إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh. Sesungguhnya ia hanya menyeru golongannya agar mereka menjadi penghuni api yang menyala-nyala.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّاinna sy-syaythaana lakum 'aduwwun fa-ttakhidzuuhu 'aduwwansesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh
- إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِinnamaa yad'uu hizbahu li-yakuunuu min ashaabi s-sa'iirisesungguhnya ia hanya menyeru golongannya agar mereka menjadi penghuni api yang menyala-nyala
Terjemahan per kata (13 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- الشَّيْطَانَsy-syaythaanasetan
- لَكُمْlakumbagi kalian
- عَدُوٌّ'aduwwunmusuh
- فَاتَّخِذُوهُfa-ttakhidzuuhumaka jadikanlah ia
- عَدُوًّا'aduwwanmusuh
- إِنَّمَاinnamaasesungguhnya hanya
- يَدْعُوyad'uumenyeru
- حِزْبَهُhizbahugolongannya
- لِيَكُونُواli-yakuunuuagar mereka menjadi
- مِنْmindari
- أَصْحَابِashaabipenghuni
- السَّعِيرِs-sa'iiriapi yang menyala
Inti bacaan
Susunan (فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا, fa-ttakhidzuuhu 'aduwwan) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 35:6, sedangkan (لَكُمْ عَدُوٌّ, lakum 'aduwwun) muncul tujuh kali, yaitu di 2:168, 2:208, 6:142, 18:50, 35:6, 36:60, dan 43:62.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ, inna sy-syaythaana lakum 'aduwwun) yang berarti "sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian". Kata (عَدُوٌّ, 'aduwwun) berakar ع-د-و dan tidak memakai kata sandang. Susunan (لَكُمْ عَدُوٌّ, lakum 'aduwwun) muncul tujuh kali, yaitu di 2:168, 2:208, 6:142, 18:50, 35:6, 36:60, dan 43:62. Lima di antaranya berbunyi (إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ, innahu lakum 'aduwwun mubiinun) yang berarti "sesungguhnya ia bagi kalian musuh yang nyata", yaitu 2:168, 2:208, 6:142, 36:60, dan 43:62. Di kelimanya setan sudah disebut pada kalimat sebelumnya, sehingga di sana setan dirujuk dengan kata ganti. Di 35:6 nama setan ditulis di dalam kalimat itu sendiri dan kata (مُبِينٌ, mubiinun) yang berarti "yang nyata" tidak ada; selain 35:6, hanya 18:50 yang memuat lakum 'aduwwun tanpa mubiinun.
Perintahnya, (فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا, fa-ttakhidzuuhu 'aduwwan) yang berarti "maka jadikanlah ia musuh", memakai kata kerja yang di tiap ayat berikut ini disertai dua benda: yang dijadikan, dan menjadi apa benda itu dijadikan. Bentuk fa-ttakhidzuuhu muncul satu kali, di 35:6. Kata kerja yang sama dipakai untuk setan di 4:119, (يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا, yattakhidzi sy-syaythaana waliyyan) yang berarti "menjadikan setan sebagai pelindung", dan di 18:50, (أَفَتَتَّخِذُونَهُ, a-fa-tattakhidzuunahu) yang berarti "maka apakah kalian menjadikan dia", dengan benda kedua (أَوْلِيَاءَ, awliyaa'a) yang berarti "wali-wali". Di 60:1, (لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي, laa tattakhidzuu 'aduwwii) yang berarti "janganlah kalian menjadikan musuh-Ku", kata 'aduww menjadi benda pertama dan awliyaa'a benda kedua, sehingga musuh itu dilarang dijadikan teman setia. Terjemahan memakai "menjadikan" di keempat ayat itu.
Kalimat kedua memakai (إِنَّمَا, innamaa) yang berarti "hanya" dan kata kerja (يَدْعُو, yad'uu) yang berarti "menyeru", berakar د-ع-و. Susunan (إِنَّمَا يَدْعُو, innamaa yad'uu) muncul satu kali. Kata kerja yad'uu dipakai juga dengan Allah sebagai pelaku: (وَاللَّهُ يَدْعُو, wa-llaahu yad'uu) yang berarti "dan Allah menyeru" muncul dua kali, yaitu di 2:221 dan 10:25. Di 31:21, (يَدْعُوهُمْ, yad'uuhum) yang berarti "menyeru mereka" muncul satu kali dengan setan sebagai pelaku dan azab yang menyala-nyala sebagai tujuan. Di 35:6 pelakunya setan, dan yang diseru adalah (حِزْبَهُ, hizbahu) yang berarti "golongannya".
