اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ ۚ وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ ۚ فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ ۚ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا
Karena kesombongan di bumi dan karena makar jahat. Dan makar jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya. Maka, mereka hanya menunggu ketetapan orang-orang yang terdahulu. Maka, engkau tidak akan mendapatkan perubahan atas ketetapan Allah, dan tidak pula akan menemukan penyimpangan bagi ketetapan Allah.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِistikbaaran fi l-ardhi wa-makra s-sayyi'ikarena kesombongan di bumi dan karena makar jahat
- وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِwa-laa yahiiqu l-makru s-sayyi'u illaa bi-ahlihidan makar jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya
- فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ الْأَوَّلِينَfa-hal yanzhuruuna illaa sunnata l-awwaliinamaka, mereka hanya menunggu ketetapan orang-orang yang terdahulu
- فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًاfa-lan tajida li-sunnati llaahi tabdiilan wa-lan tajida li-sunnati llaahi tahwiilanmaka, engkau tidak akan mendapatkan perubahan atas ketetapan Allah, dan tidak pula akan menemukan penyimpangan bagi ketetapan Allah
Terjemahan per kata (26 kata)
- اسْتِكْبَارًاistikbaarankesombongan
- فِيfidi
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- وَمَكْرَwa-makradan makar
- السَّيِّئِs-sayyi'iyang buruk
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- يَحِيقُyahiiqumenimpa
- الْمَكْرُl-makrumakar
- السَّيِّئُs-sayyi'uyang buruk
- إِلَّاillaakecuali
- بِأَهْلِهِbi-ahlihidengan keluarganya
- فَهَلْfa-halmaka apakah
- يَنْظُرُونَyanzhuruunamemandang
- إِلَّاillaakecuali
- سُنَّتَsunnatasunah
- الْأَوَّلِينَl-awwaliinaorang-orang terdahulu
- فَلَنْfa-lanmaka tidak akan
- تَجِدَtajidaengkau mendapati
- لِسُنَّتِli-sunnatipada sunah
- اللَّهِllaahiAllah
- تَبْدِيلًاtabdiilanperubahan
- وَلَنْwa-landan tidak akan
- تَجِدَtajidaengkau mendapati
- لِسُنَّتِli-sunnatipada sunah
- اللَّهِllaahiAllah
- تَحْوِيلًاtahwiilanperpindahan
Inti bacaan
Bentuk (يَحِيقُ, yahiiqu) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 35:43.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ, istikbaaran fi l-ardhi) yang berarti "karena kesombongan di bumi". Kata (اسْتِكْبَارًا, istikbaaran) berakar ك-ب-ر dan muncul dua kali, yaitu di 35:43 dan di 71:7, (وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا, wa-stakbaruu stikbaaran) yang berarti "dan mereka sangat menyombongkan diri". Akhiran -an pada istikbaaran sama dengan akhiran nufuuran di 35:42, dan data morfologi menandai keduanya dengan tanda yang sama, sehingga 35:43 dapat dibaca sebagai penyambung 35:42. Karena itu terjemahan memulai ayat ini dengan "karena", sesudah koma di ujung terjemahan 35:42.
Sebab kedua dinyatakan dengan (وَمَكْرَ السَّيِّئِ, wa-makra s-sayyi'i) yang berarti "dan makar jahat". Kata makr diterjemahkan "makar" di semua kemunculannya, dan kata (السَّيِّئِ, s-sayyi'i) berakar س-و-ء. Di surah yang sama, 35:10, (وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ, wa-lladziina yamkuruuna s-sayyi'aati) diterjemahkan "dan orang-orang yang merencanakan makar jahat", sehingga padanan "makar jahat" di 35:43 sama dengan di 35:10. Di 35:10 makar itu disusul (وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ, wa-makru ulaa'ika huwa yabuuru) yang berarti "dan makar mereka itu akan hancur". Kata makr yang memakai kata sandang, (الْمَكْرُ, al-makru), muncul dua kali, yaitu di 13:42 dan 35:43. Di 13:42, (فَلِلَّهِ الْمَكْرُ جَمِيعًا, fa-li-llaahi l-makru jamii'an) berarti "milik Allah makar itu semuanya". Susunan al-makru s-sayyi'u, yaitu makar yang diberi sifat jahat dan bersandang, hanya ada di 35:43.
Kata kerja (يَحِيقُ, yahiiqu) yang berarti "menimpa" berakar ح-ي-ق. Akar ini ada di sepuluh ayat, yaitu 6:10, 11:8, 16:34, 21:41, 35:43, 39:48, 40:45, 40:83, 45:33, dan 46:26. Sembilan ayat memuat bentuk lampau, (حَاقَ, haaqa), dan hanya 35:43 memuat bentuk yang menunjuk perbuatan berjalan, dengan kata penolak di depannya. Di kesepuluh ayat itu kata kerja disusul bi- dan pihak yang terkena, seperti (فَحَاقَ بِالَّذِينَ, fa-haaqa bi-lladziina) di 6:10 dan (وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ, wa-haaqa bi-aali fir'awna) di 40:45. Terjemahan memakai "menimpa" seperti di 6:10, 11:8, 16:34, dan 21:41.
