وَاللَّهُ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَسُقْنَاهُ إِلَىٰ بَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَحْيَيْنَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ كَذَٰلِكَ النُّشُورُ
Dan Allahlah yang mengirim angin, lalu ia menggerakkan awan, lalu Kami halau ia ke suatu negeri yang mati, lalu dengannya Kami hidupkan bumi setelah matinya. Demikianlah kebangkitan itu.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَاللَّهُ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًاwa-llaahu lladzii arsala r-riyaaha fa-tutsiiru sahaabandan Allahlah yang mengirim angin, lalu ia menggerakkan awan
- فَسُقْنَاهُ إِلَىٰ بَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَحْيَيْنَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَاfa-suqnaahu ilaa baladin mayyitin fa-ahyaynaa bihi l-ardha ba'da mawtihaalalu Kami halau ia ke suatu negeri yang mati, lalu dengannya Kami hidupkan bumi setelah matinya
- كَذَٰلِكَ النُّشُورُka-dzaalika n-nusyuurudemikianlah kebangkitan itu
Terjemahan per kata (17 kata)
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- الَّذِيlladziiyang
- أَرْسَلَarsalamengutus
- الرِّيَاحَr-riyaahaangin
- فَتُثِيرُfa-tutsiirumaka menggerakkan
- سَحَابًاsahaabanawan
- فَسُقْنَاهُfa-suqnaahumaka Kami menghalaunya
- إِلَىٰilaake
- بَلَدٍbaladinnegeri
- مَيِّتٍmayyitinyang mati
- فَأَحْيَيْنَاfa-ahyaynaamaka Kami hidupkan
- بِهِbihidengannya
- الْأَرْضَl-ardhabumi
- بَعْدَba'dasesudah
- مَوْتِهَاmawtihaamatinya
- كَذَٰلِكَka-dzaalikademikianlah
- النُّشُورُn-nusyuurukebangkitan
Inti bacaan
Frasa (بَلَدٍ مَيِّتٍ, baladin mayyitin) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 7:57 dan 35:9.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَاللَّهُ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ, wa-llaahu lladzii arsala r-riyaaha) yang berarti "dan Allahlah yang mengirim angin". Kata kerja arsala berakar ر-س-ل, dan (الرِّيَاحَ, r-riyaaha) berakar ر-و-ح, bentuk jamak dengan kata sandang al-. Susunan (أَرْسَلَ الرِّيَاحَ, arsala r-riyaaha) muncul dua kali di dua surah, yaitu 25:48 dan 35:9. Di 25:48 bunyinya (وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ, wa-huwa lladzii arsala r-riyaaha) yang berarti "dan Dialah yang mengirimkan angin", dan di ayat yang sama kata kerja berikutnya sudah memakai Kami, (وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً, wa-anzalnaa mina s-samaa'i maa'an) yang berarti "dan Kami turunkan dari langit air". Bentuk jamak r-riyaaha muncul tujuh kali di enam surah, yaitu 7:57, 15:22, 25:48, 27:63, 30:46, 30:48, dan 35:9.
Kata kerja (فَتُثِيرُ, fa-tutsiiru) yang berarti "lalu ia menggerakkan" berakar ث-و-ر dan bersubjek angin. Bentuk (تُثِيرُ, tutsiiru) muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 2:71, 30:48, dan 35:9. Di 2:71 bunyinya (تُثِيرُ الْأَرْضَ, tutsiiru l-ardha) yang berarti "membajak tanah", dengan tanah sebagai benda yang digerakkan. Di 30:48 dan 35:9 bunyinya sama, (فَتُثِيرُ سَحَابًا, fa-tutsiiru sahaaban) yang berarti "lalu ia menggerakkan awan", dan awan, yaitu (سَحَابًا, sahaaban) dari akar س-ح-ب, menjadi benda yang digerakkan. Di 30:48 kata kerja berikutnya (فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ, fa-yabsuthuhu fii s-samaa'i) yang berarti "lalu Dia membentangkannya di langit" sudah kembali ke pelaku Dia, sedangkan di 35:9 kata kerja berikutnya memakai Kami.
