وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ ۗ وَرَبُّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ

Dan tidak ada baginya kekuasaan terhadap mereka, kecuali agar Kami mengetahui siapa yang beriman pada akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentangnya. Dan Tuhanmu Sang Penjaga atas segala sesuatu.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍwa-maa kaana lahu 'alayhim min sulthaanindan tidak ada baginya kekuasaan terhadap mereka
  2. إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّillaa li-na'lama man yu'minu bi-l-aakhirati mimman huwa minhaa fii syakkinkecuali agar Kami mengetahui siapa yang beriman pada akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentangnya
  3. وَرَبُّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌwa-rabbuka 'alaa kulli syay'in hafiizhundan Tuhanmu Sang Penjaga atas segala sesuatu

Terjemahan per kata (21 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. كَانَkaanaadalah
  3. لَهُlahubaginya
  4. عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
  5. مِنْmindari
  6. سُلْطَانٍsulthaaninketerangan
  7. إِلَّاillaakecuali
  8. لِنَعْلَمَli-na'lamaagar Kami mengetahui
  9. مَنْmanorang yang
  10. يُؤْمِنُyu'minuberiman
  11. بِالْآخِرَةِbi-l-aakhiratidengan akhirat
  12. مِمَّنْmimmandari orang yang
  13. هُوَhuwaia
  14. مِنْهَاminhaadarinya
  15. فِيfiidalam
  16. شَكٍّsyakkinkeraguan
  17. وَرَبُّكَwa-rabbukadan Tuhanmu
  18. عَلَىٰ'alaaatas
  19. كُلِّkullisegala
  20. شَيْءٍsyay'insesuatu
  21. حَفِيظٌhafiizhunpenjaga

Inti bacaan

Susunan (عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ, 'alaa kulli syay'in hafiizhun) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 11:57 dan 34:21.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ, wa-maa kaana lahu 'alayhim min sulthaanin) yang berarti "dan tidak ada baginya kekuasaan terhadap mereka". Kata ganti -hu pada (لَهُ, lahu) menunjuk satu pelaku laki-laki, dan pelaku tunggal yang disebut di ayat sebelumnya adalah Iblis. Kata ganti -him pada 'alayhim menunjuk mereka yang mengikuti di 34:20. Rangkaian min sulthaanin muncul tujuh kali di tujuh surah, yaitu 7:71, 10:68, 12:40, 14:22, 34:21, 37:30, dan 53:23. Kalimat dengan kerangka wa-maa kaana, kata ganti pemilik, kata "atas", lalu min sulthaanin ada di tiga ayat dengan kata ganti yang berbeda. Di 14:22 tertulis (وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ, wa-maa kaana liya 'alaykum min sulthaanin) dengan kata ganti "bagiku", di 37:30 tertulis (وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ, wa-maa kaana lanaa 'alaykum min sulthaanin) dengan kata ganti "bagi kami", dan di 34:21 kata gantinya "baginya".

Di 12:40 tertulis (مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ, maa anzala Allaahu bihaa min sulthaanin) yang berarti "Allah tidak menurunkan keterangan apa pun tentangnya", dan susunan itu muncul dua kali di dua surah, yaitu 12:40 dan 53:23. Di 7:71 kata kerjanya lain, (مَا نَزَّلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ, maa nazzala llaahu bihaa min sulthaanin), sehingga rangkaian bihaa min sulthaanin ada tiga kali, yaitu 7:71, 12:40, dan 53:23. Dalam tiga ayat itu kata sulthaan menyatakan dasar bagi nama-nama yang disembah, dan terjemahan memakai "keterangan". Di 34:21 kata itu diikuti 'alayhim, "terhadap mereka", dan kalimatnya menyangkal daya pihak yang disebut atas orang lain. Karena itu terjemahan memakai "kekuasaan". Di 53:23 kata sulthaan berdampingan dengan (إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ, in yattabi'uuna illaa zh-zhanna) yang berarti "mereka hanya mengikuti dugaan", yaitu kata zhann yang disebut juga di 34:20.

Susunan (إِلَّا لِنَعْلَمَ, illaa li-na'lama) yang berarti "kecuali agar Kami mengetahui" tersusun dari illaa "kecuali", huruf li yang menyatakan tujuan, dan kata kerja na'lama "Kami mengetahui" dengan pelaku "Kami". Kata li-na'lama muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 2:143, 18:12, dan 34:21. Rangkaian (لِنَعْلَمَ مَنْ, li-na'lama man) yang berarti "agar Kami mengetahui siapa" muncul dua kali di dua surah, yaitu 2:143 dan 34:21. Di 2:143 tertulis (لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ, li-na'lama man yattabi'u r-rasuula mimman yanqalibu) yang berarti "agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dari siapa yang berbalik". Di 34:21 bentuknya sama: li-na'lama man dan mimman, dengan dua pihak yang dipisahkan, yaitu orang yang beriman pada akhirat dan orang yang ragu tentangnya. Perkara yang dipisahkan di 2:143 dan 34:21 berbeda, dan ayat 34:21 tidak membahas keadaan pengetahuan sebelum peristiwa itu, karena yang ditulis hanya tujuannya.

