قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Katakanlah, “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya.” Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُqul inna rabbii yabsuthu r-rizqa li-man yasyaa'u wa-yaqdirukatakanlah, sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya
- وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَwa-laakinna aktsara n-naasi laa ya'lamuunaakan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui
Terjemahan per kata (13 kata)
- قُلْqulkatakanlah
- إِنَّinnasesungguhnya
- رَبِّيrabbiiTuhanku
- يَبْسُطُyabsuthumelapangkan
- الرِّزْقَr-rizqarezeki
- لِمَنْli-mankepada siapa yang
- يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
- وَيَقْدِرُwa-yaqdirudan Dia menyempitkan
- وَلَٰكِنَّwa-laakinnatetapi
- أَكْثَرَaktsarakebanyakan
- النَّاسِn-naasimanusia
- لَاlaatidak
- يَعْلَمُونَya'lamuunamengetahui
Inti bacaan
Susunan (يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ, yabsuthu r-rizqa li-man yasyaa'u wa-yaqdiru) muncul enam kali di Al-Qur'an (13:26, 17:30, 30:37, 34:36, 39:52, 42:12), dan hanya di 34:36 susunan itu didahului (إِنَّ رَبِّي, inna rabbii).
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (قُلْ إِنَّ رَبِّي, qul inna rabbii) yang berarti "katakanlah, sesungguhnya Tuhanku", tersusun dari (قُلْ, qul) yang berarti "katakanlah" dan (رَبِّي, rabbii) yang berarti "Tuhanku". Susunan qul inna rabbii muncul tiga kali di Al-Qur'an, dan ketiganya ada di surah 34, yaitu 34:36, 34:39, dan 34:48. Kata (يَبْسُطُ, yabsuthu) yang berarti "melapangkan" berakar ب-س-ط, dan (وَيَقْدِرُ, wa-yaqdiru) yang berarti "dan menyempitkan" berakar ق-د-ر. Kedua kata kerja itu berpasangan di sembilan ayat, yaitu 13:26, 17:30, 28:82, 29:62, 30:37, 34:36, 34:39, 39:52, dan 42:12. Susunan lengkap (يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ, yabsuthu r-rizqa li-man yasyaa'u wa-yaqdiru) yang berarti "melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya" muncul enam kali di Al-Qur'an, yaitu di 13:26, 17:30, 30:37, 34:36, 39:52, dan 42:12. Di tiga ayat lain, yaitu 28:82, 29:62, dan 34:39, frasa (مِنْ عِبَادِهِ, min 'ibaadihi) yang berarti "di antara hamba-hamba-Nya" disisipkan sebelum kata kerja kedua.
Pelaku kedua kata kerja itu disebut dengan nama yang berbeda di tiap ayat: Allah di 13:26, 28:82, 29:62, 30:37, dan 39:52, Tuhanmu di 17:30 lewat (إِنَّ رَبَّكَ, inna rabbaka) yang berarti "sesungguhnya Tuhanmu", dan Tuhanku di 34:36 dan 34:39. Di 34:36 penerimanya disebut sekali, yaitu (لِمَنْ يَشَاءُ, li-man yasyaa'u) yang berarti "bagi siapa yang Dia kehendaki", dan ayat tidak menyebut penerima terpisah bagi kata kerja kedua. Kata (الرِّزْقَ, r-rizqa) yang berarti "rezeki" berakar ر-ز-ق dan memakai kata sandang, sehingga rezeki di sini disebut sebagai sesuatu yang sudah dikenal. Kata kerja yang akarnya sama dengan wa-yaqdiru muncul dalam bentuk lampau di 89:16, (فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ, fa-qadara 'alayhi rizqahu) yang berarti "lalu membatasi rezekinya", dengan pelaku Tuhan yang disebut di ayat sebelumnya. Terjemahan di sini memakai pasangan "melapangkan" dan "menyempitkan" seperti di sembilan ayat tadi.
