بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۚ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, dua, tiga, dan empat. Dia menambahkan dalam penciptaan apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِal-hamdu li-llaahi faathiri s-samaawaati wa-l-ardhisegala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi
  2. جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَjaa'ili l-malaa'ikati rusulan ulii ajnihatin matsnaa wa-tsulaatsa wa-rubaa'ayang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, dua, tiga, dan empat
  3. يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌyaziidu fii l-khalqi maa yasyaa'u inna llaaha 'alaa kulli syay'in qadiirunDia menambahkan dalam penciptaan apa yang Dia kehendaki; sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu

Terjemahan per kata (24 kata)

  1. الْحَمْدُal-hamdusegala puji
  2. لِلَّهِli-llaahibagi Allah
  3. فَاطِرِfaathiriPencipta
  4. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  5. وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
  6. جَاعِلِjaa'iliyang menjadikan
  7. الْمَلَائِكَةِl-malaa'ikatimalaikat
  8. رُسُلًاrusulanutusan-utusan
  9. أُولِيuliipemilik
  10. أَجْنِحَةٍajnihatinsayap
  11. مَثْنَىٰmatsnaadua-dua
  12. وَثُلَاثَwa-tsulaatsadan tiga
  13. وَرُبَاعَwa-rubaa'adan empat
  14. يَزِيدُyaziidumenambah
  15. فِيfiidalam
  16. الْخَلْقِl-khalqipenciptaan
  17. مَاmaaapa yang
  18. يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
  19. إِنَّinnasesungguhnya
  20. اللَّهَllaahaAllah
  21. عَلَىٰ'alaaatas
  22. كُلِّkullisegala
  23. شَيْءٍsyay'insesuatu
  24. قَدِيرٌqadiirunberkuasa

Inti bacaan

Bentuk jamak (أَجْنِحَةٍ, ajnihatin) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 35:1.

Penjelasan pilihan kata

Pujian pembuka ayat ini, (الْحَمْدُ لِلَّهِ, al-hamdu li-llaahi) yang berarti "segala puji bagi Allah", disusul sebutan (فَاطِرِ, faathiri) yang berarti "Pencipta". Kata faathiri berakar ف-ط-ر dan berbentuk pelaku. Susunan (فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, faathiri s-samaawaati wa-l-ardhi) muncul tiga kali, yaitu di 6:14, 14:10, dan 35:1. Kata yang sama dengan harakat akhir lain ada di tiga ayat berikutnya, yaitu (فَاطِرَ, faathira) di 12:101 dan 39:46 serta (فَاطِرُ, faathiru) di 42:11, sehingga kata itu muncul di enam ayat, yaitu 6:14, 12:101, 14:10, 35:1, 39:46, dan 42:11, dan terjemahan memakai "Pencipta" di semuanya. Ayat 35:3 memakai kata lain untuk pencipta, yaitu (خَالِقٍ, khaaliqin) yang berarti "pencipta" tanpa kata sandang, dan terjemahannya berhuruf kecil karena kata itu menunjuk siapa pun yang mungkin ada. Dua akar itu mendapat padanan Indonesia yang sama, dan ayat ini tidak memuat kalimat yang membandingkan keduanya.

Kata (جَاعِلِ, jaa'ili) yang berarti "yang menjadikan" berakar ج-ع-ل dan juga berbentuk pelaku, sehingga jaa'ili dan faathiri terbaca sebagai dua sebutan bagi Allah yang berdiri berdampingan. Bentuk persis jaa'ili hanya ada di 35:1. Terjemahan memakai "menjadikan" untuk akar ini, seperti di 2:30, (إِنِّي جَاعِلٌ, innii jaa'ilun) yang berarti "sesungguhnya Aku hendak menjadikan". Di 2:30 ucapan itu ditujukan kepada para malaikat, dan khalifah di bumi menjadi benda yang dijadikan; di 35:1 para malaikat sendiri menjadi benda yang dijadikan.

