وَقَدْ كَفَرُوا بِهِ مِنْ قَبْلُ ۖ وَيَقْذِفُونَ بِالْغَيْبِ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ
Padahal, sungguh mereka telah kufur kepadanya sebelum itu, dan mereka melontarkan yang gaib dari tempat yang jauh.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَقَدْ كَفَرُوا بِهِ مِنْ قَبْلُwa-qad kafaruu bihi min qablupadahal sungguh mereka telah kufur kepadanya sebelum itu
- وَيَقْذِفُونَ بِالْغَيْبِ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍwa-yaqdzifuuna bi-l-ghaybi min makaanin ba'iidindan mereka melontarkan yang gaib dari tempat yang jauh
Terjemahan per kata (10 kata)
- وَقَدْwa-qadpadahal sungguh
- كَفَرُواkafaruukufur
- بِهِbihipadanya
- مِنْmindari
- قَبْلُqablusebelumnya
- وَيَقْذِفُونَwa-yaqdzifuunadan mereka melemparkan
- بِالْغَيْبِbi-l-ghaybipada yang gaib
- مِنْmindari
- مَكَانٍmakaanintempat
- بَعِيدٍba'iidinyang jauh
Inti bacaan
Susunan (وَيَقْذِفُونَ بِالْغَيْبِ, wa-yaqdzifuuna bi-l-ghaybi) muncul sekali di Al-Qur'an, yaitu 34:53, dan padanan terdekatnya (رَجْمًا بِالْغَيْبِ, rajman bi-l-ghaybi) muncul sekali di 18:22.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَقَدْ كَفَرُوا بِهِ, wa-qad kafaruu bihi) yang berarti "padahal sungguh mereka telah kufur kepadanya". Bagian (وَقَدْ, wa-qad) tersusun dari (وَ, wa) yang berarti "dan" dan (قَدْ, qad) yang berarti "sungguh", dan terjemahan memakai "padahal sungguh", seperti "padahal" di 60:1. Kata kerja (كَفَرُوا, kafaruu) berakar ك-ف-ر. Susunan (وَقَدْ كَفَرُوا, wa-qad kafaruu) muncul dua kali di dua surah, yaitu 34:53 dan 60:1. Di 60:1, (وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ, wa-qad kafaruu bi-maa jaa'akum mina l-haqqi) yang berarti "padahal mereka telah kufur terhadap kebenaran yang telah datang kepada kalian", benda yang dikufuri tertulis dalam kalimatnya. Susunan (كَفَرُوا بِهِ, kafaruu bihi) muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 2:89, 34:53, dan 37:170. Di 2:89 kata ganti itu didahului (كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ, kitaabun min 'indi llaahi) yang berarti "Kitab dari sisi Allah" dan (مَا عَرَفُوا, maa 'arafuu) yang berarti "apa yang telah mereka kenali", sedangkan di 34:53 tidak ada kata benda di ayat ini yang dapat dirujuk oleh -hi.
Kata (بِهِ, bihi) di 34:53 sama dengan kata di 34:52, (آمَنَّا بِهِ, aamannaa bihi) yang berarti "kami beriman kepadanya". Dengan demikian satu kata ganti yang sama mengikuti kata iman di ayat pertama dan kata kufur di ayat kedua. Dalam surah yang sama, orang-orang yang kufur disebut bersama benda yang mereka tolak di dua tempat. Di 34:31, (لَنْ نُؤْمِنَ بِهَٰذَا الْقُرْآنِ, lan nu'mina bi-haadzaa l-qur'aani) yang berarti "kami tidak akan beriman kepada Al-Qur'an ini", dan di 34:43, (وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ, wa-qaala lladziina kafaruu li-l-haqqi) yang berarti "dan orang-orang yang kufur berkata tentang kebenaran". Terjemahan 34:53 memakai "kepadanya" tanpa nama benda, sebab ayat ini tidak memilih salah satunya.
Bagian (مِنْ قَبْلُ, min qablu) yang berarti "sebelum itu" berakar ق-ب-ل dan menutup bagian pertama ayat ini. Frasa yang sama menutup juga 34:54, yaitu (مِنْ قَبْلُ, min qablu) pada akhir (كَمَا فُعِلَ بِأَشْيَاعِهِمْ مِنْ قَبْلُ, ka-maa fu'ila bi-asyyaa'ihim min qablu), sehingga dua ayat berurutan memuat waktu lampau dengan kata yang sama. Terjemahan memakai "sebelum itu" di 34:53 karena kalimat itu menunjuk waktu sebelum ucapan iman di 34:52, dan "sebelumnya" di 34:54 karena kalimat itu membandingkan dengan golongan lain.
