وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ
Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُwa-maa yastawi l-a'maa wa-l-bashiirudan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- يَسْتَوِيyastawisama
- الْأَعْمَىٰl-a'maaorang buta
- وَالْبَصِيرُwa-l-bashiirudan orang yang melihat
Inti bacaan
Susunan (الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ, l-a'maa wa-l-bashiiru) muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:50, 13:16, 35:19, dan 40:58.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَمَا يَسْتَوِي, wa-maa yastawi) yang berarti "dan tidaklah sama". Kata kerja yastawi berakar س-و-ي dan berbentuk tunggal, padahal dua pihak disebut sesudahnya. Bentuk tunggal itu dipakai di 12 ayat, yaitu 4:95, 5:100, 6:50, 13:16, 16:76, 35:12, 35:19, 35:22, 39:9, 40:58, 57:10, dan 59:20, dan di tiap ayat itu kata kerjanya datang lebih dulu daripada pihak-pihak yang dibandingkan. Di 11:24 dan 39:29 kata kerjanya berbentuk dua, (يَسْتَوِيَانِ, yastawiyaani), dan di kedua ayat itu kedua pihak sudah disebut sebelumnya. Susunan (وَمَا يَسْتَوِي, wa-maa yastawi) sendiri muncul empat kali, yaitu di 35:12, 35:19, 35:22, dan 40:58, sehingga tiga dari empat kemunculannya berada di surah yang sama. Terjemahan memakai "tidaklah sama" tanpa penanda jumlah, karena bahasa Indonesia tidak membedakan tunggal dan dua pada kata kerja.
Kata (الْأَعْمَىٰ, l-a'maa) yang berarti "orang yang buta" berakar ع-م-ي. Bentuk ini muncul delapan kali di delapan surah, yaitu 6:50, 11:24, 13:16, 24:61, 35:19, 40:58, 48:17, dan 80:2, dan di semuanya kata itu menunjuk seseorang. Di 80:2, (أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ, an jaa'ahu l-a'maa) berarti "karena orang buta datang kepadanya", dan di 24:61 serta 48:17 orang buta disebut bersama orang pincang dan orang sakit sebagai pihak yang tidak terkena keberatan. Karena itu terjemahan memakai "orang yang buta" dan tidak memakai "kebutaan".
Ayat 35:19 tidak menyebut apa yang buta pada orang itu. Di ayat lain akar yang sama memperoleh keterangan. Di 22:46, (تَعْمَى الْأَبْصَارُ, ta'maa l-abshaaru) berarti "mata-mata menjadi buta" dan (تَعْمَى الْقُلُوبُ, ta'maa l-quluubu) berarti "hati-hati menjadi buta". Ayat itu menyatakan bahwa mata tidak menjadi buta, sedangkan hati yang berada dalam dada yang menjadi buta. Di 13:19, (كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ, ka-man huwa a'maa) berarti "seperti orang yang buta", dan pihak yang dibandingkan dengannya disebut jelas, yaitu orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar. Ayat 35:19 tidak memuat keterangan semacam itu, sehingga terjemahannya tidak menambahkan kata "mata" atau "hati" pada kata buta.
Kata (وَالْبَصِيرُ, wa-l-bashiiru) yang berarti "dan orang yang melihat" berakar ب-ص-ر. Kata bashiir muncul sembilan kali di tujuh surah, yaitu 6:50, 11:24, 13:16, 17:1, 35:19, 40:20, 40:56, 40:58, dan 42:11. Lima di antaranya menyebut manusia yang berpasangan dengan orang buta atau orang tuli, yaitu 6:50, 11:24, 13:16, 35:19, dan 40:58. Empat lainnya, yaitu 17:1, 40:20, 40:56, dan 42:11, memuatnya sebagai sebutan bagi Allah dalam (السَّمِيعُ الْبَصِيرُ, s-samii'u l-bashiiru) yang berarti "Yang Mendengar, Yang Melihat". Terjemahan 35:19 memakai "orang yang melihat" dan menyertakan kata "orang", sebab pelakunya manusia. Keempat ayat yang menyebut Allah memakai "Yang Melihat" dengan huruf besar.
