مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Apa saja yang Allah bukakan bagi manusia berupa rahmat, tidak ada yang dapat menahannya. Dan apa saja yang ditahan-Nya, tidak ada yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَاmaa yaftahi llaahu li-n-naasi min rahmatin fa-laa mumsika lahaaapa saja yang Allah bukakan bagi manusia berupa rahmat, tidak ada yang dapat menahannya
- وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُwa-maa yumsik fa-laa mursila lahu min ba'dihi wa-huwa l-'aziizu l-hakiimudan apa saja yang ditahan-Nya, tidak ada yang sanggup melepaskannya sesudah itu; dan Dialah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah
Terjemahan per kata (19 kata)
- مَاmaaapa yang
- يَفْتَحِyaftahimembuka
- اللَّهُllaahuAllah
- لِلنَّاسِli-n-naasikepada manusia
- مِنْmindari
- رَحْمَةٍrahmatinrahmat
- فَلَاfa-laamaka tidak ada
- مُمْسِكَmumsikayang menahan
- لَهَاlahaabaginya
- وَمَاwa-maadan apa yang
- يُمْسِكْyumsikmenahan
- فَلَاfa-laamaka tidak ada
- مُرْسِلَmursilayang mengirim
- لَهُlahubaginya
- مِنْmindari
- بَعْدِهِba'dihisesudahnya
- وَهُوَwa-huwadan Dialah
- الْعَزِيزُl-'aziizuSang Digdaya
- الْحَكِيمُl-hakiimuSang Penuh Hikmah
Inti bacaan
Kata benda pelaku (مُمْسِكَ, mumsika) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 35:2, dan bentuk jamak perempuannya (مُمْسِكَاتُ, mumsikaatu) muncul satu kali di 39:38.
Penjelasan pilihan kata
Kalimat pertama dibuka dengan (مَا يَفْتَحِ, maa yaftahi) yang berarti "apa saja yang dibukakan". Kata (مَا, maa) di sini tidak menunjuk satu benda tertentu, dan kata kerja (يَفْتَحِ, yaftahi) yang berarti "membuka" berakar ف-ت-ح. Kalimat ini disusun seperti aturan: apa pun yang dibukakan, maka (فَلَا, fa-laa) yang berarti "maka tidak ada" menyusul. Terjemahan memakai "apa saja" untuk maa supaya sifat berlakunya terbaca. Susunan (مَا يَفْتَحِ, maa yaftahi) muncul satu kali, di 35:2. Pelaku yang membuka disebut jelas, yaitu (اللَّهُ, llaahu) yang berarti "Allah", dan penerimanya (لِلنَّاسِ, li-n-naasi) yang berarti "bagi manusia", tanpa sifat tambahan seperti beriman.
Benda yang dibukakan disebut (رَحْمَةٍ, rahmatin) yang berarti "rahmat", berakar ر-ح-م, tanpa kata sandang dan didahului (مِنْ, min) yang berarti "berupa", sehingga terjemahan memakai "berupa rahmat" tanpa "sebuah". Kata membuka cocok dengan benda yang tersimpan, dan korpus memuat gambaran itu di 17:100, (خَزَائِنَ رَحْمَةِ, khazaa'ina rahmati) yang berarti "perbendaharaan rahmat", serta di 38:9, (خَزَائِنُ رَحْمَةِ, khazaa'inu rahmati) dengan arti yang sama. Ayat 35:2 sendiri tidak menyebut perbendaharaan.
Kata (مُمْسِكَ, mumsika) yang berarti "yang menahan" berakar م-س-ك dan berbentuk pelaku. Bentuk jamak perempuannya, (مُمْسِكَاتُ, mumsikaatu), ada di 39:38, sehingga kata benda pelaku dari kata kerja yang sama muncul dua kali, yaitu di 35:2 dan 39:38. Di 39:38, (هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ, hunna mumsikaatu rahmatihi) diajukan sebagai pertanyaan kepada mereka yang diseru selain Allah, sedangkan di 35:2 isi yang sama berupa pernyataan. Kata ganti (لَهَا, lahaa) yang berarti "baginya" pada kalimat pertama berbentuk perempuan sesuai kata rahmat, sedangkan kalimat kedua memakai (لَهُ, lahu) yang berarti "baginya" berbentuk laki-laki. Perbedaan itu menunjukkan bahwa kalimat kedua merujuk kepada maa, yaitu "apa saja", dan tidak mengulang kata rahmat. Terjemahan karena itu menulis "apa saja yang ditahan-Nya" tanpa menambahkan "rahmat".
Kata kerja (يُمْسِكْ, yumsik) yang berarti "menahan" berasal dari akar yang sama dan tidak menyebut pelaku sendiri. Terjemahan memakai "yang ditahan-Nya" karena kalimat kedua melanjutkan pelaku kalimat pertama, yaitu Allah. Kata kerja yang sama, (يُمْسِكُ, yumsiku), dengan atau tanpa kata ganti yang menempel, muncul di enam ayat, yaitu 16:59, 16:79, 22:65, 35:41, 39:42, dan 67:19. Di 22:65, (وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ, wa-yumsiku s-samaa'a) yang berarti "dan Dia menahan langit", langit menjadi benda yang ditahan, dan di 17:100, (لَأَمْسَكْتُمْ, la-amsaktum) yang berarti "niscaya kalian tahan", manusia menahan apa yang mereka miliki karena takut habis. Terjemahan memakai "menahan" untuk akar ini di 22:65 dan 17:100.
