قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَىٰ هُدًى أَوْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Katakanlah, “Siapakah yang memberi kalian rezeki dari langit dan bumi?” Katakanlah, “Allah.” Dan sesungguhnya kami atau kalian pasti berada di atas petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قُلِ اللَّهُqul man yarzuqukum mina s-samaawaati wa-l-ardhi quli llaahukatakanlah, siapakah yang memberi kalian rezeki dari langit dan bumi? Katakanlah, Allah
- وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَىٰ هُدًى أَوْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍwa-innaa aw iyyaakum la-'alaa hudan aw fii dhalaalin mubiinindan sesungguhnya kami atau kalian pasti berada di atas petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata
Terjemahan per kata (17 kata)
- قُلْqulkatakanlah
- مَنْmanorang yang
- يَرْزُقُكُمْyarzuqukummemberi kalian rezeki
- مِنَminadari
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
- قُلِqulikatakanlah
- اللَّهُllaahuAllah
- وَإِنَّاwa-innaadan sesungguhnya kami
- أَوْawatau
- إِيَّاكُمْiyyaakumkalian
- لَعَلَىٰla-'alaabenar-benar atas
- هُدًىhudanpetunjuk
- أَوْawatau
- فِيfiidari
- ضَلَالٍdhalaalinkesesatan
- مُبِينٍmubiininyang nyata
Inti bacaan
Susunan (لَعَلَىٰ هُدًى, la-'alaa hudan) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 22:67 dan 34:24.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ, qul man yarzuqukum) yang berarti "katakanlah, siapakah yang memberi kalian rezeki". Susunan itu muncul dua kali di dua surah, yaitu di 10:31 dan 34:24. Rangkaian (مَنْ يَرْزُقُكُمْ, man yarzuqukum) muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 10:31, 27:64, dan 34:24, dan kata kerja (يَرْزُقُكُمْ, yarzuqukum) yang berarti "memberi kalian rezeki" muncul lima kali di lima surah, yaitu 10:31, 27:64, 34:24, 35:3, dan 67:21. Tempat rezeki itu berasal ditulis berbeda. Di 10:31, 27:64, dan 35:3 tertulis kata langit dalam bentuk tunggal, (مِنَ السَّمَاءِ, mina s-samaa'i) yang berarti "dari langit". Di 34:24 yang tertulis bentuk jamak, (مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, mina s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "dari langit dan bumi", dan rangkaian dengan bentuk jamak itu muncul dua kali di dua surah, yaitu 16:73 dan 34:24. Di 16:73 rangkaian itu memuat pernyataan bahwa yang mereka sembah selain Allah tidak memiliki rezeki dari langit dan bumi.
Perintah kedua, (قُلِ اللَّهُ, quli llaahu) yang berarti "katakanlah, Allah", adalah jawaban atas pertanyaan tadi. Pola pertanyaan yang diikuti perintah menjawab ada juga di 13:16, (قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ, qul man rabbu s-samaawaati wa-l-ardhi quli llaahu) yang berarti "katakanlah, siapa Tuhan langit dan bumi? Katakanlah, Allah". Di 10:31 pertanyaan yang sama dengan 34:24 diikuti jawaban dari pihak lain, (فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ, fa-sa-yaquuluuna llaahu) yang berarti "maka mereka akan menjawab, Allah". Di 34:24 jawaban itu diucapkan oleh pihak yang menerima perintah, dan sesudahnya tidak ada kalimat yang memuat tanggapan lawan bicara.
Kalimat kedua dibuka dengan (وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ, wa-innaa aw iyyaakum) yang berarti "dan sesungguhnya kami atau kalian", dan susunan itu hanya muncul di 34:24. Kata (إِيَّاكُمْ, iyyaakum) yang berarti "kalian" dalam bentuk lepas muncul enam kali di lima surah, yaitu 4:131, 17:31, 29:60, 34:24, 34:40, dan 60:1. Tiga di antaranya ada dalam ayat yang membicarakan rezeki, yaitu 17:31, 29:60, dan 34:24. Di 17:31 tertulis (نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ, nahnu narzuquhum wa-iyyaakum) yang berarti "Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepada kalian", dan di 29:60 (يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ, yarzuquhaa wa-iyyaakum) yang berarti "yang memberi rezeki kepadanya dan kepada kalian". Di dua ayat itu iyyaakum menjadi sasaran pemberian rezeki, sedangkan di 34:24 kata itu menjadi salah satu dari dua pihak yang dibandingkan.
