هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ ۚ فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ ۖ وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِلَّا مَقْتًا ۖ وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ إِلَّا خَسَارًا
Dialah yang menjadikan kalian khalifah-khalifah di bumi. Maka, siapa yang kufur, atasnyalah kekufurannya. Dan kekufuran orang-orang kafir tidak menambah bagi mereka di sisi Tuhan mereka kecuali kemurkaan, dan kekufuran orang-orang kafir tidak menambah bagi mereka kecuali kerugian.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِhuwa lladzii ja'alakum khalaa'ifa fi l-ardhiDialah yang menjadikan kalian khalifah-khalifah di bumi
- فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُfa-man kafara fa-'alayhi kufruhumaka, siapa yang kufur, atasnyalah kekufurannya
- وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِلَّا مَقْتًاwa-laa yaziidu l-kaafiriina kufruhum 'inda rabbihim illaa maqtandan kekufuran orang-orang kafir tidak menambah bagi mereka di sisi Tuhan mereka kecuali kemurkaan
- وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ إِلَّا خَسَارًاwa-laa yaziidu l-kaafiriina kufruhum illaa khasaarandan kekufuran orang-orang kafir tidak menambah bagi mereka kecuali kerugian
Terjemahan per kata (24 kata)
- هُوَhuwaDia
- الَّذِيlladziiyang
- جَعَلَكُمْja'alakummenjadikan kalian
- خَلَائِفَkhalaa'ifapara khalifah
- فِيfidi
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- فَمَنْfa-manmaka orang yang
- كَفَرَkafarakufur
- فَعَلَيْهِfa-'alayhimaka atasnya
- كُفْرُهُkufruhukekufurannya
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- يَزِيدُyaziidumenambah
- الْكَافِرِينَl-kaafiriinaorang-orang yang kufur
- كُفْرُهُمْkufruhumkekufuran mereka
- عِنْدَ'indadi sisi
- رَبِّهِمْrabbihimTuhan mereka
- إِلَّاillaakecuali
- مَقْتًاmaqtankemurkaan
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- يَزِيدُyaziidumenambah
- الْكَافِرِينَl-kaafiriinaorang-orang yang kufur
- كُفْرُهُمْkufruhumkekufuran mereka
- إِلَّاillaakecuali
- خَسَارًاkhasaarankerugian
Inti bacaan
Status 'khalifah-khalifah di bumi' disertai konsekuensi kekufuran yang murni personal, 'atasnyalah kekufurannya', kehormatan sebagai wakil/pengelola bumi berjalan seiring tanggung jawab individual yang tidak bisa dialihkan kepada pihak lain.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menyandingkan pemberian kedudukan dengan tanggung jawab atasnya, lalu mengunci tanggung jawab itu pada masing-masing orang.
Sebutannya “khalifah-khalifah di bumi” (خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ, khalaa'ifa fi l-ardhi), bentuk jamak yang muncul empat kali di dalam Al-Qur'an (6:165, 10:14, 10:73, 35:39). Di tiap tempat itu, kedudukannya selalu disusul keterangan tentang ujian atau tanggung jawab, tak pernah berdiri sebagai kehormatan yang berhenti pada dirinya sendiri.
Yang menyusul di sini kalimat pendek, “siapa yang kufur, atasnyalah kekufurannya”. Akibatnya tidak bisa dititipkan. Sebuah kedudukan yang diberikan bersama-sama ternyata dipertanggungjawabkan sendiri-sendiri.
Dua akibat disebut berturut-turut, dan arahnya berlawanan. Yang pertama “kemurkaan” (مَقْتًا, maqtan), kata yang muncul empat kali di dalam Al-Qur'an (4:22, 35:39, 40:35, 61:3) dan selalu menandai penolakan yang keras. Ia datang dari atas. Yang kedua “kerugian”, dan itu terjadi di dalam diri orangnya sendiri. Kalimatnya diulang hampir sama persis untuk menyebut keduanya, dan pengulangan itu membuat kedua arah itu terbaca sebagai satu akibat yang sama, dilihat dari dua sisi.
Kalimat tentang tanggung jawab pribadi itu berulang di satu tempat lain. Rangkaian “siapa yang kufur, atasnyalah kekufurannya” (فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ, fa-'alayhi kufruhu) muncul dua kali di dalam Al-Qur'an (30:44, 35:39). Kata depan yang dipakai menyatakan beban yang ditanggung di atas pundak, bukan akibat yang menyusul kemudian. Yang digambarkan bukan hukuman yang dijatuhkan, melainkan muatan yang melekat pada orangnya.
Dua akibat yang disebut sesudahnya bergerak ke arah yang berlawanan. Yang pertama muncul empat kali di dalam Al-Qur'an (4:22, 35:39, 40:35, 61:3) dan menandai penolakan yang keras dari pihak lain. Yang kedua muncul tiga kali (17:82, 35:39, 71:21) dan menandai kerugian yang terjadi pada diri sendiri. Satu datang dari atas, satu tumbuh dari dalam.
Susunan kalimatnya diulang hampir sama persis untuk menyebut kedua akibat itu. Pengulangan yang begitu rapat jarang tanpa maksud. Ia membuat kedua arah itu terbaca sebagai satu akibat yang sama dilihat dari dua sisi, bukan sebagai dua hukuman yang berbeda. Yang menjauhkan seseorang dari Yang di atas adalah juga yang mengurangi dirinya sendiri.
