قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَىٰ نَفْسِي ۖ وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ

Katakanlah, “Jika aku sesat, sesungguhnya aku sesat atas diriku sendiri, dan jika aku mendapat petunjuk, hal itu disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia mendengar lagi dekat.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَىٰ نَفْسِيqul in dhalaltu fa-innamaa adhillu 'alaa nafsiikatakanlah, jika aku sesat, sesungguhnya aku sesat atas diriku sendiri
  2. وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌwa-ini htadaytu fa-bi-maa yuuhii ilayya rabbii innahu samii'un qariibundan jika aku mendapat petunjuk, hal itu disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku; sesungguhnya Dia mendengar lagi dekat

Terjemahan per kata (16 kata)

  1. قُلْqulkatakanlah
  2. إِنْinjika
  3. ضَلَلْتُdhalaltuaku sesat
  4. فَإِنَّمَاfa-innamaamaka sesungguhnya hanya
  5. أَضِلُّadhilluaku sesat
  6. عَلَىٰ'alaaatas
  7. نَفْسِيnafsiidiriku
  8. وَإِنِwa-inidan jika
  9. اهْتَدَيْتُhtadaytuaku mendapat petunjuk
  10. فَبِمَاfa-bi-maamaka karena
  11. يُوحِيyuuhiimewahyukan
  12. إِلَيَّilayyakepadaku
  13. رَبِّيrabbiiTuhanku
  14. إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
  15. سَمِيعٌsamii'unmendengar
  16. قَرِيبٌqariibunyang dekat

Inti bacaan

Bentuk (يُوحِي إِلَيَّ, yuuhii ilayya) muncul sekali di Al-Qur'an, yaitu di 34:50, sedangkan bentuk pasifnya (يُوحَىٰ إِلَيَّ, yuuhaa ilayya) muncul di delapan ayat (6:50, 7:203, 10:15, 18:110, 21:108, 38:70, 41:6, 46:9).

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini memuat dua syarat yang dibuka dengan (إِنْ, in) yang berarti "jika", yaitu (إِنْ ضَلَلْتُ, in dhalaltu) yang berarti "jika aku sesat" dan (وَإِنِ اهْتَدَيْتُ, wa-ini htadaytu) yang berarti "dan jika aku mendapat petunjuk". Kata kerja pertama berakar ض-ل-ل. Bentuk (ضَلَلْتُ, dhalaltu), dengan akhiran -tu untuk pembicara tunggal, muncul dua kali di dua surah, yaitu 6:56 dan 34:50. Di 6:56, (قَدْ ضَلَلْتُ إِذًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُهْتَدِينَ, qad dhalaltu idzan wa-maa anaa mina l-muhtadiina) yang berarti "sungguh, jika demikian, tersesatlah aku, dan aku bukan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk", kesesatan diandaikan sebagai akibat mengikuti hawa nafsu orang lain, dan kalimat itu berada sesudah perintah mengucapkan seperti di 34:50. Di 34:50 kesesatan diandaikan tanpa sebab yang disebut. Kata kerja kedua, (اهْتَدَيْتُ, htadaytu) dari akar ه-د-ي, berpasangan dengan kata kerja pertama, sehingga terjemahan memakai pasangan "sesat" dan "mendapat petunjuk", sama dengan 10:108, 17:15, dan 39:41.

Kata (فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَىٰ نَفْسِي, fa-innamaa adhillu 'alaa nafsii) yang berarti "sesungguhnya aku sesat atas diriku sendiri" memakai kata kerja yang berbeda bentuk dari syaratnya. Syaratnya memakai bentuk perbuatan selesai, (ضَلَلْتُ, dhalaltu), dan jawabannya memakai bentuk perbuatan yang sedang berlangsung, (أَضِلُّ, adhillu). Pola selesai lalu berlangsung itu sama dengan (ضَلَّ, dhalla) dan (يَضِلُّ, yadhillu) di 10:108, 17:15, dan 39:41. Di tiga ayat itu jawabannya (فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا, fa-innamaa yadhillu 'alayhaa) yang berarti "sesungguhnya ia sesat atas dirinya sendiri", dengan (عَلَىٰ, 'alaa) atau (عَلَيْهَا, 'alayhaa) yang berarti "atas". Lawannya di 10:108 dan 17:15 adalah (فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ, fa-innamaa yahtadii li-nafsihi) yang berarti "sesungguhnya ia mendapat petunjuk untuk dirinya sendiri", dan di 39:41 (فَلِنَفْسِهِ, fa-li-nafsihi) yang berarti "maka untuk dirinya sendiri". Terjemahan 34:50 memakai "atas diriku sendiri" untuk (عَلَىٰ نَفْسِي, 'alaa nafsii), seperti "atas dirinya sendiri" di tiga ayat itu, dan "sendiri" mengikuti (نَفْسِي, nafsii) sebagaimana dalam ayat-ayat itu. Frasa 'alaa nafsii itu sendiri muncul sekali, di 34:50.