Kata (الْمَلَائِكَةِ, l-malaa'ikati) yang berarti "malaikat" diikuti (رُسُلًا, rusulan) yang berarti "utusan-utusan". Kata rusulan berbentuk jamak, tanpa kata sandang, dan menjadi benda kedua bagi jaa'ili, sehingga susunannya terbaca "menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan". Bentuk rusulan muncul sembilan kali di delapan surah, yaitu 4:164, 4:165, 5:70, 10:74, 13:38, 22:75, 30:47, 35:1, dan 40:78; surah 4 memuatnya dua kali. Tujuh ayat di antaranya berbicara tentang rasul yang datang sebelum penerima ayat itu, kepada suatu kaum, atau kepada manusia, dan terjemahannya "rasul-rasul". Dua sisanya, 22:75 dan 35:1, memasangkannya dengan malaikat. Di 22:75, (مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا, mina l-malaa'ikati rusulan) berarti "para utusan dari malaikat", dan terjemahan 35:1 memakai kata "utusan" juga.

Kata (أُولِي, ulii) yang berarti "yang mempunyai" menerangkan (أَجْنِحَةٍ, ajnihatin) yang berarti "sayap-sayap". Susunan (أُولِي أَجْنِحَةٍ, ulii ajnihatin) muncul satu kali, di 35:1, dan bentuk jamak ajnihatin tidak ada di ayat lain. Bentuk dua sayap ada di 6:38, (يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ, yathiiru bi-janaahayhi) yang berarti "terbang dengan kedua sayapnya", untuk burung. Terjemahan memakai "yang mempunyai" untuk ulii seperti di 38:45, (أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ, ulii l-aydii wa-l-abshaari) yang berarti "yang mempunyai tangan-tangan dan penglihatan".

Tiga bilangan sesudahnya, (مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ, matsnaa wa-tsulaatsa wa-rubaa'a), diterjemahkan "dua, tiga, dan empat". Rangkaian ketiganya muncul dua kali, yaitu di 4:3 dan 35:1. Di 4:3 terjemahannya "dua, tiga, atau empat" karena kalimatnya memberi pilihan, sedangkan di 35:1 kalimatnya menggambarkan jumlah sayap sehingga penghubungnya "dan". Kata matsnaa sendiri muncul tiga kali, yaitu di 4:3, 34:46, dan 35:1. Di 34:46 matsnaa berpasangan dengan (فُرَادَىٰ, furaadaa) yang berarti "sendiri-sendiri", dan terjemahannya "berdua-dua"; di 35:1 tidak ada pasangan semacam itu, sehingga bilangannya dipakai apa adanya. Ayat ini tidak merinci malaikat mana yang bersayap berapa.

Kata (يَزِيدُ, yaziidu) yang berarti "menambahkan" berakar ز-ي-د, dan pelakunya Allah karena kalimat sebelum dan sesudahnya berbicara tentang-Nya. Susunan (يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ, yaziidu fii l-khalqi) memakai kata kerja dari akar yang sama dengan (وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ, wa-zaadakum fii l-khalqi) yang berarti "dan menambahkan kepada kalian dalam penciptaan", di 7:69 dengan benda (بَسْطَةً, basthatan) yang berarti "keluasan". Frasa (فِي الْخَلْقِ, fii l-khalqi) yang berarti "dalam penciptaan" muncul tiga kali, yaitu di 7:69, 35:1, dan 36:68. Di 36:68 kata kerjanya (نُنَكِّسْهُ, nunakkis-hu) yang berarti "Kami balikkan dia". Di ketiga ayat itu perubahan terjadi di dalam penciptaan, dan terjemahan memakai "dalam penciptaan" di ketiganya, sejalan dengan (يَبْدَأُ الْخَلْقَ, yabda'u l-khalqa) di 10:34 yang berarti "memulai penciptaan".

Anak kalimat (مَا يَشَاءُ, maa yasyaa'u) yang berarti "apa yang Dia kehendaki" mengikuti kata kerja mencipta di enam ayat. Susunan (يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ, yakhluqu maa yasyaa'u) muncul enam kali, yaitu di 3:47, 5:17, 28:68, 30:54, 39:4, dan 42:49, dan 24:45 memuat (يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ, yakhluqu llaahu maa yasyaa'u) dengan pelaku disebut. Di 35:1 kata kerjanya diganti yaziidu, sehingga kehendak Allah di sini dikaitkan dengan penambahan dalam penciptaan.