Kata kerja (يَقْذِفُونَ, yaqdzifuuna) berakar ق-ذ-ف dan berbentuk perbuatan yang sedang berlangsung. Akar ini muncul sembilan kali di delapan ayat dan enam surah, yaitu 20:39 dua kali, 20:87, 21:18, 33:26, 34:48, 34:53, 37:8, dan 59:2. Bentuk (يَقْذِفُ, yaqdzifu), dengan atau tanpa akhiran jamak, muncul di dua ayat, yaitu 34:48 dan 34:53. Di 34:48, (يَقْذِفُ بِالْحَقِّ, yaqdzifu bi-l-haqqi) yang berarti "melontarkan kebenaran", kata benda sesudah (بِ, bi) adalah sesuatu yang dilontarkan, dan di 21:18, (نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ, naqdzifu bi-l-haqqi 'alaa l-baathili) yang berarti "Kami lemparkan kebenaran kepada kebatilan", susunan itu berulang dengan sasaran yang disebut. Terjemahan 34:53 mengikuti susunan itu, yaitu "melontarkan yang gaib", tanpa menambahkan kata benda yang tidak ada dalam Arabnya. Kata tuduhan tidak dipakai karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya.
Kata (بِالْغَيْبِ, bi-l-ghaybi) yang berarti "yang gaib" berakar غ-ي-ب. Bentuk persis ini muncul dua belas kali di dua belas surah, yaitu 2:3, 5:94, 12:52, 18:22, 19:61, 21:49, 34:53, 35:18, 36:11, 50:33, 57:25, dan 67:12. Di enam ayat, kata ini mengiringi kata kerja takut kepada Tuhan, yaitu 5:94, 21:49, 35:18, 36:11, 50:33, dan 67:12. Bunyi (يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ, yakhsyawna rabbahum bi-l-ghaybi) yang berarti "mereka takut kepada Tuhan mereka" muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 21:49, 35:18, dan 67:12, dan (خَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ, khasyiya r-rahmaana bi-l-ghaybi) yang berarti "takut kepada Ar-Rahman" muncul di 36:11 dan 50:33. Di 2:3 kata itu mengiringi iman, di 19:61 janji, di 57:25 pertolongan, dan di 12:52 tidak mengkhianati. Di 18:22 kata itu bertemu (رَجْمًا, rajman) dan terjemahan memakai "terkaan terhadap yang gaib", frasa yang hanya muncul di sana. Di 34:53 kata itu bertemu kata kerja melontar, dan susunan itu tidak ada di ayat lain.
Frasa (مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ, min makaanin ba'iidin) yang berarti "dari tempat yang jauh" menutup ayat ini dan juga 34:52. Frasa itu muncul empat kali di tiga surah, yaitu 25:12, 34:52, 34:53, dan 41:44. Di 34:52 frasa itu menyertai pertanyaan tentang penggapaian, dan di 34:53 menyertai perbuatan melontar. Tanda titik di ujung terjemahan menandai kalimat yang selesai.
Tafsiran
Ayat ini menaruh kufur yang lama di samping ucapan baru. Ucapan di 34:52 adalah kami beriman, dan ayat ini menyebut bahwa kufur kepadanya sudah terjadi sebelum itu. Kalimat pembukanya memakai kata padahal, sehingga ucapan iman dan kufur lama dibaca sebagai dua hal yang tidak serasi. Melontarkan yang gaib ditulis dengan kata kerja yang sedang berlangsung dan tanpa kata sebelum, sehingga lontaran itu dapat dibaca mendahului ucapan iman atau menyertainya, dan ayat tidak memutuskan salah satunya.
Ayat 34:48 dan 34:53 memakai kata kerja melontarkan yang sama dalam surah yang sama. Di 34:48 Tuhan melontarkan kebenaran, sedangkan di 34:53 mereka melontarkan yang gaib. Di 34:48 kalimat itu ditutup dengan (عَلَّامُ الْغُيُوبِ, 'allaamu l-ghuyuubi) yang berarti "Dia berilmu akan segala yang gaib", dan di 34:53 yang gaib menjadi benda yang dilontarkan manusia. Dua ayat itu tidak saling menyebut, dan hubungan keduanya adalah bacaan pembaca.
