ثُمَّ أَخَذْتُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۖ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ

Kemudian, Aku renggut orang-orang yang kufur. Maka, betapa pengingkaran-Ku!

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ثُمَّ أَخَذْتُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۖ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِtsumma akhadztu lladziina kafaruu fa-kayfa kaana nakiirikemudian Aku renggut orang-orang yang kufur; maka betapa pengingkaran-Ku

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. أَخَذْتُakhadztuAku renggut
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. كَفَرُواkafaruukufur
  5. فَكَيْفَfa-kayfamaka bagaimana
  6. كَانَkaanaadalah
  7. نَكِيرِnakiiripengingkaran-Ku

Inti bacaan

Rumusan (فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ, fa-kayfa kaana nakiiri) muncul empat kali di Al-Qur'an (22:44, 34:45, 35:26, 67:18), dan di 22:44 serta 35:26 rumusan itu mengikuti kata kerja akhadztu.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (ثُمَّ, tsumma) yang berarti "kemudian", dan kata itu menaruh tindakan di ayat ini sesudah pendustaan di 35:25. Rumusan (ثُمَّ أَخَذْتُ, tsumma akhadztu) muncul empat kali di tiga surah, dengan atau tanpa kata ganti yang menempel pada kata kerjanya, yaitu di 13:32, 22:44, 22:48, dan 35:26. Di tiga ayat yang lain kata kerja itu didahului pernyataan tenggang waktu. Di 13:32 bunyinya (فَأَمْلَيْتُ لِلَّذِينَ كَفَرُوا ثُمَّ أَخَذْتُهُمْ, fa-amlaytu li-lladziina kafaruu tsumma akhadztuhum) yang berarti "lalu Aku beri tenggang waktu kepada orang-orang yang kufur, kemudian Aku ambil mereka". Di 22:44 bunyinya (فَأَمْلَيْتُ لِلْكَافِرِينَ ثُمَّ أَخَذْتُهُمْ, fa-amlaytu li-l-kaafiriina tsumma akhadztuhum), dan di 22:48 ada (أَمْلَيْتُ لَهَا, amlaytu lahaa) yang berarti "Aku beri tenggang kepadanya". Di 35:26 tidak ada kata tenggang di dalam ayatnya sendiri, dan kata tsumma langsung mengikuti pendustaan di 35:25.

Kata kerja (أَخَذْتُ, akhadztu) berakar أ-خ-ذ dan memuat akhiran -tu yang menunjuk satu pembicara, yaitu "Aku". Terjemahan memakai "Aku renggut". Padanan ini sama dengan 22:44 dan 22:48, dua ayat yang memuat rumusan yang sama, dan sejalan dengan "direnggut" untuk akar yang sama di 55:41, yang juga menyebut orang-orang berdosa sebagai pihak yang diambil. KBBI mencatat arti "merenggut" sebagai menarik dengan paksa. Kata "azab" tidak dipakai di sini karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya, dan terjemahan memakai "mengazab" untuk kata kerja dari akar ع-ذ-ب, misalnya (لَعَذَّبَهُمْ, la-'adzdzabahum) di 59:3 dan (وَعَذَّبْنَاهَا, wa-'adzdzabnaahaa) di 65:8.

Pihak yang diambil disebut (الَّذِينَ كَفَرُوا, lladziina kafaruu) yang berarti "orang-orang yang kufur". Di 35:25 pihak yang mendustakan disebut (الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ, lladziina min qablihim). Ayat ini tidak menyatakan bahwa dua sebutan itu menunjuk kelompok yang sama, dan urutan ayatlah yang mendekatkan keduanya. Pada rumusan yang sama di 13:32, pihak yang diberi tenggang lalu diambil juga disebut orang-orang yang kufur.

