قُلْ مَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Katakanlah, “Imbalan apa pun yang aku minta dari kalian, itu untuk kalian. Imbalanku hanya dari Allah, dan Dia Sang Menyaksikan segala sesuatu.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قُلْ مَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْqul maa sa'altukum min ajrin fa-huwa lakumkatakanlah, imbalan apa pun yang aku minta dari kalian, itu untuk kalian
  2. إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌin ajriya illaa 'ala llaahi wa-huwa 'alaa kulli syay'in syahiidunimbalanku hanya dari Allah, dan Dia Sang Menyaksikan segala sesuatu

Terjemahan per kata (17 kata)

  1. قُلْqulkatakanlah
  2. مَاmaatidaklah
  3. سَأَلْتُكُمْsa'altukumaku meminta kepada kalian
  4. مِنْmindari
  5. أَجْرٍajrinupah
  6. فَهُوَfa-huwamaka dia
  7. لَكُمْlakumbagi kalian
  8. إِنْintidaklah
  9. أَجْرِيَajriyaupahku
  10. إِلَّاillaakecuali
  11. عَلَى'alaatas
  12. اللَّهِllaahiAllah
  13. وَهُوَwa-huwadan Dia
  14. عَلَىٰ'alaaatas
  15. كُلِّkullisegala
  16. شَيْءٍsyay'insesuatu
  17. شَهِيدٌsyahiidunmenyaksikan

Inti bacaan

Rangkaian (مَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ, maa sa'altukum min ajrin) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 10:72 dan 34:47.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (قُلْ, qul) yang berarti "katakanlah", dan kata yang sama membuka empat ayat sesudahnya, sehingga lima ayat berturut-turut, 34:46 sampai 34:50, dimulai dengan perintah berbicara. Bagian pertama, (قُلْ مَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ, qul maa sa'altukum min ajrin fa-huwa lakum) yang berarti "katakanlah, imbalan apa pun yang aku minta dari kalian, itu untuk kalian", memuat kata kerja lampau (سَأَلْتُكُمْ, sa'altukum) yang berarti "aku meminta kalian", dari akar س-أ-ل, dengan akhiran -tu untuk "aku" dan -kum untuk "kalian". Rangkaian (مَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ, maa sa'altukum min ajrin) muncul dua kali, yaitu di 10:72 dan 34:47. Di 10:72 bunyinya (فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ, fa-maa sa'altukum min ajrin) dan diterjemahkan sebagai penyangkalan, "maka aku tidak meminta imbalan sedikit pun dari kalian". Di 34:47 bagian kalimat (فَهُوَ لَكُمْ, fa-huwa lakum) yang berarti "maka itu bagi kalian" langsung mengikutinya, dan bagian kalimat itu hanya ada di sini.

Morfologi menandai (مَا, maa) di 34:47 sebagai kata penyangkal, seperti di 10:72. Terjemahan 34:47 membacanya sebagai "apa pun yang", karena bagian kalimat sesudahnya menjadikan imbalan itu subjek yang jatuh kepada pendengar. Dengan bacaan penyangkal, kalimat pertama menjadi "aku tidak meminta imbalan dari kalian", dan bagian kalimat sesudahnya harus dibaca berdiri sendiri. Teks tidak memberi tanda yang memutuskan di antara kedua bacaan itu, dan terjemahan memilih bacaan pertama karena fa-huwa lakum langsung menyambung ke apa yang diminta.

Kata (أَجْرٍ, ajrin) yang berarti "imbalan" berakar أ-ج-ر. Rangkaian (مِنْ أَجْرٍ, min ajrin) muncul di sepuluh ayat, yaitu 10:72, 12:104, 25:57, 26:109, 26:127, 26:145, 26:164, 26:180, 34:47, dan 38:86. Di 25:57 dan 38:86 bunyinya (مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ, maa as'alukum 'alayhi min ajrin) yang berarti "aku tidak meminta imbalan kepada kalian atasnya", dan di 12:104 (وَمَا تَسْأَلُهُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ, wa-maa tas'aluhum 'alayhi min ajrin) yang berarti "dan engkau tidak meminta mereka imbalan atasnya". Ketiganya memuat (عَلَيْهِ, 'alayhi) yang berarti "atasnya", yaitu hal yang atasnya imbalan akan diminta. Di 34:47 kata itu tidak ada, jadi teks tidak menyebut atas apa imbalan itu diminta.