Pasangan (الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ, l-a'maa wa-l-bashiiru) hadir di empat ayat, yaitu 6:50, 13:16, 35:19, dan 40:58. Di 6:50 dan 13:16 pasangan itu ditanyakan dengan (هَلْ يَسْتَوِي, hal yastawii) yang berarti "apakah sama", sedangkan di 35:19 dan 40:58 pasangan itu dinyatakan tidak sama. Di 40:58 pasangan itu disusul pasangan lain dalam ayat yang sama, yaitu orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dengan orang yang berbuat buruk. Di 13:16 pasangan itu disusul kegelapan dan cahaya, seperti 35:20 menyusul 35:19. Di 11:24 pasangannya menjadi dua pasang, yaitu orang buta bersama orang tuli dan orang yang melihat bersama orang yang mendengar, dan ayat itu menyebutnya perumpamaan bagi dua golongan. Di 35:19 sendiri teksnya tidak menyebutkan pihak yang dibandingkan dengan orang buta.
Tafsiran
Ayat ini menyatakan bahwa dua pihak tidak sama dan tidak menyebut siapa yang ditunjuk. Ayat 35:18 di depannya berbicara tentang orang yang dapat diberi peringatan, yaitu orang yang takut kepada Tuhan mereka tanpa melihat-Nya, (يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ, yakhsyawna rabbahum bi-l-ghaybi). Di 35:19 muncul orang yang melihat, tanpa keterangan tentang apa yang dilihatnya. Karena itu 35:18 dan 35:19 tidak bisa dibaca sebagai sebab dan akibat. Keduanya bersebelahan, dan penghubungnya tidak tertulis.
Pasangan pertama ini membuka deretan empat pasangan yang tidak sama: orang buta dengan orang yang melihat di 35:19, kegelapan dengan cahaya di 35:20, yang teduh dengan yang panas di 35:21, dan orang yang hidup dengan orang yang mati di 35:22. Urutan di dalam tiap pasangan memperlihatkan satu pola. Dua pasangan pertama menyebut orang buta dan kegelapan lebih dulu, sedangkan dua pasangan terakhir menyebut yang teduh dan orang yang hidup lebih dulu. Alasan urutan itu tidak tertulis.
Pasangan yang sama dipakai di tempat lain dengan pengantar yang berbeda. Di 6:50 pasangan itu ditanyakan sesudah pernyataan bahwa pembicaranya hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadanya. Di 13:16 pasangan itu ditanyakan sesudah pertanyaan tentang siapa Tuhan langit dan bumi dan sesudah pertanyaan tentang pelindung selain Dia. Di 40:58 pasangan itu dinyatakan tidak sama sebagai pasangan pertama, sebelum pasangan orang beriman dengan orang yang berbuat buruk. Di 35:19 pasangan itu tidak membawa pengantar semacam itu dan langsung tersambung ke 35:20. Karena konteksnya berbeda, ayat-ayat tersebut tidak dipakai untuk menentukan siapa yang dimaksud di 35:19.
Penglihatan di 35:19 dan pendengaran di 35:22 membentuk dua ujung deretan. Ayat 35:22 menyebut Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang Dia kehendaki, sehingga deretan yang dibuka dengan mata ditutup dengan telinga. Ayat 11:24 menyebut kedua indra itu dalam satu ayat, yaitu orang buta dan tuli dengan orang yang melihat dan mendengar. Ayat 35:19 sendiri tidak menyebut pendengaran, jadi hubungan antara 35:19 dan 35:22 tampak dari susunan deretannya dan tidak dinyatakan oleh teks.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 35:19 menyebut orang buta dan orang yang melihat tanpa menyebut siapa yang dimaksud, dan ayat-ayat tetangganya tidak mengisi kekosongan itu: 35:18 berbicara tentang orang yang diberi peringatan, dan 35:20 langsung berpindah ke kegelapan dan cahaya. Karena yang disebut hanya dua kedudukan, pembaca dapat meletakkan dirinya di kedua sisi pada urusan yang berbeda, misalnya melihat dengan jelas dalam satu soal dan meraba-raba dalam soal lain. Ayat ini tidak menyatakan bahwa seseorang buta untuk selamanya atau melihat untuk selamanya. Dalam urusan apa pembaca sedang berada di sisi orang yang melihat, dan dalam urusan apa pembaca masih meraba-raba?