Kalimat penutup (فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ, fa-kayfa kaana nakiiri) yang berarti "maka betapa pengingkaran-Ku" muncul empat kali di empat surah, yaitu 22:44, 34:45, 35:26, dan 67:18. Terjemahan 35:26 mengikuti 22:44, 34:45, dan 67:18 dengan memakai "betapa" untuk (فَكَيْفَ, fa-kayfa). Data morfologi menandai huruf ي di ujung kata (نَكِيرِ, nakiiri) sebagai kata ganti orang pertama tunggal, sehingga artinya "pengingkaran-Ku". Kata nakiir berakar ن-ك-ر, akar yang sama dengan (نَكِرَهُمْ, nakirahum) di 11:70 yang diterjemahkan "mencurigai mereka", dan dengan (قَوْمٌ مُنْكَرُونَ, qawmun munkaruuna) di 51:25 yang berarti "kaum yang belum dikenal". Di 42:47 bentuk tak tentunya muncul sebagai (وَمَا لَكُمْ مِنْ نَكِيرٍ, wa-maa lakum min nakiirin) yang berarti "dan tidak ada bagi kalian pengingkaran". Sesudah kata kerja akhadztu, ayat-ayat itu memakai dua kata untuk akibatnya. Di 22:44 dan 35:26 katanya nakiir, sedangkan di 13:32 dan 40:5 katanya (عِقَابِ, 'iqaabi) dalam (فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ, fa-kayfa kaana 'iqaabi) yang berarti "maka bagaimana hukuman-Ku".

Kata ganti "Aku" pada ayat ini berbeda dari ayat-ayat di sekitarnya. Ayat 35:24 memakai (إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ, innaa arsalnaaka) yang berarti "sesungguhnya Kami mengutusmu", dan 35:27 memakai (فَأَخْرَجْنَا, fa-akhrajnaa) yang berarti "lalu Kami keluarkan". Di Surah 35 kata kerja dengan pelaku "Aku" hanya muncul di 35:26. Ayat ini tidak menjelaskan pergantian dari "Kami" ke "Aku", dan terjemahan mempertahankan keduanya sesuai bentuk Arabnya.

Tafsiran

Ayat ini menjatuhkan tindakan atas orang-orang yang kufur dan menutupnya dengan seruan yang jawabannya tidak ditulis. Urutannya terbaca dari ayat sebelumnya: 35:25 memuat pendustaan dan bekal yang lengkap, lalu 35:26 membuka dengan "kemudian". Rumusan yang sama di 13:32 dan 22:44 didahului tenggang waktu. Di Surah 35 sendiri, ayat 35:45 memuat (يُؤَخِّرُهُمْ, yu'akhkhiruhum) yang berarti "menangguhkan mereka", sampai (إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى, ilaa ajalin musamman) yang berarti "sampai waktu yang ditentukan". Dapat dibaca bahwa kata "kemudian" di 35:26 mencakup jeda semacam itu. Pembacaan ini bersandar pada kesejajaran dengan 13:32 dan 22:44, sebab 35:26 sendiri tidak mengukur jedanya, dan 35:45 berbicara tentang manusia pada umumnya, tidak tentang kelompok di 35:26.

Seruan penutupnya tidak dijawab di ayat ini. Jawabannya ditaruh pada pengamatan, dan 35:44 mengajak orang melihat: (فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ, fa-yanzhuruu kayfa kaana 'aaqibatu lladziina min qablihim) yang berarti "lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka". Ajakan itu memakai kata tanya yang sama dengan 35:26, yaitu kayfa kaana, dan menunjuk kepada orang-orang sebelum mereka seperti 35:25. Surah ini menaruh pertanyaan di 35:26 dan mengarahkan mata ke bumi di 35:44, tanpa mengisi jawabannya dengan uraian.

Ayat ini memakai "Aku" di tengah ayat-ayat yang memakai "Kami". Ayat 35:24 menyebut pengutusan dengan "Kami", ayat 35:27 menyebut buah yang dikeluarkan dengan "Kami", dan tindakan atas orang-orang yang kufur disebut dengan "Aku". Ayat tidak menjelaskan pergantian itu, sehingga pembaca dapat mencatatnya tanpa memutuskan alasannya.