Kata (يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ, yu'minu bi-l-aakhirati) yang berarti "beriman pada akhirat" muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 34:21. Pasangannya adalah (مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ, mimman huwa minhaa fii syakkin) yang berarti "dari siapa yang ragu-ragu tentangnya". Kata ganti -haa pada minhaa menunjuk akhirat. Keraguan tentang akhirat disebut juga di 27:66 dengan urutan lain, (فِي شَكٍّ مِنْهَا, fii syakkin minhaa) yang berarti "dalam keraguan tentangnya", dan di 27:66 kalimat itu menjadi salah satu dari tiga kalimat berawalan bal. Di surah yang sama, 34:54, keraguan disebut dengan sifat tambahan, (فِي شَكٍّ مُرِيبٍ, fii syakkin muriibin) yang berarti "dalam keraguan yang menggelisahkan". Di 34:21 keraguan tidak diberi sifat tambahan, dan kata kufur tidak muncul di ayat ini.

Kalimat penutup (وَرَبُّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ, wa-rabbuka 'alaa kulli syay'in hafiizhun) yang berarti "dan Tuhanmu Sang Penjaga atas segala sesuatu" memakai (حَفِيظٌ, hafiizhun) yang berarti "penjaga". Susunan 'alaa kulli syay'in hafiizhun muncul dua kali di dua surah, yaitu 11:57 dan 34:21. Bentuk hafiizhun tanpa kata sandang muncul lima kali di lima surah, yaitu 11:57, 12:55, 34:21, 42:6, dan 50:4. Untuk Allah kata itu dipakai di 11:57, 34:21, dan 42:6, untuk seorang manusia di 12:55, dan untuk sebuah kitab di 50:4. Bentuk (عَلَيْهِمْ حَفِيظًا, 'alayhim hafiizhan) yang berarti "penjaga atas mereka" muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 4:80, 6:107, dan 42:48, dan di ketiganya kalimatnya menyangkal bahwa penerima ucapan itu diutus atau dijadikan penjaga atas mereka. Kata ganti -ka pada rabbuka menunjuk satu orang yang diajak bicara.

Tafsiran

Ayat ini menjawab pertanyaan yang tertinggal dari 34:20, yaitu bagaimana sangkaan Iblis terbukti sementara mereka yang mengikutinya adalah pelaku kata kerja mengikuti. Ayat 34:21 menyangkal bahwa Iblis memiliki kekuasaan atas mereka, lalu menyebut tujuan peristiwa itu. Isi ayat terbagi tiga, yaitu penyangkalan kekuasaan, tujuan, dan penutup tentang Tuhan, dan masing-masing disusun dengan pengecualian atau pergantian suara.

Penyangkalan yang sama ditemukan di dua tempat lain dengan pengecualian yang berbeda. Di 15:42 tertulis (إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ, illaa mani ttaba'aka) yang berarti "kecuali orang yang mengikutimu", dan di 14:22 setan berkata (إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي, illaa an da'awtukum fa-staj abtum lii) yang berarti "kecuali aku menyeru kalian lalu kalian memenuhi seruanku". Di 34:21 pengecualiannya berupa tujuan, yaitu agar Kami mengetahui siapa yang beriman pada akhirat dan siapa yang ragu. Tiga pengecualian itu tidak saling meniadakan, dan masing-masing menyebut sisi yang berlainan. Ayat 15:42 dan 14:22 diucapkan dalam situasi lain, sehingga keduanya tidak dipakai untuk menentukan makna 34:21, tetapi ketiganya sama-sama menaruh tindakan pihak yang mengikuti di dalam pengecualian.

Dalam ayat ini pelaku berganti nama. Bagian pertama menyebut "Kami" ketika menyatakan tujuan, dan bagian penutup menyebut "Tuhanmu" dengan kata ganti orang kedua. Pergantian itu memindahkan pembaca dari penuturan tentang Iblis dan mereka kepada pihak yang berbicara, yaitu Tuhan, yang disebut sebagai penjaga atas segala sesuatu. Dapat dibaca bahwa Iblis dan pemilahan di awal ayat termasuk dalam "segala sesuatu", tetapi teks tidak menyebut hal itu secara tegas.