Kata (فَسُقْنَاهُ, fa-suqnaahu) terdiri dari awalan (فَ, fa) yang berarti "lalu", kata kerja suqnaa yang berarti "Kami halau", dan akhiran (هُ, -hu) yang berarti "-nya", menunjuk awan. Akar kata kerja itu س-و-ق. Bentuk suqnaahu muncul dua kali di dua surah, yaitu 7:57 dan 35:9. Di 7:57 bunyinya (سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ, suqnaahu li-baladin mayyitin) yang berarti "Kami halau ia ke suatu negeri yang mati", dengan huruf lam sebelum balad, sedangkan di 35:9 bunyinya (فَسُقْنَاهُ إِلَىٰ بَلَدٍ مَيِّتٍ, fa-suqnaahu ilaa baladin mayyitin), dengan ilaa yang berarti "ke". Terjemahan 35:9 memakai "halau" seperti di 7:57, sehingga dua kemunculan bentuk yang sama memakai padanan yang sama. Di 7:57 dan 35:9 pembicara berpindah dari Dia atau Allah ke Kami pada kata kerja ini.
Frasa (بَلَدٍ مَيِّتٍ, baladin mayyitin) yang berarti "negeri yang mati" berakar ب-ل-د dan م-و-ت, dengan kedua kata bertanwin. Bentuk lain (بَلْدَةً مَيْتًا, baldatan maytan) yang berarti "negeri yang mati" juga muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 25:49, 43:11, dan 50:11. Di 43:11 kata kerja yang menyertainya (فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا, fa-anasyarnaa bihi baldatan maytan) berakar ن-ش-ر, akar yang sama dengan kata penutup ayat ini, dan di 50:11 kata kerjanya (وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا, wa-ahyaynaa bihi baldatan maytan) berakar ح-ي-ي.
Kata (فَأَحْيَيْنَا, fa-ahyaynaa) yang berarti "lalu Kami hidupkan" berakar ح-ي-ي dan berbentuk keempat. Susunan lengkap (فَأَحْيَيْنَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا, fa-ahyaynaa bihi l-ardha ba'da mawtihaa) hanya muncul di 35:9. Bagian (بَعْدَ مَوْتِهَا, ba'da mawtihaa) yang berarti "setelah matinya" muncul sembilan kali di enam surah, yaitu 2:164, 2:259, 16:65, 30:19, 30:24, 30:50, 35:9, 45:5, dan 57:17. Bagian (أَحْيَيْنَا بِهِ, ahyaynaa bihi) muncul dua kali, yaitu 35:9 dan 50:11.
Ayat ditutup dengan (كَذَٰلِكَ النُّشُورُ, ka-dzaalika n-nusyuuru) yang berarti "demikianlah kebangkitan itu". Kata nusyuur berakar ن-ش-ر dan muncul lima kali di tiga surah, yaitu 25:3, 25:40, 25:47, 35:9, dan 67:15. Dengan kata sandang al- kata itu muncul dua kali, yaitu 35:9 dan (وَإِلَيْهِ النُّشُورُ, wa-ilayhi n-nusyuuru) yang berarti "dan kepada-Nyalah kebangkitan" di 67:15. Terjemahan memakai "kebangkitan" seperti di 25:3 dan 67:15. Kalimat dengan kata ka-dzaalika sesudah bumi yang dihidupkan berakhir dengan kata yang berbeda-beda: (كَذَٰلِكَ الْخُرُوجُ, ka-dzaalika l-khuruuju) yang berarti "demikianlah keluarnya" di 50:11, (كَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ, ka-dzaalika tukhrajuuna) yang berarti "demikianlah kalian dikeluarkan" di 43:11, (وَكَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ, wa-ka-dzaalika tukhrajuuna) di 30:19, dan (كَذَٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ, ka-dzaalika nukhriju l-mawtaa) yang berarti "demikianlah Kami membangkitkan orang-orang mati" di 7:57. Dari kelima ayat itu, penutup dengan nusyuur ada di 35:9 saja.
Tafsiran
Ayat ini menyusun satu peristiwa menjadi empat langkah dengan pelaku yang berganti. Allah mengirim angin, angin menggerakkan awan, Kami menghalau awan itu ke negeri yang mati, dan Kami menghidupkan bumi dengan air. Angin memegang satu kata kerja sendiri di tengah rantai, sedangkan langkah sebelum dan sesudahnya dipegang Allah dan Kami.
Perpindahan dari sebutan Allah atau Dia ke Kami di tengah ayat terlihat juga di 7:57, 25:48, 35:27, dan 43:11. Di surah yang sama, 35:27 memuat (أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ, anna llaaha anzala mina s-samaa'i maa'an fa-akhrajnaa bihi tsamaraatin) yang berarti "bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu dengannya Kami keluarkan buah-buahan". Kedua ayat di surah 35 itu memakai urutan yang sama, air dari atas lalu hasil di bumi, tetapi hasilnya berbeda: bumi yang hidup di 35:9 dan buah-buahan di 35:27.
