إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا ۚ وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ۚ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Sesungguhnya Allah yang menahan langit dan bumi agar tidak lenyap. Dan sungguh, jika keduanya lenyap, tidak ada seorang pun yang mampu menahannya setelah-Nya. Sesungguhnya Dia penyantun lagi pengampun.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَاinna llaaha yumsiku s-samaawaati wa-l-ardha an tazuulaasesungguhnya Allah yang menahan langit dan bumi agar tidak lenyap
  2. وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِwa-la-in zaalataa in amsakahumaa min ahadin min ba'dihidan sungguh, jika keduanya lenyap, tidak ada seorang pun yang mampu menahannya setelah-Nya
  3. إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًاinnahu kaana haliiman ghafuuransesungguhnya Dia penyantun lagi pengampun

Terjemahan per kata (19 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. اللَّهَllaahaAllah
  3. يُمْسِكُyumsikumenahan
  4. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  5. وَالْأَرْضَwa-l-ardhadan bumi
  6. أَنْanagar tidak
  7. تَزُولَاtazuulaakeduanya lenyap
  8. وَلَئِنْwa-la-indan sungguh jika
  9. زَالَتَاzaalataakeduanya lenyap
  10. إِنْintidaklah
  11. أَمْسَكَهُمَاamsakahumaamenahan keduanya
  12. مِنْmindari
  13. أَحَدٍahadinseorang pun
  14. مِنْmindari
  15. بَعْدِهِba'dihisesudahnya
  16. إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
  17. كَانَkaanaadalah
  18. حَلِيمًاhaliimanpenyantun
  19. غَفُورًاghafuuranpengampun

Inti bacaan

Susunan (إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا, innahu kaana haliiman ghafuuran) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 17:44 dan 35:41.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ, inna llaaha yumsiku) yang berarti "sesungguhnya Allah menahan". Kata kerja (يُمْسِكُ, yumsiku) berakar م-س-ك. Kata ini, dengan akhiran yang bisa berbeda, muncul tujuh kali di lima surah, yaitu 16:59, 16:79, 22:65, 35:2, 35:41, 39:42, dan 67:19. Di enam ayat di antaranya pelakunya Allah atau Ar-Rahman, dan terjemahan memakai "menahan" untuk apa yang dipegang: burung di 16:79 dan 67:19, langit di 22:65, nyawa di 39:42, apa yang Allah tahan dari rahmat di 35:2, serta langit dan bumi di 35:41. Di 16:59 pelakunya manusia, dan terjemahan di sana memakai "memeliharanya". Langit juga muncul sebagai yang ditahan di 22:65, (يُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ, yumsiku s-samaa'a an taqa'a) yang berarti "menahan langit agar tidak jatuh". Susunan an taqa'a hanya ada di 22:65, dan di sana menyusul pengecualian (إِلَّا بِإِذْنِهِ, illaa bi-idznihi) yang berarti "kecuali dengan izin-Nya". Ayat 35:41 tidak memuat pengecualian semacam itu.

Bagian yang ditahan dinyatakan dengan (أَنْ تَزُولَا, an tazuulaa) yang berarti "agar tidak lenyap". Terjemahan memakai "agar tidak" karena kata kerja menahan disusul an dan kata kerja yang dicegah, susunan yang sama dengan 22:65 yang diterjemahkan "agar tidak jatuh"; tidak ada kata Arab tersendiri untuk "tidak". Kata kerja (تَزُولَا, tazuulaa) berakar ز-و-ل, dan akar ini ada di tiga ayat, yaitu 14:44, 14:46, dan 35:41. Di 14:46, (لِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ, li-tazuula minhu l-jibaalu) diterjemahkan "sampai melenyapkan gunung-gunung", jadi terjemahan "lenyap" di 35:41 memakai arti yang sama. Kata kerja di sini berbentuk untuk dua pihak, sehingga terjemahannya "keduanya": langit yang jamak sebagai satu pihak dan bumi sebagai pihak lain. Bentuk dua pihak juga dipakai untuk langit dan bumi di 21:30, (كَانَتَا, kaanataa) yang berarti "keduanya adalah", dan di 41:11, (قَالَتَا, qaalataa) yang berarti "keduanya menjawab". Kata ganti pada (أَمْسَكَهُمَا, amsakahumaa) yang berarti "menahan keduanya" juga untuk dua pihak.

Kalimat pengandaian dimulai dengan (وَلَئِنْ زَالَتَا, wa-la-in zaalataa) yang berarti "dan sungguh, jika keduanya lenyap". Kata (لَئِنْ, la-in) tersusun dari huruf penegas la dan in yang berarti "jika". Kata in yang kedua, di (إِنْ أَمْسَكَهُمَا, in amsakahumaa), ditandai sebagai penolak dalam data morfologi, sehingga terjemahannya "tidak". Surah yang sama memuat in sebagai penolak di 35:24, (وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا, wa-in min ummatin illaa) yang berarti "dan tidak ada satu umat pun kecuali". Penolakan itu dilengkapi (مِنْ أَحَدٍ, min ahadin) yang berarti "seorang pun". Susunan min ahadin muncul delapan kali di delapan surah, yaitu 2:102, 7:80, 9:127, 19:98, 24:21, 29:28, 35:41, dan 69:47. Enam di antaranya didahului kata penolak, yaitu 2:102, 7:80, 24:21, 29:28, 35:41, dan 69:47, dan di keenamnya terjemahan memakai "seorang pun". Dua sisanya, 9:127 dan 19:98, didahului kata tanya.

