وَلَا الظِّلُّ وَلَا الْحَرُورُ

dan tidak pula yang teduh dengan yang panas,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَلَا الظِّلُّ وَلَا الْحَرُورُwa-laa zh-zhillu wa-laa l-haruurudan tidak pula yang teduh dengan yang panas

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَلَاwa-laadan tidak pula
  2. الظِّلُّzh-zhillunaungan
  3. وَلَاwa-laadan tidak pula
  4. الْحَرُورُl-haruurupanas terik

Inti bacaan

Kata (الْحَرُورُ, l-haruuru) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 35:21.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini memuat dua penafian sejajar seperti 35:20, yaitu (وَلَا الظِّلُّ, wa-laa zh-zhillu) yang berarti "dan tidak pula yang teduh" dan (وَلَا الْحَرُورُ, wa-laa l-haruuru) yang berarti "dan tidak pula yang panas". Kata kerja dari 35:19 tidak diulang di sini, sehingga terjemahan memakai "dengan" di antara kedua pihak. Kata "yang" di depan "teduh" dan "panas" dipakai karena keduanya kata benda yang menyebut keadaan, dan terjemahan tidak menambahkan "tempat". Bentuk (الظِّلُّ, zh-zhillu) dengan kata sandang dan akhiran -u muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 35:21.

Kata zhill berakar ظ-ل-ل dan dipakai untuk tiga hal yang berbeda. Pertama, bayangan yang dipanjangkan, seperti di 25:45, (مَدَّ الظِّلَّ, madda zh-zhilla) yang berarti "memanjangkan bayang-bayang", yang disusul matahari sebagai petunjuk atas bayangan itu. Kedua, tempat bernaung, seperti di 28:24, (تَوَلَّىٰ إِلَى الظِّلِّ, tawallaa ilaa zh-zhilli) yang berarti "berpindah ke tempat yang teduh". Ketiga, naungan yang tidak melindungi: di 56:43, (وَظِلٍّ مِنْ يَحْمُومٍ, wa-zhillin min yahmuumin) berarti "dan naungan asap hitam", dan di 77:31, (لَا ظَلِيلٍ, laa zhaliilin) berarti "yang tidak melindungi". Kata zhill dengan atau tanpa kata sandang ada di 8 ayat, yaitu 4:57, 13:35, 25:45, 28:24, 35:21, 56:30, 56:43, dan 77:30. Karena kata itu sendiri dapat menyebut naungan yang tidak menaungi, rasa lega pada "yang teduh" tidak datang dari kata zhill. Di 4:57, (ظِلًّا ظَلِيلًا, zhillan zhaliilan) berarti "naungan yang teduh", dan rasa lega itu datang dari sifat zhaliil yang menyertainya. Di 35:21 tidak ada sifat seperti itu, sehingga lawannya, yaitu panas, yang menentukan pembacaan "teduh". Terjemahan memakai "yang teduh" dan tidak memakai "bayang-bayang", sebab bayang-bayang di 25:45 berpasangan dengan matahari dan tidak dengan panas.

Kata (الْحَرُورُ, l-haruuru) yang berarti "yang panas" berakar ح-ر-ر dan muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 35:21. Kata lain dari akar yang sama yang menyebut panas adalah (الْحَرِّ, l-harri) di 9:81, tempat sekelompok orang berkata agar tidak berangkat dalam panas dan dijawab (نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا, naaru jahannama asyaddu harran) yang berarti "api Jahanam lebih keras panasnya", serta (تَقِيكُمُ الْحَرَّ, taqiikumu l-harra) di 16:81 yang berarti "melindungi kalian dari panas". Terjemahan memakai "panas" untuk ketiganya dan menambahkan "yang" di 35:21 karena bentuknya kata benda tunggal dan tidak menyebut udara atau cuaca.

Dua ayat memuat kedua akar sekaligus, yaitu 16:81 dan 35:21. Di 16:81 kedua akar itu dipakai dalam satu daftar pemberian: Allah menjadikan tempat bernaung, tempat tertutup di gunung-gunung, dan pakaian yang melindungi dari panas. Di 35:21 keduanya berdiri sebagai pasangan yang tidak sama. Pada 16:81 kata zhilaal berbentuk jamak, (ظِلَالًا, zhilaalan), sedangkan di 35:21 kata zhill berbentuk tunggal.

Tafsiran

Ayat ini menaruh pasangan yang terasa di kulit di antara dua pasangan yang lain. Pasangan di 35:19 menyangkut penglihatan, pasangan di 35:20 menyangkut gelap dan terang, pasangan di 35:21 menyangkut suhu, dan pasangan di 35:22 menyangkut pendengaran. Pasangan suhu itu terletak di tengah deretan, dan alasan penempatan itu tidak dinyatakan.

