إِنَّ اللَّهَ عَالِمُ غَيْبِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
Sesungguhnya Allah Yang Mengetahui yang gaib di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia berilmu akan apa yang tersimpan dalam dada.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِنَّ اللَّهَ عَالِمُ غَيْبِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِinna llaaha 'aalimu ghaybi s-samaawaati wa-l-ardhisesungguhnya Allah Yang Mengetahui yang gaib di langit dan di bumi
- إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِinnahu 'aliimun bi-dzaati sh-shuduurisesungguhnya Dia berilmu akan apa yang tersimpan dalam dada
Terjemahan per kata (10 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- عَالِمُ'aalimuyang mengetahui
- غَيْبِghaybiyang gaib
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
- إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
- عَلِيمٌ'aliimunberilmu
- بِذَاتِbi-dzaatipada isi
- الصُّدُورِsh-shuduuridada
Inti bacaan
Rangkaian (غَيْبِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, ghaybi s-samaawaati wa-l-ardhi) muncul enam kali di Al-Qur'an dalam tiga akhiran yang berbeda, yaitu di 2:33, 11:123, 16:77, 18:26, 35:38, dan 49:18.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini memuat dua kalimat, dan keduanya dibuka dengan (إِنَّ, inna) yang berarti "sesungguhnya". Kalimat pertama berbunyi (إِنَّ اللَّهَ, inna llaaha) yang berarti "sesungguhnya Allah", dan kalimat kedua berbunyi (إِنَّهُ, innahu) yang berarti "sesungguhnya Dia". Kalimat kedua memakai akhiran -hu dan tidak mengulang nama, sehingga pelaku kedua kalimat itu satu pihak, dan terjemahan memakai "Dia" sebagai penyambung tanpa menyebut nama untuk kedua kalinya.
Kata (عَالِمُ, 'aalimu) berakar ع-ل-م dan menyebut pelaku pengetahuan, dan terjemahan memakai "Yang Mengetahui". Kata itu langsung disusul objeknya tanpa kata penghubung, (عَالِمُ غَيْبِ, 'aalimu ghaybi) yang berarti "Yang Mengetahui yang gaib". Bentuk 'aalim dengan berbagai akhiran muncul delapan belas kali di enam belas surah, antara lain di 6:73, 13:9, 35:38, 59:22, dan 72:26. Rangkaian dengan kata sandang, (عَالِمُ الْغَيْبِ, 'aalimu l-ghaybi), muncul enam kali, yaitu di 6:73, 13:9, 32:6, 59:22, 64:18, dan 72:26. Di 6:73, (عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ, 'aalimu l-ghaybi wa-sy-syahaadati) yang berarti "yang mengetahui yang gaib dan yang nyata", gaib dipasangkan dengan yang nyata. Bentuk 'aalimu ghaybi tanpa kata sandang hanya muncul di 35:38, dan sesudahnya ada (السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "langit dan bumi", sehingga gaib di sini dikaitkan dengan langit dan bumi, tidak dengan yang nyata.
Rangkaian kata gaib dengan langit dan bumi, (غَيْبِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, ghaybi s-samaawaati wa-l-ardhi), muncul enam kali dalam tiga akhiran yang berbeda, yaitu di 2:33, 11:123, 16:77, 18:26, 35:38, dan 49:18. Di 11:123, (وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, wa-li-llaahi ghaybu s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "dan milik Allah yang gaib di langit dan bumi", gaib itu disebut sebagai milik. Di 49:18, (يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, ya'lamu ghayba s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi", gaib itu menjadi objek pengetahuan. Di 35:38 gaib itu juga menjadi objek pengetahuan seperti di 49:18, tetapi pengetahuan disebut lewat nama pelaku, 'aalimu, dan tidak lewat kata kerja ya'lamu.