Kata (حِزْبَ, hizba) yang berarti "golongan" memakai akhiran -hu yang menunjuk setan, dan bentuk persis hizbahu muncul satu kali. Golongan setan disebut juga di 58:19, (حِزْبُ الشَّيْطَانِ, hizbu sy-syaythaani) yang berarti "golongan setan". Golongan Allah disebut di 5:56 dan 58:22, (حِزْبَ اللَّهِ, hizba llaahi) yang berarti "golongan Allah", dan bentuk itu muncul dua kali. Terjemahan memakai "golongan" di semua ayat itu. Ayat 35:6 tidak menyebut siapa saja yang termasuk golongan setan.
Tujuan seruan dinyatakan dengan (لِيَكُونُوا, li-yakuunuu) yang berarti "agar mereka menjadi" dan (مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ, min ashaabi s-sa'iiri) yang berarti "dari penghuni api yang menyala-nyala". Kata (مِنْ, min) menunjukkan bahwa mereka menjadi bagian dari para penghuni, dan terjemahan "menjadi penghuni" meringkasnya. Susunan (أَصْحَابِ السَّعِيرِ, ashaabi s-sa'iiri) muncul tiga kali, yaitu di 35:6, 67:10, dan 67:11. Di 67:10, (فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ, fii ashaabi s-sa'iiri) yang berarti "di antara para penghuni api yang menyala-nyala", kata depannya fii, bukan min. Kata (السَّعِيرِ, s-sa'iiri) berakar س-ع-ر dan muncul di delapan ayat, yaitu 22:4, 31:21, 34:12, 35:6, 42:7, 67:5, 67:10, dan 67:11. Dengan kata azab di depannya, dalam bentuk (عَذَابِ السَّعِيرِ, 'adzaabi s-sa'iiri), kata itu ada di tiga ayat, yaitu 22:4, 31:21, dan 34:12. Terjemahan memakai "yang menyala-nyala" untuk sa'iir, seperti di 31:21 dan 67:10, dan "penghuni" untuk ashaab bila disandingkan dengan tempat.
Tafsiran
Ayat ini menyusun tiga kalimat dalam urutan yang berbeda dari lima ayat lain yang memuat pernyataan permusuhan setan. Di 2:168, 2:208, 6:142, 36:60, dan 43:62 pernyataan itu, (إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ, innahu lakum 'aduwwun mubiinun), datang sesudah larangan atau perintah dan berfungsi sebagai alasannya. Di 35:6 urutannya terbalik: pernyataan permusuhan datang lebih dulu, perintah menjadikannya musuh menyusul, dan alasan perintah itu baru tertulis di kalimat ketiga, yaitu tujuan seruan setan. Dengan urutan itu permusuhan berfungsi sebagai dasar sikap, dan sikap itu kemudian diberi alasan yang menyebut ke mana seruannya bermuara.
Ayat 35:5 sebelumnya melarang manusia diperdaya oleh kehidupan dunia dan oleh si penipu, dan 35:6 melanjutkan dengan menyebut setan sebagai musuh yang menyeru golongannya. Dapat dibaca bahwa si penipu di 35:5 dan setan di 35:6 sama, tetapi 35:5 tidak menyebut namanya dan 35:6 tidak menyebut penipuannya. Kedua ayat menyapa "kalian" dengan cara yang sama, dan ayat 35:6 tidak lagi membuka dengan seruan "wahai manusia", sehingga terbaca sebagai lanjutan dari seruan di 35:5.
Perintah di ayat ini meminta sebuah sikap, dan ayat tidak merinci langkahnya. Yang tertulis hanya bahwa setan dijadikan musuh, dan bagaimana tindakan itu dijalankan sehari-hari tidak disebut. Kebalikan sikap itu dituliskan di 4:119, ketika siapa yang menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah dinyatakan rugi dengan kerugian yang nyata, dan di 18:50, ketika mereka ditanya apakah akan menjadikan dia dan keturunannya sebagai wali padahal mereka musuh bagi kalian. Tiga ayat itu menyebut kata kerja yang sama dengan benda kedua yang berlawanan, sehingga arahnya dapat dibandingkan, tetapi konteks masing-masing berbeda dan ketiganya tidak disamakan.