- Di 20:124 pembicara yang memakai kata Aku menyebut orang yang berpaling dari peringatan-Nya akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan buta, dan di 20:125 orang itu bertanya, "Ya Tuhanku, mengapa Engkau mengumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal sungguh dahulu aku dapat melihat?" Dua ayat itu berbicara tentang hari Kiamat, sedangkan 35:19 tidak menyebut waktu, sehingga keduanya tidak disamakan. Dari 20:125 dapat dibaca bahwa orang yang pernah melihat bisa mendapati dirinya buta pada waktu berikutnya, dan ayat itu tidak menyebut kapan buta itu dimulai. Pembaca dapat bertanya kepada dirinya, apakah penglihatannya hari ini adalah keadaan tetap atau sesuatu yang dapat berubah?
- Menurut 6:104, bukti-bukti nyata telah datang dari Tuhan kepada orang-orang yang diajak bicara, lalu dua kalimat sesudahnya membagi akibatnya: siapa yang melihat, itu bagi dirinya sendiri, dan siapa yang buta, itu menjadi tanggungannya sendiri. Ayat itu memakai kata kerja melihat dan buta, sedangkan 35:19 memakai pasangan kata benda, sehingga keduanya sejalan tetapi tidak sama bentuknya. Bukti yang sama datang kepada semua pihak, dan akibatnya jatuh pada diri masing-masing. Seseorang dapat bertanya, bila bukti dari Tuhan sudah ada di hadapannya, apa lagi yang masih ditunggunya sebelum menyebut dirinya melihat?
- Ayat 35:18 menyebut orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka tanpa melihat-Nya, dan ayat sesudahnya menyebut orang yang melihat. Ayat-ayat itu tidak menyamakan tidak melihat Tuhan dengan buta, dan tidak menyebut orang yang melihat sebagai mereka yang telah melihat-Nya. Kedua ayat itu bertetangga, tetapi 35:19 tidak menyebut objek penglihatan, sehingga pertanyaan tentang hubungan keduanya tetap terbuka. Pembaca dapat menaruh pertanyaan itu pada dirinya: apa yang dilihat oleh orang yang takut kepada Tuhan yang tidak dilihatnya?
- Di 13:19 orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan dari Tuhanmu itu benar ditempatkan di seberang orang yang buta. Pembeda keduanya di ayat itu adalah pengetahuan tentang apa yang diturunkan, dan ayat itu tidak menyebut keadaan mata. Pembacaan ini hanya berlaku untuk 13:19, karena 35:19 tidak memuat keterangan serupa. Bila pembeda itu dibawa ke dalam diri, pembaca dapat memisahkan dua daftar: apa yang sudah diketahuinya benar dari apa yang diturunkan Tuhannya, dan apa yang baru didengarnya namanya. Manakah daftar yang lebih panjang?
- Di 6:50 pasangan buta dan melihat disusul pertanyaan, "Apakah kalian tidak memikirkannya?", dan di 40:58 disusul kalimat bahwa sedikit sekali pelajaran yang diambil. Di 35:19 sampai 35:22 tidak ada kalimat semacam itu: yang menyusul adalah tiga pasangan lain, lalu kalimat tentang pendengaran. Perbandingan yang tidak diikuti kesimpulan itu membiarkan pembaca sendirian dengan dua kedudukan yang tersebut. Apakah perbandingan yang tidak diikuti kesimpulan lebih mudah dilewati, atau lebih sulit ditinggalkan?