Kata (أَوْ, aw) yang berarti "atau" muncul dua kali dalam kalimat ini, pertama antara "kami" dan "kalian" dan kedua antara petunjuk dan kesesatan. Susunan dua pasangan itu tidak menetapkan pasangan mana dengan mana. Teks tidak menyatakan bahwa "kami" berada di atas petunjuk dan "kalian" dalam kesesatan, dan tidak pula sebaliknya. Terjemahan mengikuti urutan Arabnya tanpa menambahkan pencocokan.
Kata (هُدًى, hudan) yang berarti "petunjuk" dalam susunan (لَعَلَىٰ هُدًى, la-'alaa hudan) yang berarti "benar-benar di atas petunjuk" muncul dua kali di dua surah, yaitu 22:67 dan 34:24. Susunan ('alaa hudan) tanpa huruf la muncul empat kali di empat surah, yaitu 2:5, 22:67, 31:5, dan 34:24. Di 2:5 dan 31:5 petunjuk itu diberi asal, (أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ, ulaa'ika 'alaa hudan min rabbihim) yang berarti "mereka itu berada di atas petunjuk dari Tuhan mereka", dan di 22:67 diberi sifat (مُسْتَقِيمٍ, mustaqiimin) yang berarti "lurus". Di 34:24 petunjuk tidak diberi asal maupun sifat.
Kata (ضَلَالٍ, dhalaalin) yang berarti "kesesatan" dalam rangkaian (فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ, fii dhalaalin mubiinin) yang berarti "dalam kesesatan yang nyata" muncul delapan belas kali di enam belas surah, yaitu 3:164, 6:74, 7:60, 12:8, 12:30, 19:38, 21:54, 26:97, 28:85, 31:11, 34:24, 36:24, 36:47, 39:22, 43:40, 46:32, 62:2, dan 67:29. Di beberapa ayat, misalnya 6:74 dan 12:8, rangkaian itu menunjuk pihak yang dinilai oleh pembicara. Di 36:24 dan 26:97 rangkaian itu dikenakan pada diri pembicara sendiri, tetapi dalam pengandaian di 36:24 dan pengakuan di 26:97. Di 67:29 penilaian ditunda, (فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ, fa-sa-ta'lamuuna man huwa fii dhalaalin mubiinin) yang berarti "kelak kalian akan tahu siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata". Susunan (أَوْ فِي ضَلَالٍ, aw fii dhalaalin) hanya muncul di 34:24, tempat rangkaian itu menjadi satu dari dua kemungkinan bagi dua pihak. Kata (مُبِينٍ, mubiinin) yang berarti "yang nyata" ditaruh sesudah kesesatan, dan kata petunjuk di ayat ini tidak diberi kata sifat.
Tafsiran
Ayat ini memuat tiga bagian yang tersusun menaik, yaitu pertanyaan tentang rezeki, jawabannya, lalu sebuah pernyataan yang menaruh dua pihak pada dua kemungkinan. Pertanyaan dan jawaban di dua bagian pertama diperintahkan untuk diucapkan, dan tidak ada tanggapan lawan bicara yang dicatat. Bagian ketiga bergerak dari urusan sehari-hari, yaitu rezeki, ke urusan yang lebih menentukan, yaitu petunjuk dan kesesatan.
Kata rezeki sudah muncul di surah ini pada 34:15, ketika kaum Saba' diperintah (كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ, kuluu min rizqi rabbikum) yang berarti "makanlah dari rezeki Tuhan kalian". Sesudah kisah mereka selesai di 34:21, pertanyaan di 34:24 membawa kata itu kembali dalam bentuk pertanyaan kepada pihak yang diajak bicara. Dengan demikian rezeki menjadi titik temu antara kisah dan pembicaraan sesudahnya. Ayat 34:22 menyebut bahwa pihak yang disangka berperan tidak memiliki seberat zarah, dan 34:24 menanyakan siapa yang memberi rezeki dari langit dan bumi, sehingga dua ayat itu bergerak dari penyangkalan ke pertanyaan.
Pernyataan terakhir ayat disusun agar tidak menetapkan siapa yang berada di pihak mana. Kalimat itu memakai "kami atau kalian" dan "petunjuk atau kesesatan", dan dua pasangan itu dibiarkan tanpa pencocokan. Dapat dibaca bahwa susunan ini menaruh pembicara dan lawan bicara pada pijakan yang sama sebelum keputusan diumumkan, dan di 67:29 keputusan itu ditunda dengan kata kelak. Pembacaan ini bersandar pada bentuk kalimatnya. Ayat sendiri tidak menyatakan bahwa kesetaraan itu sikap sopan atau cara berdebat.