Kata (مِنْ بَعْدِهِ, min ba'dihi) yang berarti "setelah-Nya" tersusun dari min, ba'd yang berarti "sesudah", dan akhiran -hi yang berarti "-nya". Di 35:2, susunan yang sama terdapat pada (فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ, fa-laa mursila lahu min ba'dihi) yang berarti "tidak ada yang sanggup melepaskannya sesudah itu", dengan -hi menunjuk apa yang Allah tahan. Di 35:41 -hi menunjuk Allah yang disebut di kalimat pertama. Bentuk yang memuat nama-Nya, (مِنْ بَعْدِ اللَّهِ, min ba'di llaahi), hanya ada di 45:23, dan diterjemahkan "setelah Allah". Terjemahan 35:41 mengikuti itu dengan "setelah-Nya" dan tidak memakai "selain", karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya.

Ayat ditutup dengan (إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا, innahu kaana haliiman ghafuuran) yang berarti "sesungguhnya Dia penyantun lagi pengampun". Susunan persis ini muncul dua kali, yaitu di 17:44 dan 35:41. Kata (حَلِيمًا, haliiman) berakar ح-ل-م, dan kata ini muncul lima belas kali di dua belas surah: 2:225, 2:235, 2:263, 3:155, 4:12, 5:101, 9:114, 11:75, 11:87, 17:44, 22:59, 33:51, 35:41, 37:101, dan 64:17. Pelakunya Allah di sebelas ayat, dan manusia di empat ayat, yaitu Ibrahim di 9:114 dan 11:75, Syuaib di 11:87, dan seorang anak di 37:101, (بِغُلَامٍ حَلِيمٍ, bi-ghulaamin haliimin) yang berarti "dengan seorang anak yang santun". Ayat 37:101 maupun 35:41 tidak menyebut murka, sehingga terjemahan tidak memakai "penahan murka" di sini, dan memakai "penyantun" seperti di 3:155 dan 5:101, tempat kata ini berpasangan dengan (غَفُورٌ, ghafuurun) yang berarti "pengampun". Kedua sifat di 35:41 tidak memakai kata sandang al-, sehingga ditulis dengan huruf kecil dan tanpa "Maha", seperti (غَفُورًا, ghafuuran) yang diterjemahkan "pengampun" di 4:23 dan 33:24.

Tafsiran

Ayat ini menjawab tantangan di 35:40 dengan pasangan benda yang sama. Di 35:40 sekutu-sekutu diminta menunjukkan apa yang mereka ciptakan, (مِنَ الْأَرْضِ, mina l-ardhi) yang berarti "dari bumi", atau andil mereka, (فِي السَّمَاوَاتِ, fi s-samaawaati) yang berarti "di langit". Di 35:41 langit dan bumi muncul lagi, kali ini sebagai yang ditahan Allah. Ayat ini tidak menjawab tuntutan itu satu per satu. Yang dinyatakan adalah siapa yang menahan keduanya, dan apa yang terjadi bila penahanan itu berhenti.

Ayat ini berisi tiga gerak. Gerak pertama menyatakan keadaan yang sedang berlangsung, karena kata kerja menahan berbentuk perbuatan yang masih berjalan. Gerak kedua mengandaikan lenyapnya langit dan bumi lalu menolak adanya penahan lain. Gerak ketiga menyebut dua sifat. Andaian di gerak kedua tidak disertai keterangan tentang kapan atau bagaimana lenyapnya, dan ayat juga tidak mencatat bahwa keduanya sudah lenyap.

Surah ini dibuka dengan pola yang sebangun. Di 35:2 rahmat yang dibukakan Allah tidak punya penahan, (فَلَا مُمْسِكَ, fa-laa mumsika) yang berarti "tidak ada yang menahan", dan apa yang ditahan-Nya tidak punya pelepas. Di 35:41 akar م-س-ك kembali, dengan objek langit dan bumi, dan dengan penolakan yang serupa atas pihak lain. Dua ayat itu menaruh tindakan menahan di satu pelaku, dan keduanya memakai susunan min ba'dihi pada kalimat penolakan.