Kalimat kedua memakai (عَلِيمٌ, 'aliimun) yang berarti "berilmu". Kata ini berakar sama dengan 'aalimu, tetapi berbentuk sifat, dan objeknya masuk lewat huruf (بِ, bi-), (بِذَاتِ الصُّدُورِ, bi-dzaati sh-shuduuri). Rangkaian (عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ, 'aliimun bi-dzaati sh-shuduuri) muncul dua belas kali di sebelas surah, yaitu di 3:119, 3:154, 5:7, 8:43, 11:5, 31:23, 35:38, 39:7, 42:24, 57:6, 64:4, dan 67:13. Di 39:7, (إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ, innahu 'aliimun bi-dzaati sh-shuduuri) yang berarti "sesungguhnya Dia berilmu akan apa yang tersimpan di dalam dada", kata 'aliimun diterjemahkan "berilmu" dan objeknya diawali "akan". Terjemahan "berilmu akan" dipakai juga di 5:7, 8:43, 11:5, 42:24, dan 57:6, sehingga 35:38 mengikuti pemakaian yang sama. Dengan awalan innahu rangkaian itu muncul enam kali, yaitu di 8:43, 11:5, 35:38, 39:7, 42:24, dan 67:13.
Kata (ذَاتِ, dzaati) adalah bentuk perempuan dari kata yang berarti "yang memiliki". Bentuk dzaati muncul dua puluh tiga kali di sembilan belas surah, dan dua belas di antaranya berada di depan sh-shuduuri. Di 85:5, (ذَاتِ الْوَقُودِ, dzaati l-waquudi) yang berarti "yang berbahan bakar", dan di 54:13, (ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ, dzaati alwaahin wa-dusurin) yang berarti "yang terbuat dari papan-papan dan pasak-pasak", kata itu menunjuk pemilik sifat atau bagian. Di 8:1, (ذَاتَ بَيْنِكُمْ, dzaata baynikum) yang berarti "hubungan di antara kalian", kata itu menunjuk keadaan yang melekat pada sesuatu. Karena itu (بِذَاتِ الصُّدُورِ, bi-dzaati sh-shuduuri) dapat dibaca sebagai "pada yang dimiliki dada", dan terjemahan "apa yang tersimpan dalam dada" menyampaikannya.
Kata (الصُّدُورِ, sh-shuduuri) yang berarti "dada" berakar ص-د-ر. Bentuk ini muncul lima belas kali di empat belas surah, dan dua belas di antaranya sesudah dzaati. Tiga lainnya, yaitu 10:57, 22:46, dan 100:10, berbentuk (فِي الصُّدُورِ, fii sh-shuduuri) yang berarti "di dalam dada". Di 22:46, (الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ, l-quluubu llatii fii sh-shuduuri) yang berarti "hati yang berada dalam dada", kata hati dan kata dada memiliki dua kata Arab yang berbeda, dan hati disebut berada di dalam dada. Terjemahan 35:38 memakai "dada" untuk sh-shuduuri dan menyimpan "hati" untuk (الْقُلُوبُ, l-quluubu).
Tafsiran
Ayat ini dapat dibaca sebagai dasar bagi pertanyaan di 35:37. Ayat 35:37 memuat teriakan penghuni api dan pertanyaan balasan dari pembicara yang menyebut dirinya "Kami", dan 35:38 menyatakan cakupan pengetahuan yang menyertai semua ucapan itu: yang gaib di langit dan di bumi, lalu apa yang tersimpan dalam dada. Sudut bicara berganti dari "Kami" di 35:37 ke nama Allah dan kata "Dia" di 35:38.
Dua kalimat ayat ini bergerak dari wilayah terluas ke ruang yang paling dekat dengan manusia. Kalimat pertama menyebut yang gaib di langit dan bumi, dan kalimat kedua menyebut isi dada. Kedua wilayah itu ditaruh dalam satu pernyataan pengetahuan, dengan dua sebutan yang berbeda: 'aalimu untuk yang gaib dan 'aliimun untuk isi dada.
Rangkaian 'aliimun bi-dzaati sh-shuduuri di beberapa ayat lain datang sesudah kalimat tentang apa yang diucapkan atau disembunyikan orang. Di 3:119 rangkaian itu mengikuti orang yang berkata "kami beriman" tetapi menggigit ujung jari karena murka ketika menyendiri. Di 3:154 rangkaian itu mengikuti orang yang menyimpan dalam diri apa yang tidak mereka tampakkan. Di 11:5 rangkaian itu mengikuti orang yang melipat dada untuk menyembunyikan diri, dan di 67:13 mengikuti perintah merahasiakan atau menyatakan perkataan. Di 35:38 rangkaian itu datang sesudah ucapan-ucapan yang dikutip di 35:34 sampai 35:37, yaitu pujian para penghuni taman dan teriakan penghuni api, sehingga isi dada disebut sebagai ruang di balik ucapan-ucapan tersebut.