Naungan disebut dalam dua cara yang bertentangan di tempat lain. Di 4:57 naungan disebut bersama taman, di 13:35 sebagai bagian dari taman yang dijanjikan, dan di 56:30 sebagai naungan yang terbentang. Di 56:43 dan 77:30 naungan disebut dalam keadaan siksaan, dan di 77:31 naungan itu tidak melindungi. Ayat 35:21 tidak memuat tempat atau waktu, sehingga tidak termasuk kelompok mana pun. Pasangan ini dinyatakan tidak sama tanpa menunjuk apakah pasangan itu berlaku di dunia atau sesudahnya.

Pasangan di 35:20 dan 35:21 menyebut keadaan, sedangkan pasangan di 35:19 dan 35:22 menyebut orang. Dua pasangan keadaan berada di tengah dan dua pasangan orang berada di ujung, sehingga ayat ini sendiri tidak memuat sindiran kepada kelompok tertentu. Ayat 35:22 kemudian mengembalikan deretan itu ke manusia dengan menyebut orang yang hidup dan orang yang mati.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa deretan di 35:19 sampai 35:22 tidak disusun dari satu jenis indra. Pasangan pertama dan kedua dapat dibayangkan dengan mata, pasangan ketiga dengan kulit, dan pasangan keempat dengan telinga. Pembagian itu tidak tertulis dan tidak diberi nama.

Renungan dan Hikmah

  • Di 16:81 Allah disebut menjadikan tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, tempat tertutup di gunung-gunung, dan pakaian yang melindungi dari panas, lalu ayat itu menutup dengan pernyataan bahwa Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepada kalian agar kalian berserah diri. Ayat 35:21 menyebut yang teduh dan yang panas sebagai dua keadaan yang tidak sama tanpa menyebut pemberinya, sedangkan 16:81 menyebut pemberinya. Pembaca dapat bertanya kapan terakhir kali berhenti di tempat teduh dan menyadari bahwa tempat itu ada karena ada yang menjadikannya, dan apa yang dikatakannya dalam hati saat itu?
  • Di 56:43 ada naungan dari asap hitam, dan ayat sesudahnya menyebutnya tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Di 77:30 naungan itu bercabang tiga, dan 77:31 menyebutnya tidak melindungi dan tidak mencukupi dari nyala api. Kata naungan di sana ada, dan fungsinya tidak ada. Pembaca dapat memeriksa tempat-tempat yang disebutnya tempat berteduh, dan menimbang apakah semuanya benar-benar meneduhkan atau hanya menyandang namanya: apa yang akan berubah bila naungan itu diuji dengan panas yang sebenarnya?
  • Menurut 28:24, seseorang memberi minum untuk dua orang, lalu berpindah ke tempat yang teduh, lalu berkata, "Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." Ayat itu memuat tiga gerak berurutan, yaitu memberi, berteduh, dan berkata kepada Tuhan, dan ayat itu tidak memuat apa yang terjadi sebelum atau sesudah gerak itu. Pembaca dapat membayangkan saat sampai sendirian di tempat teduh sesudah sebuah pekerjaan. Kepada siapa pembaca berbicara di sana, dan apa yang disebutnya sebagai kebutuhan?
  • Di 9:81 orang-orang yang tertinggal merasa gembira dengan duduk mereka di belakang Rasul Allah dan tidak suka berjihad di jalan Allah, dan mereka mengatakan bahwa berangkat tidak patut dilakukan dalam panas. Ayat itu menjawab bahwa api Jahanam lebih keras panasnya. Panas di sana dijadikan alasan, dan jawabannya menaruh panas itu di samping panas yang lain. Dibandingkan dengan 35:21, panas di 9:81 menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah. Pembaca dapat bertanya, panas apa yang hari ini disebutnya sebagai alasan untuk tetap duduk, dan panas mana yang belum ditimbangnya?
  • Di 4:57 orang-orang yang beriman dan berbuat saleh dimasukkan ke taman-taman dan ke naungan yang teduh, dengan pasangan-pasangan yang disucikan, dan di 13:35 naungan itu disebut bersama buah yang kekal. Kata naungan yang di 56:43 dan 77:30 dipakai untuk siksaan, di sini menjadi bagian dari taman. Ayat-ayat itu tidak memuat satu pun kata yang dapat dijadikan pegangan untuk menyamakan naungan di dunia dengan naungan di sana. Pembaca dapat bertanya, bila naungan menjadi bagian dari janji, apa yang dibayangkannya ketika membaca kata teduh pada 35:21?
  • Di 25:45 Tuhan disebut memanjangkan bayang-bayang, dan bila Dia menghendaki, Dia menjadikannya diam, lalu matahari dijadikan petunjuk atasnya. Bayang-bayang di ayat itu tidak diam, dan matahari menjadi petunjuk atasnya. Bila bayang-bayang bergerak, tempat teduh pada satu waktu tidak harus teduh pada waktu lain. Ayat 35:21 tidak menyebut gerak itu, tetapi 25:45 memperlihatkan bahwa tempat teduh dapat berubah letaknya. Di tempat yang sekarang teduh, kapan pembaca perlu berpindah?