Cabang kedua berbeda dari tiga ayat tadi, sebab kata yang berarti "untuk diriku" tidak dipakai di sini. Yang dipakai ialah (فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي, fa-bi-maa yuuhii ilayya rabbii) yang berarti "maka disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku". Susunan (فَبِمَا, fa-bi-maa) muncul enam kali di enam surah, yaitu 3:159, 4:155, 5:13, 7:16, 34:50, dan 42:30. Terjemahan memakai "karena" atau "berkat" di lima ayat lainnya, sehingga 34:50 memakai "disebabkan". Kata kerja (يُوحِي, yuuhii) berakar و-ح-ي dan berbentuk aktif, dan pelakunya (رَبِّي, rabbii) yang berarti "Tuhanku" tertulis dalam kalimat yang sama. Bentuk (يُوحِي إِلَيَّ, yuuhii ilayya) muncul sekali, yaitu di 34:50, sedangkan bentuk pasif (يُوحَىٰ إِلَيَّ, yuuhaa ilayya) yang berarti "diwahyukan kepadaku" muncul di delapan ayat, yaitu 6:50, 7:203, 10:15, 18:110, 21:108, 38:70, 41:6, dan 46:9. Di kedelapan ayat itu pelaku wahyu tidak ditulis sebagai subjek kata kerja, dan 7:203 menambahkan sumbernya sebagai keterangan, (مِنْ رَبِّي, min rabbii) yang berarti "dari Tuhanku", sementara kata kerjanya tetap pasif.

Bagian penutup (إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ, innahu samii'un qariibun) yang berarti "sesungguhnya Dia mendengar lagi dekat" memuat dua sifat tanpa kata sandang, dan terjemahan menyambungnya dengan "lagi" seperti di 7:200 dan 11:61. Kata ganti -hu menunjuk (رَبِّي, rabbii) yang disebut sebelumnya. Pasangan (سَمِيعٌ قَرِيبٌ, samii'un qariibun) muncul sekali, yaitu di 34:50. Kata (سَمِيعٌ, samii'un) dari akar س-م-ع juga mengikuti (إِنَّهُ, innahu) di 7:200, (إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ, innahu samii'un 'aliimun) yang berarti "sesungguhnya Dia mendengar lagi berilmu", dengan sifat kedua yang berbeda. Kata (قَرِيبٌ, qariibun) dengan akhiran -un menjadi sifat bagi Tuhan di tiga ayat, yaitu 2:186, 11:61, dan 34:50. Di 2:186 pembicaranya berkata Aku tentang hamba-hamba-Ku, dengan bunyi (فَإِنِّي قَرِيبٌ, fa-innii qariibun) yang berarti "sesungguhnya Aku dekat", dan di 11:61 (إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ, inna rabbii qariibun mujiibun) yang berarti "sesungguhnya Tuhanku dekat lagi mengabulkan".

Tafsiran

Ayat ini menaruh pembicara di dalam kedua kemungkinan, tidak di luarnya. Bila pembicara sesat, kesesatan itu berlaku atas dirinya sendiri, dan bila pembicara mendapat petunjuk, petunjuk itu disebabkan apa yang diwahyukan Tuhannya. Di 10:108 susunan yang sebangun dipakai untuk orang lain, (فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ, fa-mani htadaa fa-innamaa yahtadii li-nafsihi) yang berarti "maka siapa yang mendapat petunjuk, sesungguhnya ia mendapat petunjuk untuk dirinya sendiri", dan ayat itu dibuka dengan (قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ, qad jaa'akumu l-haqqu) yang berarti "sungguh telah datang kepada kalian kebenaran". Urutan itu sama dengan 34:49 dan 34:50, yaitu kebenaran telah datang lalu pernyataan tentang sesat dan petunjuk. Beda keduanya ada pada orang yang dibicarakan dan pada sumber petunjuk. Di 10:108 pernyataan itu berbicara tentang "siapa", dan petunjuk berlaku untuk orang yang mendapatnya. Di 34:50 pernyataan itu berbicara tentang "aku", dan petunjuk dikaitkan dengan apa yang diwahyukan.

Rangkaian lima ayat yang dibuka perintah mengucapkan, 34:46 sampai 34:50, berakhir di sini. Empat ayat pertama menyangkut ajakan kepada orang lain, imbalan, Tuhan yang melontarkan kebenaran, dan datangnya kebenaran, dan kelima menyangkut pembicara sendiri. Ayat ini menutup rangkaian itu dengan kemungkinan kesalahan pembicara, sehingga kata-kata tentang kebenaran di ayat-ayat sebelumnya tidak berhenti pada orang lain.