Ayat 3:11 dan 8:52 memuat kata kerja yang berakar sama dengan pelaku yang disebut jelas, yaitu (فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ, fa-akhadzahumu llaahu bi-dzunuubihim) yang berarti "maka Allah menyiksa mereka karena dosa-dosa mereka". Di 3:11 pihak yang diambil adalah orang-orang yang mendustakan tanda-tanda, dan di 8:52 orang-orang yang kufur terhadap tanda-tanda Allah. Ayat 35:26 tidak menyebut nama pelaku dan tidak menyebut sebab dengan kata sendiri, dan sebabnya terbaca dari 35:25 yang mendahuluinya. Sesudah ayat ini, 35:27 beralih kepada air yang diturunkan dari langit.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini ditutup dengan seruan yang jawabannya tidak ditulis, dan 35:44 mengajak orang melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka dengan kata tanya yang sama. Jawaban yang dititipkan pada pengamatan menuntut mata pembaca, dan ayat tidak menggantikannya dengan uraian. Di ayat yang sama, 35:44 menyebut bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah, baik di langit maupun di bumi. Orang yang membaca seruan di 35:26 dapat bertanya, kesudahan siapa yang pernah dilihatnya sendiri sampai selesai, dan apakah yang dilihatnya sudah cukup untuk menjawab seruan ini?
  • Ayat ini memakai kata kemudian di depan tindakan, dan 35:45 menyebut bahwa seandainya Allah menghukum manusia karena apa yang telah mereka perbuat, tidak ada makhluk bergerak yang tersisa di bumi, tetapi Dia menangguhkan mereka sampai waktu yang ditentukan. Dua ayat itu menaruh jeda di antara perbuatan dan akibatnya, dan 35:45 menamainya penangguhan. Bagaimana seseorang yang melihat pendusta tidak terkena apa-apa dalam waktu lama membaca jeda itu, sebagai penangguhan menurut 35:45 atau sebagai tanda bahwa akibat tidak ada, dan ayat mana yang mendukung bacaannya?
  • Di 3:11 dan 8:52 pelaku kata kerja yang berakar sama disebut jelas, yaitu Allah, terhadap orang-orang yang mendustakan atau kufur terhadap tanda-tanda. Ayat 35:26 menyebut pelakunya dengan kata Aku, dan 35:23 membatasi tugas penerima ayat pada pemberi peringatan. Dari kedua kelompok ayat itu dapat dibaca bahwa tindakan atas pendusta ditaruh pada pihak yang disebut dalam ayat, dan tidak pada orang yang didustakan. Pembacaan ini bersandar pada pelaku yang tertulis di 3:11 dan 8:52 serta batas tugas di 35:23. Orang yang pernah dirugikan oleh pendustaan dapat bertanya, tugas mana yang selama ini dipikulnya, memperingatkan atau membalas?
  • Ayat ini menyebut orang-orang yang kufur sebagai kelompok dan tidak menyebut nama seorang pun, sedangkan 35:25 menyebut mereka orang-orang sebelum mereka, yaitu pihak yang sudah lewat. Tidak ada dasar di ayat ini untuk menunjuk seseorang tertentu di sekitar pembaca sebagai anggota kelompok itu. Ayat 35:31 menyebut bahwa Allah teliti dan melihat hamba-hamba-Nya, sehingga penilaian atas seseorang tidak ditaruh di tangan pembaca ayat. Berdasarkan kata apa di ayat ini orang yang sering menimbang siapa di sekelilingnya yang termasuk kelompok ini melakukan penimbangan itu?
  • Kalimat penutup ayat ini muncul di empat ayat dari empat surah, yaitu 22:44, 34:45, 35:26, dan 67:18, dan di keempatnya seruan itu menutup ayat tanpa jawaban di dalam ayat yang sama. Pembaca yang menemui rumus yang sama di empat tempat tidak mendapat jawaban yang menyertai seruan itu di ayatnya sendiri, sehingga tempat jawaban itu tinggal kosong di tiap ayat. Apa yang terisi di tempat kosong itu pada pembacaan pertama, dan apakah isinya sama pada pembacaan keempat?
  • Ayat 35:25 menyebut bahwa rasul-rasul mereka datang dengan bukti-bukti nyata, zubur, dan kitab yang menerangi, dan 35:26 menyebut apa yang terjadi sesudah pendustaan. Urutannya bekal, pendustaan, lalu tindakan, dan ayat tidak menyebut tahap lain di antaranya selain kata kemudian. Alasan apa yang dipakai orang yang menunda menanggapi peringatan yang bukti-buktinya sudah dipegangnya, dan apakah alasan itu muncul sebelum bukti datang atau sesudahnya?