Jarak di ayat ini melanjutkan jarak di 34:52. Tempat yang jauh di sana menyertai pertanyaan tentang penggapaian, dan di sini menyertai perbuatan melontar. Melontar dari tempat yang jauh dapat dibaca sebagai melontar dari jarak yang tidak memungkinkan pelaku melihat sasarannya, dan 35:18 serta 36:11 memuat gagasan yang berhubungan lewat terjemahan "tanpa melihat-Nya" untuk kata yang gaib. Ayat 34:53 sendiri tidak menyebut hubungan itu. Di enam ayat tadi kata yang gaib mengiringi rasa takut kepada Tuhan, dan di 34:53 mengiringi perbuatan melontar, sehingga satu kata yang sama muncul pada dua sikap yang berbeda terhadap hal yang tidak terlihat.
Kata ganti -hi dipakai sesudah iman di 34:52 dan sesudah kufur di 34:53, sehingga dua ayat berurutan itu dapat dibaca merujuk benda yang sama, meskipun benda itu tidak ditulis. Calon bendanya ada dalam surah ini, yaitu kebenaran yang disebut di 34:43 dan 34:49, atau Al-Qur'an yang disebut di 34:31, dan ayat ini tidak memilih salah satunya.
Renungan dan Hikmah
- Di 34:53 mereka melontarkan yang gaib dari tempat yang jauh, sedangkan di 34:50 Dia disebut mendengar lagi dekat. Dua ayat itu tidak saling menyebut, tetapi kata dekat dan kata jauh dipakai pada pihak yang berbeda. Pembaca yang berbicara tentang hal yang tidak terlihat dapat memperhatikan dari jarak mana kata-katanya diucapkan, dekat dengan sesuatu yang diketahuinya atau jauh darinya. Dari jarak yang manakah pembaca berbicara tentang hal-hal yang tidak dilihatnya, dan siapa yang mendengarnya?
- Pembaca yang membicarakan hal yang belum dilihatnya berhadapan dengan dua kata kerja yang tertulis berdampingan dengan kata yang gaib di surah-surah Al-Qur'an, yaitu takut kepada Tuhan di 21:49, 35:18, dan 67:12, dan melontar di 34:53. Pilihan di antara keduanya terlihat dari kalimat yang diucapkan pembaca tentang hal itu, dan hal gaibnya sendiri tidak memaksakan salah satunya. Terhadap hal yang belum pernah dilihatnya, sikap manakah yang lebih sering diambil pembaca, takut atau melontar, dan kalimat apa yang menunjukkannya?
- Ucapan kami beriman di 34:52 disusul di 34:53 oleh kalimat yang menyebut bahwa mereka telah kufur kepadanya sebelum itu. Dua ayat itu berdampingan, sehingga ucapan yang baru dibaca bersama perbuatan yang lebih dulu. Pembaca dapat memikirkan bahwa pernyataan baru tentang suatu hal tidak menghapus pernyataan yang lebih lama tentang hal yang sama. Pernyataan lama manakah tentang sesuatu yang kini diimani pembaca masih terdengar, dan apa yang berubah bila pernyataan itu dibaca berdampingan dengan yang baru?
- Kata kepadanya di 34:52 mengikuti iman dan di 34:53 mengikuti kufur, dan keduanya tidak disertai nama benda. Dalam surah yang sama, kufur bertemu bendanya di 34:31 pada Al-Qur'an dan di 34:43 pada kebenaran. Dapat dibaca bahwa satu benda yang sama diterima pihak yang sama pada satu waktu dan ditolak pada waktu lain. Pembaca dapat bertanya apa sebenarnya yang diterima ketika mengatakan beriman, dan apa yang ditolak ketika mengatakan sebaliknya. Apa nama benda yang berada di balik kata kepadanya bagi pembaca sendiri, dan apakah namanya sama pada kedua waktu?
- Satu kata kerja, melontarkan, dipakai untuk Tuhan di 34:48 dan untuk mereka di 34:53, dengan benda yang berbeda, yaitu kebenaran dan yang gaib. Pembaca dapat memperhatikan bahwa kata kerja yang sama menjadi bernilai lain menurut benda yang dilontarkan dan pihak yang melontarkannya. Benda apa yang selama ini dilontarkan pembaca kepada orang lain, dan dari mana benda itu diambilnya?
- Frasa dari tempat yang jauh dipakai di 41:44 untuk orang-orang yang tidak beriman yang dipanggil, dan di 34:53 untuk mereka yang melontarkan yang gaib. Pembaca dapat membaca keduanya berdampingan dan melihat bahwa kejauhan muncul pada sisi mendengar dan pada sisi berbicara. Apakah kejauhan yang dirasakan pembaca dari sebuah kebenaran lebih tampak pada apa yang didengarnya atau pada apa yang diucapkannya?