قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَىٰ نَفْسِي ۖ وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ

Katakanlah, “Jika aku sesat, sesungguhnya aku sesat untuk diriku sendiri, dan jika aku mendapat petunjuk, hal itu disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia mendengar lagi dekat.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَىٰ نَفْسِيqul in dhalaltu fa-innamaa adhillu 'alaa nafsiikatakanlah, jika aku sesat, sesungguhnya aku sesat untuk diriku sendiri
  2. وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌwa-ini htadaytu fa-bi-maa yuuhii ilayya rabbii innahu samii'un qariibundan jika aku mendapat petunjuk, hal itu disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku; sesungguhnya Dia mendengar lagi dekat

Terjemahan per kata (16 kata)

  1. قُلْqulkatakanlah
  2. إِنْinjika
  3. ضَلَلْتُdhalaltuaku sesat
  4. فَإِنَّمَاfa-innamaamaka sesungguhnya hanyalah
  5. أَضِلُّadhilluaku sesat
  6. عَلَىٰ'alaaatas
  7. نَفْسِيnafsiidiriku
  8. وَإِنِwa-inidan jika
  9. اهْتَدَيْتُhtadaytuaku mendapat petunjuk
  10. فَبِمَاfa-bi-maamaka karena
  11. يُوحِيyuuhiimewahyukan
  12. إِلَيَّilayyakepadaku
  13. رَبِّيrabbiiTuhanku
  14. إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
  15. سَمِيعٌsamii'unmendengar
  16. قَرِيبٌqariibunyang dekat

Inti bacaan

Pembagian tanggung jawab yang jujur: 'jika aku sesat, aku sesat untuk diriku sendiri; jika mendapat petunjuk, itu karena wahyu Tuhanku', kerendahan hati yang menempatkan kesalahan pada diri sendiri dan pencapaian pada anugerah, pola sikap yang layak diteladani siapa pun yang mengklaim kebenaran.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian pembelaan diri dengan kerendahan hati total: kesesatan sepenuhnya tanggung jawab pribadi, sedangkan petunjuk sepenuhnya anugerah, tidak ada klaim kelebihan diri di antara keduanya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyuruh membagi tanggung jawab dengan jujur. Salah ditanggung sendiri. Benar dinisbahkan ke atas.
  • Tidak ada klaim di antara keduanya. Yang buruk miliknya. Yang baik bukan miliknya.
  • Penutupnya menyebut Dia mendengar lagi dekat. Allah ditaruh dekat justru sesudah pengakuan salah. Yang mengaku tidak dijauhkan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

sebutan diterjemahkan 'mendengar' per takrif corpus; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi smE/bSr: samii' diterjemahkan 'mendengar', basiir diterjemahkan 'melihat', verba melekat pada pelaku seragam Allah+manusia (Bandingkan 76:2, 11:24, 35:19); takrif diterjemahkan 'Yang Mendengar'/'Yang Melihat' (: takrif-verba pakai 'Yang'); indefinit kecil tanpa Maha. Verba sami'a/absara + sam'/basar + basiirah/basaa'ir = pemakaian diteruskan (cabang mata-hati didokumentasi). Kolisi 'melihat'⟷ra'aa = utang terbuka bedah r-'-y. ⟶ akar q-r-b KLASIFIKASI: qariib di sini sebutan, bukan nama Ilahi. Corpus: qariybN INDEFINIT, dan **sejajar dgn *samii'un*** dalam kalimat yang sama (innahu samii'un qariib). Sebelumnya keduanya diperlakukan BEDA: samii' diterjemahkan 'mendengar' ( lepas 'Maha') tapi qariib diterjemahkan 'Maha Dekat', bukti bahwa 'Maha' di sini sisa warisan, bukan keputusan. Kini seragam: 'mendengar lagi dekat'. Semua qariib yang menyifati Allah INDEFINIT (2:186, 7:56, 11:61, 33:63, 34:50); tak pernah ada al-Qariib takrif sbg nama. Koreksi KATEGORI, bukan makna.