Penutup ayat, (إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ, inna llaaha 'alaa kulli syay'in qadiirun) yang berarti "sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu", muncul delapan kali di enam surah, yaitu 2:20, 2:109, 2:148, 3:165, 16:77, 24:45, 29:20, dan 35:1; surah 2 memuatnya tiga kali. Kata (قَدِيرٌ, qadiirun) yang berarti "berkuasa" berakar ق-د-ر, dan terjemahan memakai "berkuasa" di kedelapan ayat itu.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan satu kalimat panjang yang hanya berbicara tentang Allah sebagai pelaku, tanpa kata ganti untuk pembaca. Gerakannya mulai dari langit dan bumi, lalu malaikat sebagai utusan, lalu jumlah sayap, lalu penambahan menurut kehendak-Nya, dan berakhir pada kekuasaan atas segala sesuatu. Pujian yang sama dibuka di 6:1 dengan (الَّذِي خَلَقَ, lladzii khalaqa) yang berarti "yang telah menciptakan", dan di 34:1 dengan (الَّذِي لَهُ, lladzii lahu) yang berarti "yang memiliki". Di 35:1 pujian disusul sebutan pelaku secara langsung, sehingga perbuatan Allah terbaca sebagai gelar yang menempel pada nama-Nya, dan peristiwanya sendiri tidak diceritakan.

Daftar jumlah sayap disusul pernyataan penambahan, dan susunan itu sejajar dengan 24:45. Di sana hewan dirinci menurut cara berjalannya, dengan perut, dengan dua kaki, dan dengan empat kaki, lalu ayat itu menyatakan kehendak Allah mencipta dan menutup dengan kalimat kekuasaan yang sama dengan 35:1. Hewan di 24:45 dan malaikat di 35:1 adalah makhluk yang berbeda, tetapi kedua ayat meletakkan pernyataan kehendak sesudah rincian yang berbentuk bilangan. Karena bilangan di 35:1 diikuti pernyataan penambahan, tiga bilangan itu dapat dibaca sebagai contoh yang disebut, dan ayat tidak menyatakan bahwa daftarnya berhenti di empat.

Sesudah ayat ini pandangan berpindah kepada manusia. Ayat 35:2 menyebut (لِلنَّاسِ, li-n-naasi) yang berarti "bagi manusia", dan 35:3 menyapa mereka dengan (يَا أَيُّهَا النَّاسُ, yaa ayyuhaa n-naasu) yang berarti "wahai manusia". Manusia belum disebut sama sekali di ayat pembuka, dan sapaan kepada mereka baru datang sesudah pujian itu selesai. Dengan urutan itu surah ini mula-mula memperkenalkan siapa yang dipuji lewat ciptaan-Nya, lalu mengarahkan pembicaraan kepada pihak yang diajak memuji.