Pihak yang terkena di 35:43 adalah (بِأَهْلِهِ, bi-ahlihi), tersusun dari bi- yang berarti "pada", ahl, dan akhiran -hi yang menunjuk makar. Kata ahl dipakai untuk keluarga di 28:29, (وَسَارَ بِأَهْلِهِ, wa-saara bi-ahlihi) yang berarti "dan berangkat dengan keluarganya", dan susunan bi-ahlihi hanya ada di 28:29 dan 35:43. Bila ahl disusul nama sebuah hal, kata itu menunjuk pihak yang memiliki atau berhak atas hal tersebut: (أَهْلُ التَّقْوَىٰ, ahlu t-taqwaa) yang berarti "yang berhak ditakwai" di 74:56, (وَأَهْلَهَا, wa-ahlahaa) yang berarti "dan patut memilikinya" di 48:26, dan (أَهْلَ الذِّكْرِ, ahla dz-dzikri) yang berarti "orang-orang yang memiliki peringatan" di 16:43. Di 35:43 akhiran -hi menunjuk makar, sehingga ahl-nya adalah pemilik makar itu, yaitu yang membuatnya, dan terjemahan memakai "orang yang merencanakannya", sejalan dengan 35:10 yang memakai kata kerja merencanakan untuk makar. Terjemahan tidak menambahkan "sendiri", karena tidak ada kata Arab yang melahirkannya.
Pertanyaan berikutnya dibuka dengan (فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا, fa-hal yanzhuruuna illaa) yang berarti "maka, mereka hanya menunggu". Rumus (هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا, hal yanzhuruuna illaa) muncul tujuh kali, yaitu 2:210, 6:158, 7:53, 16:33, 35:43, 43:66, dan 47:18, dan terjemahan memakai "menunggu" di antaranya di 2:210, 7:53, 16:33, 43:66, dan 47:18. Di lima ayat, yaitu 2:210, 6:158, 16:33, 43:66, dan 47:18, mereka menunggu kedatangan sesuatu, dengan susunan illaa an ya'tiyahum atau ta'tiyahum. Di 7:53, (هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا تَأْوِيلَهُ, hal yanzhuruuna illaa ta'wiilahu), dan di 35:43 yang ditunggu berupa kata benda, yaitu (سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ, sunnata l-awwaliina) yang berarti "ketetapan orang-orang yang terdahulu". Rangkaian sunnatu atau sunnata l-awwaliina ada di empat ayat, yaitu 8:38, (سُنَّتُ الْأَوَّلِينَ, sunnatu l-awwaliina), 15:13 dan 18:55, (سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ, sunnatu l-awwaliina), serta 35:43, dan di 8:38, 15:13, dan 18:55 terjemahan memakai "ketetapan orang-orang terdahulu".
Kalimat terakhir menyebut (فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا, fa-lan tajida li-sunnati llaahi tabdiilan) yang berarti "maka, engkau tidak akan mendapatkan perubahan atas ketetapan Allah". Susunan yang sama dengan penulisan lain, (لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا, li-sunnati llaahi tabdiilan), ada di 33:62 dan 48:23, dan di dua ayat itu terjemahannya juga "perubahan". Kata (تَبْدِيلًا, tabdiilan) berakar ب-د-ل dan muncul lima kali, yaitu 33:23, 33:62, 35:43, 48:23, dan 76:28. Kata (تَحْوِيلًا, tahwiilan) berakar ح-و-ل dan muncul tiga kali di dua surah, yaitu 17:56, 17:77, dan 35:43. Di 17:56, (وَلَا تَحْوِيلًا, wa-laa tahwiilan) berarti "dan tidak pula mengalihkannya", yaitu kemudaratan yang tidak dapat dialihkan oleh sesembahan selain Dia. Pasangan tabdiilan dan tahwiilan dalam satu ayat hanya ada di 35:43, sedangkan 33:62 dan 48:23 memuat tabdiilan saja, dan 17:77 memuat tahwiilan saja. Terjemahan 35:43 memakai "perubahan" untuk tabdiilan dan "penyimpangan" untuk tahwiilan, supaya dua kata Arab dalam satu ayat terbaca sebagai dua kata.
Tafsiran
Ayat ini memberi dua sebab bagi lari menjauh di 35:42, yaitu kesombongan di bumi dan makar jahat, lalu menyatakan tiga hal tentang akibatnya. Makar itu menimpa pemiliknya, mereka menunggu pola yang sudah dialami orang-orang terdahulu, dan pola itu tidak berubah serta tidak dialihkan. Ayat bergerak dari sebab ke akibat, dari akibat ke pola yang berlaku, dan dari pola itu ke kepastian.
Makar jahat juga muncul di 35:10, dan di sana orang-orang yang merencanakannya mendapat azab yang keras serta makar mereka akan hancur. Di 35:43 makar jahat itu menimpa pemiliknya. Dua ayat dalam satu surah menyebut dua akibat bagi makar yang sama jenisnya, yaitu hancur di 35:10 dan menimpa pemiliknya di 35:43, dan keduanya tidak menjelaskan caranya.