Bagian kedua, (إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ, in ajriya illaa 'ala llaahi) yang berarti "imbalanku tidak lain dari Allah", memakai (إِنْ, in) sebagai kata penyangkal, (أَجْرِيَ, ajriya) yang berarti "imbalanku" dari ajr dengan akhiran -ya untuk "ku", (إِلَّا, illaa) yang berarti "kecuali", dan (عَلَى, 'ala) yang berarti "atas". Terjemahan memakai "dari" untuk 'ala, mengikuti pilihan yang sama di ayat lain. Rangkaian (أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى, ajriya illaa 'alaa) muncul di sembilan ayat, yaitu 10:72, 11:29, 11:51, 26:109, 26:127, 26:145, 26:164, 26:180, dan 34:47, dan bagian sesudahnya berganti. Di tiga ayat, yaitu 10:72, 11:29, dan 34:47, bunyinya (إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ, in ajriya illaa 'alaa llaahi). Di 11:51 bunyinya (إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي, in ajriya illaa 'alaa lladzii fatharanii) yang berarti "imbalanku tidak lain dari Dia yang menciptakanku". Di lima ayat surah 26, yaitu 26:109, 26:127, 26:145, 26:164, dan 26:180, bunyinya (إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ, in ajriya illaa 'alaa rabbi l-'aalamiina) yang berarti "imbalanku tidak lain dari Tuhan seisi alam". Pembicara tiap ayat surah 26 itu berbeda: Nuh di 26:106 sampai 26:109, Hud di 26:124 sampai 26:127, Salih di 26:142 sampai 26:145, Lut di 26:161 sampai 26:164, dan Syuaib di 26:177 sampai 26:180.

Bagian terakhir, (وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ, wa-huwa 'alaa kulli syay'in syahiidun) yang berarti "dan Dia Sang Menyaksikan segala sesuatu", dibuka dengan (هُوَ, huwa) yang berarti "Dia", dan kata ganti itu menunjuk pada Allah yang disebut tepat sebelumnya. Susunan 'alaa kulli syay'in syahiidun, "atas segala sesuatu menyaksikan", muncul di enam ayat dengan pelaku yang berganti: (وَأَنْتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ, wa-anta 'alaa kulli syay'in syahiidun) yang berarti "dan Engkau menyaksikan segala sesuatu" di 5:117, (إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ, inna llaaha 'alaa kulli syay'in syahiidun) di 22:17, (أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ, annahu 'alaa kulli syay'in syahiidun) di 41:53, (وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ, wa-llaahu 'alaa kulli syay'in syahiidun) di 58:6 dan 85:9, serta ayat ini dengan wa-huwa. Di 33:55 kata itu berbentuk (كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدًا, kaana 'alaa kulli syay'in syahiidan) dengan akhiran -an. Kata (شَهِيدٌ, syahiidun) berakar ش-ه-د dan tidak bersandang al-. Terjemahan 34:47 dan 33:55 memakai "Sang Menyaksikan" untuk kata ini. Kata (كُلِّ شَيْءٍ, kulli syay'in) yang berarti "segala sesuatu" tidak membatasi apa yang disaksikan, dan 34:47 tidak menyebut hal apa pun secara khusus.

Tafsiran

Ayat ini menjawab dugaan tentang apa yang dicari pembicaranya, dan jawabannya ditaruh dalam dua langkah: apa pun imbalan yang diminta menjadi milik pendengar, dan imbalan yang tersisa hanya datang dari Allah. Ayat ditutup dengan Allah sebagai Sang Menyaksikan segala sesuatu, sehingga dua pernyataan tentang imbalan itu ditempatkan di hadapan pihak yang menyaksikan.

Ayat 34:43 menuduh seorang lelaki dengan kata kerja (يُرِيدُ, yuriidu) yang berarti "ingin", yaitu ingin menghalangi pendengar dari kebiasaan nenek moyang, dan 34:47 dapat dibaca sebagai jawaban atas dugaan keinginan itu dengan menyebut apa yang diminta dari mereka: tidak ada yang tersisa bagi pembicara. Pembacaan ini terbuka, sebab 34:47 tidak mengutip tuduhan di 34:43 dan tidak menyebut kata ingin.

Kalimat tentang imbalan itu sudah muncul di surah-surah lain. Di 10:72, 11:29, 11:51, dan lima ayat surah 26, para pembicara yang berbeda menyatakannya kepada kaum masing-masing, dan sebagian memakai kata yang sama untuk meminta, (أَسْأَلُكُمْ, as'alukum) yang berarti "aku meminta kalian". Di 34:47 kalimat itu diucapkan atas perintah berbicara, dan ayat tidak menyebut siapa yang diperintah. Rangkaiannya dengan 34:46 dan 34:48 juga terbaca: 34:46 menyangkal kegilaan, 34:47 menyangkal imbalan, dan 34:48 menyebut Tuhan yang melontarkan kebenaran, dan ketiganya dibuka dengan perintah yang sama.