Pasangan sifat di penutup juga muncul di 17:44, dan di sana ia menutup ayat tentang langit yang tujuh dan bumi yang bertasbih kepada Allah, sedangkan tasbih mereka tidak dipahami oleh pendengar ayat itu. Di dua ayat itu langit dan bumi berdekatan dengan sifat penyantun dan pengampun. Teks tidak menyatakan hubungan sebab antara menahan dan kedua sifat itu. Urutan ayat 35:41 menaruh sifat tersebut sesudah gambaran kemungkinan lenyap, dan dapat dibaca bahwa keberlangsungan langit dan bumi berdampingan dengan sifat itu, tanpa ayat menjelaskan caranya. Ayat sesudahnya, 35:42, berpindah ke orang-orang yang bersumpah tentang peringatan, dan 35:45 kembali ke penangguhan, sehingga ayat 35:41 dapat dibaca sebagai pembuka bagi dua tema penutup surah.

Renungan dan Hikmah

  • Langit dan bumi biasanya tampak sebagai latar yang tidak perlu dipikirkan, dan ayat 35:41 menyebutnya sebagai sesuatu yang sedang ditahan oleh Allah. Kata kerja yang dipakai menunjuk perbuatan yang masih berjalan, tidak menunjuk peristiwa yang selesai pada awal mula. Pembaca yang terbiasa menganggap tanah di bawah kakinya dan atap di atas kepalanya sebagai hal yang pasti ada dapat memperhatikan bahwa ayat ini menaruh kepastian itu pada tindakan Allah, tidak pada kebiasaan benda-benda. Apa yang berubah pada langkah pembaca di pagi hari bila tanah yang dipijaknya dibaca sebagai sesuatu yang sedang ditahan?
  • Ayat 35:41 mengandaikan langit dan bumi lenyap, lalu menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menahannya setelah-Nya. Andaian itu tidak menyebut kapan atau bagaimana, dan tidak menyebut siapa yang mungkin mencoba. Ukuran yang sama dapat dipakai pembaca untuk hal yang jauh lebih kecil, misalnya rumah yang ditinggali, tabungan, nama baik, atau kesehatan. Pada tiap hal itu ada pihak yang tampak menahannya, seperti bank, tetangga, atau dokter. Ayat ini menaruh pertanyaan di tingkat lain, yaitu siapa yang menahan penahan-penahan itu. Apakah daftar penahan hidup yang dibuat pembaca pernah memuat Dia?
  • Lenyapnya langit dan bumi dalam ayat ini diawali dengan "sungguh, jika", dan ayat tidak mencatat bahwa keduanya lenyap. Menurut teks, sampai kini keduanya ditahan. Ayat ini menaruh andaian di dalam kalimat yang pokoknya menyatakan penahanan oleh Allah. Pembaca yang cemas memikirkan kemungkinan terburuk dapat memeriksa di bagian mana ayat meletakkan bobotnya, yaitu pada yang sedang terjadi dan tidak pada yang diandaikan. Andaian itu tetap disebut, tetapi ia berada di bawah keadaan yang dinyatakan lebih dulu.
  • Dua sifat disebut sesudah gambaran kuasa, yaitu penyantun dan pengampun, dan keduanya menyusul andaian lenyapnya langit dan bumi, tidak menyusul ancaman. Di 3:155 dan 5:101 pasangan sifat yang sama disebut dengan urutan terbalik, pengampun lebih dulu, sesudah kalimat bahwa Allah telah memaafkan. Pembaca yang membayangkan Allah terutama lewat kekuatan-Nya dapat menaruh urutan dalam ayat ini di samping bayangannya sendiri. Apakah urutan sifat dalam bayangan pembaca tentang Tuhan sama dengan urutan yang tertulis di sini, kuasa dahulu lalu kelembutan?
  • Di ayat sebelumnya sekutu-sekutu diminta menunjukkan apa yang telah mereka ciptakan dari bumi dan andil mereka di langit. Ayat 35:41 menaruh bumi dan langit lagi, sebagai yang ditahan oleh Allah. Dua ayat itu dapat dibaca berdampingan, satu menanyakan apa yang dapat ditunjukkan sebagai ciptaan, satu lagi menyatakan siapa yang menahan. Pihak yang dipercaya pembaca untuk menopang hidupnya, misalnya jabatan, pasangan, atau lembaga, dapat diajukan dua pertanyaan itu juga. Apa yang bisa ditunjukkan pihak itu sebagai ciptaannya, dan apa yang sungguh-sungguh ditahannya ketika keadaan goyah?
  • Di awal surah, rahmat yang dibukakan Allah tidak dapat ditahan siapa pun, dan apa yang ditahan-Nya tidak dapat dilepaskan siapa pun. Di 35:41 kata menahan kembali dengan langit dan bumi sebagai objeknya. Dua ayat itu menaruh satu pelaku pada dua tindakan, membuka dan menahan, dan tidak menyebut pelaku lain pada keduanya. Pembaca yang meminta sesuatu kepada Tuhan dan yang menunggu sesuatu dilepaskan-Nya dapat memperhatikan bahwa pelaku yang ditunjuk ayat untuk kedua hal itu sama. Kepada siapa pembaca biasa mengarahkan harapan untuk hal yang masih tertahan dalam hidupnya?