Kata gaib muncul juga di 35:18, (يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ, yakhsyawna rabbahum bi-l-ghaybi) yang berarti "takut kepada Tuhan mereka tanpa melihat-Nya". Di 35:18 gaib adalah keadaan orang yang takut, dan di 35:38 gaib adalah wilayah pengetahuan Allah. Kedua ayat berada dalam surah yang sama dan membicarakan dua sisi hal yang sama: apa yang tidak terlihat oleh manusia, dan apa yang terlihat oleh Dia.
Ayat 35:39 sesudahnya dibuka dengan huwa yang berarti "Dialah", yang melanjutkan kata ganti orang ketiga dari 35:38, lalu memuat (جَعَلَكُمْ, ja'alakum) yang berarti "menjadikan kalian".
Renungan dan Hikmah
- Ayat 35:38 datang tepat sesudah ucapan-ucapan di 35:34 sampai 35:37, yaitu pujian para penghuni taman dan janji penghuni api untuk mengerjakan kebajikan. Kalimat kedua menyebut bahwa Dia berilmu akan apa yang tersimpan dalam dada. Pembaca dapat menaruh dua hal itu berdampingan: kata-kata yang diucapkan, dan isi dada yang menyertainya. Janji atau pujian apa yang pernah diucapkan pembaca, dan apakah isi dadanya pada saat itu searah dengan kata-katanya?
- Ayat ini menyebut dua wilayah pengetahuan Allah, yang gaib di langit dan bumi dan apa yang tersimpan dalam dada. Wilayah pertama jauh dari jangkauan manusia, dan wilayah kedua berada di dalam tubuh pembaca sendiri. Pembaca yang menyimpan sesuatu di dalam dadanya dapat memperhatikan bahwa ayat ini menaruh dada itu dalam kalimat yang sama dengan langit dan bumi. Apa yang kini tersimpan di sana?
- Di 22:46 hati disebut berada di dalam dada, dan 35:38 menyebut dada itu sendiri sebagai tempat dengan isi yang diketahui Dia. Dada menjadi ruang yang tidak dapat dibuka orang lain dan, menurut ayat ini, terbuka bagi pengetahuan Allah. Pembaca yang memperhatikan betapa banyak yang dapat disembunyikan di ruang itu dapat bertanya apa yang sedang berlangsung di dalam dadanya hari ini: kecemasan, rencana, harapan, atau kemarahan yang tidak pernah diucapkan?
- Di 67:13 rangkaian yang sama dengan ayat ini menutup perintah untuk merahasiakan atau menyatakan perkataan, dan di 11:5 menutup gambaran orang yang melipat dada untuk menyembunyikan diri dari-Nya. Di dua ayat itu isi dada tetap diketahui, apa pun pilihan orang tentang menyatakan atau menyembunyikan. Pembaca yang menimbang apakah suatu perasaan perlu diucapkan atau disimpan dapat mencatat bahwa pertimbangan itu berlangsung di depan pengetahuan yang sama. Bila menyimpan dan menyatakan sama-sama diketahui Allah, apa yang berbeda di antara keduanya bagi pembaca sendiri?
- Ayat 35:38 menyebut yang gaib di langit dan bumi sebagai wilayah yang diketahui Allah, dengan nama pelaku pengetahuan di depannya. Pembaca yang sering menebak apa yang akan terjadi, atau apa yang dipikirkan orang lain tentang dirinya, dapat membaca kalimat ini sebagai pengakuan bahwa wilayah itu punya pemilik pengetahuan. Ayat tidak melarang menebak dan tidak mengatakan apa yang boleh ditebak. Seberapa banyak tenaga yang pembaca habiskan pada tebakan yang jawabannya, menurut ayat ini, ada pada Dia?
- Pembicara di 35:37 mengajukan pertanyaan tentang umur dan pemberi peringatan kepada orang-orang yang isi dadanya, menurut 35:38, sudah diketahui. Ayat tidak menyebut maksud pertanyaan itu. Pembaca yang pernah ditanya oleh orang yang sebenarnya sudah tahu jawabannya, seperti orang tua atau guru, tahu bahwa jawaban dalam keadaan seperti itu berbeda sifatnya dari jawaban atas pertanyaan biasa. Bila Allah yang mengajukan pertanyaan dan Dia berilmu akan isi dada, jawaban macam apa yang paling jujur?