Ayat berikutnya, 34:25, memakai perintah qul lagi dan memisahkan pertanyaan tentang perbuatan masing-masing pihak. Karena itu 34:24 menjadi ayat yang mengakhiri bagian tentang pihak yang disangka berperan dan membuka bagian tentang pertanggungjawaban masing-masing, dan rangkaian perintah qul di 34:22, 34:24, 34:25, dan 34:26 membentuk percakapan yang bergantian dengan lawan bicara yang tidak dikutip dalam rangkaian itu.
Renungan dan Hikmah
- Di 10:31 pertanyaan tentang rezeki dijawab oleh pihak lain, "maka mereka akan menjawab, Allah", sedangkan di 34:24 jawaban itu diperintahkan kepada penanya sendiri. Dalam ayat ini nama Allah diucapkan oleh yang bertanya, dan tanggapan lawan bicara tidak dicatat. Pembaca yang pernah berbicara tentang sumber rezeki dapat memperhatikan siapa yang lebih dulu menyebut nama itu dalam percakapannya, dirinya atau lawan bicaranya. Apakah nama Allah muncul di mulut pembaca saat rezeki dibicarakan, atau hanya saat rezeki terasa kurang?
- Ayat memakai "kami atau kalian", sehingga pembicara menaruh dirinya di dalam kemungkinan yang sama dengan lawan bicara. Pernyataan itu muncul sesudah jawaban yang menyebut nama Allah, dan jawaban itu tidak otomatis menempatkan pembicara di sisi petunjuk. Pembaca dapat memperhatikan bahwa orang yang yakin pada jawabannya tentang Tuhan masih dapat menyebut dirinya sebagai salah satu dari dua kemungkinan. Seberapa mudah pembaca menyebut dirinya mungkin berada dalam kesesatan, ketika pembaca sudah merasa tahu jawaban atas pertanyaan tentang Tuhan?
- Kalimat terakhir memuat dua pasangan, "kami atau kalian" dan "petunjuk atau kesesatan", dan ayat tidak mencocokkan keduanya. Pembaca cenderung segera mengisi pencocokan itu menurut kecondongannya sendiri. Ayat menahan pencocokan itu, dan di 67:29 penilaian atas siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata ditunda sampai kelak. Pembaca dapat memperhatikan kecepatan dirinya mengisi bagian yang sengaja dibiarkan terbuka. Apa yang terjadi pada sebuah pembicaraan tentang Tuhan bila pencocokan itu ditahan satu tarikan napas lebih lama, seperti yang dilakukan ayat ini?
- Kesesatan di ayat ini diberi sifat nyata, sedangkan petunjuk tidak diberi sifat apa pun. Di 2:5 dan 31:5 petunjuk disebut berasal dari Tuhan mereka, dan di 22:67 disebut lurus, tetapi 34:24 tidak memuat keduanya. Pembaca dapat memperhatikan bahwa dalam ayat ini hanya satu sisi yang digambarkan terang, yaitu kesesatan. Apakah pembaca lebih sering membicarakan kesesatan yang jelas di sekelilingnya, dan seberapa jarang petunjuk yang dipegangnya disebut sebagai pemberian Allah?
- Kata rezeki dipakai di 34:15 dalam perintah kepada kaum Saba' untuk makan dari rezeki Tuhan mereka, dan muncul lagi di 34:24 sebagai pertanyaan. Dua ayat itu dipisahkan oleh kisah kehilangan kebun, dan ayat 34:24 tidak menyebut kisah itu. Pembaca dapat membawa dua tempat itu berdampingan sebagai bahan renungan, dengan mengingat bahwa keduanya berbicara kepada pihak yang berbeda. Rezeki yang hari ini tampak biasa dapat berfungsi seperti kebun di kisah itu, sebagai tanda yang sedang dibaca atau sebagai tanda yang sedang dilewati. Bagian mana dari rezekinya hari ini yang pernah ia hitung sebagai pemberian Tuhan?
- Ayat memulai dari rezeki, urusan yang dekat dengan hidup sehari-hari, lalu bergerak ke petunjuk dan kesesatan. Urutan itu menaruh pembicaraan besar di atas pertanyaan yang kecil dan konkret. Dari pertanyaan siapa yang memberi rezeki, pembicaraan sampai ke pertanyaan tentang di mana seseorang berdiri. Pembaca dapat memperhatikan bahwa pembicaraan tentang Tuhan dalam ayat ini tidak dimulai dari konsep, melainkan dari sesuatu yang ditemui pembaca setiap hari. Hal sehari-hari apa yang dapat menjadi pintu masuk bagi pembaca untuk bertanya kepada dirinya tentang pijakannya?