Lawan kata menahan di ayat ini adalah (مُرْسِلَ, mursila) yang berarti "yang melepaskan", dari akar ر-س-ل, juga berbentuk pelaku seperti mumsika. Terjemahan memakai "melepaskan" dan tidak "mengirim" karena benda yang dibicarakan sedang ditahan. Dasarnya dari korpus: pasangan menahan dan melepaskan ada di 39:42, (فَيُمْسِكُ, fa-yumsiku) yang berarti "maka Dia menahan" dan (وَيُرْسِلُ, wa-yursilu) yang berarti "dan Dia melepaskan", dan kata kerja ر-س-ل diterjemahkan "melepaskan" pula di 7:105, (فَأَرْسِلْ مَعِيَ, fa-arsil ma'iya) yang berarti "maka lepaskanlah bersamaku". Bila bendanya angin, terjemahan memakai "mengirim", seperti (أَرْسَلَ الرِّيَاحَ, arsala r-riyaaha) di dua ayat, yaitu 25:48 dan 35:9. Bentuk mursila muncul satu kali, di 35:2, dan bentuk yang mirip ada di 27:35, (مُرْسِلَةٌ, mursilatun) yang berarti "yang mengirim".
Frasa (مِنْ بَعْدِهِ, min ba'dihi) memakai kata (بَعْدِ, ba'di) yang berarti "sesudah". Kata ganti -hi dapat menunjuk Allah sehingga terbaca "sesudah-Nya", atau menunjuk penahanan itu sehingga terbaca "sesudah itu", dan teksnya tidak memutuskan di antara keduanya. Terjemahan memilih "sesudah itu" sebab urutannya terbaca langsung: lebih dulu Allah menahan, kemudian tidak ada yang melepaskan.
Dua sebutan penutup, (الْعَزِيزُ, l-'aziizu) yang berarti "Sang Digdaya" dari akar ع-ز-ز dan (الْحَكِيمُ, l-hakiimu) yang berarti "Sang Penuh Hikmah" dari akar ح-ك-م, memakai kata sandang sehingga terbaca sebagai nama. Susunan (وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, wa-huwa l-'aziizu l-hakiimu) muncul dua belas kali, yaitu di 14:4, 16:60, 29:42, 30:27, 31:9, 35:2, 45:37, 57:1, 59:1, 59:24, 61:1, dan 62:3; surah 59 memuatnya dua kali. Terjemahan memakai "Sang Digdaya" untuk al-'aziiz bertakrif, seperti di 6:96, (الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ, l-'aziizi l-'aliimi) yang berarti "Sang Digdaya lagi Sang Berilmu".
Tafsiran
Ayat ini memindahkan pujian di 35:1 ke satu pokok yang lebih sempit, yaitu rahmat yang dibukakan bagi manusia, dan menyusunnya dalam dua kalimat yang saling menyeimbangkan. Kalimat pertama menyebut pembukaan, kalimat kedua menyebut penahanan, dan masing-masing ditutup dengan peniadaan: tidak ada yang menahan, tidak ada yang melepaskan. Kalimat pertama menamai penerima dan bendanya, yaitu manusia dan rahmat, sedangkan kalimat kedua hanya memakai "apa saja", sehingga cakupannya lebih luas daripada rahmat. Ayat tidak menyebut sebab sebuah penahanan, dan dua nama penutupnya berdiri tepat sesudah peniadaan kedua tanpa kata penghubung alasan.
Pokok yang sama dibicarakan di 39:38 dalam bentuk lain. Di sana pembicara bertanya kepada mereka yang menyeru selain Allah apakah seruan itu dapat menghilangkan bencana atau menahan rahmat-Nya, lalu menjawab dengan "Cukuplah Allah bagiku". Ayat 35:2 menyatakan hal serupa sebagai kalimat berita yang berlaku bagi siapa pun, tanpa menyebut sesembahan lain. Pertanyaan tentang pihak selain Allah baru muncul di ayat sesudahnya, 35:3, dalam bentuk "adakah pencipta selain Allah yang memberi kalian rezeki". Dapat dibaca bahwa 35:3 mengajukan sebagai pertanyaan apa yang dinyatakan 35:2 sebagai kenyataan, tetapi kedua ayat tidak saling menunjuk.