Ayat berikutnya, 34:22, memerintahkan ucapan baru dengan kata qul, dan 34:21 menjadi akhir kisah Saba' yang dimulai di 34:15. Dengan begitu pemilahan antara orang yang beriman pada akhirat dan orang yang ragu tentangnya menjadi kalimat yang menutup kisah itu, sebelum surah berpindah ke pembicaraan tentang pihak-pihak yang diseru selain Allah.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat menyangkal kekuasaan Iblis atas mereka, padahal 34:20 baru saja menyebut bahwa mereka mengikutinya. Pengaruh dan kekuasaan dipisahkan di sini: ada pihak yang ditiru tanpa memiliki kuasa atas mereka yang meniru. Orang yang terbawa arus dapat mencari pemegang kuasa di luar dirinya, dan ayat ini menaruh pengecualian pada tujuan, tidak pada paksaan. Pembaca dapat bertanya, dalam keputusan terakhir yang disesalinya, siapa yang sebenarnya memegang kuasa untuk melangkah, dan apakah pihak yang disalahkannya benar-benar memegangnya?
  • Ayat menyebut tujuan peristiwa itu, yaitu agar Kami mengetahui siapa yang beriman pada akhirat dari siapa yang ragu tentangnya. Tujuan itu berbentuk pemilahan di antara dua pihak, dan Allah menaruhnya di tempat pengecualian atas penyangkalan kekuasaan. Pembaca dapat memperhatikan bahwa kejadian yang terasa sebagai gangguan dapat memperlihatkan di sisi mana seseorang berdiri. Peristiwa mana dalam hidup pembaca yang memaksa jawaban atas pertanyaan itu tanpa pernah diumumkan sebagai ujian?
  • Ayat memisahkan orang yang beriman pada akhirat dari orang yang ragu tentangnya, dan kata kufur tidak dipakai di sini. Dua keadaan itu dipisahkan oleh keraguan, tidak oleh penolakan yang terang. Di 34:54 keraguan itu diberi sifat yang menggelisahkan, sedangkan di 34:21 ia disebut polos. Orang yang tidak menolak apa pun tetapi juga tidak yakin dapat membaca ayat ini sebagai gambaran tentang dirinya. Ayat tidak menyebut nasib orang yang ragu, sehingga pembaca tidak dapat menganggap nasibnya sudah ditentukan. Di bagian mana tentang akhirat pembaca merasa ragu, dan apakah keraguan itu pernah diucapkannya kepada seseorang?
  • Penutup ayat menyebut Tuhanmu sebagai penjaga atas segala sesuatu. Di 4:80, 6:107, dan 42:48 peran penjaga atas mereka ditiadakan bagi orang yang diutus. Ayat-ayat itu berbicara tentang utusan dan tidak menyebut pembaca, tetapi memperlihatkan bahwa peran menjaga tidak ditaruh pada orang yang menyampaikan. Orang yang merasa wajib memastikan setiap orang di sekitarnya mengambil pilihan yang benar dapat memperhatikan pembagian itu. Atas siapa saja pembaca merasa harus berjaga, padahal ayat menaruh peran itu pada Tuhan?
  • Pemilahan di ayat ini memakai satu ukuran, yaitu iman pada akhirat. Ukuran itu tidak menyebut hartanya, jabatannya, atau kepintarannya. Dengan ukuran itu, kehidupan yang tampak sama dapat terbelah menjadi dua pihak, yaitu yang beriman pada akhirat dan yang ragu tentangnya. Pembaca dapat memeriksa keputusan mana dalam pekan terakhir yang dihitung dengan memperhatikan akhirat, dan keputusan mana yang dihitung tanpa itu. Apa yang berubah dalam hitungan sehari-hari bila akhirat, yang disebut Allah sebagai ukuran di ayat ini, ikut dihitung?
  • Ayat dimulai dengan suara "Kami" yang menyatakan tujuan, lalu berganti ke "Tuhanmu" yang menjaga segala sesuatu. Dua sebutan itu hadir dalam satu ayat dan menunjuk pihak yang sama. Satu kalimat dapat memuat dua jarak, yaitu "Kami" yang berbicara langsung dan "Tuhanmu" yang disebut sebagai pihak ketiga bagi pendengar. Pembaca dapat memperhatikan sebutan mana yang dipakainya ketika menyebut Tuhan, dan apakah sebutan itu berubah bila keadaannya berubah. Sebutan apa yang keluar dari mulut pembaca ketika hidupnya sedang baik?