Penutup ayat membandingkan bumi yang dihidupkan dengan kebangkitan. Ayat tidak menyebut kapan kebangkitan terjadi dan tidak menguraikan caranya, dan perbandingan itu berdiri tanpa rincian tambahan. Ayat 35:5 sebelumnya menyatakan bahwa janji Allah itu benar tanpa menyebut isinya, dan di 35:7 dua keadaan akhir disebut tanpa keterangan waktu. Ayat 35:9 memberi pembaca sesuatu yang dapat diamati, yaitu angin, awan, dan tanah yang kering lalu hidup, sebagai pembanding bagi kebangkitan yang disebut dengan satu kata.
Sesudah ayat ini surah berlanjut ke penciptaan manusia di 35:11, dua laut di 35:12, dan pergantian malam dan siang di 35:13. Ayat 35:9 membuka rangkaian gambaran yang bisa diamati itu, dan 35:10 yang berada di antaranya berbicara tentang kedigdayaan, perkataan baik, dan makar.
Renungan dan Hikmah
- Rantai di 35:9 terdiri dari empat langkah: Allah mengirim angin, angin menggerakkan awan, Kami menghalau awan itu, lalu Kami menghidupkan bumi. Angin disebut berbuat dan sekaligus disebut dikirim, dan ayat tidak mempertentangkan kedua hal itu. Pembaca yang mengamati angin dan awan dapat bertanya pada langkah mana ia berhenti menyebut sebab: pada angin, pada awan, atau pada yang mengirim angin? Bila berhenti pada langkah yang lebih dekat dengan matanya, apa yang hilang dari rantai yang dituliskan ayat ini?
- Awan dihalau ke negeri yang mati, dan ayat tidak menyebut sebab pemilihan tujuan itu. Ayat menuliskan arah lebih dulu, lalu air, lalu bumi yang hidup setelah matinya. Bagian pertama dari gambaran ini adalah keadaan mati, dan hidup datang sesudahnya. Bila pembaca memikirkan bagian hidupnya yang terasa kering, kata kerja mana dalam ayat ini yang sedang berlangsung untuk bagian itu, apakah angin yang menggerakkan, awan yang dihalau, atau air yang menghidupkan?
- Peristiwa bumi mati yang hidup kembali ditutup dengan lima kata berbeda di lima ayat: kebangkitan di 35:9, keluarnya di 50:11, dikeluarkan di 43:11 dan 30:19, serta membangkitkan orang-orang mati di 7:57. Satu peristiwa yang dapat diamati dipakai untuk menamai hal yang disebut dengan kata yang tidak selalu sama. Pembaca dapat bertanya apa yang berubah dalam pemahamannya tentang hari itu bila kata yang dibaca kebangkitan, dan apa yang berubah bila kata yang dibaca keluarnya. Kata mana yang menarik gambaran hari itu ke arah yang lebih dekat dengan pengalaman pembaca sendiri?
- Di 35:9 air yang dikirim lewat angin menghidupkan bumi, dan di 35:27 air yang turun dari langit menghasilkan buah-buahan, dengan Allah disebut dulu lalu Kami memegang kata kerja berikutnya di kedua ayat. Urutan yang sama menghasilkan dua hal yang berbeda. Pembaca yang membaca dua ayat itu berurutan dapat memperhatikan bagian yang tetap dan bagian yang berubah. Bila air dan pemberinya tetap sama di kedua ayat, apakah pembaca menimbang sesuatu yang diterimanya dari hasilnya yang berbeda, atau dari pemberinya yang tidak berbeda?
- Penutup ayat memakai satu kalimat pendek untuk kebangkitan, dan ayat tidak menyebut kapan atau bagaimana. Perbandingan itu diletakkan di dekat sesuatu yang dapat diamati sehingga pembaca tidak diminta membayangkan dari nol. Pembaca yang menerima perbandingan tanpa rincian dapat memeriksa berapa banyak rincian yang ditambahkan dari dirinya sendiri, dan dari mana rincian itu berasal. Bila ayat ini memuat bumi yang mati lalu hidup, bagian mana dari bayangan tentang hari itu yang tertulis di sini, dan bagian mana yang dibawa sendiri?
- Ayat 35:5 menyatakan bahwa janji Allah itu benar tanpa menyebut isinya, dan 35:9 memberi satu perbandingan yang dapat dilihat. Perbandingan itu disusun dari rangkaian yang dituliskan sebagai perbuatan Allah dan Kami. Pembaca yang membaca janji dan perbandingan itu berdampingan dapat bertanya bagian mana dari janji itu yang terasa lebih dekat setelah membaca bumi yang hidup kembali, dan bagian mana yang tetap sama jauhnya seperti sebelum ayat ini dibaca?