Pertanyaan "mereka hanya menunggu apa" mengubah gambaran mereka, dari pihak yang menolak menjadi pihak yang menanti. Di 18:55, ketetapan orang-orang terdahulu yang sama disebut berdampingan dengan azab yang datang langsung, dalam kalimat tentang apa yang menghalangi manusia beriman dan memohon ampun kepada Tuhan mereka. Jawaban di 35:43 ditaruh di kalimat berikutnya dengan penegasan ketetapan Allah dua kali.
Rangkaian ayat ini juga memuat tiga akar yang muncul berurutan, yaitu ز-و-ل di 35:41, ق-س-م di 35:42, dan م-ك-ر di 35:43. Ketiganya ada pula di 14:44 sampai 14:46, dengan susunan lain: (أَقْسَمْتُمْ, aqsamtum) yang berarti "kalian bersumpah" dan (زَوَالٍ, zawaalin) di 14:44, lalu makar dan (تَزُولَ, tazuula) di 14:46. Ayat-ayat itu tidak saling mengutip, tetapi tiga unsur yang sama berdekatan di dua tempat. Ayat sesudahnya, 35:44, mengajak melihat kesudahan orang-orang yang terdahulu, yaitu cara memeriksa pola yang di 35:43 disebut tidak berubah.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menyebut dua sebab berdampingan, kesombongan di bumi dan makar jahat. Kesombongan menunjuk sikap di dalam, makar menunjuk rencana yang dikerjakan, dan ayat menaruh keduanya dalam satu kalimat tanpa jeda. Pembaca yang mengamati dirinya dapat memperhatikan urutan itu: sikap merasa lebih tinggi mendahului rencana, dan rencana sering berawal dari sikap yang belum pernah diberi nama. Pada titik mana rasa lebih tinggi berubah menjadi rencana, dan apakah pembaca pernah menangkap perpindahan itu ketika masih berupa rasa saja?
- Makar jahat disebut menimpa orang yang merencanakannya, dan ayat tidak menyebut cara maupun waktunya. Rencana yang disusun untuk mengenai pihak lain tetap berada di tangan penyusunnya selama rencana itu belum dijalankan, dan ayat menyebut bahwa akibatnya jatuh pada penyusunnya. Pembaca yang menyimpan siasat terhadap rekan kerja, tetangga, atau saudara dapat menimbang bahwa alat yang disiapkan itu terhubung ke dirinya lebih dulu. Siapa yang paling dekat dengan rencana yang belum dijalankan, orang yang direncanakan atau yang merencanakan?
- Pertanyaan "maka, mereka hanya menunggu apa" memperlakukan sikap mereka sebagai penantian, padahal tidak ada yang tercatat sedang mereka kerjakan. Jawabannya ditaruh di ayat yang sama, yaitu ketetapan orang-orang terdahulu, dan sesudah itu ketetapan Allah ditegaskan tidak berubah. Pembaca dapat memeriksa apa yang sedang ditunggunya sambil menunda perubahan, misalnya peristiwa yang akan memaksanya atau pengecualian yang akan datang untuk dirinya. Jika ayat ini ditaruh di depan penantian itu, apa sebenarnya yang ditunggunya?
- Ketetapan Allah disebut tidak mengalami perubahan dan tidak mengalami penyimpangan, dua kata yang dipakai bersama dalam satu ayat. Ayat menolak keduanya dengan kalimat yang diulang dua kali. Pembaca yang berharap akibat dari sebuah perbuatan dapat dibelokkan ke pihak lain, atau diganti dengan alasan yang terdengar lebih baik, dapat membaca dua penolakan ini sebagai batas pencarian itu. Ayat memakai kata engkau untuk pencari itu, tetapi tidak menyebut hasil pencariannya selain bahwa ia tidak akan menemukannya.
- Kesombongan dalam ayat ini terjadi di bumi, dan di 35:39 Allah disebut menjadikan manusia khalifah-khalifah di bumi. Ayat 35:43 menaruh kesombongan di tempat yang sama dengan kedudukan itu. Pembaca dapat memperhatikan bahwa tempat yang diberikan dan tempat kesombongan terjadi berada pada satu alamat, dan ayat tidak menyebut alamat lain. Apakah kedudukan yang diberikan kepada pembaca di bumi pernah ia pakai sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang di sekitarnya?
- Alasan yang disebut ayat ini bagi lari menjauh adalah kesombongan dan makar jahat, dan tidak ada kekurangan penjelasan di antara alasan itu. Pembaca yang menunda menerima petunjuk karena merasa belum cukup jelas dapat memeriksa apakah ayat menyebut kejelasan sebagai penyebabnya. Dua alasan yang tertulis berada di sisi sikap dan niat, dan keduanya dapat dikenali oleh pemiliknya tanpa menunggu penjelasan baru. Apakah alasan yang paling sering dipakai pembaca untuk menjelaskan mengapa belum berubah berada di antara dua alasan yang disebut ayat ini?