'alayhim hanya muncul di 34:20.

Kata zhannahu tersusun dari (ظَنَّ, zhanna) yang berarti "sangkaan" dan akhiran -hu yang berarti "-nya", dan bentuk persisnya hanya muncul di 34:20. Kata zhann dipakai juga di 53:28 dalam (إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ, in yattabi'uuna illaa zh-zhanna) yang berarti "mereka hanya mengikuti dugaan", dan di 10:36 dalam (وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا, wa-maa yattabi'u aktsaruhum illaa zhannan) yang berarti "kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan". Dua ayat itu sama-sama menyebut bahwa dugaan tidak mencukupkan terhadap kebenaran. Di 34:20 arahnya lain, karena sangkaan milik Iblis menjadi benar oleh perbuatan orang lain. Terjemahan memakai "sangkaan" di 34:20, seperti di 41:23 dan 48:12, dan "dugaan" di dua ayat tentang mengikuti zhann.

Kata (فَاتَّبَعُوهُ, fa-ttaba'uuhu) yang berarti "lalu mereka mengikutinya" tersusun dari fa yang berarti "lalu", kata kerja ittaba'uu yang berarti "mereka mengikuti", dan -hu yang berarti "-nya". Bentuk persisnya hanya muncul di 34:20. Awalan fa menempatkan perbuatan mengikuti sesudah pembenaran sangkaan, sehingga dua kata kerja berurutan di ayat ini mempunyai dua pelaku, yaitu Iblis lalu mereka. Kata ganti -hu menunjuk orang ketiga tunggal laki-laki, sama dengan -hu pada zhannahu, dan ayat tidak menyatakan apakah yang diikuti Iblis atau sangkaannya. Terjemahan "mengikutinya" tetap terbuka bagi keduanya. Kata kerja yang sama dipakai di 4:83 dalam (لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا, la-ttaba'tumu sy-syaythaana illaa qaliilan) yang berarti "tentulah kalian mengikuti setan, kecuali sedikit sekali". Di sana benda yang diikuti disebut jelas, dan pengecualiannya memakai qaliilan, sedangkan 34:20 memakai fariiqan.

Kata (فَرِيقًا, fariiqan) yang berarti "segolongan" berakar ف-ر-ق dan tidak menyebut jumlah. Susunan (فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ, fariiqan mina l-mu'miniina) yang berarti "segolongan dari orang-orang beriman" muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 8:5 dan 34:20. Di 8:5 frasa itu menjadi pokok kalimat tentang orang beriman yang tidak menyukai sesuatu. Kata fariiq dipakai juga di 7:30, (فَرِيقًا هَدَىٰ وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ الضَّلَالَةُ, fariiqan hadaa wa-fariiqan haqqa 'alayhimu dh-dhalaalatu) yang berarti "segolongan Dia beri petunjuk, dan segolongan lagi kesesatan telah pasti atas mereka", untuk dua kelompok yang jumlahnya juga tidak disebut. Ucapan Iblis di 17:62 memakai (إِلَّا قَلِيلًا, illaa qaliilan) yang berarti "kecuali sebagian kecil", kata yang menyebut ukuran, sedangkan 34:20 memakai fariiqan tanpa ukuran.

Tafsiran

Ayat ini menyebut dua perbuatan berurutan dengan dua pelaku, dan kalimatnya berhenti pada pengecualian. Iblis membenarkan sangkaannya, mereka mengikuti, lalu segolongan orang beriman dikeluarkan dari rangkaian itu. Ayat 34:19 berakhir pada tanda bagi orang yang sangat sabar lagi bersyukur, dan 34:20 dibuka dengan wa, "dan", tanpa kata sebab. Teks tidak menyatakan bahwa mengikuti Iblis menjadi sebab kehancuran di 34:19, dan tidak pula menyatakan sebaliknya.

Isi sangkaan itu tidak ditulis di sini. Ucapan Iblis sendiri tercatat di tempat lain. Di 7:17 Iblis berkata kepada Tuhan (وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ, wa-laa tajidu aktsarahum syaakiriina) yang berarti "dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur", dan di 17:62 dia mengecualikan sebagian kecil. Dapat dibaca bahwa sangkaan di 34:20 berkaitan dengan ucapan-ucapan itu. Pembacaan ini bersandar pada kesamaan kata syaakiriina dengan syakuur di 34:19 dan 34:13, dan ayat 34:20 sendiri tidak menyebut ucapan mana yang dimaksud.

Kalimat pengecualian memberi ayat ini batas. Rangkaian "mereka mengikutinya" tidak ditutup dengan kesimpulan umum, karena sesudahnya ada kelompok yang dikeluarkan, dan kelompok itu disebut berasal dari orang-orang beriman. Dapat dibaca bahwa di antara mereka yang mengikuti ada orang beriman, dan segolongan dari mereka tidak mengikuti. Teks tidak merinci siapa saja yang termasuk golongan itu dan tidak menyebut jumlahnya.

