إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا ۚ وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ۚ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
Sesungguhnya Allah yang menahan langit dan bumi agar tidak lenyap. Dan sungguh, jika keduanya lenyap, tidak ada seorang pun yang mampu menahannya selain-Nya. Sesungguhnya Dia Sang Penyantun lagi Sang Pengampun.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَاinna llaaha yumsiku s-samaawaati wa-l-ardha an tazuulaasesungguhnya Allah yang menahan langit dan bumi agar tidak lenyap
- وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِwa-la-in zaalataa in amsakahumaa min ahadin min ba'dihidan sungguh, jika keduanya lenyap, tidak ada seorang pun yang mampu menahannya selain-Nya
- إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًاinnahu kaana haliiman ghafuuransesungguhnya Dia Sang Penyantun lagi Sang Pengampun
Terjemahan per kata (19 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- يُمْسِكُyumsikumenahan
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَالْأَرْضَwa-l-ardhadan bumi
- أَنْanagar tidak
- تَزُولَاtazuulaakeduanya lenyap
- وَلَئِنْwa-la-indan sungguh jika
- زَالَتَاzaalataakeduanya lenyap
- إِنْinjika
- أَمْسَكَهُمَاamsakahumaamenahan keduanya
- مِنْmindari
- أَحَدٍahadinseorang pun
- مِنْmindari
- بَعْدِهِba'dihisesudahnya
- إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
- كَانَkaanaadalah
- حَلِيمًاhaliimanMaha Penyantun
- غَفُورًاghafuuranpengampun
Inti bacaan
Allah menahan langit dan bumi agar tidak lenyap, kestabilan kosmis yang selama ini dianggap otomatis sebenarnya adalah penopangan aktif dan berkelanjutan, bukan sistem yang berjalan sendiri tanpa pemeliharaan terus-menerus.
Penjelasan pilihan kata
'Haliiman' diterjemahkan 'Sang Penyantun', konsisten dengan 33:51, bukan 'penahan murka'.
Tafsiran
Ayat ini membuka penutup surah dengan gambaran kendali Allah atas langit dan bumi: keduanya tetap tegak semata karena kekuasaan-Nya, tanpa penopang lain yang mampu menggantikan-Nya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut langit ditahan, bukan berdiri sendiri. Ia tidak lepas tangan. Ada yang menopang terus-menerus.
- Yang tampak otomatis ternyata dijaga terus-menerus. Kestabilan itu bukan bawaan. Ia dikerjakan.
- Penutupnya menyebut Penyantun dan Pengampun. Allah menaruh sifat lembut sesudah gambaran kuasa. Yang menahan langit juga yang menahan murka.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(atau varian, LIMA terjemahan utk satu lema: Maha Penyantun/penyantun/sangat penyantun/sangat lembut/sangat santun). Dua cacat: (a) 'Maha'+kapital tanpa dasar, corpus INDEFINIT; (b) 'penyantun' salah kata: KBBI VI, nomina 'penyantun' = 'orang sopan/suka menaruh belas kasihan/suka menolong/dewan pelindung', makna 'sabar dan tenang' (yang ada di adjektiva santun¹) HILANG pada turunannya, jebakan derivasi persis 'welas asih'; indra belas-kasihan/ menolong juga menabrak wilayah ra'uuf ('iba'). terjemahan ini: 'penahan murka'. haliim dipakai utk MANUSIA 4× (Ibrahim 9:114 & 11:75; anak/ Ismail 37:101 'ghulaamin haliim'; Syu'aib 11:87) diterjemahkan SIFAT, bukan nama (pola rahiim/ ra'uuf). sebagian penerjemah 'clement' 15/15. hilm ≠ sabr (menahan-balasan vs menanggung-derita) ≠ ra'fah (perasaan iba) ≠ santun (adab). Rumus: ghafuurun haliim 6×; aliimun haliim 3×. Corpus: haliim INDEFINIT di ayat ini (14/15 kemunculan indefinit, termasuk SEMUA yang tentang Allah). Konteks pengunci: 2:225 (tak menghukum keseleo sumpah), 35:41 (MENAHAN langit-bumi agar tak lenyap).