Kata menahan kembali di 35:41, (يُمْسِكُ, yumsiku) yang berarti "menahan", dan di sana langit dan bumi menjadi benda yang ditahan. Frasa (مِنْ بَعْدِهِ, min ba'dihi) pun hadir di 35:2 dan 35:41, dua ayat dalam surah yang sama. Rahmat di 35:2 dan langit serta bumi di 35:41 berbeda ukurannya, dan kedua ayat meniadakan pihak lain yang dapat melakukan sesuatu sesudah penahanan itu: di 35:2 tidak ada yang melepaskan apa yang ditahan, dan di 35:41 tidak ada seorang pun yang menahan langit dan bumi bila keduanya lenyap. Dua ayat itu membicarakan pokok yang berlainan, sehingga keduanya tidak disamakan, tetapi surah ini mengambil kata kerja yang sama untuk bagian paling dekat dengan manusia dan bagian paling besar dari ciptaan.
Penutup ayat menaruh dua nama sesudah peniadaan itu. Kedua nama itu terbaca sebagai keterangan tentang pihak yang membuka dan menahan. Ayat tidak menjelaskan hikmah di balik penahanan tertentu, dan batas itu perlu dicatat: yang tertulis adalah dua nama, dan daftar alasan tidak ada.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini memuat dua peniadaan: tidak ada yang menahan rahmat yang Allah bukakan, dan tidak ada yang melepaskan apa yang Dia tahan. Pembaca yang pernah merasa seseorang memegang kunci atas nasibnya, entah atasan, pejabat, atau orang yang menolaknya, dapat membaca ulang kedudukan orang itu di samping kalimat ayat. Orang itu dapat menutup pintunya sendiri, tetapi ayat tidak memberinya kuasa menahan apa yang Allah bukakan bagi manusia. Siapa yang selama ini terasa memegang pintu itu, dan seberapa besar kuasanya bila dibaca di samping dua peniadaan tersebut?
- Kata manusia di ayat ini berdiri sendiri, tanpa tambahan seperti beriman atau layak. Pembaca yang menimbang apakah dirinya pantas menerima kebaikan, atau apakah orang lain pantas, mendapati bahwa kalimat ini tidak menyediakan daftar syarat. Teks tidak menyatakan bahwa syarat tidak ada di tempat lain; yang dapat dikatakan adalah bahwa kalimat ini sendiri tidak memuatnya, padahal Allah disebut sebagai pelaku pembukaan. Pertanyaan tentang siapa yang pantas mungkin datang dari pembaca, dan tidak dari ayat. Dari mana datangnya ukuran kelayakan yang dipakai pembaca untuk menimbang dirinya sendiri?
- Menahan di Al-Qur'an juga dilakukan manusia. Di 17:100 mereka yang memiliki perbendaharaan rahmat Tuhanku akan menahannya karena takut habis, dan ayat itu ditutup dengan pernyataan bahwa manusia sangat kikir. Di 35:2 penahannya Allah, dan sebutan sesudahnya Sang Penuh Hikmah. Kedua ayat berbicara tentang pihak yang berbeda, sehingga tidak disamakan. Pembaca dapat memeriksa sesuatu yang sedang ditahannya dari orang lain, misalnya waktu, maaf, atau pertolongan, lalu menanyakan apakah alasan penahanannya serupa dengan alasan di 17:100, yaitu takut habis, atau ada pertimbangan lain yang dapat dinyatakan dengan jujur.
- Kalimat kedua menyebut penahanan tanpa menyebut sebabnya, lalu langsung memuat dua nama, Sang Digdaya dan Sang Penuh Hikmah. Pembaca yang sedang menunggu sesuatu yang belum dibukakan dapat memperhatikan bahwa ayat tidak menyerahkan alasan, hanya nama-nama. Allah tertulis sebagai yang digdaya dan penuh hikmah, sedangkan sebab penahanan tertentu tidak tertulis. Menunggu dengan dua nama itu sebagai pegangan terasa berbeda dari menunggu dengan penjelasan di tangan. Sanggupkah pembaca menunggu tanpa mengetahui alasannya, dengan dua nama itu sebagai bahan yang tersedia?
- Ayat memilih kata rahmat untuk apa yang dibukakan Allah, dan tidak memilih kata untuk hasil kerja atau imbalan. Pembaca yang menghitung hidupnya dengan istilah hasil dan imbalan dapat mencoba menghitung ulang sebagian dengan istilah ayat ini, yaitu dari hal-hal yang diterimanya minggu ini, mana yang disebutnya hasil dan mana yang dapat disebutnya rahmat. Teks tidak menyatakan bahwa hasil kerja termasuk atau tidak termasuk rahmat, dan pemilahan itu tetap pekerjaan pembaca. Di tangan siapa pintu yang terbuka itu berada sebelum pembaca melangkah ke dalamnya?
- Urutan ayat menaruh pembukaan lebih dulu, baru penahanan, dan pembukaan mendapat kalimat penuhnya sendiri. Pembaca yang sedang menyusun cerita tentang hidupnya dapat memeriksa urutan hitungannya: mana yang disebut lebih dulu, yang dibukakan atau yang tertahan? Dalam kedua kalimat Allah adalah pelaku yang sama, sehingga urutan hitungan pembaca tidak mengubah siapa yang membuka dan siapa yang menahan. Apakah daftar pembaca tentang hidupnya mengikuti urutan yang sama dengan ayat, atau dimulai dari apa yang tertahan?