Ayat sesudahnya, 34:21, membuka dengan penyangkalan kekuasaan Iblis atas mereka, sehingga dua ayat itu dibaca berpasangan. Ayat 34:20 memperlihatkan hasilnya dari sisi perbuatan, yaitu sangkaan yang terbukti dan pilihan yang diambil, dan 34:21 menjelaskan batas daya yang dimiliki pihak yang sangkaannya terbukti itu.

Renungan dan Hikmah

  • Iblis membenarkan sangkaannya terhadap mereka, dan langkah mereka sendiri, yaitu mengikuti, membuat sangkaan itu terbukti. Sangkaan itu sudah ada sebelum bukti datang, dan buktinya tidak tertulis sebagai sesuatu yang Iblis kerjakan. Dugaan seseorang tentang pembaca, entah dari teman, atasan, atau pesaing, juga menunggu langkah pembaca untuk menjadi benar atau keliru. Ayat ini tidak menyebut nasib sangkaan itu pada orang yang tidak mengikuti. Dugaan siapa tentang dirinya yang pernah dibuktikannya lewat satu langkah kecil, tanpa sempat bertanya apakah langkah itu diambil dengan sadar?
  • Ayat memakai kata "lalu" di antara dua perbuatan, dan tidak mencatat satu pun ucapan Iblis kepada mereka. Yang tertulis adalah hasilnya, yaitu mereka mengikuti. Urutan itu menaruh sebuah langkah sesudah pembenaran sangkaan, dan langkah itu ditulis sebagai perbuatan mereka sendiri. Di 7:175 setan mengikuti seseorang yang telah melepaskan diri dari tanda-tanda Allah, dan di sana yang bergerak lebih dulu adalah orang itu. Ayat 7:175 berbicara tentang orang lain, sehingga tidak dibaca sebagai tafsir 34:20. Pembaca dapat bertanya, pada langkah mana dalam sebuah keputusan pembaca merasa dirinya sedang diikuti dan pada langkah mana pembaca sedang mengikuti?
  • Ayat menyebut segolongan yang dikecualikan tanpa menyebut ukurannya. Ucapan Iblis kepada Tuhan di 17:62 memakai kata yang menyebut ukuran, yaitu sebagian kecil, sedangkan 34:20 tidak memakainya. Orang yang membaca "segolongan" dapat membayangkan kelompok kecil di pinggir, dan ayat tidak memberi dasar untuk membayangkan itu. Ukuran golongan itu tetap terbuka, dan keterbukaan itu menaruh ukuran pada hal lain, yaitu pilihan. Bila pembaca dihitung sebagai bagian dari satu kelompok di antara dua, kelompok mana yang akan disebutnya ketika ditanya, dan atas dasar apa?
  • Golongan yang dikecualikan disebut berasal dari orang-orang beriman, bukan dari seluruh manusia. Dengan susunan itu, keimanan disebut sebagai asal golongan tersebut. Ayat tidak menjelaskan apa yang membedakan golongan itu dari orang beriman lainnya, dan Allah tidak menyebut sebab perbedaan itu di sini. Pembaca yang menyebut dirinya beriman dapat memperhatikan bahwa kata itu dalam ayat ini tidak menyelesaikan pertanyaan tentang langkah. Apa yang akan terlihat bila pembaca menanyakan langkah-langkah hariannya sendiri, dan tidak berhenti pada sebutan yang dipakainya untuk dirinya?
  • Di 7:17 Iblis berkata kepada Tuhan bahwa Dia tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur, dan di 34:20 ayat menyebut bahwa sangkaannya terbukti atas mereka. Dua ayat itu berdiri di surah yang berbeda dan tidak menyebut satu sama lain, sehingga hubungan keduanya hanya bisa dibaca sebagai kemungkinan. Bila kemungkinan itu diterima, syukur menjadi hal yang disorot dua kali, sekali sebagai sangkaan dan sekali sebagai tanda di 34:19. Kalimat yang diucapkan di hadapan Tuhan pada satu waktu dapat kembali sebagai kenyataan di waktu lain. Pembaca dapat menanyakan kalimat apa tentang dirinya yang pernah dilontarkan pihak lain, dan apakah kebenarannya sudah diperiksa?
  • Rangkaian mereka mengikutinya ditutup dengan pengecualian, bukan dengan kesimpulan yang menyapu semuanya. Kalimat yang sama dapat dibayangkan berhenti di kata mengikutinya, dan artinya akan lain. Dengan satu pengecualian, ayat menyisakan ruang bagi mereka yang tidak ikut, dan ruang itu tertulis di dalam kalimat yang sama dengan kegagalan. Allah menuturkan kisah ini sampai ke kelompok yang berbeda arah, tidak hanya sampai ke hasil buruknya. Pembaca yang membaca kisah kegagalan sebagai kisah semua orang dapat memperhatikan bahwa ayat ini sendiri tidak ditutup dengan cara itu. Apa yang tersisa dari pembacaan itu bila bagian terakhir kalimat dibaca sama cermatnya dengan bagian awalnya?