Kalimat penutup (وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ, wa-laakinna aktsara n-naasi laa ya'lamuuna) yang berarti "akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui" tersusun dari (وَلَٰكِنَّ, wa-laakinna) yang berarti "akan tetapi", (أَكْثَرَ, aktsara) yang berarti "kebanyakan" berakar ك-ث-ر, (النَّاسِ, n-naasi) yang berarti "manusia", dan (لَا يَعْلَمُونَ, laa ya'lamuuna) yang berarti "tidak mengetahui" berakar ع-ل-م. Susunan lengkap itu muncul di sebelas ayat pada tujuh surah, yaitu 7:187, 12:21, 12:40, 12:68, 16:38, 30:6, 30:30, 34:28, 34:36, 40:57, dan 45:26, dan surah 34 memuatnya dua kali, di 34:28 dan 34:36. Kata kerja laa ya'lamuuna di semua ayat itu berdiri tanpa objek, sehingga ayat tidak menyebut apa yang tidak diketahui. Akar ك-ث-ر juga ada di ayat sebelumnya, 34:35, pada (أَكْثَرُ أَمْوَالًا, aktsaru amwaalan) yang berarti "lebih banyak harta", dan di 34:41 pada (أَكْثَرُهُمْ, aktsaruhum) yang berarti "kebanyakan mereka".
Tafsiran
Ayat ini menjawab ucapan di 34:35 tanpa menyebut ucapan itu dan tanpa membantah angkanya. Ayat sebelumnya memuat klaim bahwa sebuah kelompok lebih banyak harta dan anak, dan 34:36 berpindah ke pertanyaan tentang siapa yang melapangkan dan menyempitkan rezeki. Perpindahan itu mengubah arah pembicaraan dari jumlah yang dimiliki ke pelaku yang memberi dan menahan, dan ayat tidak menyatakan bahwa pelaku itu pernah ditanyai oleh kelompok yang berbicara di 34:35.
Ayat ini juga membuka sebuah bingkai yang ditutup di 34:39. Kalimat yang hampir sama muncul lagi di 34:39 dengan tambahan (مِنْ عِبَادِهِ, min 'ibaadihi) dan (لَهُ, lahu), dan di antara keduanya ada 34:37 dan 34:38. Ayat 34:37 menyatakan bahwa harta dan anak tidak mendekatkan kepada Kami sedekat-dekatnya, kecuali orang yang beriman dan beramal saleh, dan 34:38 menyebut orang-orang yang berusaha keras terhadap tanda-tanda Kami. Urutan ini menempatkan pernyataan tentang pemberian dan penahanan rezeki di dua ujung, dan pernyataan tentang ukuran kedekatan di tengah. Tafsir ini menaruh hubungan itu pada susunan ayat, tidak pada kalimat di dalam ayat.
Kalimat penutup 34:36 mengulang penutup 34:28. Surah 34 mengakhiri dua pernyataan dengan kalimat yang sama, pertama tentang pengutusan kepada seluruh manusia dan kedua tentang pemberian rezeki, dan kedua kalimat itu tidak menyebut apa yang tidak diketahui. Di 34:41 akar kata kebanyakan muncul lagi pada kelompok yang berbeda, sehingga kata kebanyakan di surah ini dipakai untuk tiga kelompok dan tiga hal yang berbeda: kelompok yang lebih banyak harta di 34:35, manusia yang tidak mengetahui di 34:36, dan mereka yang disebut di 34:41.
Renungan dan Hikmah
- Di 34:36 kata melapangkan dan kata menyempitkan memiliki pelaku yang sama, Tuhanku, dan penerima yang disebut sekali, yaitu siapa yang Dia kehendaki. Ayat tidak menyebut dua kehendak untuk dua keadaan, dan hal yang sama terlihat di sembilan ayat tempat kedua kata kerja itu berpasangan. Pembaca yang pernah bergantian berada di sisi lapang dan sisi sempit dapat memperhatikan apakah dua cerita yang berbeda tersimpan untuk keduanya, satu tentang jerih payah dirinya dan satu tentang nasib yang tidak berpihak. Ayat ini menyodorkan satu kalimat yang memuat keduanya sekaligus, dan jarak antara kedua cerita itu menjadi terlihat. Bila kelapangan dan kesempitan yang pernah dialami pembaca sama-sama dikembalikan kepada kehendak Dia yang sama, cerita mana yang masih berdiri tegak?