Tujuan seruan itu dinyatakan terang-terangan, dan gambaran dari sisi sesudahnya ada di 67:10. Di sana para penghuni api yang menyala-nyala berkata, "Andaikan dahulu kami mendengarkan atau memikirkan, tentulah kami tidak termasuk di antara para penghuni api yang menyala-nyala". Ayat 67:10 tidak menyebut setan dan tidak menghubungkan ucapan itu dengan 35:6, sehingga dua ayat itu berbicara tentang pihak yang berbeda dan tidak disamakan. Persamaan kedua ayat terbatas pada susunan kata penghuni api yang menyala-nyala.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menyebut dulu bahwa setan musuh bagi kalian, dan baru kemudian memerintahkan sikap, yaitu menjadikannya musuh. Perintah itu meminta sikap yang sesuai dengan keadaan yang sudah dinyatakan, dan tidak meminta pembaca menciptakan permusuhan yang belum ada. Pembaca dapat memeriksa bidang-bidang hidupnya yang sudah diketahuinya berbahaya tetapi masih diperlakukan dengan ramah. Ayat sebelumnya, 35:5, menyatakan bahwa janji Allah benar, dan 35:6 menyatakan permusuhan setan dengan kata "sesungguhnya" yang sama, sehingga pembaca tinggal menyesuaikan sikap tanpa perlu menimbang apakah kenyataan itu ada. Di mana dalam hidupnya sikap pembaca masih tertinggal dari apa yang sudah diketahuinya?
- Seruan setan dalam ayat ini dijelaskan lewat tujuannya, yaitu agar golongannya menjadi penghuni api yang menyala-nyala, dan isi bujukannya tidak diperinci. Pembaca dapat memperhatikan bahwa ayat menilai sebuah seruan dari ujungnya, sedangkan rasa awalnya tidak disebut. Ajakan yang terasa menyenangkan pada langkah pertama tetap dapat dinilai dari tempat seruan itu berakhir. Tujuan itu dinyatakan secara terbuka, sehingga pembaca tidak perlu menebak. Ajakan mana dalam hidupnya yang selama ini dinilai dari awalnya yang menyenangkan, dan belum pernah dari tujuannya?
- Kata menyeru dipakai dengan Allah sebagai pelaku di 2:221 dan 10:25, dan dengan setan sebagai pelaku di 31:21 dan 35:6. Pembaca yang pernah merasa tertarik pada sebuah ajakan dapat bertanya ajakan itu datang dari penyeru yang mana. Tujuan yang disebut di tiap ayat memberi petunjuk: Allah menyeru ke taman dan ampunan di 2:221 serta ke negeri keselamatan di 10:25, sedangkan setan menyeru ke azab yang menyala-nyala di 31:21 dan 35:6. Ayat-ayat itu berbicara dalam suasana yang berbeda, sehingga tidak disamakan. Bila tujuan tiap ajakan ditaruh berdampingan, ajakan mana yang sedang mengisi hari pembaca?
- Ayat ini menyebut golongan setan tanpa menyebut siapa saja anggotanya, sedangkan di 58:22 golongan Allah disebut sebagai yang beruntung. Dua ayat itu berbicara dalam konteks berbeda, dan ayat 35:6 tidak menyebut golongan lawannya. Ayat tidak menyatakan bagaimana seseorang menjadi bagian dari golongan itu. Pembaca yang tidak pernah menyatakan diri bergabung ke kelompok mana pun dapat menimbang kebiasaan hariannya, yaitu seruan mana yang paling sering disambutnya dan ke golongan mana seruan itu mengarah. Seruan mana yang paling sering disambutnya tanpa disadari sebagai sebuah seruan?
- Ayat ini memerintahkan sebuah sikap dan tidak memberi daftar langkah. Isi sikap itu, yaitu memperlakukan setan sebagai musuh, tidak diperinci, sehingga pembaca sendiri yang mengisinya. Pembaca yang menunggu aturan teknis sebelum bersikap mendapati bahwa ayat tidak menyediakannya, dan pembaca yang bersikap tanpa pedoman dapat memeriksa apakah sikapnya berasal dari ayat ini atau dari kebiasaan sendiri. Di 4:119 kebalikan sikap itu, menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, juga ditulis tanpa tata cara. Apa langkah pertama yang akan dipilih pembaca untuk memperlakukan sesuatu sebagai musuh, dan sejauh mana ayat mewajibkan langkah itu?
- Di 67:10 para penghuni api berkata, andaikan dahulu kami mendengarkan atau memikirkan, tentulah kami tidak termasuk di antara mereka, dan ayat itu tidak menyebut setan. Ayat 35:6 menyebut tujuan yang sama dengan kata yang sama, yaitu penghuni api yang menyala-nyala, dan kedua ayat tidak dihubungkan oleh teks. Pembaca dapat memperhatikan bagaimana pembaca mendengarkan ayat seperti 35:6: sebagai kabar yang perlu dipikirkan, atau sebagai kalimat yang sudah akrab dan tidak lagi menyentuh. Kalimat tentang permusuhan itu pendek, dan kalimat pendek mudah dilewati. Bagaimana pembaca mendengarkan kalimat ini hari ini?