Kata rusul kembali muncul di 35:4, (رُسُلٌ, rusulun) yang berarti "rasul-rasul", kali ini untuk rasul-rasul sebelum penerima ayat yang didustakan. Di 35:1 kata itu menyebut malaikat yang dijadikan utusan, dan di 35:4 menyebut para rasul yang ditolak. Dua ayat itu berbeda pelaku dan keadaan, sehingga keduanya tidak disamakan, dan kata yang sama hadir di awal serta di ujung rangkaian pembuka surah.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyebut sayap dua, tiga, dan empat, dan tidak menyatakan malaikat mana yang memiliki berapa. Pembaca yang pernah membayangkan seorang malaikat dengan rupa yang jelas dapat memeriksa gambaran itu: bagian mana yang tertulis di ayat, dan bagian mana yang ditambahkannya sendiri dari ingatan. Teks memberi tiga ukuran dan berhenti di situ, sementara gambaran di kepala biasanya lebih terinci daripada bahannya. Allah disebut sebagai yang menjadikan para malaikat itu, sehingga rincian yang tidak Dia sebutkan tinggal sebagai ruang kosong. Dari mana datangnya bayangan yang tampak begitu jelas, dari ayat atau dari kebiasaan melengkapi sendiri apa yang tidak dikatakan?
  • Alasan pujian yang tertulis di ayat ini adalah perbuatan Allah atas langit, bumi, dan malaikat, dan kata "kalian" belum muncul sama sekali. Pembaca yang sedang berada dalam hari yang berat tetap menemukan alasan yang utuh, karena alasan itu tidak bergantung pada keadaannya hari ini. Orang yang memuji hanya ketika hidupnya sedang lapang mungkin sedang memakai ukuran lain, yaitu ukuran dirinya, padahal ayat memberikan ukuran yang jauh lebih luas dan lebih tetap. Apa yang berubah pada pujian seseorang bila alasannya diambil dari apa yang Dia lakukan atas langit dan bumi, tidak dari apa yang sedang terjadi padanya?
  • Allah menjadikan para malaikat itu utusan, yaitu pihak yang membawa sesuatu milik orang lain dan tidak memilikinya sendiri. Ayat memberi mereka sayap dan menyebut kedudukan mereka sebagai pembawa, tanpa menyebut apa yang mereka bawa. Seseorang yang pekerjaannya menyampaikan, misalnya menerjemahkan ucapan orang lain atau meneruskan kabar, dapat memikirkan mutu pembawaan itu: apakah isi yang dibawanya sampai tanpa ditambah dan dikurangi? Di 35:4 kata yang sama dipakai untuk rasul-rasul yang didustakan, dan di sana pun pembawa tidak pernah disebut pemilik kabar. Pekerjaan membawa apa yang bukan miliknya terasa seberat apa pada diri pembaca?
  • Tiga ukuran sayap disusul pernyataan bahwa Dia menambahkan dalam penciptaan apa yang Dia kehendaki, sehingga daftar yang baru disebut tidak ditutup. Pembaca yang merasa sudah mengenal semua jenis sesuatu, entah makhluk, ilmu, atau cara kerja dunia, dapat menimbang bagaimana rasanya membaca ayat yang membuka kemungkinan tambahan tepat sesudah sebuah daftar. Kemungkinan tambahan itu ada dalam kehendak Allah, bukan dalam dugaan pembaca. Orang yang terbiasa menutup pengetahuan dengan kata "sudah lengkap" mungkin menaruh titik di tempat ayat menaruh koma. Di bagian mana dalam pengetahuannya titik itu sudah terpasang?
  • Urutan ayat ini bergerak dari yang sangat luas ke yang sangat rinci lalu kembali ke yang menyeluruh: langit dan bumi, para malaikat, jumlah sayap, kemudian segala sesuatu. Perhatian pembaca ikut berpindah skala bersama ayat, dan di tiap skala Allah tetap menjadi pelaku yang sama. Orang cenderung berhenti pada satu skala, misalnya hanya urusan besar atau hanya urusan yang dekat, dan kebiasaan itu menentukan apa yang tidak pernah dilihatnya. Ayat memperlihatkan bahwa pujian kepada-Nya tidak memilih satu ukuran saja. Pada skala mana perhatian seseorang biasanya berhenti, dan apa yang tidak tampak dari sana?
  • Kalimat penutup menyebut Dia berkuasa atas segala sesuatu, dan kata "segala" tidak menyisakan bagian yang dikecualikan. Pembaca dapat meneliti hidupnya untuk menemukan wilayah yang dianggapnya berada di luar jangkauan itu, misalnya kebiasaan lama yang dianggap tak bisa berubah atau urusan kecil yang dianggap terlalu remeh. Ayat tidak menyebut urusan apa pun secara khusus, dan karena itu pembaca sendiri yang mengisi daftar pengecualiannya, bila ada. Bagian mana dalam hidupnya yang selama ini diperlakukannya seakan-akan tidak termasuk dalam kata "segala sesuatu"?