- Di 89:15 manusia yang diuji Tuhannya lalu dimuliakan dan diberi kenikmatan berkata, "Tuhanku telah memuliakanku", dan di 89:16 manusia yang diuji lalu dibatasi rezekinya berkata, "Tuhanku telah menghinaku". Kedua keadaan itu disebut dengan kata kerja yang sama, menguji, dan ayat 89:17 menjawab dengan kata sekali-kali tidak. Di 34:36 kata kebanyakan manusia tidak mengetahui berdiri di ujung kalimat tentang lapang dan sempit, sehingga pembaca dapat mendengar kaitan antara dua ayat itu tanpa ada kalimat yang menyambungkannya. Pembaca dapat memperhatikan kalimat mana dari dua kalimat itu yang paling sering terdengar dalam batinnya ketika sebuah kabar baik atau buruk tiba. Bila kabar yang datang hari ini diberi nama ujian dan tidak diberi nama kemuliaan atau penghinaan, apa yang berubah pada cara pembaca menyambutnya?
- Di 28:79 orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, "Aduhai, sekiranya kita mempunyai seperti yang telah diberikan kepada Qarun", dan di 28:82 orang-orang yang kemarin mengangankan kedudukannya mengucapkan kalimat tentang Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya. Di antara dua ucapan itu ada 28:81, tempat Kami membenamkan Qarun beserta rumahnya, sehingga kalimat yang bermuatan sama diucapkan sesudah sebuah peristiwa dan tidak diucapkan sebelumnya. Ayat 34:36 memuat kalimat itu tanpa peristiwa pembenaman yang mendahuluinya, dan 28:82 memperlihatkan seperti apa pendengar yang mengucapkannya setelah peristiwa itu. Pembaca dapat membayangkan apakah dirinya lebih dekat dengan ucapan di 28:79 atau di 28:82 ketika membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain. Apa yang harus terjadi lebih dulu sebelum kalimat di 34:36 terdengar masuk akal bagi pembaca?
- Di 42:27 tertulis bahwa seandainya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan melampaui batas di bumi, dan bahwa Dia menurunkan rezeki dengan ukuran yang Dia kehendaki. Ayat itu memberi satu alasan mengapa kelapangan tidak dibagikan tanpa batas, sedangkan 34:36 menyebut pembagian itu tanpa memberi alasan. Ayat 42:27 juga menutup dengan menyebut bahwa Dia waskita dan melihat hamba-hamba-Nya, sehingga ukuran itu dinyatakan dipilih dengan pengetahuan tentang para penerimanya. Pembaca dapat memandang kesempitan yang pernah dialami sebagai ukuran yang disebut dalam ayat itu, dan dapat memandang kelapangan sebagai ukuran yang sama dari sisi yang berlawanan. Seandainya kelapangan datang tanpa tepi, apa yang akan dilakukan pembaca terhadap tetangga, terhadap waktunya, dan terhadap permintaan yang selama ini selalu dijawab dengan kata tidak sanggup?
- Kalimat tentang melapangkan dan menyempitkan muncul di 34:36 dan muncul lagi di 34:39, dan di antaranya 34:37 menyebut bahwa harta dan anak tidak mendekatkan kepada Kami sedekat-dekatnya, kecuali orang yang beriman dan beramal saleh. Dengan susunan itu, rezeki yang diberikan Tuhan dan jarak kepada-Nya disebut sebagai dua hal yang tidak dihitung dengan satu timbangan. Ayat 34:39 menutup dengan perkataan bahwa apa pun yang diinfakkan akan diganti oleh Dia, sehingga rezeki yang lapang di sana digambarkan bergerak keluar lagi. Pembaca dapat memperhatikan timbangan mana yang dipakainya untuk menghitung kedekatan, dan timbangan mana yang dipakainya untuk menghitung rezeki, lalu melihat apakah keduanya pernah dicampur. Jika harta yang bertambah tidak ikut menambah kedekatan, dengan ukuran apa pembaca menimbang hari-harinya?
- Kalimat penutup 34:36 menyebut bahwa kebanyakan manusia tidak mengetahui, dan ayat tidak menyebut apa yang tidak mereka ketahui. Kekosongan yang sama ada di 34:28 dan di sembilan ayat lain yang memuat kalimat itu, sehingga bagian yang kosong itu terdapat di sebelas ayat. Pembaca dapat mengisi kekosongan itu dengan apa yang paling dekat dengan keadaannya sendiri, dan isian itu dapat berubah sesuai musim dalam hidupnya. Di 39:52 sebuah pertanyaan menanyakan apakah mereka tidak mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya, dan ayat itu menyebut bahwa pada yang demikian itu ada tanda-tanda bagi kaum yang beriman. Di antara hal yang dapat diketahui dari kalimat itu dan hal yang masih tersisa untuk diketahui, bagian mana yang pembaca anggap sudah selesai dipelajari?