Kalimat imbalan di 34:47 disusul pernyataan tentang kesaksian atas segala sesuatu, sedangkan di ayat lain kalimat itu disusul pokok yang berlainan: perintah untuk termasuk orang yang berserah diri di 10:72, penolakan untuk mengusir orang-orang yang beriman di 11:29, dan pertanyaan tentang akal di 11:51. Karena itu tiga hal bertemu di 34:47: imbalan yang ditolak, imbalan yang dialamatkan, dan saksi atas semuanya.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyatakan bahwa imbalan apa pun yang diminta menjadi milik pendengar, dan pembicara tidak menyisakan apa-apa untuk dirinya. Pernyataan seperti itu mengubah letak kecurigaan: bila tidak ada keuntungan yang mengalir ke pembicara, dugaan bahwa pembicara berbicara demi keuntungan kehilangan pijakan di dalam ayat. Pembaca dapat memperhatikan bagaimana kecurigaan bekerja ketika mendengar sesuatu yang berat, dan apakah yang lebih dulu ditanyakan adalah siapa yang beruntung dari pesan itu atau apa isi pesannya. Apa yang berubah dalam cara mendengar ketika diketahui bahwa pembicara tidak mengambil apa pun?
  • Kalimat tentang imbalan diucapkan dengan alamat yang berbeda-beda: Allah di 34:47, Dia yang menciptakanku di 11:51, dan Tuhan seisi alam di lima ayat surah 26. Nama yang dipakai berganti, sedangkan arahnya sama, yaitu kepada pihak yang disebut itu. Orang yang melakukan sesuatu untuk orang lain dapat menanyakan ke mana harapan akan balasan dialamatkan. Bila alamatnya adalah pendengar, harapan itu mudah berubah menjadi tagihan. Pembaca dapat menimbang kebaikan yang pernah dilakukannya, lalu bertanya ke mana harapan akan balasannya diarahkan, dan apakah arah itu berubah ketika tidak ada yang mengucapkan terima kasih?
  • Ayat ini ditutup dengan Dia menyaksikan segala sesuatu, sehingga pernyataan tentang imbalan dan tentang apa yang diminta ditaruh di hadapan saksi. Di 5:117 kalimat serupa menutup laporan seorang pembicara kepada Allah tentang apa yang pernah diucapkannya, dan di 58:6 kalimat itu mengikuti pernyataan bahwa Allah menghitung apa yang mereka kerjakan sementara mereka melupakannya. Frasa segala sesuatu tidak membatasi apa yang disaksikan, termasuk hal yang tidak pernah diucapkan. Pembaca dapat memikirkan apakah cara berbicara tentang motifnya berubah ketika saksi disebut namanya, dan hal apa dalam hidupnya yang hanya diketahui oleh saksi itu?
  • Di 25:57 dan 38:86 imbalan disebut bersama atasnya, yaitu hal yang atasnya imbalan akan diminta. Di 34:47 kata atasnya tidak ada, sehingga ayat tidak menyebut hal apa yang diberi harga. Kekosongan itu dapat dibaca sebagai cakupan yang luas, tetapi pembacaan itu bersifat kemungkinan dan tidak dinyatakan ayat. Pembaca dapat mendaftar bentuk-bentuk imbalan yang diharapkannya dari hal-hal yang dilakukannya untuk orang lain, misalnya uang, pujian, kedudukan, atau diingat orang. Mana di antaranya yang disebutnya imbalan, dan mana yang tidak pernah diakuinya sebagai imbalan?
  • Kalimat bahwa imbalan datang dari Allah, dari Dia yang menciptakanku, atau dari Tuhan seisi alam diucapkan oleh Nuh, Hud, Salih, Lut, dan Syuaib di surah 26, oleh pembicara di 10:72, 11:29, dan 11:51, lalu di 34:47 atas perintah berbicara. Para pembicara itu berbeda zaman dan berbeda kaum, tetapi susunan katanya serupa. Pengulangan itu membuat kalimat tentang imbalan terbaca sebagai kalimat yang berulang di ayat-ayat tersebut. Pembaca dapat bertanya apa yang diketahuinya tentang seseorang yang kalimatnya selalu sama di berbagai keadaan, dan apakah pembicara yang mengubah kalimatnya mengikuti pendengar lebih dipercayainya daripada yang tidak mengubahnya?
  • Tuduhan di 34:43 memakai kata ingin, yaitu ingin menghalangi pendengar dari kebiasaan nenek moyang, dan 34:47 menjawab dengan pernyataan tentang apa yang diminta dari mereka. Tuduhan tentang niat dan jawaban tentang niat sama-sama tidak dapat dilihat dari luar. Ayat ini menaruh jawaban di hadapan Allah sebagai saksi dan juga di hadapan pendengar. Seseorang yang pernah dituduh bermaksud buruk dapat mengingat bagaimana jawabannya waktu itu: dengan kalimat yang menunjuk kepada saksi, atau dengan kalimat yang meminta pendengar mempercayainya? Bila satu saksi saja mengetahui isi niatnya, kepada siapa jawaban itu sebenarnya ditujukan?