Kalimat terakhir menyebut dua sifat bagi Tuhan yang disebut di ayat yang sama. Karena sifat itu datang sesudah kedua syarat, sifat itu dapat dibaca berlaku untuk cabang sesat dan cabang petunjuk sekaligus. Apa yang didengar dan apa yang dilakukan Dia yang dekat itu tidak tertulis, berbeda dengan 2:186 dan 11:61 yang menyusulkan tindakan menjawab. Kata dekat muncul lagi di ayat berikutnya, dalam (مَكَانٍ قَرِيبٍ, makaanin qariibin) yang berarti "tempat yang dekat", dan ayat 34:51 itu tidak menghubungkannya dengan 34:50.

Renungan dan Hikmah

  • Kata aku di 34:50 menaruh kemungkinan sesat pada pembicara sendiri, padahal kata siapa lebih mudah dipakai ketika menimbang orang lain. Pembaca yang pernah menilai orang lain dengan kata siapa dapat mencoba kalimat yang sama dengan kata aku. Dalam penilaian yang pernah diucapkan pembaca tentang orang lain, kata siapa manakah yang bila diganti aku akan terasa berat?
  • Ayat 34:50 menyebut kesesatan berlaku atas diri sendiri, dan 17:15 menulis (وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ, wa-laa taziru waaziratun wizra ukhraa) yang berarti "dan seorang pemikul beban tidak memikul beban orang lain" tepat sesudah pernyataan yang sama tentang sesat dan petunjuk. Dua ayat itu berbeda, yang satu tentang pembicara dan yang lain tentang siapa saja, dan keduanya tidak disamakan. Pembaca dapat membaca bahwa kesalahan yang dinamai sebagai milik sendiri sulit dititipkan kepada keadaan, kelompok, atau orang lain. Kesalahan mana dalam hidup pembaca yang selama ini dinamai milik orang lain, dan apa yang berubah bila namanya diganti?
  • Petunjuk di 34:50 dikaitkan dengan apa yang diwahyukan Tuhan kepada pembicara, dan pelaku wahyu itu ditulis dalam kalimatnya sendiri. Berbeda dengan 10:108 dan 17:15, petunjuk di ayat ini tidak dinyatakan berlaku untuk diri sendiri. Pembaca yang pernah merasa mendapat petunjuk dapat menimbang kepada apa dirinya mengaitkannya, kepada kecerdasan, pengalaman, atau sesuatu yang datang dari luar dirinya. Ayat ini memperlihatkan pembicara yang menaruh sebabnya pada apa yang diwahyukan Tuhannya, tanpa memerintahkan pilihan tertentu kepada pembaca. Kepada apa petunjuk yang kini dipegang pembaca dikembalikan sebabnya?
  • Kata (إِنْ, in) berarti jika, sehingga kesesatan di 34:50 dinyatakan sebagai kemungkinan dan tidak sebagai pengakuan. Di 6:56 kesesatan juga diandaikan dengan jika demikian, sesudah pembicara menolak mengikuti hawa nafsu orang lain. Orang yang dapat mengucapkan jika aku keliru tidak harus lebih dahulu yakin bahwa dirinya keliru, dan ayat ini memberi contoh kalimat semacam itu dalam sebuah perintah mengucapkan. Pembaca dapat bertanya apakah dirinya mampu mengucapkan jika aku keliru kepada orang yang sedang berselisih dengannya, dan kapan kalimat itu terakhir keluar dari mulutnya?
  • Pengandaian tentang kesesatan dan petunjuk di 34:50 ditutup dengan sifat Dia, yaitu mendengar lagi dekat, dan sifat itu datang sesudah kedua pengandaian. Di 2:186 kata dekat dipakai bagi Aku dalam kalimat tentang hamba-hamba yang bertanya, dan di 11:61 kata itu dipakai Saleh untuk Tuhannya dalam kalimat tentang orang yang memohon ampunan. Konteks tiga ayat itu berbeda, sehingga keduanya tidak disamakan. Dapat dibaca bahwa orang yang menyebut kemungkinan salahnya masih ditaruh ayat ini dalam jarak yang dekat dengan Dia yang mendengar. Apakah kemungkinan salah yang diakui terasa menjauhkan pembaca dari-Nya, dan apa yang ditunjukkan ayat ini tentang jarak itu?
  • Di 10:108 pernyataan tentang sesat dan petunjuk disusul (وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ, wa-maa anaa 'alaykum bi-wakiilin) yang berarti "dan aku bukanlah wakil atas kalian", dan di 39:41 disusul pernyataan serupa tentang engkau. Sesudah pernyataan tentang sesat dan petunjuk, 34:50 menyebut sifat Dia yang mendengar lagi dekat. Pembaca yang cenderung mengurus petunjuk orang lain dapat mengamati bahwa ayat ini mengarahkan perhatian kepada Dia yang mendengar. Hal apa yang selama ini diperlakukan pembaca sebagai urusan penjagaan orang lain, padahal di ayat ini penutupnya mengarah kepada Dia yang mendengar lagi dekat?