Sebutan bagi kedudukan mereka di pembuka ayat muncul empat kali di dalam Al-Qur'an (6:165, 10:14, 10:73, 35:39). Di tiap tempat itu, kedudukan selalu disusul keterangan tentang ujian atau tanggung jawab, tidak pernah berdiri sebagai kehormatan yang berhenti pada dirinya. Di sini yang menyusul justru keterangan yang paling perseorangan di antara keempatnya, yaitu bahwa akibatnya tidak bisa dititipkan kepada siapa pun.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan tanggung jawab pribadi bagi kekufuran, bukan beban bersama, melainkan sepenuhnya ditanggung sendiri, dengan konsekuensi ganda yang ditekankan lewat pengulangan: kemurkaan Allah dan kerugian bagi diri sendiri. Yang paling patut diperhatikan adalah ketegangan antara pembuka dan isinya.
Pembukanya menyebut kedudukan yang diberikan kepada banyak orang sekaligus. Isinya mengunci akibat pada masing-masing. Sesuatu yang diterima bersama-sama ternyata dipertanggungjawabkan sendiri-sendiri, dan ketegangan itu adalah keadaan yang sebenarnya dijalani setiap orang tanpa selalu disadari.
Kata depan yang dipakai untuk menyatakan tanggung jawab itu menyatakan beban di atas pundak, bukan akibat yang menyusul kemudian. Perbedaan itu halus tetapi mengubah gambaran. Yang digambarkan bukan hukuman yang menunggu di depan, melainkan muatan yang sudah dibawa sekarang. Sesuatu yang dibawa sepanjang jalan terasa berbeda dari sesuatu yang menunggu di ujung jalan.
Dua akibat penutupnya diulang dengan susunan yang hampir sama persis, dan pengulangan serapat itu jarang tanpa maksud. Yang pertama datang dari atas, yang kedua tumbuh dari dalam. Karena disebut dengan kalimat yang sejajar, keduanya terbaca sebagai satu akibat yang sama dilihat dari dua sisi. Yang menjauhkan seseorang dari Yang di atas ternyata juga yang mengurangi dirinya sendiri, dan itu berlaku tanpa perlu ada yang menjatuhkan apa pun kepadanya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut kedudukan dan tanggung jawab dalam satu ayat. Khalifah di bumi. Yang kufur menanggung sendiri. Menaruh keduanya dalam satu kalimat mencegah salah satunya dibaca sendirian. Kedudukan tanpa tanggungan melahirkan kesewenangan, dan tanggungan tanpa kedudukan melahirkan putus asa. Ayat ini tidak memberi ruang bagi keduanya, sebab yang disebut dua-duanya dalam satu tarikan napas.
- Yang tidak bisa dialihkan akibat kekufuran. Bukan beban bersama. Setiap orang memikul miliknya. Yang tidak bisa dialihkan itu juga tidak bisa diwariskan. Tidak ada bagian dari akibat yang berpindah ke anak, ke kelompok, atau ke zaman berikutnya. Perhitungan yang sepenuhnya perorangan seperti ini jarang disukai, sebab ia menghapus tempat bersembunyi yang paling nyaman, yaitu kerumunan.
- Dua akibat disebut Allah berturut-turut: kemurkaan dan kerugian. Yang satu dari atas. Yang lain di dalam dirinya. Dua akibat itu bekerja di dua arah yang berbeda dan tidak saling menggantikan. Yang satu perkara hubungan dengan Allah, dan yang satu lagi perkara keadaan orangnya sendiri. Orang bisa merasa baik-baik saja di dalam dirinya dan tetap terkena yang pertama.
- Allah memberikan kedudukan itu kepada banyak orang sekaligus, tetapi menguncikan akibatnya pada masing-masing. Apa yang selama ini kita anggap tanggung jawab bersama, padahal sebenarnya akan ditagih kepada kita sendiri-sendiri? Tanggung jawab yang dianggap bersama biasanya tidak dikerjakan siapa pun, sebab masing-masing menunggu yang lain memulai. Yang membuat kita tenang bukan keyakinan bahwa pekerjaan itu sedang dikerjakan, melainkan keyakinan bahwa kalau tidak dikerjakan pun kesalahannya terbagi rata. Ayat ini menutup perhitungan seperti itu. Yang dibagi rata cuma kedudukannya, sedangkan akibatnya tidak pernah dibagi kepada siapa pun. Yang bersama hanya pemberiannya.
- Rangkaian خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ muncul dua kali di seluruh Al-Quran, di 10:14 dan 35:39. Di 10:14 sebutan itu disusul keterangan bahwa Allah hendak melihat bagaimana manusia berbuat, sedangkan di sini ia disusul keterangan tentang siapa yang menanggung akibat kekufurannya. Yang satu menyebut ujiannya, yang satu menyebut tagihannya. Dua ayat itu berpasangan tanpa saling menyebut, dan dibaca bersama keduanya menutup lingkaran: diberi kedudukan, dilihat perbuatannya, lalu ditanggungkan hasilnya.
- Kata مَقْتًا muncul empat kali di seluruh Al-Quran, di 4:22, 35:39, 40:35, dan 61:3. Ia bukan kata yang sering dipakai, dan tempat-tempat pemakaiannya berjauhan: soal pernikahan yang terlarang, soal kekufuran, soal orang yang membantah tanda-tanda Allah, dan soal orang yang mengatakan apa yang tidak dikerjakannya. Empat perkara yang kelihatannya tidak berhubungan, tetapi Allah memakai satu kata yang sama untuk keempatnya, dan yang menyatukannya adalah jarak antara yang diakui dan yang dijalani.